
"Kenapa Rae tidak juga kembali?" Kimmy mondar-mandir sambil memegang ponsel yang ditempelkan di telinganya, terus menghubungi Alno tapi nomornya tidak aktif.
"Sial apa dia membohongiku?" Kimmy menggenggam erat ponselnya.
"Tapi tidak mungkin, Rae itu menyayangiku, jadi dia tidak mungkin seperti itu," Kimmy terus meyakinkan dirinya sendiri.
Kimmy buru-buru menjawab begitu ada panggilan masuk tanpa melihat nama pemanggil.
"Halo," jawabnya yang mengira jika Alno lah yang menelpon.
Tapi dirinya dibuat kecewa saat tahu bahwa ternyata bukan Alno. Ditambah lagi dengan kabar yang diberikan oleh orang yang menelponnya. Membuat Kimmy geram dan melempar gelas minumannya.
Prang
Bunyi gelas yang dilempar terdengar begitu memekakkan telinga orang yang mendengarnya.
"Apa? B*d*h! Apa yang kalian kerjakan sebenarnya? Kenapa kerja seperti itu tidak bisa? Kemarin kalian gagal, dan kali ini kalian juga gagal? Dasar tidak becus! Sekarang cari! Dan aku tidak ingin mendengar kegagalan kalian lagi," Kimmy mematikan ponsel dan melangkah menuju kamarnya.
Brak
Pintu kamar terdengar di tutup dengan keras oleh Kimmy membuat pelayan yang tadi bersembunyi terlonjak kaget dan refleks memegang dadanya yang rasanya sesuatu di dalamnya seperti mau loncat dari tempatnya.
*
*
Vira menggeliat pelan, diraihnya ponsel di meja, jam menunjukkan pukul 4 sore, pantas saja perutnya terasa lapar, karena dirinya sudah melewatkan jam makan siang. Apalagi dirinya tadi pagi hanya makan sedikit karena begitu gugup.
Vira menoleh ke sampingnya, Alno sudah tidak ada disana, wajah Vira memerah mengingat kejadian beberapa jam lalu, dan Vira merasa lega, karena setidaknya apa yang Mamanya katakan saat itu kini terbukti, dan Vira sungguh-sungguh bersyukur.
Vira mengeratkan selimutnya, mencoba untuk bangun tapi baru turun dari ranjang, Vira langsung terduduk di lantai dan meringis kesakitan pada bagian pangkal pahanya.
"Aww!"
Alno yang baru keluar dari kamar mandi segera berlari menghampiri Vira.
"Kenapa tidak memanggil Kakak?" Dengan panik Alno langsung mengangkat tubuh Istrinya.
"Kak, aku bisa sendiri," ucap Vira merasa malu apalagi melihat tubuh Alno yang hanya tertutupi handuk dan bertelan*jang dada.
"Biar Kakak bantu! Kakak yakin kamu sekarang mungkin tidak bisa jalan," kata Alno hingga membuat ada semburat merah di kedua pipi Vira.
__ADS_1
"Tapi Kakak belum pakai baju," kata Vira begitu pelan.
"Apa yang kamu katakan Kakak tidak dengar?" Kata Alno memiringkan wajahnya agar telinganya lebih dekat pada Vira.
"Kakak belum pakai baju," ucap Vira dengan malu-malu.
"Kenapa memangnya, bukankah kamu tadi siang sudah melihat semuanya?" Kata Alno.
Vira yang merasa malu mendengar ucapan Alno, langsung menyembunyikan wajahnya di dada telan*jang Alno.
Alno terkekeh pelan, Alno baru melihat sisi Vira yang malu-malu seperti ini, dan menggoda istrinya ini, membuat Alno begitu gemas apalagi saat melihat rona berwarna merah di wajah istrinya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Biar Kakak bantu ya, kamu kesakitan seperti ini juga karena Kakak, makasih ya sayang, Kakak begitu bersyukur karena kamulah yang pertama bagi Kakak," ucap Alno tulus dari dalam hatinya.
Alno kemudian menurunkan Vira di bathup yang sudah diisi dengan air hangat, yang katanya bisa sedikit menghilangkan rasa sakit jika berendam di dalamnya.
"Kamu tidak kaget, saat Kakak mengatakan kamu yang pertama bagi Kakak" tanya Alno duduk di pinggiran bathup menghadap wajah istrinya sekaligus menatapnya dengan tatapan menyelidik.
Vira menggeleng, tapi juga mengangguk dengan cepat setelahnya.
"Maksudnya? Kenapa kamu menggeleng terus mengangguk?"
