
"Vira baik-baik saja Ma, ya sudah Vier ke atas dulu," pamit Vier yang kemudian meninggalkan Jasmine dengan kebingungan.
"Kenapa? Apa ada yang terjadi?" Jasmine menatap satu persatu anak-anaknya.
"Sepertinya Vier marah gara-gara Kimmy, Bi, maafkan Kimmy," Kimmy menunduk merasa bersalah.
Jasmine menghela nafas, dia kini mengerti apa yang terjadi. Stevano menggenggam tangan istrinya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, Stevano sudah tahu apa yang terjadi, Jasmine sudah menceritakan semuanya. Stevano tadi memang sengaja mengajak Jasmine ke kamar begitu dia menyadari ada seorang gadis yang tidak dikenal diantara anak-anaknya. Stevano memang sudah mendapat kabar jika Alno tidak datang sendiri sebelumnya tapi Stevano juga belum tentang detailnya. Karena tidak ingin menyinggung gadis itu, akhirnya Stevano pun mengajak istrinya ke kamar, meminta Istrinya menceritakan apa yang terjadi.
"Sudah sayang, ini bukan salahmu, Vier hanya tidak tahu saja," kata Jasmine menatap Kimmy.
Kini pandangan Jasmine beralih ke Alno, "Kamu tidak berniat menjelaskannya sayang?" Tanyanya kepada sang putra.
Alno balas menatap Mamanya, "Nanti Alno pasti akan jelaskan Ma, Mama jangan khawatir ya, Alno akan selesaikan semuanya, hal ini terjadi karena Alno dan Alno pula yang akan menyelesaikannya," kata Alno menggenggam tangan kiri Mamanya, karena tangan kanan Jasmine masih ada dalam genggaman Papanya.
Jasmine hendak bicara, tapi Stevano segera menyelanya.
"Papa percaya sama kamu, kamu pasti akan bertanggung jawab atas apa yang sudah telah kamu lakukan."
"Ya sudah lebih baik kalian lanjutkan makan sekarang, keburu makanannya dingin," ucap Jasmine mengakhiri percakapan mereka.
Alno dan Kimmy mengangguk, sementara Vian dia sudah sedari tadi melahap makanan, tanpa mau ikut campur masalah kakak-kakaknya. Kemudian mereka pun makan malam dengan tenang, tidak ada satupun yang membuka suara.
***
"Vier!" Vira memanggil kembarannya pelan.
"Jangan sakiti hatimu lagi Vira!"
"Vier, Kak Alno sudah mengatakan jika gadis itu bukan kekasihnya," Vira menggenggam tangan Vier.
"Lalu?" Vier menatap mata Vira.
__ADS_1
"Jangan seperti itu sama Kak Alno," Vira dengan ragu membalas tatapan Vier.
"Kamu masih membelanya, dia sudah menyakitimu Vira, dia tetap Kakakku, tapi jika dia sudah menyakitimu, aku tidak setuju kau bersamanya," ucap Vier dengan tegas.
"Kamu sudah tahu?"
"Iya, aku tahu, aku mendengar semua saat kamu bersama Mama waktu itu.
"Tapi dulu aku yang tanpa sadar telah menyakitinya," lirih Vira mengingat kejadian 6 tahun yang lalu.
"Yang kamu lakukan dulu benar Vira, kamu tidak tahu apa-apa saat itu."
"Vier, gadis itu bukan siapa-siapa Kak Alno, dan aku percaya itu," Vira menunduk entahlah apa yang sedang Vira pikirkan saat ini.
Vier menghela nafas, berbicara pada Vira sebenarnya seperti berbicara pada dirinya sendiri, karena sifat keras kepala Vira juga dia memilikinya.
"Tatap mataku Vira!"
"Aku tahu kamu bilang percaya pada Kak Alno, tapi aku tahu dalam hatimu kamu juga masih meragukannya. Kenapa? Karena Kak Alno belum menjelaskan siapa wanita itu sebenarnya kan? Kak Alno bilang jika wanita itu bukan siapa-siapanya. Lantas bagaimana jika wanita itu mengakui Kak Alno sebagai siapa-siapanya? Aku tahu dimata Kak Alno masih menyimpan cinta untukmu yang begitu besar, bagaimanapun aku laki-laki dan aku bisa merasakan itu. Tapi Vira kamu jangan langsung menyerahkan seluruh hatimu saat ini, yang mungkin saja bisa membuatmu kecewa."
