My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 31


__ADS_3

"Kak apa yang kau laku.."


Belum selesai dengan ucapannya bibir Vira sudah lebih dulu dibungkam bibir Alno.


Vira memberontak mendorong dada kakaknya, tapi tangan Alno mencekal kedua tangan Vira dan menguncinya di atas kepala Vira.


Bahkan ciuman Alno yang awalnya lembut kini berubah menuntut.


Alno melepaskan ciuman ketika dirasa Vira sudah kehabisan nafas.


"Apa yang Kakak lakukan ha?" Teriak Vira dengan amarah dan nafas yang terengah.


"Itu hukuman untukmu karena kamu sudah mengabaikan Kakak," kata Alno tanpa merasa bersalah.


Alno mencium bibir Vira lagi, tidak memberikan kesempatan untuk Vira memprotes tindakannya.


"Itu karena kamu bersama laki-laki lain," kata Alno begitu ciuman mereka terlepas.


Dan sekali lagi Alno kembali mendaratkan bibirnya di bibir Vira yang terlihat menggoda. Ciuman yang begitu lembut tanpa ada nafsu disana yang ada hanya ciuman yang menyalurkan betapa rindunya pria itu kepada gadis yang berhasil memporak-porandakan hati dan hidupnya dalam waktu sekejap, meruntuhkan pertahanan yang Alno kumpulkan 6 tahun belakangan.


Nafas keduanya seakan saling memburu oksigen, meraup sebanyak-banyaknya, begitu tautan bibir keduanya terlepas.


Alno menurunkan kedua tangan Vira, dan dengan segera membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kakak merindukanmu Vira, sangat-sangat merindukanmu dan Kakak tidak bisa membohongi hati Kakak sendiri, Kakak marah saat melihatmu pulang bersama seorang pria, kamu mengobrol bahkan tertawa dengannya, Kakak cemburu Vira, Kakak akui jika kakak masih sangat mencintaimu," ujar Alno mengungkapkan semua apa yang ada di dalam hatinya selama ini. 

__ADS_1


Alno melepaskan pelukan mereka, menatap Vira dalam dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Vira, tapi kali ini dengan cepat Vira menutup bibirnya dengan kedua tanganya.


"Kakak egois! Kakak marah saat aku mengabaikan Kakak, Kakak marah saat aku  bersama dan mengobrol dengan pria lain, tapi bagaimana dengan Kakak sendiri? Kakak juga melakukan hal yang sama, saat Kakak baru pulang, Kakak mengabaikanku, kakak bahkan tidak menyapaku, Kakak menganggapku tidak ada, kakak juga dekat bahkan melakukan hal itu bersama perempuan lain, apa Kakak tidak tahu jika semua itu membuat aku terluka, hatiku sakit, tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa marah pada diriku sendiri, aku tidak bisa meluapkannya di depan Kakak, aku…"


Bibir Vira lagi-lgi dibungkam oleh bibir Alno, bahkan Vira tidak sadar kapan tangan.yang menutup bibirnya terlepas.


"Bukankah tadi kamu sudah meluapkan semua kemarahan kamu ke kakak? Dan jika kamu mau menghukum Kakak, karena semua kesalahan Kakak itu, Kakak akan menerimanya, tapi Kakak mohon maafkan Kakak," pinta Alno menatap Vira sendu, menyelipkan rambut panjang Vira yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Kini Vira mendorong tubuh Alno, "Baiklah aku akan menghukum kakak seperti yang Kakak tadi minta tapi tidak sekarang, yang ingin aku lakukan sekarang, aku ingin mendengar semua penjelasan dari kakak tentang semua yang terjadi pada Kakak dan kekasih Kakak itu," kata Vira yang kemudian mendorong Alno keluar dari kamar mandi.


Vira kemudian segera menutup pintu dan menguncinya. Di sandarkan tubuhnya pada pintu, dipegang dadanya merasa ada gemuruh di dalamnya.


"Dia bukan kekasih Kakak, Vira!" Teriak Alno yang masih bisa didengar oleh Vira. Dan mendengar hal itu dari perkataan kakaknya sendiri, membuat Vira tanpa sadar melengkungkan sudut bibirnya ke atas mencetak senyuman yang sangat manis.


Vira menyembulkan kepalanya keluar menatap sekeliling, Vira berharap kakaknya sudah tidak berada di dalam kamarnya.


