
"Maaf mengganggu," ucap Vira dan berbalik, tanpa pikir panjang lagi Vira segera berlari menuju kamarnya kembali sambil menghapus kasar air matanya.
Vira menutup dan mengunci pintu kamarnya. Tubuhnya meluruh begitu saja hingga terduduk di lantai kamar yang dingin.
Air matanya kembali mengalir deras, Vira menangis tanpa suara, dadanya terasa sesak. Vira menepuk-nepuk pelan dadanya, berharap rasa sesak yang sekarang yang dirasakannya akan segera hilang, tapi ternyata tidak semudah itu, rasanya justru semakin sesak, sakit tapi tidak berdarah.
"Kenapa Kak? Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku Kak? Kau bilang kau cinta padaku, tapi apa nyatanya? Kau memang kembali, tapi kenapa kau membawanya? Kenapa kau membalasku dengan cara seperti ini Kak? Apa kau sedang menghukumku? Menghukumku karena terlambat menyadari bahwa aku juga mencintaimu, awalnya aku akan memberikan kejutan untukmu, akan aku berikan dua kabar untukmu, kabar gembira tentang kita, tapi kabar buruk tentangmu, tapi sekarang kedatanganmu dengannya justru sangat membuatku terkejut, terkejut hingga ada rasa di dalam dada ini ingin meledak, kenapa Kak? Kenapa?" Isak Vira dengan kepala yang ditelungkupkan di kedua lututnya yang di tekuk.
"Sakit, sakit sekali rasanya, apa ini hukuman untukku Tuhan, karena aku pernah mengabaikan rasa cintanya? Kenapa baru sekarang? Kenapa disaat aku sudah mencintainya?" Vira meremas d*danya yang merasakan sakit, hingga Vira rasanya ingin mengakhiri semuanya. Bukan hidupnya tapi perasaannya yang sudah 6 tahun ini dia jaga untuk Kakaknya.
***
Sementara di tempat lain, dua manusia, laki-laki dan perempuan masih terkejut saat tiba-tiba ada yang masuk ke dalam kamar sang pria.
Setelah si perempuan menghilangkan rasa keterkejutannya, dia segera menatap sang pria yang masih terus melihat ke arah pintu.
"Rae!" Panggil perempuan itu memegang bahu Alno. Perempuan itu memang sudah terbiasa memanggil nama depan Alno yaitu Rae.
Alno segera tersadar ketika perempuan yang bernama Kimmy memegang bahunya. Hingga Alno kemudian menatap Kimmy dengan pandangan yang sulit diartikan.
Melihat itu, Kimmy tahu dan dia segera memeluk Alno yang berdiri, sementara dirinya duduk diatas ranjang Alno.
"Lebih baik kamu samperin deh adik kamu," Kimmy langsung melepaskan pelukannya dan meminta Alno untuk menemui Vira.
"Tidak perlu," jawab Alno yang kemudian ikut duduk di samping Kimmy.
"Tapi Rae," ada sorot keberatan saat melihat Alno tidak mau menemui adiknya.
__ADS_1
"Ini yang terbaik Kim, sudahlah aku mau membersihkan badan dulu, nanti kita temui orang tuaku, kata Bibi sebentar lagi Mama dan Papa pulang, dan kita akan meminta izin mereka," ucap Alno yang kemudian bangu dari duduknya.
"Apa kamu yakin Mama dan Papamu akan menyetujuinya?" Tanya Kimmy ragu.
"Aku yakin dan kamu tidak perlu khawatir, kamu juga tidak perlu takut, Mama dan Papa adalah orang yang baik, jadi kamu tidak akan dilempar begitu saja dari sini, ya sudah aku tinggal dulu, sebentar lagi Bibi pasti selesai dan aku akan mengantarmu," ucap Alno mengajak rambut Kimmy yang sepertinya terlihat tegang saat akan menemui Mama dan Papa Alno.
"Alno memandangi Kimmy, dan tersenyum saat melihat Kimmy ketakutan, padahal selama Alno mengenal Kimmy belum ada hal yang membuat Kimmy merasa ketakutan seperti itu.
Tak lama Alno pun keluar dari kamar mandi, dilihatnya Kimmy masih tidak bergerak dan kini malah menggigit kuku jari nya sendiri, begitulah yang Kimmy lakukan jika dirinya sedang gugup.
"Kamu masih memikirkannya?" Tanya Alno mendekati Kimmy yang berada di balkon kamarnya, hingga membuat Kimmy langsung terlonjak kaget.