"Maksud kamu?"
"Kamu boleh bersamanya asal semua sudah ada kejelasannya, kamu tetap diam di tempat, biar Kak Alno mempertanggung jawabkan semuanya. Sekarang kamu coba pikirkan, jika dia bukan siapa-siapa Kak Alno, jika wanita itu tidak ada hubungannya dengan Kak Alno, kenapa Kak Alno membawanya kemari? Pasti ada alasan di balik itu, dan sebelum kamu benar-benar tahu kebenaran dari keduanya, kamu harus menahannya Vira."
"Mungkin saja dia teman Kak Alno, dia ingin berlibur kemari, makanya Kak Alno membawanya kemari," Vira tetap mencoba berpikir positif.
"Teman? Jikapun dia teman, Kak Alno tidak harus bertanggung jawab atas dirinya, apalagi membawanya kemari, jika dia ingin liburan disini, Kak Alno pasti akan mencarikannya tempat lain, seperti hotel misalnya, tidak perlu membawa masuk ke dalam keluarga kita, Kak Alno hanya perlu mengawasinya dari jauh, jadi Vira pasti ada hubungan khusus antara kak Alno dengannya. Vira dengarkan aku, aku bukan ingin mematahkan harapanmu, aku hanya tidak ingin kamu kembali terluka, dan kamu harus ingat, tetap di tempatmu, biar Kak Alno yang berusaha menghampirimu."
"Tapi Vier…
"Sekarang makanlah, nanti makanannya dingin, dan jangan terlalu dipikirkan, aku tinggal dulu," Vier mengacak rambut Vira dan pergi meninggalkan gadis itu dengan berbagai macam pikiran yang terasa memenuhi otaknya.
__ADS_1
"Kamu mudah mengatakannya Vier karena kamu belum pernah merasakannya, karena sejauh ini hubungan kamu dan Sheira selalu baik-baik saja," gumam Vira menatap punggung Vier yang kini sudah menghilang di balik pintu.
"Saat Kak Alno bilang bahwa itu bukan kekasihnya, rasanya aku masih punya kesempatan dan harapan untuk bisa mendapatkan cinta Kak Alno kembali, salahkah aku jika mengambil kesempatan itu, di tengah sedikitnya harapan? Jika aku hanya terus menunggu, mungkin aku akan kehilangan harapan itu sekali lagi, jika kamu bilang masih ada cinta di mata Kak Alno untukku, kenapa aku harus diam saja? Apalagi saat Kak Alno seperti mengizinkan aku masuk ke dalam hidupnya lagi. Bukankah seharusnya kamu memberi dukungan untukku berjuang? Karena aku tidak bisa hanya terus menunggu, aku takut kehilangannya untuk yang kedua kalinya."
Vira pun sibuk dengan pikirannya sampai tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke kamarnya.
"Kenapa melamun?" Alno memegang lengan adiknya mengejutkan Vira.
"Kak, sejak kapan ada disini?" Tanya Vira yang kini memandangi Kakaknya.
"Apa yang sedang kamu lamunkan?" Alno mengelus lembut rambut Vira.
Vira menggeleng, "Hmm tidak ada," jawabnya tersenyum.
Alno kemudian melihat ke meja, dimana disana masih ada makanan yang masih utuh, belum tersentuh sama sekali. Alno kemudian mengambil makanan itu dan menyendoknya.
"Buka mulutmu sayang!"
"Kak aku belum lapar," Vira menolak makanan suapan Alno.
"Ya sudah kamu makan buah saja, kakak bawakan untukmu," Alno mengambil anggur yang tadi dibawanya dan kembali menyuapkan ke Vira.
"Kak aku akan makan tapi nanti, bisakah Kakak keluar dulu?" Vira menatap Kakaknya penuh permohonan. Vira hanya ingin menenangkan dirinya sendiri untuk saat ini.
"Baiklah, Alno kemudian memasukkan anggur itu ke dalam mulutnya, dan kemudian menempelkannya di bibir Vira.
Mata Vira membelalak, saat dirasa anggur itu masuk ke dalam mulutnya. Rupanya Alno menyuapi Vira dengan mulutnya langsung.
"Makan!" Perintah Alno.
Vira pun dengan terpaksa memakannya menatap Alno kesal.
__ADS_1
"Menyebalkan!"