My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 81


__ADS_3

"Sayang jaga diri baik-baik ya di rumah, kalau ada apa-apa segera hubungi Kakak, jika pengen sesuatu kamu bisa suruh Cinta," pesan Alno untuk kesekian kalinya sampai Vira hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Iya Suamiku, sekarang buruan masuk ke mobil, nanti kamu terlambat," ucap Vira yang kasihan melihat supir mereka yang harus menunggu lama.


Hari ini, Alno ke luar negeri, tepatnya ke tempat asal Bibinya Bunga, karena besok adalah hari pernikahan Keanu sepupunya yang biasa dipanggil Ken. Semua anggota keluarganya kecuali Vier, sudah berada di sana dari 6 hari yang lalu, Vier baru kesana kemarin karena ada urusan mendadak di kantornya. Ya Vier sudah aktif di kantor menggantikan kakeknya Alexander Gottardo. Dan sekarang baru Alno yang berangkat kesana, karena khawatir pada istrinya yang kini sedang hamil.


"Sayang!" 


"Sudah Kak sana berangkat! Aku tidak apa-apa, ada Cinta juga, iya kan Cinta?" Tanya Vira pada Cinta sambil memberi isyarat pada gadis itu untuk membantunya bicara agar suaminya lekas berangkat.


"Iya Kak, ada aku tenang saja," ucap Cinta yang mengerti isyarat yang tadi Vira berikan


"Baiklah, aku akan segera pulang," kata Alno kemudian memeluk istrinya mencium puncak kepalanya berulang kali.


"Iya, maaf ya tidak bisa mengantar sampai bandara," kata Vira yang kemudian mengakhiri pelukan mereka.


"Cinta, kamu temanin istri Kakak ya, jika ada apa-apa, segera hubungi Kakak saat itu juga, tidak boleh nanti-nanti," kini giliran Cinta yang mendapat pesan dari Alno.


"Iya Kak," jawab Cinta mengerti.


Kemudian Alno pun dengan berat hati masuk ke dalam mobil meninggalkan istri dan calon anaknya, walaupun hanya beberapa hari, tetap saja terasa berat bagi Alno.


Vira dan Cinta melambaikan tangannya sampai mobil yang membawa Alno mulai menghilang.


"Kak, Kakak mau apa biar aku cariin kalau tidak aku buatin deh buat Kakak?" Kata Cinta menawarkan diri.


Vira memicingkan matanya, menatap Cinta curiga, "Kamu yakin bisa?" Tanya Vira.


"Hehehe," Cinta hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak, Kakak tau darimana kalau aku tidak bisa memasak?" 


"Kata Ibumu, tapi Kakak heran kenapa Zio bisa tergila-gila denganmu, tapi kok bisa ya, kamu ketus sekali sama Zio tapi hal itu tidak berlaku sama orang lain, sama yang lain tingkat kemanjaanmu kadang sampai di luar batas," ucap Vira tidak habis pikir.


"Ya bagaimana lagi Kak, dia memang nyebelin sih, terus kalau dia sampai tergila-gila padaku, itu pasti karena pesonaku yang membuat semua takluk dan tertarik padaku, jadi salahkah aku jika dilahirkan cantik?" Jawab Cinta dengan begitu percaya dirinya.

__ADS_1


"Huh dasar, tapi ngomong-ngomong, kamu suka sama Zio kan?" Kata Vira menggoda Cinta dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Suka? Sama dia? Tidak, jangan sembarangan bicara deh Kak, aku tidak suka sama dia, dan tidak akan pernah suka," kata Cinta membantah dengan tegas.


"Ya deh, tapi kamu tahu nggak, cinta sama benci beda tipis loh, jadi hati-hati saja, yang bilang awalnya tidak suka nanti bisa suka," kata Vira memberi peringatan.


"Ih Kak Vira, kalau ngomong…"


"Tapi benar loh, soalnya ini pengalaman Kakak sendiri, kamu pasti tahu lah bagaimana kisah cinta Kakak."


"Iya sedikit tahu, tapi masa sih Kak?" Tanya Cinta menatap Vira mencari kebenaran apa yang diucapkan oleh wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri.


"Lihat saja nanti, jika kamu memang penasaran," setelah mengatakan itu, Vira pun berlalu meninggalkan Cinta.


