
"Makasih ya Ra," ucap Sean begitu sampai di rumah Vira.
"Kamu aneh deh Sean, masa kamu yang makasih, harusnya itu aku, kamu kan yang nyetirin mobil," jawab Vira sambil tertawa pelan.
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hmm iya juga ya, tapi aku juga tidak salah sih, kan aku makasih juga karena kamu bolehin aku pinjam mobil kamu ini untuk dibawa pulang," jawab Sean menatap gadis yang masih ada dalam hatinya. Katakan Sean tidak bisa move on, tapi memang itulah kenyataannya.
"Terpaksakan kamu aku pinjemin, habisnya dianterin gak mau," ucap Vira yang tadi memang berniat jika dirinya saja yang mengantar Sean, niat Vira karena kasihan jika Sean harus bolak-balik, apalagi rumah mereka memang berlawanan arah, tapi Sean justru menolak dan akhirnya Vira pun memutuskan agar Sean membawa mobilnya saja, biar nanti dia diantar Zio atau Ken jika mau pulang. Tapi Sean bilang sekalian saja baliknya, ya sudah akhirnya Vira pun setuju.
"Masa iya cowok dianterin cewek kan gengsi Ra," ada saja jawaban Sean daritadi.
"Ya sudah, sana pulang! Ntar dicariin sama petugas lagi," ucap Vira.
"Petugas apa Ra?" Tanya Sean bingung.
"Petugas rumah sakit jiwa," jawab Vira asal.
Sean memberengut, "Kamu pikir aku gila!"
"Hahaha bercanda Sean, mukanya biasa aja jangan seperti itu, udah jelek entar tambah jelek," kata Vira tertawa.
Melihat Vira sudah kembali tertawa, Sean tersenyum, kemudian mengacak rambut Vira.
"Kamu cantik kalau tertawa seperti itu, jadi sering-sering tertawanya," kata Sean membenarkan rambut Vira yang tadi dia acak-acak.
"Entar aku dong yang akhirnya ditangkap petugas rumah sakit jiwa," canda Vira.
"Loh kok bisa?" Tanya Sean pura-pura tidak tahu.
"Lah itu, kamu suruh aku sering-sering tertawa," kesal Vira melihat wajah Sean yang pura-pura itu.
Kemudian keduanya pun tertawa.
"Vira!"
Vira dan Sean menoleh ke arah sumber suara, dimana Alno kini sedang berjalan menghampirinya.
"Ya udah aku pulang dulu ya, mobil aku pinjam," pamit Sean.
__ADS_1
"Kak saya pulang dulu," kini Sean menatap Alno yang sudah ada di belakang Vira dan berpamitan juga padanya.
"Hati-hati Sean," Vira melambaikan tangannya pada Sean begitu Sean mulai menjalankan mobilnya perlahan. Sean pun membalas lambaian tangan Vira.
Tak peduli dengan keberadaan Alno, Vira terus berjalan meninggalkan Alno yang kini mengikutinya.
"Vira tunggu Kakak, ada yang ingin Kakak katakan!" Kata Alno sambil terus mengejar langkah Vira yang kini berjalan lebih cepat.
"Vira Kakak minta maaf," teriak Alno ketika Vira sudah jauh dari jangkauannya.
Langkah Vira terhenti, tapi itu hanya sebentar dan Vira kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
Saat Vira hendak menaiki tangga, tanpa sengaja dirinya berpapasan dengan perempuan yang datang bersama Kakaknya, Vira menatap sekilas, dan kembali menatap ke depan.
"Hai Vira," sapa gadis itu.
Tapi Vira mengabaikannya. Vira terus berjalan dan saat ini tujuannya adalah kamarnya.
Tak lama Alno pun menaiki anak tangga, Kimmy yang masih di tempat memandangi kepergian Vira kini berganti menatap Alno.
"Rae, Vira kenapa?" Tanya Kimmy pada Alno.
"Bukan cuma angin lalu, mungkin mereka juga tidak melihat keberadaanmu," kata seseorang yang membuat Kimmy terlonjak kaget.
"Ya ampun kamu mengagetkanku saja," Kimmy memegang dadanya yang rasanya hampir loncat mendengar suara yang tiba-tiba ada di sekitarnya.
