
"Dimana mereka?" Tanya Alno begitu masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada beberapa penjaga disana.
Ada urusan yang memang harus Alno selesaikan, dan ini berkaitan dengan wanitanya. Alno bukan tidak tahu jika Vira tadi mendengarnya menerima telepon dan dirinya menyebut nama Kimmy, Alno tahu karena Alno bisa melihat Vira dari balik kaca yang ada di depannya.
Alno memang menerima telepon, tapi itu dari pelayan di rumahnya yang memang dia tugaskan mengawasi Kimmy. Pelayan itu melaporkan tentang Kimmy yang marah dan berteriak, karena dirinya yang tidak pulang, bahkan wanita itu sudah sedikit menunjukkan sifat aslinya dengan membanting semua barang disana. Dan itu kenapa Alno menyebut nama Kimmy dalam teleponnya. Alno tahu istrinya mungkin salah paham, tapi Alno tidak bisa menjelaskannya saat itu juga, setelah menyelesaikan urusan dengan orang yang akan ditemuinya ini, Alno baru akan menjelaskan kebenarannya pada sang istri.
"Mereka di dalam Tuan," ucap salah satunya dan melangkah lebih dulu, menunjukkan jalan untuk Tuan Mudanya.
Orang itu membuka pintu yang di kunci dan disana ada dua gadis yang tampak berjalan mondar-mandir dan begitu melihat sosok Alno masuk ke dalam, keduanya menoleh.
"Kak!" Sapa Alma dengan sedikit menundukkan kepala memberi hormat pada pria yang usianya lebih tua darinya.
Sementara Sisil langsung bersimpuh dengan kepala menunduk dirinya begitu merasa bersalah, "Kak maafkan aku, aku tidak bisa menjaga Vira, aku…, tapi Kak bukan aku pelakunya, aku berani bersumpah," Sisil mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap Alno.
"Bisa kamu jelaskan Alma, aku memintamu menjaga Vira, kenapa bisa berakhir seperti itu? Kau tahu, ingin rasanya aku memukulmu saat itu, saat bagaimana aku menemukan Vira dengan keadaannya yang…, jika hal itu sampai benar-benar terjadi, rasanya aku tidak akan memaafkanmu," bukannya merespon ucapan Sisil, Alno justru melangkah mendekati Alma dan menatap tajam gadis itu.
"Maafkan aku Kak, aku benar-benar minta maaf, aku berusaha menolong Vira, tapi aku juga tidak bisa diam saja, saat nyawa seseorang juga mungkin saja terancam, karena saksi kejadian juga tidak kalah penting, aku khawatir mereka akan melakukan apapun untuk menghilangkan saksi.
Alno menghela nafasnya, apa yang Alma katakan memang benar, bagaimanapun Sisil adalah saksi kejadian itu, bagaimana jika orang-orang itu sampai berbuat sesuatu kepada Sisil? Yang lebih parahnya jika sampai mereka melukai Sisil. Maka Alno akan merasa bersalah karena gadis itu ikut terlibat dalam masalahnya.
Kini Alno menatap Sisil, "Jelaskan apa yang terjadi saat itu," ucapnya kemudian memberikan Sisil kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Kita bertiga janjian, aku Vira dan Mery, kami menunggu Mery yang tidak kunjung datang, dan karena terlalu lama, aku menelpon Mery, Mery bilang akan datang terlambat, karena ada kendala saat dirinya di jalan. Dan dalam hati aku memang berharap Mery lama datangnya, karena ada hal yang harus aku lakukan, aku ingin menceritakan tentang Kakak kepada Vira, dimana Kakak menemuiku tepat satu hari sebelum Kakak, Kakak yang waktu itu memintaku untuk melaporkan apa saja yang Vira lakukan. Aku memberitahu semuanya kepada Vira, aku ingin Vira mengerti jika Kakak benar-benar mencintainya.
Setelah menceritakan itu semua, tak lama pelayan datang, menyajikan minuman di atas meja. Kami mengucapkan terima kasih.