"Rae, kamu mengagetkan saja, kau tahu kau hampir saja membuat jantungku ingin lompat dari tempatnya," gerutu Kimmy karena Alno yang tiba-tiba muncul mengagetkannya.
"Itu salah kamu yang melamun dari tadi," jawab Alno yang tidak mau disalahkan oleh perempuan yang umurnya jauh lebih muda 2 tahun darinya.
"Selalu saja bisa menjawab," gumam Kimmy yang masih didengar oleh Alno.
Alno tertawa mendengar gumaman Kimmy, dia pun mengikuti Kimmy dan kembali duduk di samping Kimmy. Alno memang selalu terhibur dengan apa yang Kimmy lakukan.
Dan tahu jika dirinya ditertawakan Alno, Kimmy hanya mencebikkan bibirnya kesal. Rasanya Kimmy ingin membuang Alno ke dasar samudra.
Alno menghentikan tawanya, "Oh ya, kamu mau mandi sekarang apa nanti?" Tanya Alno yang kemudian menyadari sesuatu.
"Atau kamu mau aku yang akan memandikanmu baby?" Ucap Alno tersenyum sengaja mengeraskan suaranya.
Dan spontan saja, Kimmy langsung membekap mulut Alno dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Rae apa kau gila? Kesal Kimmy yang tahu jika Alno sengaja mengeraskan suaranya.
"Mmmm," jawab Alno.
"Kimmy semakin kesal karena Alno hanya merespon seperti itu dan dirinya baru sadar beberapa detik kemudian.
Kimmy langsung menurunkan tangannya yang tadi digunakan untuk membekap mulut Alno.
"Bagaimana aku bisa menjawab jika kamu membekap mulutku seperti itu," kini Alno yang kesal pada Kimmy karena tiba-tiba membekap mulutnya.
"Maaf lupa," jawab Kimmy sambil menggosok-gosokkan telapak tangan bekas membekap Alno pada kaos yang dikenakan pria itu.
"Hei apa yang kau lakukan, seperti mulutku aku ini kuman saja," kali ini Alno yang terlihat kesal dan sontak saja membuat Kimmy tertawa.
Tak peduli pada Kimmy yang menertawakannya, Alno kemudian berdiri dan berjalan menuju balkon, menatap taman yang ada di samping rumahnya sembari menghembuskan nafas lega.
.
.
Vira yang mendengar Alno tengah menggoda perempuan yang dibawa pulang Kakaknya itu, merasa jika hatinya semakin sakit. Vira ingin segera pergi dari situ sebelum Kakaknya tahu jika Vira ada di depan kamarnya dan melihat Kakak dan perempuan itu duduk bersebelahan di atas ranjang.
"Atau kamu mau aku yang akan memandikanmu baby?" Kata-kata Alno pada perempuan itu selalu terngiang di benak Vira.
Vira meremas rambutnya kasar, berharap kata-kata itu menghilang saja dari pikirannya, bo*doh itulah yang Vira katakan pada dirinya sendiri. Kenapa dia harus kembali lagi ke kamar Kakaknya, kenapa dia justru diam saja di depan pintu kamar Kakaknya saat sudah bertekad hanya ingin menyapa Kakaknya dan kenapa dia tidak segera pergi dari situ saat mendengar kata-kata menggoda Kakaknya pada perempuan itu.
Untuk kesekian kalinya Vira meneteskan air mata, bahkan air matanya serasa tidak akan pernah habis, dia merutuki kebod*hannya sendiri atas apa yang tadi dia lakukan.
__ADS_1
Dan karena kebod* han itu, Vira harus kembali merasakan sakit hati mendengar sesuatu yang seharusnya tidak didengar. Bahkan Vira juga melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Vira tidak bisa membayangkan apa yang sedang saat ini Kakaknya dan perempuan itu lakukan, tidak, Vira tidak berani hanya untuk sekedar membayangkannya. Sungguh Vira tidak bisa membayangkan jika apa yang ada dipikirannya benar-benar terjadi.
"Apa sebenarnya hubungan Kakak dengan perempuan itu Kak, kenapa kau begitu tega padaku? Apakah kau tahu kak, jika yang kamu lakukan ini, sungguh membuatku terluka," dengan cepat Vira menuruni anak tangga, Vira ingin pergi ke suatu tempat untuk menjernihkan pikirannya. Dan berharap jika kembali nanti, dia akan kembali baik-baik saja.