
"Tunggu sebentar," jawab Alno yang kemudian menatap istrinya.
"Kamu istirahat dulu saja ya, ada yang harus Kakak kerjakan," pamit Alno yang kemudian mengecup kening Vira sebelum dirinya keluar dari kamar menuju tempat dirinya bisa leluasa berbicara.
"Cepat katakan!"
"Gadis yang bernama Merry memiliki dendam, tapi bukan karena seperti apa yang Anda beritahukan Tuan, ada hal lain yang membuat Merry bekerja sama dengan Kimmy."
"Maksudmu?"
"Merry adalah kekasih Antonio, pria yang menyelamatkan Anda dua tahun yang lalu, dia menganggap bahwa Andalah yang telah membunuhnya. Hingga dia ingin membuat Anda merasakan apa yang dirinya rasakan. Dia ingin membuat Anda hancur saat melihat Nona Vira hancur."
"Tapi bukan aku yang..
"Saya tahu Tuan, tapi kemungkinan besar ada seseorang yang menghasutnya dan mengatakan seperti itu, karena dia sendiri tidak tahu faktanya, dan pria yang kita tawan, dia adalah Kakak tiri dari Kimmy, Kakak tiri yang gosipnya meniduri Nona Kimmy hingga dirinya diusir oleh ayahnya."
"Baiklah aku tahu, kamu selidiki, ada hubungan apa mereka sebenarnya," perintah Alno yang kemudian memutuskan panggilan.
"Sebenarnya seperti apa hubungan mereka? tunggu kenapa aku tidak memikirkan hal itu," ucap Alno yang baru mengingat sesuatu.
Alno kemudian kembali ke kamarnya, dilihatnya sang istri yang sudah terlelap, Alno pun ikut berbaring di samping istrinya.
"Ini demi kebaikanmu sayang, Kakak harus melindungimu dan keluarga kita, makanya Kakak membiarkan Kimmy ada di tengah-tengah kita, Kakak harus terus mengawasinya, karena jujur saja Kakak takut dia akan melukaimu," Alno menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Vira ke belakang telinganya.
"Kakak benar-benar tidak menyangka, jika dia punya maksud tersembunyi masuk ke dalam kehidupan Kakak, tapi itu juga ada baiknya, Kakak jadi lebih bisa leluasa memantaunya jika dia ada disekitar kita."
Alno memeluk istrinya dan coba memejamkan mata hingga akhirnya dirinya pun benar-benar terlelap menyusul istrinya ke alam mimpi.
*
*
Vira memandangi wajah pria yang tidur begitu tenang di depannya, diusapnya pelan wajah pria itu dengan perlahan.
"Apa kamu begitu suka memandangi wajah tampan suamimu ini," ucap Alno dengan begitu percaya diri. Alno menangkap tangan Vira dan dikecupnya punggung tangan sang istri.
__ADS_1
Mendapat perlakuan seperti itu, ada rasa bahagia tersendiri bagi Vira.
"Kepedean banget jadi orang," ucap Vira yang langsung beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
"Sayang, hari ini kita pulang ya," ucap Alno sebelum Vira menutup pintu.
"Hmm boleh, aku juga sangat ingin pulang, aku sudah merindukan masakan Mama," setelah mengatakan itu, Vira langsung menutup pintunya.
"Aku ingin pulang dan akan aku tunjukkan bahwa Kak Alno adalah milikku, aku tidak takut lagi dengan keberadaannya karena yang Kakak cintai hanya aku, dan dia bukanlah siapa-siapa bagi Kak Alno," ucap Vira merasa lega mengingat ucapan suaminya, Vira tidak benar-benar tidur saat itu. Walaupun jujur di dalam hatinya Vira sedikit merasa takut, tapi Vira percaya bahwa Alnonya pasti akan melindungi dirinya dan juga keluarga mereka.
"Kenapa Kakak lama sekali?" Tanya Vira yang melihat suaminya masih mengeringkan rambutnya yang basah. Bahkan Alno belum memakai pakaiannya, hanya celana panjang yang sudah terpasang rapi di tubuhnya.
Alno hanya tersenyum, Vira yang tidak sabar mengambil kemeja berwarna biru yang tadi sudah diambilnya dan memakaikannya pada Alno.
"Seperti punya anak tk saja," gumam Vira dan Alno hanya terkekeh.
"Sudah," ucap Vira setelah memasang kancing kemeja Alno yang terakhir.
