
"Jadi kamu…"
"Iya Vira, maafkan aku karena tidak memberitahumu, aku sudah memberikan semua kegiatan kamu pada Kak Alno tiap harinya," kata Sisil secepatnya memotong ucapan Vira.
Vira menghela nafasnya, lalu menatap Sisil yang menggenggam tangannya dengan menundukkan kepalanya.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu Sil, aku tahu kamu pasti sakit banget ya, aku benar-benar tidak enak kepadamu."
Sisil mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap sahabatnya. "Kamu tidak salah Ra, soal perasaan siapa yang tahu, aku seperti itu kepada Kak Alno juga karena keinginanku sendiri, kamu juga tidak tahu kan? Jadi jangan merasa bersalah, dan menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin aku memang tidak pantas untuk Kak Alno," Sisil tersenyum miris mengingat bagaimana bahagia dirinya saat berbalas pesan dengan Alno, walaupun yang mereka bahas selalu tentang Vira.
Tak lama pelayan datang, menyajikan minuman di atas meja.
"Terima kasih," ucap mereka berdua.
Vira mengambil minumannya begitupun dengan Sisil, mereka segera meneguknya hingga tak tersisa, mungkin begitu asyiknya bercerita hingga mereka kehausan.
Tiba-tiba, kepala Vira terasa pusing dan pandangannya menggelap.
***
Alno yang sedang sibuk, menoleh saat pintu kamarnya terbuka, Alno tersenyum begitu melihat siapa orang yang datang.
"Opa, kenapa tidak bilang-bilang jika akan datang ke sini?" Alno bangun dan berjalan menghampiri William lalu mencium punggung tangannya.
Pria tua itu masih terlihat sama, hanya warna rambutnya saja yang kini berubah. William tersenyum dan mengajak Alno untuk duduk lebih dulu.
"Bagaimana?" Tanya William pada cucu pertamanya itu, ya walaupun Alno bukan cucu kandungnya, William sangat menyayanginya, dan selalu menganggap Alno cucu pertamanya.
Tanpa William harus menjelaskan panjang lebar, Alno tahu bagaimana apa yang Opanya maksud.
__ADS_1
"Ternyata benar dia Opa, makasih Opa sudah menceritakan hal itu dan mengingatkanku, aku tidak tahu jika Opa tidak memberitahu, aku pasti sudah akan terjebak di dalamnya," ucap Alno tulus menatap pria yang warna rambutnya sudah memutih itu.
"Kamu anak tertua di keluarga ini, jadi Opa harap kamu bertanggung jawab pada adik-adikmu, menjaga Mama dan Papamu, hanya kamu yang bisa Opa andalkan untuk saat ini," ucap William menghela nafasnya.
"Alno sebenarnya masih heran Opa, kenapa Alno yang jelas-jelas bukan anak kandung Mama dan Papa, bukankah bisa saja Vier atau mungkin yang lainnya?"
"Jadi kamu mau adik-adikmu?" Tanya William menatap datar Alno.
"Bukan seperti itu Opa maksud Alno, Alno hanya merasa heran saja."
"Haha Opa hanya bercanda, untuk itu, entahlah Opa juga belum tahu, mungkin karena kamu yang paling dekat dengan adik-adikmu?" Bukan memberi jawaban William juga mengatakan alasan dengan pertanyaan sebagai jawabannya.
"Intinya, Opa percaya sama kamu," William menepuk bahu cucunya.
"Oh ya, dimana adik-adikmu, kenapa rumah terasa sepi? Kamu tahu si bungsu tidak begitu dekat dengan Opa, apalagi saat kamu pergi, dia lebih memilih sering bersama Kakekmu itu, padahal Opa kan juga ingin dekat dengan si bungsu," cerita William dan terlihat ada kesedihan di matanya.
William tampak menghembuskan nafas panjang. "Mungkin ini kesalahan Opa dulu, makanya cucu-cucu Opa tidak begitu dekat dengan Opanya. Padahal banyak loh cucu Opa, tidak kalian, tidak sepupu-sepupu kalian, jarang banget menginap di rumah Opa, hanya dulu sewaktu kalian kecil, apalagi Ken, dia sudah memutuskan untuk menetap di negara asal Ibunya, meneruskan perusahaan grandpanya," kata William sedih.
