My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 89


__ADS_3

"Halo Pa," Alno yang akan menginterogasi Alma memutuskan menundanya ketika melihat nama papanya menelponnya. 


Alno buru-buru menjawabnya, mungkin saja ada kabar terbaru tentang keberadaan adiknya.


"Alno Vier sudah kembali," kata Stevano memberitahu bahwa adik Alno yang kemarin menghilang sudah kembali dan hal itu membuat Alno bisa sedikit bernafas lega, dan hanya tinggal mencari keberadaan istrinya.


"Syukurlah, Papa menemukan Vier dimana?" 


"Vier menghubungi mamamu dan mengatakan dirinya di hotel, kami pun langsung menuju ke tempat Vier, dan benar Vier ada di hotel tempatnya menginap dan keadaannya juga baik-baik saja, bagaimana dengan Vira? Apa sudah ada kabar tentangnya?" Tanya Stevano begitu mengingat putrinya yang juga menghilang. 


Seperti Vier, Stevano juga ingin putrinya kembali dalam keadaan yang baik-baik saja.


Mendengar pertanyaan papanya membuat Alno begitu sedih, "Vira belum ditemukan Pa, bahkan Alno belum tahu dimana Vira sekarang," lirih Alno.


"Kami akan segera pulang, kamu kabari Papa kalau ada apa-apa," kata Stevano.


"Baik Pa, apa Vier sudah tahu kabar hilangnya Vira?" 


"Ya Vier sudah tahu, Vier pun juga akan ikut pulang sekarang juga," beritahu Stevano.


"Baiklah Papa hati-hati pulangnya, nanti kabari Alno, Alno akan suruh orang untuk menjemput Papa," kata Alno dan panggilan pun berakhir.


Alno menatap ponselnya, setidaknya adiknya sudah ketemu, kini tinggal dirinya yang harus kembali fokus mencari keberadaan Vira.


Pandangan Alno dari ponselnya kini beralih pada gadis yang kini berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk.


Alno menatap gadis itu, dan kemudian berbalik badannya menghadap ke arah tempat duduk kebesarannya, dirinya tidak tega sebenarnya jika harus memarahi Alma, tapi bagaimanapun gadis itu bersalah dan harus menerima hukumannya.


"Sebenarnya apa yang kau kerjakan Alma? Kenapa istriku bisa keluar malam-malam? Kenapa dia bisa lepas dari pantauanmu? Aku sudah mempercayakan dia padamu, tapi lihatlah apa yang terjadi? Kau benar-benar membuatku sangat-sangat kecewa Alma!" marah Alno berbicara dengan berdiri membelakangi gadis yang bernama Alma.


"Maaf Kak, ini semua di luar dugaanku, aku benar-benar tidak tahu jika Kak Vira akan pergi malam itu," jawab Alma menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kepercayaan yang diberikan Alno. Alma menceritakan semua yang terjadi saat itu kepada Alno dari awal sampai akhir tidak ada yang dia tutupi sedikitpun dari pria itu.


"Kau tahu situasinya sedang berbahaya, seharusnya kau bisa siap siaga, dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi,"  Alno kini berbalik dan menatap Alma tajam.


"Permisi Tuan," kata seseorang yang baru saja masuk.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak melihat jika aku sedang berbicara dengan Alma?" Teriak Alno kepada orang itu membuat nyali orang yang baru masuk itu seketika nyalinya menciut.

__ADS_1


Orang itu bahkan terus merutuki dirinya sendiri dalam hati karena masuk di waktu yang tidak tepat. Apalagi saat melihat Alno yang saat ini benar-benar tampak menyeramkan.


"Maafkan saya Tuan, tapi ada yang harus saya sampaikan," kata orang itu yang langsung menekuk kedua lututnya, bersimpuh meminta maaf pada atasannya yang tengah marah itu.


"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Alno tak ingin berbasa-basi.


"Wanita itu ingin menemui Anda Tuan," jawab orang itu masih bersimpuh dengan kepala menunduk.


"Ingin menemuiku? Terus bagaimana apa dia sudah membuka mulutnya," tanya Alno.