*


*


Tujuh jam berlalu kini Alno sudah ada di bandara, terlihat Zio dan Vian datang menjemputnya.


"Iya, walaupun sebenarnya Kakak berat meninggalkan istri Kakak," jawab Alno lesu saat kembali teringat istrinya yang berada di rumah.


"Oh ya terus Kak Vira bagaimana? Dia hanya bersama Bibi?" Tanya Zio dan Vian pun hanya menyimak ucapan kedua saudaranya itu. Lagian Vian tidak perlu bertanya karena apa yang ingin ditanyakannya sudah diwakili oleh sepupunya itu.


"Sama Cinta," jawab Alno yang kemudian mengambil ponselnya untuk mengabari kepada sang istri bahwa dirinya kini telah sampai.


"Sama calon istri aku?" Zio begitu senang saat mendengar nama gadis pujaan hatinya disebut.


"Hhmm, eh bukan, ngaku-ngaku aja kamu, belum tentu cinta suka sama kamu," kata Alno yang langsung meralat ucapannya saat baru menyadari pertanyaan Zio.


"Sudah, Ayo! Kakak ingin segera rebahan sambil menelpon Kak Vira," Ajak Alno pada adik-adiknya.


Alno dan Zio berjalan lebih dulu, sementara Vian masih tetap diam sambil membawa koper kecil milik Alno.


Ketiganya kemudian berjalan beriringan hingga sampai di mobil Zio. Alno dan Vian masuk ke kursi belakang, sementara Zio duduk di depan bersama supir.

__ADS_1


"Oh ya bagaimana? Kok bisa Ken menikah?" Tanya Alno memasukkan ponselnya ke dalam celana saat tadi mengirim pesan pada istrinya dan istrinya bilang mau mandi.


"Ya tentu saja bisa Kak, bukankah itu salah satu tahapan manusia, lahir, besar, menikah, punya anak, tua," Zio pun menoleh ke belakang, dimana orang yang bertanya memang duduk di belakangnya.


"Kakak serius."


"Hmm entahlah Kak, aku juga tidak tahu, ya mungkin karena mereka saling suka, tapi ya Kak, selama aku disini, aku belum pernah lihat loh, calon istrinya Kak Ken," cerita Zio.


"Belum pernah lihat? Memangnya dia tidak pernah datang ke rumah?"


"Tidak, selama sebulan disini dia tidak datang, apa mungkin mereka…?"


"Kenapa mereka?" Tanya Alno dan Vian bersamaan.


"Wah kamu rupanya bisa penasaran juga Vi?"  Ujar Zio yang melihat pemandangan langkah, dimana Vian mau bertanya, mungkin karena dia memang sangat penasaran.


"Sudah cepat jawab!" Lagi-lagi Alno dan Vian mengucapkan kalimat yang sama.


"Jangan-jangan…"


Alno dan Vian masih sabar menunggu jawaban dari Zio.


"Jangan-jangan mereka LDR an," jawab Zio.


Alno dan Vian kompak menghela nafas dan duduk bersandar di mobil.


"Kenapa dengan respon kalian itu?" Zio merasa heran dengan respon kedua saudaranya.


"Kakak kira apa." 


"Ya lagian kalian tanya sama aku, kan aku tinggal sama mami dan papi selama ini, sementara semenjak Ken lulus SMA kan dia ikut pindah bersama Grandpa dan Grandma, ya jadi wajar dong kalau aku tidak tentang calon istrinya, jangankan calon istrinya, mengenal baik Kak Ken juga tidak. Seharusnya Kak Alno tanya sama Kak Vira, selama ini yang dekat  dengan Kak Ken kan hanya Kak Vira, mungkin saja Kak Vira tahu," Zio pun kemudian kembali menatap ke depan.


"Entahlah tapi Vira tidak pernah cerita juga, dia malah terkejut, saat  tiba-tiba Paman Max menelpon papa memberitahu kalau Ken akan menikah," kata Alno seperti apa yang terjadi saat itu, dimana semua keluarganya terkejut mendapat kabar mendadak dari Max.


"Kak Ken menikah bukan karena terjadi accident kan?" Gumam Vian membuat ketiga orang disana menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2