"Opa jangan bilang seperti itu, kami semua menyayangi Opa, hanya saja memang semakin kita dewasa, semakin banyak hal yang kita temui, hingga membuat kita jarang melakukan lagi rutinitas yang kita lakukan selagi kecil," jawab Alno agar Opanya tidak berkecil hati seperti itu.
William kemudian menatap Alno dan tersenyum, "Tidak apa-apa, Opa berbicara seperti itu karena Opa memang ingin menghabiskan waktu saja bersama kalian di masa tua Opa."
Tak lama terdengar ketukan pintu dan keduanya menoleh bersamaan karena memang pintu kamar Alno tadi dibiarkan terbuka.
"Papi ada disini? Kenapa tidak memberi kabar dulu, kan kalau tahu gitu aku tidak ikut Suamiku ke kantor hari ini," kata Jasmine yang baru datang, dan langsung berjalan mendekat menghampiri anak dan Ayah mertuanya.
"Masih saja tuh anak mengajakmu ke kantor? Tidak mau mengalah sama anak-anak," ucap William pada menantunya, Jasmine hanya tersenyum menanggapi.
"Jika Papi mau ngomongin aku, di depan orangnya langsung," kata Stevano yang datang belakangan, mendekat dan mencium punggung tangan Papinya kemudian berdiri di samping sang istri menarik pinggang Jasmine agar menempel padanya.
__ADS_1
"Ibu tidak ikut?" Tanya Stevano yang melihat hanya ada Papinya sendiri yang datang kesana.
"Tidak, dia sedang bermain dengan cucu-cucunya, kalian baru pulang?" Kini giliran William yang bertanya.
"Iya Pi, ya sudah Jasmine tinggal dulu ya, mau masak makan malam, kalian lanjutkan saja ngobrolnya, oh ya Al, adik-adikmu kemana? Mereka sudah pulang kan?" Tanya Jasmine saat menyadari rumah sepi sore-sore begini.
"Vier pergi dari jam 3 an tadi, tidak tahu kemana, mungkin menemui kekasihnya, Vian tadi juga dijemput temannya katanya harus mengerjakan tugas, sementara Ze pulang sekolah langsung ke rumah Kakek, terus kalo Vira, pergi sekitar satu jam yang lalu.
Jasmine mengangguk mengerti, sebenarnya Jasmine sedih, semakin dewasa, anak-anak semakin sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan jarang berkumpul di rumah, hanya saat pagi dan malam saja, mereka bisa berkumpul, makanya Stevano yang melihat istrinya selalu kesepian memutuskan untuk mengajak istrinya ke kantor.
Baru saja Jasmine melangkah, langkahnya terhenti saat Alno menjawab panggilan telepon.
"Apa Vira menghilang dari pengawasanmu?" Panik Alno hingga berteriak.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus segera menemukannya, kamu tahu Vira bisa saja kena bahaya, aku tunggu kabar baik darimu segera" Alno mengakhiri panggilan dan dengan panik dia mengambil kunci mobilnya tidak memperhatikan tiga orang yang saat ini menatap Alno meminta penjelasan.
.
.
Di sebuah kamar, terlihat kelopak mata bergerak perlahan, hingga tak lama akhirnya kedua matanya terbuka. Beberapa detik berlalu, tapi tampaknya Vira belum menyadari apa yang sebelumnya terjadi. Vira kemudian memegangi kepalanya yang terasa sakit bahkan terus saja berdenyut hebat.
Vira terdiam, saat menatap ke arah sekelilingnya, dan tak lama setelah mengedarkan pandangannya, Vira baru sadar bahwa saat ini ternyata dirinya berada di tempat yang asing.
"Dimana ini"? Akh!" Vira memegang kepalanya yang terasa berat.
Dengan perlahan Vira mencoba bangun dari tidurnya, Vira semakin berteriak histeris saat dengan ragu Vira mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1