
"Tidak!"
Vira berteriak dan segera bangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran dan air mata yang membasahi wajahnya.
Tangan Vira meraba ke sampingnya dan menoleh. Suaminya sudah tidak ada di saja.
Diliriknya jam digital yang ada di atas meja, waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Vira memegang dadanya yang rasanya masih berdebar tidak menentu. Mimpinya benar-benar mengerikan.
"Kak! Kak Alno!" Vira turun dari tempat tidur memanggil-manggil suaminya.
Langkahnya tertuju kepada kamar mandi yang pintunya tertutup, Vira langsung membukanya tapi ternyata, suaminya tidak ada disana.
"Apa Kak Alno sudah berangkat? Kenapa Kak Alno tidak membangunkan dan berpamitan? Kak! Kak Alno!" Vira kembali memanggil-manggil suaminya bahkan kini kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Vira memang meminta Alno untuk ikut tapi tidak dengan cara seperti ini. Suaminya tidak membangunkannya, Vira tidak melihat kepergian suaminya itulah yang membuat Vira kini menangis dengan duduk di lantai kamar yang dingin apalagi saat Vira mengingat mimpi mengerikannya tadi.
"Kenapa Kak Alno tidak membangunkanku dan mengajakku untuk mengantarnya ke bandara?" Vira menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana. Tubuh Vira bergetar ketakutan.
Ceklek
Tak lama pintu kamar terbuka. Vira yang masih menangis bahkan tidak menyadarinya.
Sedangkan Alno yang melihat istrinya menangis, dengan segera meletakkan nampan di atas meja dan berlari menghampiri istrinya.
"Sayang kenapa? Apa ada yang sakit? Katakan sayang? Kita periksa ke dokter ya?" Panik Alno memeluk istrinya.
"Vira mengangkat kepalanya, dan Alno melonggarkan pelukannya.
"Kak!" Kini tampak Vira yang bergantian memeluk suaminya.
"Hei kenapa menangis? Apa ada yang sakit? Cepat katakan sama Kakak!"
__ADS_1
Vira hanya menggeleng di pelukan suaminya, membuat Alno bingung dibuatnya, karena jujur saja dirinya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Alno menepuk-nepuk pelan punggung istrinya agar bisa merasa sedikit tenang. Biarkan istrinya menumpahkan tangisnya dulu, nanti jika sudah tenang, Alno akan bertanya lagi kenapa istrinya sampai menangis sesenggukan seperti itu.
"Aku kira, Kakak bakal ninggalin aku. Aku kira Kakak akan pergi tanpa berpamitan dulu, aku kira…"
"Ssst, itu tidak mungkin sayang, jika Kakak mau pergi pasti Kakak akan bilang ke kamu, Kakak tidak akan tiba-tiba pergi begitu saja, sudah ya, jangan menangis lagi," Alno melonggarkan pelukannya dan menatap istrinya, menghapus air mata yang sudah bercampur keringat di wajah sang istri.
"Maafkan Kakak, Kakak tadi tidak bangunin kamu, tidur kamu begitu nyenyak, makanya Kakak tidak ingin mengganggumu, tadi Kakak hanya ingin menyiapkan sarapan saja, sekarang makan ya, kamu gosok gigi dulu sama cuci muka," ucap Alno kemudian berdiri terlebih dahulu, setelah itu diulurkan tangannya membantu Vira bangun.
Vira pun menyambut uluran tangan suaminya, begitu berdiri, Vira langsung kembali memeluk Alno.
"Alno heran dengan tingkah istrinya yang tiba-tiba seperti itu, apalagi pelukan Vira pada tubuhnya begitu erat, seakan takut Alno meninggalkannya.
"Kak Alno harus berjanji sama aku, apapun yang terjadi, Kak Alno tidak boleh ninggalin aku, kita akan hidup sampai tua bersama, aku… aku sangat mencintai Kak Alno dan ingin selalu bersama-sama dengan Kak Alno terus," kata Vira setelah tangisnya mulai reda.
"Kakak cinta sama kamu, Kakak juga ingin terus bersama kamu, tapi Kakak tidak bisa berjanji, Kakak hanya akan terus selalu berusaha untuk tidak meninggalkanmu, dan hanya mautlah yang bisa memisahkan kita."
