
"Alno mau jawab telepon dulu," pamit Alno pada keluarganya dan sedikit menjauh agar tidak ada yang mendengarnya. Alno ingin menyelesaikan masalah Vira sendiri tanpa melibatkan para orang tua.
"Kalian sudah menemukannya?" Tanya Alno memastikan pada apa yang didengarnya.
"Segera bawa dia ke tempat biasanya, Bersama Alma? Baiklah," ucap Alno yang kemudian memutuskan panggilannya.
"Kamu memberi tugas kepada Alma?" Tanya Jason yang ternyata mengikuti Alno di belakangnya dan bertanya saat nama Alma disebut oleh Putra Tuannya.
Alno terkejut dan langsung menoleh ke belakang dimana dia lihat paman Jason sedang menatapnya meminta penjelasan.
"Iya Paman, dia akan segera kembali, dan Paman tidak perlu khawatir," ucap Alno setelah menetralkan rasa keterkejutannya.
Jason seketika bernafas lega mendengar itu.
Untungnya sekarang di kediaman Stevano yang dulu sudah bisa menggunakan ponsel, bahkan televisi pun juga sudah tersedia di kamar-kamar tertentu, hingga membuat mereka semua yang disana tidak perlu susah payah menghubungi orang lain, seperti yang Jasmine rasakan dulu.
"Paman aku kesana dulu," pamit Alno menunjuk ke arah keluarganya berada.
"Oh ya, sepertinya Alno harus pergi sekarang," kata Alno begitu sudah berdiri tidak jauh dari Mama dan Papanya.
"Tidak!" Ucap semua orang yang ada disana, yang tentu saja menentang keinginan Alno yang akan pergi.
"Tapi ini sangat penting," Alno menatap mereka semua satu bersatu penuh harap. Rasanya Alno sudah tidak sabar ingin menemui Sisil dan menginterogasi gadis itu, tentang apa yang terjadi hari itu.
"Siapa yang menghubungimu, sampai kamu buru-buru ingin pergi, Kimmy?" Tanya Jasmine menatap putranya kecewa.
"Bukan Ma, ada urusan lain yang harus Alno kerjakan," ucap Alno mengelak ucapan Mamanya yang bilang akan menemui Kimmy, karena memang bukan Kimmy alasannya pergi.
"Apapun itu, Mama tidak akan mengizinkan kamu pergi kemanapun, ini hari pernikahanmu Alno, jangan buat Vira kecewa dan salah paham atas kepergianmu yang tanpa pamit padanya bahkan di hari bahagia kalian. Kamu bisa mengurus urusanmu besok atau kapanpun itu, asal tidak pada hari ini," kata Jasmine tegas memperingati putranya.
Alno menatap Papanya meminta bantuannya, tapi stevano hanya mengedikkan bahunya acuh. Memberi isyarat bahwa dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, jika sang istri sudah angkat bicara.
__ADS_1
Alno menghembuskan nafasnya panjang, "Huft ya sudah," akhirnya Alno hanya bisa pasrah.
"Sekarang berikan ponselmu pada Mama!" Jasmine meminta ponsel Alno, Jasmine tidak ingin ada yang mengganggu Alno di waktu seperti ini.
"Tapi Ma,"
"Alno turuti saja apa kata Mamamu," ucap Stevano yang akhirnya ikut berbicara.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar, Alno akan menghubungi teman Alno dulu, ada yang harus Alno sampaikan," ijin Alno pada Mamanya sebelum menyerahkan ponselnya.
Alno kembali menjauh dan menghubungi seseorang yang tadi menghubunginya, mengatakan bahwa dia akan datang besok, dan menyampaikan beberapa pesan untuk orang itu, setelah selesai, Alno pun segera mengakhiri panggilan.
"Sekarang mana ponselmu," Jasmine tiba-tiba saja ada di belakang Alno dan kembali meminta ponselnya.
Alno dengan terpaksa memberikan ponselnya.
Setelahnya mereka semua mengobrol, setelah cukup lama, akhirnya Alno pun pamit keluar untuk mencari istrinya. Mengucap kata istri membuat senyum terukir di bibir pria itu.
Alno berkeliling mengitari seluruh ruangan di kediaman Papanya yang sangat luas, tapi cukup lama Alno berkeliling, dirinya tidak juga menemukan istrinya, dia justru bertemu dengan adiknya Vian.
