
"Ngapain disini?" Tanya Kimmy pada Alno yang berdiam diri di jendela di tempat yang tidak jauh darinya.
"Lihat mereka," kata Alno tersenyum sambil menunjuk ke arah dimana Vier sedang dikejar-kejar Vira.
"Asyik banget ya mereka," Kimmy menyilangkan tangannya di depan dada ikut memperhatikan di samping Alno.
"Hmmm asyik banget, hal itu yang membuatku rindu pada kebersamaan kita," jawab Alno dengan senyum yang masih terukir di sudut bibirnya.
"Mereka bukan seperti saudara, lebih mirip seperti pasangan kekasih," celetuk Kimmy.
Alno tertawa, "Kenapa bisa berpikiran seperti itu? Hmmm aku tahu, itu pasti karena wajah mereka yang tidak mirip, semua orang yang tidak tahu juga bilangnya begitu," jawab Alno tanpa melepas pandangan ke arah mereka.
"Hmm iya, oh ya Rae apa kamu ada kesibukan apa gitu hari ini?" Tanya Kimmy yang memang bosan di rumah terus semenjak ada di kediaman Stevano.
"Tidak ada, kamu bosan?" Tanya Alno yang mengerti bahwa kini pasti Kimmy jenuh hanya berada di dalam rumahnya.
"Hmm bisa iya, bisa juga tidak," jawab Kimmy.
"Bagaimana ada jawaban seperti itu, tinggal katakan iya atau tidak, ya sudah ayo, kita keluar sebentar," Alno kemudian berjalan lebih dulu, meninggalkan Kimmy yang kini tersenyum senang.
"Rae tunggu!" Teriak Kimmy pada Alno yang hampir sampai ke mobilnya begitu mereka sudah ada di depan mansion.
Vier dan Vira yang mendengar Kimmy berteriak, langsung mencari sumber suara dan kegiatan mereka terhenti melihat apa yang ada di tempat yang tidak jauh dari posisi mereka berada.
Vier menatap Vira, Vira menatap ke arah lain, dan keduanya sama-sama menghela nafas panjang.
Tak lama setelah mobil Alno pergi, ada mobil lain yang datang, keduanya mengenali mobil itu, dan sepakat untuk menghampirinya bersamanya.
"Kak Vira!" Teriak seorang gadis berumur 13 tahun begitu turun dari mobil diikuti oleh dua pria yang juga ikut turun.
Gadis itu langsung berlari dan memeluk Vira.
__ADS_1
"Clara, Kakak kangen sama kamu," Vira membalas pelukan gadis itu.
"Clairine Anderson," anak ketiga pasangan Max dan Bunga, biasa disapa Clara, dia tinggal bersama Kakaknya Keanu di negara ibu mereka berasal sejak satu tahun yang lalu, dan sekarang dia juga kembali setelah beberapa hari Ken lebih dulu pulang kemari, karena dengan alasan Clara masih belum tiba waktu libur, sehingga Ken memutuskan kembali lebih dulu setelah wisudanya, meninggalkan Clara di sana bersama dengan adik Kakeknya Mike Orlando. Apalagi Mike Orlando hanya tinggal sendiri. Dan baru semalam, Clara di jemput oleh Max dan Bunga agar pulang, karena kedua pasangan suami istri itu, sudah sangat merindukan anak bungsu, putri satu-satunya mereka.
"Aku juga sangat merindukan Kak Vira, oh ya dimana Zeline, Clara memang tidak mau memanggil Zeline dengan sebutan Kakak, dia bilang karena mereka sama besarnya, ya walaupun usia Zeline terpaut 2 tahun lebih tua darinya.
"Zeline belum pulang sekolah, mungkin sebentar lagi," jawab Vira yang menatap sepupunya yang semakin cantik.
Dilihatnya, Vier berpelukan dengan Ken, karena mereka baru bertemu hari ini setelah kepulangan Ken, hanya Vira yang sudah bertemu Ken lebih dulu, saat kemarin dia pergi ke rumah Paman dan Bibinya.
"Aku gak di peluk juga nih Kak," terdengar protes dari siapa lagi jika bukan Zio.