Alno tanpa ragu mengangguk, menyetujui Vira.
"Apa sungguh itu benar-benar yang pertama kalinya bagi Kakak, maksudku selain denganku, apa Kakak hanya melakukan hal itu denganku?"
"Hal itu apa yang kamu maksud?" Tanya Alno tidak mengerti.
"Hal yang tadi siang."
"Memang hal apa yang terjadi tadi siang?" Tanya Alno lagi.
Vira yang tahu bahwa Alno hanya pura-pura tidak mengerti kini memasang wajah cemberutnya.
"Kak Alno jangan pura-pura tidak tahu, apa yang aku maksud," ucapnya memanyunkan bibirnya.
Cup
Alno mengecup bibir Vira sekilas.
"Ini pertama kalinya bagi Kakak, dan hanya kamu yang berhasil Kakak ma.., aww sakit sayang!" Alno terdengar mengadu karena Vira mencubitnya, hingga apa yang akan dirinya ucapkan langsung terpotong akibat insiden pencubitan itu.
__ADS_1
"Kakak mesum!" Ucap Vira dengan wajah merona, Vira bahkan memalingkan wajahnya, agar Alno tidak melihatnya. Tapi sayangnya Alno sudah melihat itu.
"Wajahmu memerah sayang," kata Alno dengan senyuman khasnya,bsengaja menggoda istrinya sambil mengelus pipi Vira dengan begitu lembut.
"Lebih baik Kakak keluar!"
"Kenapa mengusir Kakak? Jika disini Kakak bisa membantumu jika kamu perlu bantuan," Alno mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa Kak Alno jadi genit sih?" Gumam Vira yang masih bisa didengar oleh Alno.
"Tidak apa-apa dong genit sama istri sendiri, iya enggak?"
"Tahu ah, lebih baik Kakak keluar sekarang!" Pinta Vira yang tidak tahu lagi bagaimana menghadapi suaminya.
"Suami?" Mengatakan itu saja membuat Vira tersenyum geli. Dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa seseorang yang selama ini dikira Kakak kandungnya ternyata bukan bahkan sekarang sudah berganti status menjadi suaminya.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya Alno mendekatkan wajahnya menelisik wajah Vira, menebak apa yang kira-kira membuat istrinya tersenyum seperti itu.
"Tidak ada, jadi kakak sebaiknya keluar sekarang!" Untuk kesekian kalinya Vira kembali meminta Kakaknya untuk segera keluar dari kamar mandi.
"Kakak akan keluar setelah kamu menjawab pertanyaan Kakak tadi?"
"Pertanyaan yang mana?" Tanya Vira yang memang lupa apa yang tadi Kakaknya tanyakan.
"Jangan pura-pura lupa," Alno mengira jika Vira membalas apa yang tadi dirinya katakan.
"Sungguh aku lupa Kak, pertanyaan mana yang Kakak maksud?"
Alno menghembuskan nafas panjang, "Tadi saat Kakak berkata bahwa kamu yang pertama bagi Kakak, saat kakak tanya kamu kaget atau tidak, kenapa kamu menggeleng dan mengangguk bersamaan?"
Vira ikut menghembuskan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Alno.
"Aku kaget karena ternyata apa yang Mama ucapkan ada benarnya. Dan aku tidak kaget, karena aku berharap bahwa semuanya memang baik-baik saja dan ternyata memang baik-baik saja."
"Kamu sudah tahu sejak awal?"
"Aku tidak tahu dari awal, aku tahu dari Mama, Mama menjelaskan kemungkinan aku hanya dijebak, melihat dari apa yang terjadi padaku. dan sekarang setelah kejadian tadi siang yang terjadi antara kita, aku yakin bahwa apa yang Mama katakan waktu itu memang benar. Sungguh Kak, aku begitu lega begitu tahu yang sebenarnya, "Terima kasih dan maaf, terima kasih karena Kakak, aku bisa membuktikan diri bahwa aku tidak pernah melakukan hal itu bersama orang lain dan aku minta maaf karena aku menyembunyikan hal itu pada Kakak, karena apa? Karena saat itu, jujur aku sebenarnya juga sedikit ragu pada diriku sendiri.
Alno tersenyum, "Tidak perlu minta maaf dan berterima kasih, karena semua itu memang yang seharusnya Kakak lakukan.
Alno mencium kening Vira cukup lama, "Sekarang lebih baik kamu bersihkan diri, Kakak akan tunggu di luar, jika ada apa-apa, kamu segera panggil Kakak," ucap Alno yang kemudian meninggalkan Vira yang terus menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1