
"Mama menyetujui keinginan kamu untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri,"
Suara Jasmine di tengah keheningan mereka yang tengah menyantap makanan, membuat semuanya terkejut dan langsung menatapnya.
Terutama Vier, Vira, dan Vian, sedangkan Zeline anak itu tidak peduli yang orang dewasa katakan, karena baginya makan adalah yang terpenting.
Begitu mendengar itu, Alno langsung meletakkan sendok dan garpunya, memutar posisi tubuhnya menghadap ke arah samping kanannya, dimana Jasmine duduk, di raihnya tangan sang Mama dan dikecupnya berkali-kali.
"Makasih Ma, Alno janji walaupun tinggal jauh, tapi Alno akan terus mengingat nasihat Mama, makasih karena Mama pertimbangin keputusan Alno hingga akhirnya mendukung Alno," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama sayang, maafkan atas sikap Mama tadi ya, Mama terlalu egois hanya memikirkan perasaan Mama sendiri," Jasmine mengelus lembut rambut Alno dengan kepala yang menunduk sedang mengecup punggung tangannya.
"Alno mengerti Ma."
"Tunggu! Ini apa maksudnya? Melanjutkan pendidikan keluar negeri? Siapa?" Vier menatap satu persatu keluarganya, meminta jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Kakak kalian, jadi selama Kak Alno tidak tinggal bersama kita, Papa harap kalian bisa terus menaati aturan yang sudah Papa buat, walaupun mungkin tidak ada lagi yang mengawasi kalian," Stevano membantu istrinya menjawab pertanyaan putra mereka.
Saat yang lain sibuk membicarakan tentang rencana kepergian Alno, Vira justru terlihat tidak bersemangat, dirinya sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ingin melanjutkan makannya lagi, maupun mendengarkan perbincangan orang-orang.
"Aku sudah kenyang, aku ke kamar dulu," Vira mendorong tempat duduknya, dan bangun kemudian berlalu menuju kamarnya.
Melihat itu, Alno melirik adiknya sekilas kemudian kembali mengalihkan pandangannya.
Sementara yang lain, masih memandangi Vira.
"Rencananya, besok pagi-pagi aku akan langsung berangkat Ma."
Semua mata yang tertuju pada Vira kini beralih kembali ke arah Alno.
"Sayang kenapa begitu cepat, memangnya kamu sudah mempersiapkan semuanya?" Tanya Jasmine menatap Alno dengan tatapan sendu.
"Sudah Ma, Alno sudah menyiapkan semuanya, tinggal keberangkatan saja."
"Sayang kamu..
__ADS_1
"Aku yakin Mama akan mengijinkan," jawab Alno tersenyum.
"Kamu curang," Jasmine mengatakan itu dengan wajah cemberut.
"Haha maaf Ma," Alno bangun dan memeluk Mamanya dari samping.
"Oh ya Ma, Pa, dan adik-adik semua, Kak Alno ke atas dulu ya, mau beres-beres dan istirahat lebih awal," Alno menatap adik-adiknya dan kedua orang tuanya meminta izin untuk lebih dulu meninggalkan tempat.
Kelimanya pun mengangguk, dan setelah mendapat persetujuan, Alno pun segera berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Saat melewati kamar adiknya, terlihat pintu kamar terbuka, Alno hendak masuk untuk menemui adik tercintanya tapi niat itu dia urungkan, Alno takut jika begitu dia masuk, dia akan berat meninggalkannya dan yang lebih parahnya dia takut jika akhirnya dia berubah pikiran.
Hingga akhirnya Alno melanjutkan langkah ke kamar yang tepat berada di samping kamar Vira.
***
Keesokan harinya, di saat langit masih gelap, bahkan rembulan masih terang, Alno sudah siap dengan 2 kopernya, 1 berukuran besar dan 1 kecil. Alno melewati kamar Vira, dan lagi-lagi hatinya ingin hanya sebentar saja melihat Vira, dan niat itu kembali diurungkannya, Alno tidak ingin hati yang sudah ditata akan kembali goyah karena melihat cinta pertamanya itu.
Dengan perlahan Alno menuruni anak tangga dengan membawa koper besarnya, tak lama Vier menyusulnya dengan membawa koper Alno yang kecil.
membawakan kopernya yang kecil.