"Kita sudah sering bertemu, ngapain pakai peluk-peluk segala," ujar Vier yang kemudian mengajak ketiga sepupunya masuk.
"Kak Vira makin cantik aja deh," celetuk Zio yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vier.
"Anak kecil gak usa gombal-gombal seperti itu," kata Vier pada Zio.
"Ish, Kak Vier ini, aku tidak gombal, aku hanya berbicara kenyataan," ucap Zio tidak terima.
"Ngawur!" Vier menggetok kepala Zio.
Ken hanya geleng-geleng kepala, Vira dan Clara terkikik geli sambil menutup mulutnya mendengar perdebatan Vier dan Zio.
"Mau dikemanain tuh Cinta, bagaimana sudah dapat belum? Ngakunya bisa mendapatkan tuh Cinta, mana nyatanya sampai sekarang?" Kata Vier yang membuat Zio langsung kehilangan semangat begitu mendengar nama gadis itu di sebut.
"Ya masih proses Kak, sebentar lagi, ya sebentar lagi, aku akan mendapatkannya," kata Zio yang kembali semangatnya.
"Mungkin," jawab Vira dan kini Zio menatap Vira.
"Kok mungkin sih Kak, pasti gitu bilangnya," protes Zio pada apa yang tadi Vira ucapkan.
__ADS_1
"Ya mungkin, dari dulu aja bilang akan mendapatkannya tapi mana buktinya sampai sekarang tuh cinta belum berubah nama belakangnya jadi Anderson," ucap Vier yang membuat Zio mendengus kesal.
"Sudah Ah, malas ngmong sama Kak Vier. Oh ya Vian belum pulang? Gak kelihatan dari tadi," tanya Zio yang baru menyadari sepupu yang seumuran dengannya tidak ada di rumah.
"Belum, memangnya kamu yang suka bolos," kata Vier menjawab ucapan Zio.
"Ya mending bolos, daripada gak lihat Cinta," jawab Zio yang langsung mendapat gaplokan di kepalanya tidak tanggung-tanggung hanya mendapat satu, tapi dua dari Vier dan Ken.
Zio bisa dikatakan berbanding terbalik dengan Ken, Ken lebih pendiam dibanding Zio yang suka banyak bicara. Lihat saja sedari tadi Ken hanya diam saja, tidak menanggapi ocehan adiknya itu.
"Papa dan Mama mana?" Tanya Ken yang baru mengeluarkan suara emasnya. Dia biasa memanggil Stevano dan Jasmine Papa dan Mama, masih mengikuti bagaimana Vier dan Vira memanggil orang tuanya dulu sewaktu kecil, tidak seperti Zio dan Clara yang memanggil mereka Paman dan Bibi.
"Pergi ke kantor," jawab Vira yang memang tahu Papa dan Mamanya kemana.
"Oh.." Ken menganggukkan kepalanya.
"Bibi masih sering ikut Paman ke kantor?" Tanya Zio yang kini bertanya dengan normal.
"Ya seperti itu," jawab Vira yang kemudian kembali asyik berbisik-bisik dengan Clara di sampingnya, tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.
"Kamu beneran akan menggantikan posisi Opa Mike?" Vier bertanya serius pada Ken.
"Ya, dari dulu, Opa Davian juga memang memutuskan itu," jawab Ken tenang.
"Mulai kapan?" Tanya Vier lagi.
"Habis dari sini," jawabnya singkat.
"Terus perusahaan Papi disini?"
"Papi masih bisa mengurusnya sebelum Zio nanti yang akan menggantikannya."
__ADS_1
Vier menghela nafasnya, Ken memang beda, vier jadi teringat perkataan Mamanya waktu itu, "Ken itu lebih mirip sama Papa yang dulu, daripada Papinya, padahal dulu Ken waktu kecil sangat cerewet bahkan sering bertanya apapun yang memang dirinya ingin tahu.
Begitulah Ken, dirinya tidak akan berbicara panjang lebar, dia hanya menjawab apa yang ditanyakan kepadanya, tapi jarang Ken bertanya balik pada orang yang memberinya pertanyaan.