"Belum Tuan, dia akan…"


"Apa yang sebenarnya kalian semua lakukan? Apa seperti itu saja harus saya yang melakukan?" Teriak Alno memotong ucapan bawahannya.


"Maaf Tuan..itu kami…" orang itu bahkan sampai tergagap menghadapi Alno sekarang.


"Dasar tidak becus!" Ucap Alno dengan  suara datarnya.


"Kak, biarkan dia menjelaskannya dulu," kata Alma yang kasihan melihat orang itu, sampai lupa jika dirinya saat ini pun dalam keadaan yang sama berbahayanya, karena Alno pasti akan kembali memarahinya, karena apa yang telah dilakukannya.


Alma pun kembali menunduk.


"Cepat jelaskan!" Kata Alno yang kini beralih menatap orang yang tadi datang menghadapnya.


"Wanita itu ingin menemui Anda dan mengatakannya secara langsung kepada Anda," ucap orang itu menjelaskan.


Alno pun kini mendekat ke arah orang yang tadi menghadapnya. Melewati Alma setelah berucap pada gadis itu.


"Urusan kita belum selesai Alma!" Kata Alno mengingatkan dan berlalu begitu saja mengikuti bawahannya, yang akan membawanya menemui Kimmy.


"Silahkan Tuan," ucap orang tadi membukakan pintu dan mempersilahkan Alno masuk.


Ketiga yang lainnya menunduk hormat saat melihat bahwa Alno lah yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Rae," Kimmy tersenyum begitu melihat Alno datang.


Wanita itu sudah tampak kacau, tapi dia masih sempat-sempatnya memberikan senyumnya untuk Alno.

__ADS_1


"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!" Geram Alno melihat Kimmy tersenyum bahkan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Aku tidak tahu keberadaan Vira," jawab Kimmy dan mendengar itu Alno segera berbalik badan dan akan meninggalkan wanita itu.


"Tunggu Rae!" Teriak Kimmy dan tidak digrubis sama sekali oleh pria itu. Alno tetap terus berjalan meninggalkan Kimmy.


"Aku memang tidak tahu keberadaan Vira, tapi aku tahu, siapa orang yang ada di balik hilangnya Vira," teriak Kimmy lagi.


Langkah Alno yang sudah hampir keluar dari pintu terhenti.


"Aku tahu, seseorang yang mungkin menculik Vira dan  itu bukan aku Rae," kata Kimmy dengan suara yang cukup keras.


Alno berbalik dan kembali menghampiri wanita itu.


"Cepat katakan siapa dan dimana dia?" Tanya Alno mencengkram leher Kimmy.


"R..Rae, le..paskan dulu!" Kata Kimmy berusaha melepaskan tangan Alno dari lehernya.


Alno pun menghempaskannya begitu saja. "Cepat katakan!"


"Akan aku katakan, tapi ada syaratnya," kata Kimmy memegang lehernya yang terasa sakit.


Dan ucapan Kimmy barusan, membuat Alno begitu marah dan kembali melakukan seperti tadi bahkan lebih erat.


"R..Rae...uhuk..uhuk.." Kimmy sampai terbatuk-batuk karena Alno mencekik lehernya terlalu kuat.


"Jangan berani macam-macam denganku, atau aku akan membuatmu merasakan lebih dari ini," kata Alno penuh penekanan.


"Itu terserah kamu Rae, jika kamu memang tidak ingin Vira selamat," kata Kimmy dengan senyum seringaiannya. Dirinya sama sekali tidak kenal takut, bahkan setelah diperlakukan seperti tadi oleh Alno.


Alno menggeram frustasi, menghadapi wanita seperti Kimmy, tidak semudah yang dibayangkannya, karena wanita itu sama sekalipun tidak takut pada gertakannya, justru wanita itu semakin menjadi saja.


Tapi Alno membutuhkan Kimmy, Alno yakin jika wanita itu tahu sesuatu tentang keberadaan istrinya saat ini, hingga dia harus bersabar menghadapi wanita itu.


"Apa yang kau inginkan?" Kata Alno pada akhirnya.


"Aku ingin kau menikahiku."

__ADS_1


__ADS_2