Vira mengambil minumannya begitupun denganku, kami segera meneguknya hingga tak tersisa, mungkin begitu asyiknya bercerita hingga kami kehausan. Tapi tiba-tiba, kepala Vira memegang kepalanya dan tidak sadar diri.
Alno dan Alma mendengarkan dengan seksama cerita Sisil tanpa mau mencelanya.
Flashback
"Vira, Vira kau kenapa? Ra bangun Ra, tolong! Pelayan tolong!" Sisil berteriak kepada para pelayan yang bekerja disana.
Tidak tahu kenapa saat menengok kiri dan kanan, tiba-tiba saja tempat itu sudah sepi, padahal tadi masih ada beberapa orang. Aneh itu yang Sisil rasakan. Bahkan para pelayan tadi, kemana perginya mereka? Kenapa Sisil tidak melihat satu orang pun.
Sisil berlari mengejar orang yang membawa Vira, "Siapa kau? Mau kamu bawa kemana temanku?" Teriak Sisil dengan tubuh yang bergetar, dirinya begitu takut, awalnya Sisil mengira ada perampokan, tetapi mengapa Vira yang mereka bawa.
Pria yang membawa Vira tersenyum menyeringai. "Bawa dia juga, sepertinya boleh juga," ucapnya kepada dua orang lainnya yang langsung menahan kedua tangan Sisil di kanan dan kirinya.
"Lepas! Lepaskan aku! Lepaskan juga temanku, Sisil terus meronta agar bisa terlepas dari orang-orang itu.
Pria yang membawa Vira menoleh ke belakang dan memberi isyarat kepada kedua orang itu, yang Sisil tidak tahu arti isyarat itu, tapi tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang dan Sisil tidak mengingat lagi kejadian setelahnya.
__ADS_1
Flashback off
Seperti itu Kak ceritanya, sungguh aku tidak berbohong, dan begitu aku bangun aku ada di sebuah ruangan asing dengan kondisi terikat di tangan dan kaki, kalau Kak Alno tidak percaya, Kak Alno bisa tanyakan hal itu kepada Alma, Alma orang pertama yang menemukanku," ucap Sisil menceritakan apa yang terjadi padanya dan Vira dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.
"Siapa yang mengajak kalian bertemu disana?" Tanya Alno yang sudah mendengar kabar tentang tempat yang mereka datangi.
"Mery Kak, dia bilang kafe itu baru buka, selain itu tempatnya nyaman karena jauh dari keramaian, dia memberikan alamatnya dan kami datang kesana."
Alno mengusap rambutnya kasar, "Apa ada kabar dari Mery, Mery itu?" Tanya Alno pada Sisil.
"Aku mencoba menghubunginya, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi, sebenarnya aku ingin menanyakan padanya, apakah hari itu dia jadi datang atau tidak, tapi sayangnya nomornya benar-benar tidak bisa dihubungi."
"Si*al, mereka benar-benar sudah menyusun rencana ini dengan baik, mereka mungkin tahu aku pasti akan mencurigai Sisil dan ternyata tersangkanya justru sudah melarikan diri," Alno mengepalkan tangannya melayangkan kepalan tangan pada dinding ruangan itu.
"Maksud Kak Alno apa? Mery, Mery yang melakukan ini kepada kami, benar itu Kak?" Sisil kini berdiri dan menatap Alno meminta penjelasan pada pria itu pada apa yang tadi diucapkannya.
"Kenapa kalian percaya begitu saja padanya?" Tanya Alno yang sudah dalam puncak amarahnya.
"Kak kami berteman cukup lama, bagaimana bisa kami tidak mempercayainya, terlebih hubungan kami sebelumnya memang baik-baik saja," ucap Sisil yang memang tidak tahu kenapa Alno bertanya seperti itu kepadanya.
"Apa kalian tahu, tempat yang kalian jadikan janjian adalah tempat yang sudah bangkrut dan ditutup?" Teriak Alno dengan wajah memerah.
__ADS_1
Deg
Deg