My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 43


__ADS_3

"Vier sudah aku katakan sama kamu, aku belum siap untuk sekarang, aku mohon mengertilah!" Pinta seorang gadis yang saat ini  sedang berbicara dengan Vier.


"Ra, kapan aku tidak mengerti kamu sayang, aku bahkan sangat mengertimu, jika tidak mengerti, mungkin hubungan kita tidak akan bertahan sampai bertahun-tahun lamanya," Vier menatap kekasihnya Sheira dengan tatapan sendu.


"Tapi sayang, sampai kapan? Sampai kapan kita menjalani hubungan yang seperti ini, aku juga ingin mengenal orang tuamu, begitupun  aku yang ingin mengenalkanmu dengan keluargaku, hubungan kita tidak terjalin hanya satu atau dua tahun, kita sudah berpacaran selama 6 tahun, dan kita belum sama sekali mengenal keluarga kita masing-masing, aku ingin tunjukkan pada orang tuamu maupun orang tuaku, jika aku memang serius padamu," Vier menggenggam tangan Sheira erat, meyakinkan pada kekasihnya jika semua akan baik-baik saja, walaupun harus mengungkap hubungan mereka.


"Vier kamu tahu aku sangat menyayangi kakakku, selama ini Kakak sudah menjadi sosok Ibu dan Ayah buatku, disaat orang tua kami sibuk dengan urusannya. Kakak rela menghabiskan waktunya hanya untukku. Dan aku tidak boleh egois terus memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkannya. Aku mohon kamu mengerti, dan jika kamu memang capek harus menungguku, kamu bisa meninggalkanku, semua keputusan ada pada diri kamu Vier,"


"Hei apa yang kamu katakan? Kenapa jadi  ngawur begitu ucapanmu, jangan berbicara seperti itu lagi, aku mencintaimu, dan aku akan menunggumu," Vier bangun dari duduknya dan langsung memeluk pujaan hatinya.


"Terima kasih Vier, terima kasih karena mau terus menungguku, aku juga mencintaimu, aku akan setia kepadamu," kata Sheira yang kini menangis di pelukan Vier.


"Jika terus seperti ini, apa aku harus mengikuti saran Vira untuk berbicara dengan kakaknya?" Ucap Vier dalam hati, mungkin dengan cara itu Vier bisa mengutarakan keseriusannya. 


Dan disinilah Vier sekarang, setelah kepulangan kekasihnya, Vier yang awalnya ragu, kini akhirnya memutuskan mendial nomor seseorang yang baru saja dia dapatkan nomornya, bukan dari sang kekasih langsung, tapi dari orang suruhannya yang memang Vier perintahkan untuk mencari tahu tentang keluarga kekasihnya.


Dengan gelisah, Vier menunggunya, bahkan sudah 3 gelas kosong yang sudah Vier habiskan isinya di tengah penantiannya.


Tiba-tiba jantung Vier berdegup cukup kencang waktu itu, apalagi saat Vier melihat seseorang yang sudah ditunggunya. Seseorang yang selama ini, hanya bisa dilihat dari foto di galeri ponsel milik kekasihnya.


Terlihat gadis, kakak kekasihnya itu mengedarkan pandangan seperti mencari sesuatu, Vier melambaikan tangannya. Membuat Kakak Sheira langsung mendekat, tapi dari jauh Vier lihat, Kakak Sheira menghentikan langkahnya, sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Tapi tak lama setelah itu, kakak kekasihnya berbalik dan berlalu keluar meninggalkan Vier setelah mengirimkan pesan pada Vier jika dirinya ada urusan mendadak.


***


"Kak!"

__ADS_1


"Hmm," mata mereka saling tatap. Alno merapikan rambut Vira yang berantakan.


"Kenapa?" Tanya Alno masih menatap Vira.


"Aku mau,"


"Hah maksudnya?"


"Aku mau menikah dengan Kakak," ucap Vira dengan suara yang teramat pelan.


"Apa Ra? Coba katakan sekali lagi! Kakak ingin mendengarnya dengan jelas," Alno ingin mendengar apa yang baru saja Vira katakan, guna untuk memastikan bahwa dia benar-benar tidak salah mendengar.


"Aku mau menikah dengan Kakak," kali ini Vira mengatakannya dengan mantap.


Alno langsung berhambur ke pelukan Vira.