"Makasih," ucap Alno tidak lupa dengan senyumannya.
Alno dengan cepat menyusul istrinya dan merangkul bahu Vira menuruni anak tangga bersama menuju ke ruang makan dimana sang Oma tercinta sudah menunggunya.
"Opa!" Kata Alno dan Vira bersamaan begitu melihat William ikut duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
Alno dan Vira mendekat dan mencium punggung tangan William.
"Opa sudah lama?" Tanya Vira setelah duduk di kursi yang tadi Alno tarikkan.
"Sudah dari 10 menit yang lalu, Opa akan menjemput Oma, Opa sudah sangat rindu, kalian sih sudah kuasai Oma seharian penuh, jadi Opa kan kesepian," kata William dengan nada merajuk.
"Hentikan Willy, aku geli mendengarnya, kamu sudah tidak pantas berucap dengan nada seperti itu, ingat umur," kata Tiffa geleng-geleng.
Alno dan Vira hanya bisa menahan tawanya, saat melihat wajah Opanya memberengut mendapat teguran dari Omanya.
"Kalau mau tertawa-tertawa saja, jangan ditahan entar jadi kentut baru tahu rasa," ucap William yang kemudian memilih memulai sarapannya.
__ADS_1
"Hahaha," Tawa Vira dan Alno pun pecah.
"Opa ada-ada saja, mana ada nahan tawa, jadi berubah kentut."
"Vira makan dulu, ngobrolnya nanti saja," Tiffa menyela menegur cucunya.
"Oke Oma," jawab Vira kemudian mereka berempat melanjutkan makannya dengan tenang sampai selesai.
"Kalian mau pulang juga sekarang?" Tanya William yang melihat kedua cucunya tampak rapi.
"Iya Opa, oh ya Opa, ada yang ingin Alno tanyakan nanti, Opa tidak buru-buru kan?"
"Tidak, apa yang ingin kamu tanyakan?"
Tiffa dan Vira hanya memandang kedua pria itu.
"Mmm, lebih baik kita bicarakan di tempat lain saja," ucap Alno yang tahu jika saat ini oma dan istrinya sedang memperhatikan.
"Baiklah kita bicara di tempat lain saja," ucap William langsung berdiri, jika Cucunya sudah mengatakan hal itu berarti ada hal serius yang ingin mereka bicarakan.
"Ada apa?" Tanya William begitu sampai di sebuah ruangan.
Ruangan yang mengingatkan dirinya pada kejadian dulu. William memandangi ruangan itu, "Masih sama," ujarnya pelan.
"Kenapa Opa?" Tanya Alno yang juga ikut mengedarkan pandangannya. Baru kali ini dia masuk di ruangan ini.
"Opa hanya ingat masa lalu, dulu di tempat ini, Opa menyuruh Mama kalian untuk meninggalkan suaminya, dan menyuruhnya menikah dengan Paman kalian seperti perjodohan pada awalnya, karena dulu Opa sangat membenci Papa kalian, rasa benci yang membuat Opa menyesal seumur hidup," William menjeda ucapannya dan memandangi cucunya yang juga menatap ke arahnya.
"Opa mengira Papa kalian bukan anak kandung Opa, bukankah Opa orang terb*d*h karena tidak mengenali putra kandungnya sendiri? Opa seakan menutup rasa yang mengusik dan hanya percaya pada logika dan hasutan orang lain. Untung saja saat itu Mama kalian dengan lantang bilang ke Opa, bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Papa kalian apa yang terjadi. Jika saja dulu Mama kalian memilih menuruti perkataan Opa, Opa tidak akan memiliki cucu-cucu seperti kalian, Opa bahagia karena dulu Mama kalian memutuskan untuk tetap bertahan dengan Papa kalian, setidaknya itu tidak menambah penyesalan Opa semakin dalam," kata William tersenyum mengingat betapa gigihnya Jasmine dulu yang menentang permintaan William dan tetap memilih mempertahankan rumah tangganya dengan Stevano.
Alno tidak tahu akan pernah tahu masa lalu orang tuanya jika Opanya tidak bercerita, seperti Mama dan Papanya yang bertahan demi mereka, Alno juga akan bertahan demi menjaga keluarganya apapun yang terjadi.
"Sekarang apa yang ingin kamu tanyakan pada Opa?" Pertanyaan William menyentak Alno untuk kembali ke dunia nyata.
"Apa Opa mengenal Calista dan apa hubungannya dengan keluarga kita?"
__ADS_1