My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 24


__ADS_3

"Akh!" Vira meringis saat terjatuh dari anak tangga, untungnya dia sudah ada di anak tangga nomor dua paling bawah, hingga luka yang dia dapat tidak begitu parah.


Bertepatan dengan itu, Jasmine masuk dan melihat Vira yang terjatuh.


"Sayang kamu kenapa? Kenapa bisa jatuh seperti ini? Kamu diam dulu, jangan langsung bangun!" Titah Jasmine kepada putrinya dan Vira hanya bisa menuruti perintah Mamanya.


"Sekarang katakan pada Mama, "Bagian mana yang sakit? Apa rasanya sakit sekali hingga kamu menangis seperti ini?" Tanya Jasmine khawatir.


Vira menggeleng, tapi air matanya tidak kunjung berhenti, membuat Jasmine semakin panik.


"Sayang mana yang sakit, jawab Mama!" Jasmine memeluk Vira ikut menangis melihat putrinya semakin terisak.


Stevano dan Vier yang baru saja masuk dibuat terkejut saat mendapati dua perempuan yang mereka sayangi menangis.


Stevano langsung berlari, kemudian disusul oleh Vier "Apa yang terjadi sayang?" Tanya Stevano cemas.


"Vira jatuh Pa, dia sampai menangis pasti rasanya sakit sekali," Jasmine yang masih memeluk putrinya menatap Stevano.


"Vira sayang mana yang sakit katakan pada Papa?"


"Ma, Pa sebaiknya kita angkat Vira dulu," Vier kemudian mengangkat tubuh Vira setelah tadi sang Mama melepas pelukannya.


Vier menggendong Vira dan menurunkannya di sofa ruang keluarga.


"Apa rasanya sakit sekali?" Vier bertanya sembari menghapus air mata kembarannya.


Vira menggeleng, tapi air matanya masih terus turun.


"Mama!" Vira memanggil Mamanya dan langsung memeluk Jasmine begitu Jasmine menghampirinya.


Jasmine mengelus lembut rambut putrinya, "Katakan pada Mama, mana yang sakit sayang?" 


Ditanya seperti itu Vira hanya bisa menggeleng, dan justru memeluk Mamanya semakin erat.


"Kak Alno mana? Apa Kak Alno sudah pergi? Kenapa? Kenapa tidak ada yang memberitahu Vira? Kenapa Kak Alno tidak pamit sama Vira? Apa Kak Alno masih marah sama Vira? Bukankah harusnya Vira yang marah sama Kak Alno? Kenapa Kak Alno tega ninggalin kita? Kenapa Ma?" Isak Vira dipelukan Jasmine.

__ADS_1


"Sayang, Kak Alno hanya pergi untuk melanjutkan pendidikannya, suatu saat Kak Alno pasti kembali, dan jika kita merindukan Kak Alno kita bisa menjenguknya kesana," kata Jasmine mencoba membuat putrinya tenang, kini dia tahu kenapa Vira bisa terjatuh dari tangga.


"Ma Kak Alno pasti pulang kan Ma? Kak Alno tidak marah kan sama Vira?" 


"Iya sayang, Kak Alno pasti pulang," jawab Jasmine walaupun dalam hati masih tidak mengerti kenapa Putrinya itu selalu mengatakan bahwa Alno tidak akan marah padanya, padahal mereka sejak kemarin terlihat baik-baik saja, walaupun Jasmine merasa ada yang mengganjal karena keduanya itu menjadi tidak banyak bicara. Mungkinkah yang selama ini Jasmine duga ada benarnya? Jasmine diam sementara hatinya bertanya-tanya.


***


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan kini tahun berganti tahun, tanpa terasa kini sudah 6 tahun berlalu. Dan belum lama ini Vira menyelesaikan wisudanya.


Hari yang seharusnya membuat bahagia, tapi tidak untuk Vira, Vira dibuat kecewa lantaran Kakaknya, laki-laki yang Vira cintai, membatalkan janjinya, dia tidak jadi pulang hari itu, dengan alasan jika dia sangat sibuk dan belum bisa meninggalkan pekerjaannya disana.


Alno sudah 6 tahun berada di negeri orang, dan selama itu pula dirinya tidak pernah pulang ke negaranya. Jasmine sampai dibuat kesal oleh Putra pertamanya itu, bahkan saat Jasmine mengajak suaminya dan anak-anaknya yang lain mengunjungi Alno, mereka semua harus menelan kekecewaan. 