"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara," Vira mendorong pelan tubuh Alno agar melepaskan pelukannya yang begitu erat, seakan jika pelukan itu longgar sedikit saja  gadis yang kini ada  dihadapannya akan meninggalkan dirinya.


"Hmm baiklah lanjutkan," kata Alno dengan senyuman manis yang terukir di sudut bibirnya.


"Aku mau menikah dengan Kak Alno, tapi ada syaratnya," jawab Vira yang sudah memikirkan hal itu belakangan ini.


"Syarat?" Alno menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, aku hanya punya satu syarat."

__ADS_1


Alno meraih tangan Vira dan menggenggamnya, "Katakan apa syaratnya, Kakak akan memenuhi syarat darimu apapun itu," jawab Alno yakin.


"Benarkah? Kakak yakin akan mengabulkan syarat yang aku ajukan apapun itu?" 


"Ya sayang, apapun untukmu, sekarang katakan pada Kakak apa yang kamu inginkan?" Alno menatap gadis yang ada di hadapannya.


"Aku.. aku ingin Kakak menjauh dari Kak Kimmy, dan aku juga ingin Kak Kimmy tidak tinggal bersama kita," ucap Vira dengan suara yang teramat pelan.


"Sayang.."


"Bagaimana? Apa kakak setuju?" Tanya Vira menatap mata Kakaknya.


"Sayang kakak sudah ceritakan siapa Kimmy padamu, semuanya sudah Kakak jelaskan tanpa ada yang Kakak tutupi, dan kamu juga sudah tahu alasan kenapa Kakak membawa Kimmy kemari, lalu kenapa kau meminta Kakak untuk ini, kamu bisa meminta syarat yang lain, Kakak akan memenuhinya, tapi tidak untuk yang satu ini. Kakak sudah berjanji pada Kakak Kimmy untuk menjaganya, dan Kakak tidak bisa mengabaikannya begitu saja," Alno mencoba menjelaskan memberikan pengertian kepada Vira tentang alasanya tetap melakukan itu.


Vira tersenyum miris menatap Kakaknya dengan penuh kekecewaan, "Jadi Kakak lebih memilihnya? Ya sudah jika itu pilihan Kakak, maka lupakan pilihan Kakak untuk memintaku menikah dengan Kakak," Vira berlalu meninggalkan Alno.


"Kenapa? Kenapa harus syarat itu Ra, itu pilihan yang sulit untuk Kakak, baiklah beri Kakak alasannya," kata Alno akhirnya.


Vira menghentikan langkahnya, "Apa harus ada alasan? Kenapa aku jadi meragukan perasaan Kakak ke aku sekarang? Aku tidak yakin perasaan Kakak masih sama seperti dulu," Vira mengusap air matanya yang tiba-tiba turun, rasanya sakit saat betapa teguh Kakaknya mempertahankan Kimmy agar selalu bersama di sampingnya.


"Vira sudah Kakak katakan sejak awal, kenapa kamu masih belum mengerti? Please jangan seperti ini, kakak mencintaimu dari dulu sampai sekarang dan tidak pernah berubah, kenapa kamu meragukan itu? Kamu pikir perasaan yang sudah Kakak simpan puluhan tahun akan pudar begitu saja hanya kehadiran Kimmy, asal kamu tahu, Kakak sudah menganggap Kimmy seperti adik Kakak," Alno mengusap wajahnya kasar.


"Vira sayang, please jangan seperti ini!" Alno mendekat dan mendekap tubuh Vira dari belakang.


"Baiklah Kak, anggap saja aku percaya dan yakin pada perasaan yang Kakak miliki, tapi bagaimana dengannya? Bagaimana jika dia menyukai atau bahkan mungkin mencintai Kakak? Bagaimana Kak?" Vira sudah tidak bisa lagi menahan isakannya.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin Vira, Kakak mengenalnya, dan  Kimmy tidak mungkin menyukai Kakak seperti yang tadi kamu katakan."


Vira membalikkan badan spontan, hingga pelukan Alno terlepas, "Oh ya Kakak seyakin itu? Rupanya Kak Alno sudah sangat mengenalnya, tapi asal Kakak tau, sebaik atau selama apa Kakak mengenalnya, Kakak tidak akan pernah tahu, isi hati dan pikirannya," setelah mengatakan itu, Vira langsung pergi dari kamar Kakaknya. Dan terkejutnya Vira, begitu melihat seseorang yang ada di depan kamar Kakaknya.


__ADS_2