"Sama-sama, Kakak akan pergi sekarang? Apa tidak terlalu pagi? Adik-adik yang lain bahkan belum bangun, hmm ya udah biar aku bangunin dulu," Vier meletakkan koper Alno dan akan kembali ke atas, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Mama dan Papanya sudah rapi.
"Loh, kamu mau ikut ke bandara sayang?" Tanya Jasmine pada Vier yang masih menatapnya.
"Mau ke bandara sekarang? Vira, Vi dan Ze belum bangun Ma, rencananya, Vier akan bangunin mereka dulu."
"Sebaiknya tidak perlu bangunkan mereka, ini juga baru jam 4 pagi, kasihan adik-adik pasti mengantuk, biarkan mereka istirahat saja," Alno berusaha mencegah agar Vier tidak membangunkan adik-adiknya terutama Vira, karena sampai saat ini, Vier belum menyiapkan hatinya.
Stevano melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Apa yang Kakakmu katakan benar, lebih baik kamu bersiap dan kita berangkat sekarang!" Putus Stevano setelah melihat jam menunjukkan pukul 4 seperti yang tadi putranya katakan.
"Hmm baiklah, aku bersiap dulu," Vier kemudian melanjutkan menaiki anak tangga.
"Kamu mau Mama bikinin apa dulu sayang," Jasmine mendekat dan memegang lembut lengan putranya.
__ADS_1
"Tidak perlu Ma, oh Ya Alno bawa koper ke mobil dulu," Alno kemudian melepaskan perlahan tangan Mamanya dan menarik koper yang ada di sampingnya.
Stevano dan Jasmine pun hanya mengangguk, melihat Putranya sudah menjauh, Jasmine kembali menghela nafas berat.
Stevano memegang kedua bahu istrinya, menenangkannya, Stevano bukan tidak tahu jika sebenarnya sang istri belum benar-benar rela melepaskan kepergian Putra pertamanya.
Jasmine memegang kedua tangan suaminya yang berada di bahunya dan menoleh seraya menyunggingkan senyum, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Sudah siap?" Stevano kini menatap Vier yang menuruni anak tangga.
"Sudah Pa, oh Ya Kak Alno mana?" Tanya Vier saat tak melihat keberadaan Kakaknya.
"Sedang menaruh koper ke mobil, ayo lebih baik kita samperin saja sekalian langsung berangkat," Stevano menghampiri Vier menepuk pelan bahu anaknya, kemudian menggandeng tangan Jasmine mengajaknya berjalan ke depan menuju mobilnya diparkirkan.
Ketiganya kemudian masuk ke dalam mobil, dimana Alno sudah lebih dulu masuk dan duduk di kursi samping kemudi.
Dan tak lama supir pun melajukan mobil itu menuju bandara, untuk mengantarkan kepergian Alno.
.
.
Sementara itu di tempat lain, seorang gadis menggeliat bangun dari tidurnya, saat merasa terusik oleh cahaya jingga yang menerobos masuk melewati celah-celah gorden.
Rambutnya terlihat sedikit kusut, dia kemudian mengambil ikat rambut yang semalam di taruh di meja nakas, kemudian mengikat rambutnya asal.
Sekarang menunjukkan pukul 6, saat dia melihat Jam weker di sebelahnya. Dia langsung turun dari ranjangnya dengan tergesa-gesa, saat mengingat perkataan Kakaknya semalam yang mengatakan bahwa dia akan pergi pagi ini, tapi Vira tidak tahu Kakaknya akan pergi jam berapa karena dia lebih dulu meninggalkan perbincangan keluarganya.
Tanpa mencuci muka dulu, Vira berlari keluar kamar, dia dengan cepat menuju kamar sebelahnya, dan dengan kasar membuka pintu kamar itu.
Tempat tidur tampak sudah rapi, bahkan Vira tidak melihat koper Kakaknya.
"Jangan-jangan Kak Alno..," Vira yang terlihat gusar kini langsung keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga dengan terburu-buru, matanya bahkan sudah berkaca-kaca.
"Kenapa Kak? Kenapa Kak Alno meninggalkan aku dengan cara seperti ini?" Air mata Vira kini tidak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
Saat tidak mendengar suara apapun, Vira kini menuruni anak tangga dengan berlari, ingin cepat-cepat ke lantai bawa, hingga tiba-tiba…