"Awas minggir! Kau menghalangi jalanku!" Kata Vian yang tidak merespon ucapan Kimmy sama sekali.
"Hei anak kecil! kamu kira aku segede apa sampai bisa menghalangi jalanmu, lihatlah ini di depanmu masih luas, bahkan mobil pun bisa lewat," jawab Kimmy kesal, rasanya Kimmy ingin memites anak ini yang sudah tidak sopan padanya.
Vian hanya mengedikkan bahunya acuh, meninggalkan Kimmy yang kini marah-marah tidak jelas.
Kimmy mengepalkan tangan kanannya dan hendak mendaratkan pukulan di kepala belakang bocah itu.
Tapi tiba-tiba Vian menoleh, membuat kepalan tangan Kimmy hanya bisa melayang di udara.
"Hus pergi sana pergi!" Ucap Kimmy mengibas-ngibaskan tangannya di udara seolah sedang mengusir sesuatu.
__ADS_1
"Dasar nyamuk kurang ajar! Kenapa tidak pergi-pergi!" Kata Kimmy sambil terus melirik ke arah Vian.
"Itu karena kau belum mandi," ucap Vian kemudian berlalu meninggalkan Kimmy.
"Apa tadi kau bilang? Aku belum mandi? Atas dasar apa kau mengataiku belum mandi? Hei kemari kau bocah!" Teriak Kimmy tapi Vian hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.
Kimmy menghentakkan kakinya kesal, kemudian dia menuruni anak tangga, menuju dapur, melanjutkan kembali niatnya yang sempat tertunda.
"Dasar orang-orang aneh!" Gerutu Kimmy di sepanjang jalan menemani langkahnya menuju ke tempat tujuan.
Sementara itu, begitu Vira masuk ke dalam kamarnya, Vira terkejut ketika Kakaknya juga ikut masuk, bahkan langsung mengunci pintunya.
Tapi Vira langsung menetralkan keterkejutannya, dan tanpa mempedulikan Kakaknya Vira berjalan ke kamar mandi, waktu sudah sore bahkan matahari hampir tenggelam, Vira harus mandi.
Alno terus membuntuti Vira pergi, dari mengambil handuk dan mengambil pakaian ganti, ya Alno tahu kebiasaan adiknya memang selalu membawa pakaian ganti dan langsung menggantinya di kamar mandi.
Alno terus mengikuti adiknya, tapi Vira seakan tak menganggap jika di belakangnya ada orang.
Vira seperti tidak terganggu sama sekali dengan keberadaan Alno disana.
Alno kesal karena Vira selalu mengabaikannya dari tadi, hingga kesabarannya kini habis, dan saat melihat Vira masuk ke kamar mandi dan hendak menutup pintunya, tapi Alno langsung menahannya, dan dengan cepat dirinya bisa ikut masuk ke kamar mandi dan langsung mengunci pintunya.
Vira membelalak kaget, sampai pakaian yang tadi dibawanya berjatuhan di lantai kamar mandi.
Vira langsung mundur, tapi Alno justru mendekat.
"Stop! Apa yang kamu lakukan disini?" Teriak Vira menahan dada Alno.
"Oh jadi Kakak harus seperti ini, biar kamu bisa melihat keberadaan kakak?"
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," jawab Vira memalingkan wajahnya saat wajah Alno kini hanya beberapa centi dari wajahnya, dan jika mereka maju satu langkah saja, maka dapat dipastikan bibir Alno akan mendarat di bibir Vira.
"Jangan pura-pura tidak tahu Vira, kenapa? Kenapa kamu mengabaikan dan menghindari Kakak?" Marah Alno ketika sudah sampai batas puncak kesabarannya yang merasa kesal karena Vira mengabaikannya. Alno tidak suka Vira menghindarinya.
Vira tersenyum sinis,dan menatap mata pria di depannya dengan tajam.
"Apa tidak salah? Coba pikir lagi, aku yakin kamu pasti masih mengingatnya dengan jelas, siapa yang sering mengabaikan dan sering menghindar.
__ADS_1
"Maafkan Kakak, Kakak salah karena telah mengabaikanmu,"
"Terlambat," jawab Vira yang hendak keluar kamar mandi, tapi dengan cepat Alno menarik dan memepetkan tubuh Vira di dinding.