"Jangan pernah sakiti Kak Vira, walaupun Kak Alno adalah Kakakku, jika suatu saat aku melihat Kak Vira terluka karena Kakak, aku tidak akan segan-segan lagi, aku akan memberikan Kak Alno pelajaran dengan tanganku sendiri," bukannya menjawab pertanyaan Kakaknya, Vian justru terkesan memberikan peringatan.
Alno balas menatap adiknya dengan tatapan lembut dan tersenyum, "Kakak akan berusaha untuk tidak menyakiti Kak Viramu dan Kakak juga akan selalu mengingat kata-katamu, hmm tidak terasa ya, rupanya adik Kakak yang satu ini sudah besar, ya sudah Kakak akan lanjutkan mencari Kak Vira," pamit Alno menepuk bahu adiknya kemudian pergi untuk melanjutkan mencari Vira istrinya.
"Kak Vira ada di kamar atas," ucap Vian yang membuat langkah kaki Alno berhenti.
Alno berbalik dan tersenyum melihat adiknya, "Terima kasih," Setelah mengatakan itu Alno melanjutkan langkahnya untuk menemui istrinya yang sudah berada di dalam kamar.
Dengan semangat Alno menaiki anak tangga, dirinya ingin segera berjumpa dengan Vira. Begitu sudah sampai di kamar yang ditujunya. Alno langsung masuk karena pintu tidak dikunci, Alno tidak melihat istrinya di tempat tidur, kemudian pandangan Alno tertuju pada pintu balkon yang terbuka.
Dengan pelan Alno melangkahkan kaki, dan benar istrinya ada di sana, sedang menatap hamparan taman bunga yang begitu indah dan cukup luas.
Alno melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri dan menumpukan dagunya di bahu Vira.
__ADS_1
"Sedang apa?" Tanyanya sambil menghirup aroma dalam-dalam adik yang kini berubah status menjadi istrinya.
"Melihat taman itu, indah sekali bukan? Kakak tahu siapa yang membuatnya?" Tanya Vira sedikit menoleh dan meraih wajah Alno dengan tangan kanannya, dan dielusnya dengan lembut pipi pria itu.
"Hmm tidak tahu, mungkin saja pelayan dan pengawal," jawab Alno yang masih betah dengan posisinya, bahkan kini dia lebih erat memeluk Vira.
"Huh, ternyata Kakak tidak tahu, aku pikir Kakak tahu," ucap Vira cemberut.
"Kenapa memangnya kalau Kakak tahu?" Tanya Alno yang kini membalik badan Vira hingga posisi mereka kini saling berhadapan. Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Karena Alno menarik pinggang istrinya semakin mendekat. Hingga Vira bisa rasakan hembusan nafas Alno.
"Ya tidak apa-apa," Vira memalingkan wajahnya yang terasa panas, dan bisa dipastikan saat ini, wajahnya pasti sudah memerah.
Alno menarik dagu istrinya agar menghadap ke arahnya, dan di dekatkannya wajahnya ke wajah Vira, kini benda kenyal itu saling menyatu dan memagut mesra.
Jantung keduanya sama-sama memompa lebih cepat seperti sedang berlomba. Keduanya sama-sama meraup oksigen sebanyak-banyaknya begitu pagutan bibir mereka terlepas.
Alno kembali mendaratkan bibirnya di bibir sang istri, mengangkat tubuh sang istri tanpa melepas ciuman mereka, membawa Vira dan menurunkannya di atas ranjang perlahan.
Alno kembali melepaskan ciuman mereka, membiarkan istrinya bernafas sejenak.
"My wife," bisik Alno di telinga Vira yang menimbulkan gejolak aneh di tubuh Vira.
"Kamu cantik," ucap Alno serak saat jemarinya melepas pakaian yang Vira kenakan.
"Kak Alno," ucap Vira lirih.
Erangan Vira mulai terdengar saat Alno bergerak tidak sabar, bergerak menyapu kulit wanitanya dengan lidah panas yang semakin membakar.
Desiran aneh yang tubuh Vira rasakan membuatnya bergerak gelisah di bawah sentuhan suaminya yang kini melepas kain yang menutupi tubuhnya.
Alno merangkak perlahan, hingga akhirnya keduanya menyatukan hasrat yang semakin membara.
Pekikan Vira terdengar keras, begitu merasakan sakit ketika penyatuan terjadi. Tapi hal itu tidak membuat Alno berhenti, justru membiasakan diri sesaat dan kembali bergerak dengan penuh hasrat.
__ADS_1
"Kau milik Kakak seutuhnya Vira," ucap Alno dengan suaranya yang parau, sambil mengejar puncak rasa cinta kedua pasangan pengantin baru itu yang semakin membara.