Vira langsung melepaskan pelukannya, menatap Alno tajam, "Jangan pernah berbicara seperti itu lagi, aku tidak suka Kak," ucap Vira yang kemudian melangkah meninggalkan Alno dalam kebingungan karena istrinya tiba-tiba merajuk.
"Sayang buka pintunya! Sayang!" Alno mengetuk pintu kamar mandi sambil terus memanggil-manggil istrinya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dan Alno segera masuk.
Dilihatnya Vira sedang menggosok gigi menghadap kaca besar yang ada di atas wastafel.
Alno memeluk istrinya dari belakang, menumpukan dagunya di atas bahu istrinya.
"Apa Kakak salah bicara?" Tanya Alno yang melihat istrinya hanya diam saja.
Alno yakin ada sesuatu yang istrinya pikirkan, tapi Alno tidak tahu itu apa, dirinya hanya merasa seperti itu saja.
__ADS_1
Vira menggeleng, Vira tadi pergi karena takut mengingat mimpinya tadi, apalagi saat Alno mengatakan tentang maut, Vira benar-benar sedih.
Alno membalik tubuh istrinya hingga kini posisi mereka saling berhadapan, Vira menunduk, tidak berani menatap mata suaminya, mata Vira memanas, mencoba sebisa mungkin agar cairan bening tidak kembali jatuh dari matanya.
Alno mengangkat dagu istrinya dengan pelan, agar Vira menatap matanya, "Kalau ada apa-apa, katakan pada Kakak ya, jangan dipendam sendiri, kasihan anak kita, kalau Mamanya terlalu banyak pikiran," pesan Alno kemudian mengecup kening istrinya.
"Kalau sudah selesai, keluar ya, kita sarapan sama-sama, Kakak jawab telepon dulu," kata Alno yang mendengar ponselnya berdering.
Tapi begitu terkejutnya Alno saat Vira langsung memeluk dirinya dari belakang.
"Kakak hati-hati ya," ucap Vira.
Alno mengernyitkan dahi, kemudian tersenyum dan berbalik, "Iya Kakak akan selalu hati-hati, tapi kenapa kamu bilang pada Kakak seperti itu?" Tanya Alno yang memang bingung tiba-tiba istrinya berkata seperti itu, tapi Alno berusaha sebaik mungkin tidak menunjukkan kebingungannya.
"Intinya Kakak hati-hati saja, terutama di jalan raya, kakak janji sama aku dulu."
Kebingungan Alno bukannya terjawab justru kini dirinya merasa semakin bingung atas jawaban yang istrinya berikan.
"Kak!" Vira mengguncang tubuh Alno karena suaminya itu hanya diam saja.
"Baiklah, Kakak janji akan selalu hati-hati, sekarang jelaskan sama Kakak kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu.
Vira meremas jari-jarinya, bingung harus mengatakan semua itu atau tidak, dan setelah berpikir cukup lama, akhirnya Vira pun mengeluarkan suaranya.
"Kakak kecelakaan, Kakak ditabrak mobil, dan Kakak…" Vira tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya.
Alno yang melihat tubuh istrinya bergetar segera menarik ke dalam pelukannya.
"Kamu mimpi buruk?"
Vira hanya mengangguk di pelukan suaminya.
Alno tersenyum, jadi istrinya berkata seperti itu hanya karena mimpi buruk.
__ADS_1
"Sayang kamu udah bikin aku khawatir aja, aku kira tadi kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu ternyata hanya karena mimpi, kamu jangan terlalu dipikirkan ya, mimpi itu hanya bunga tidur, sudah sekarang ayo kita sarapan dulu, kasihan ini anak kita," kata Alno yang kemudian menggandeng istrinya keluar dari kamar mandi.
"Walaupun cuma mimpi, tapi itu terasa nyata sekali, makanya aku takut, sangat takut Kak, aku takut kehilangan kamu, rasanya aku tidak sanggup jika sampai hal itu benar-benar terjadi," kata Vira berucap dalam hati sambil mendongak menatap suaminya dalam diam.