Vira menarik nafasnya lega, dan kemudian dia keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa kamu keluar lagi? Apa kamu masih ingin terus melihat Kakak?" 


Suara itu spontan membuat Vira terlonjak kaget, "Darimana suara itu? Bukankah tadi tidak ada orang," gumam Vira pelan hingga tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahunya dari belakang, membuat Vira sampai loncat karena begitu terkejutnya.


"Kakak!" Kesal Vira saat berbalik badan dan melihat Vier yang kini hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kenapa? kamu masih ingin melihat Kakak bukan? Apalagi saat Kakak sudah mengatakan bahwa Kimmy bukan kekasih Kakak, kamu sudah tidak sabar untuk memeluk Kakak?" Tanya Alno dengan begitu percaya dirinya.

__ADS_1


"Jangan terlalu percaya diri deh," kata Vira membalikkan badan membelakangi kakaknya dan melangkah menjauh.


Alno mengikuti Vira di belakangnya.


"Tidak, kakak yakin itu bukan karena terlalu percaya diri, lagian untuk apa kamu keluar dengan pakaian yang masih sama, Kakak yakin jika kamu belum mandi," kata Alno menelisik penampilan adiknya dari atas ke bawah, dan melihat Vira dengan pakaian yang dia pakai tadilah yang membuat Alno yakin jika Vira buru-buru keluar karena masih ingin bersamanya.


Vira berhenti, berbalik dan memandang kakaknya, Alno tersenyum merasa tebakannya benar, dan adiknya  tadi hanya merasa gengsi saja hingga tidak langsung mengutarakan keinginannya, karena Alno sudah berhasil menebaknya.


"Terus apa hubungannya dengan aku yang belum mandi dengan perkataan Kakak tadi?"


"Ya itu karena kamu sudah tidak sabar untuk segera menemui kakak lagi," jawab Alno masih dengan senyum di wajahnya.


"Sejak kapan tingkat percaya diri kakak semakin tinggi? Aku memang belum jadi mandi tapi bukan berarti itu karena aku sudah tidak sabar menemui kakak, aku keluar karena aku akan mengambil pakaianku lagi, karena pakaian tadi sudah jatuh di lantai kamar mandi dan itu semua gara-gara kakak, aku ingatkan kalau-kalau kakak lupa hal itu," jelas Vira meninggalkan kakaknya dengan wajah yang entahlah Vira tidak tahu bagaimana menjelaskannya, mungkin antara tidak percaya dan juga malu.


Vira tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju walk in closet, melihat kakaknya yang terkejut dengan jawabannya.


"Haha rasain tuh, lagian sih jadi orang begitu kepedean," gumam Vira nyaris berbisik, hingga Alno tidak mendengarnya.


Vira mengambil beberapa pakaian santainya, dan terkejut ketika tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, dan Vira sangat tahu siapa tersangka utamanya. Siapa lagi jika bukan kakaknya yang sekaligus menjadi tambatan hatinya.


"Kak lepasin aku mau mandi!" 


Bukannya melepaskan, Alno kini malah mengeratkan pelukannya, menghirup aroma tubuh Vira yang menenangkan dan begitu dia rindukan selama 6 tahun terakhir. Dan Alno tidak menyangka jika dia akan kembali merasakan pelukan ini, bukan sebagai status kakak adik, tapi sebagai sepasang manusia yang saling mencintai.


Jangankan Alno, Vira pun tidak menduga jika akhirnya dia jatuh cinta pada sosok laki-laki yang selama ini selalu melindunginya, dia yang selama ini Vira kenal sebagai kakaknya, dan Vira menyadari itu ketika kakaknya pergi, saat itu Vira menyesal mengabaikan perasaan kakaknya juga perasaannya sendiri. Vira sudah merasa ada yang aneh dengan perasaannya saat bersama Alno, dan Vira selalu menepis itu semua, hingga ketika Alno pergi, Vira tidak bisa jika terus menyembunyikan perasaan yang entah sejak kapan hadir di hatinya, dia membutuhkan kakaknya, dia ingin selalu disisi kakaknya, tapi Vira terlambat, kakaknya telah pergi meninggalkannya. Dan kali ini Vira tidak ingin menyesal lagi, dia tidak akan melepaskan pria yang saat ini masih memeluknya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2