Alno yang saat itu bilang akan ke Negara A, nyatanya dia tidak benar-benar pergi ke sana, Alno pergi ke negara lain, dan tidak ada satu orang pun yang tahu kemana dirinya pergi, Alno seakan menutup semua akses, agar keluarganya tidak ada yang menghubunginya. Alno seperti menghilang di telan bumi.


Hingga tiba hari itu, satu minggu sebelum Vira wisuda, Alno menghubungi keluarganya.


"Halo," ucap Jasmine menerima panggilan dari nomor asing, Jasmine berusaha mengabaikannya, dan pada panggilan ke tujuh, Jasmine pun akhirnya menerima panggilan itu, karena mungkin ada hal yang penting.


"Alno, ini benar kamu sayang? Kamu dimana sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Kapan kamu pulang? Mama sangat merindukanmu?" Jawab Jasmine dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Mama menangis? Ma Alno mohon jangan menangis! Maafkan Alno Ma, Alno benar-benar minta maaf karena baru menghubungi Mama," 


Alno merasa bersalah karena tidak memberi kabar apapun pada wanita yang sangat disayanginya itu, apalagi Alno tahu jika saat ini Mamanya menangis, ya walaupun Alno tidak melihatnya, tapi Alno tahu dari suara Mamanya.


Saat itu Alno sudah membulatkan tekad, bahwa dia akan berusaha sepenuhnya untuk melupakan rasa cintanya terhadap Vira. Alno tidak ingin melakukan itu hanya setengah-setengah, makanya Alno menutup segala akses agar keluarganya tidak ada yang bisa menghubunginya, karena Alno takut goyah jika hanya sekedar mendengar nama adiknya.


"Hmm tidak, Mama tidak menangis, mama hanya rindu sama kamu sayang," Jasmine berbohong, padahal saat ini dirinya tengah menghapus air matanya.


Tanpa sengaja Vira yang kebetulan lewat, mendengar percakapan Mama dan Kakaknya, karena saat itu Mamanya memang meload speaker panggilan dari Kakaknya.


Vira diam, Vira ingin mendengar suara Kakaknya yang banyak berubah, Vira merindukan suara yang penuh kelembutan itu, ada penyesalan mendalam yang Vira rasakan, dan Vira sudah berjanji dalam hati, Vira akan menebusnya saat nanti Kakaknya kembali dan Vira sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba.


Vira langsung tersenyum saat Kakaknya bilang, dia akan pulang di hari wisuda Vira.

__ADS_1


.


.


"Vira kenapa?" Stevano menatap sang istri, ingin tahu kenapa setelah pulang Vira langsung berlari dan masuk ke dalam kamarnya.


"Biar aku bicara dulu dengannya," Jasmine kemudian berlalu setelah mendapat persetujuan Suaminya.


Jasmine kemudian menaiki anak tangga menuju kamar Putrinya.


Tok


Tok


Terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar, Vira masih dengan posisi yang sama, menekuk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


Kecewa itulah yang Vira rasakan saat ini, Kakaknya tidak hadir di acara wisudanya, entahlah karena apa, Vira hanya mendengar jika Kakaknya tiba-tiba ada urusan mendadak yang membuatnya terpaksa harus menunda keberangkatannya.


"Argh, kenapa rasanya sangat menyakitkan," Vira menepuk dadanya yang terasa sesak.


"Kenapa Kak? Kenapa kau berubah? Apa karena kesalahanku dulu? Jika memang iya, aku minta maaf dan aku janji akan menebusnya, tapi aku mohon Kak, cepatlah kembali, aku merindukanmu dan aku mencintaimu" Vira berucap dengan lirih di tengah isakannya, Vira semakin kencang memukul dadanya berharap rasa sesaknya akan hilang jika dia terus melakukan itu.


Tok


Tok


Pintu kamar Vira kembali di ketuk.


"Sayang ini Mama, Boleh Mama masuk?" Jasmine kemudian mencoba membuka pintu karena tidak ada respon apapun dari Putrinya, Jasmine tahu bagaimana perasaan Putrinya saat ini.


Beruntung Vira tidak mengunci pintunya, hingga Jasmine dengan mudah untuk masuk ke dalam kamar Putrinya.


"Sayang jangan seperti itu!" Jasmine segera berlari menghampiri Vira dan menahan tangan yang sedari tadi memukul dadanya sendiri.


"Ma!" Vira menatap Mamanya dengan sendu, bahkan air mata sedari tadi tidak berhenti menetes.

__ADS_1


Tanpa banyak kata Jasmine menarik Vira ke dalam pelukannya. Membiarkan Vira merasa tenang di dalam dekapannya.


__ADS_2