
"Hmm sepertinya bukan karena itu, aku yakin," jawab Zio serius.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, nanti kita juga tahu," kata Alno menyudahi pikiran adik-adiknya yang mulai ngawur.
Mereka pun akhirnya membahas hal lain hingga sampai di kediaman Davian.
Begitu sampai, semua orang sudah menyambutnya termasuk Mama dan Papanya.
"Sayang kamu sudah sampai, bagaimana dengan Vira saat kamu akan pergi?" Tanya Jasmine yang mengingat saat dirinya di tinggal Stevano ke luar negeri saat melakukan perjalan bisnis.
"Vira justru mengusirku, ingin cepat-cepat pergi, apalagi ada Cinta, dia kan paling suka tuh jika sama dia," kata Alno membuat semua orang menertawakannya apalagi melihat ekspresi memelas Alno.
"Sayang sekali Cinta, cintaku tidak ikut, jika ikut, maka aku akan meminta Mami sama Papi nikahin aku juga dengannya," kata Zio membuat Max menatapnya tajam.
"Sekolah dulu yang benar! Masih kecil juga lagian kakakmu Vier juga belum menikah," kata Max memberitahu putranya.
Zio hanya nyengir kuda, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Bercanda Pap, ngomong gitu saja, bapak macan sudah mengaum," ucapan Zio itu langsung mendapatkan cubitan dari maminya.
"Yang sopan Zio sama Papi," ujar Bunga mengingatkan.
"Iya Mami, ih Mami suka gitu, tidak tahu apa jika cubitan Mami itu rasanya sakit, lihat nih membekas," Zio menunjukkan bekas merah hasil cubitan maminya.
"Lebay, kata Bunga kemudian mengajak semua orang masuk.
"Oh ya Vier mana? Kok sedari tadi aku tidak melihatnya?" Tanya Alno yang tidak menemukan kembaran istrinya.
"Vier tidak tinggal disini, dia menginap di hotel," kata Stevano menjawab rasa penasaran putranya.
Alno mengernyitkan dahi bingung.
"Kenapa?" Tanyanya.
Stevano hanya mengedikkan bahu.
*
__ADS_1
*
Keesokan harinya seluruh anggota keluarga, baik dari Stevano ataupun Max sudah berada di gedung tempat Ken menikah, hanya satu orang yang belum hadir siapa lagu jika bukan Vier.
Ijab sudah terjadi, tetapi Vier belum juga datang. Jasmine mencoba berkali-kali menelpon Vier tetapi yang ada sedari tadi ponsel Vier terus saja sibuk.
"Bagaimana Ma?" Tanya Alno menghampiri mamanya yang kini sedikit menjauh dari keramaian.
"Masih saja sibuk sedari tadi, sebenarnya adikmu ini sedang menelpon siapa sih Al kenapa sedari tadi selalu sibuk, apa tuh telinga tidak panas," omel Jasmine yang merasa kesal.
"Mungkin masalah kerjaan Ma, Mama tau sendiri Vier belakangan ini jadi orang yang super sibuk," jawab Alno mengingat bagaimana adiknya akhir-akhir ini.
"Sibuk sih sibuk tapi tidak begini juga Al, Mama tidak enak dari tadi Dad Davian dan Mom Jessy menanyakan Vier terus.
"Ya sudah, Mama lebih baik kita masuk dulu, nanti biar Alno yang akan coba hubungi Vier lagi ya, mungkin saja Vier sudah ada di dalam perjalanan kemari" kata Alno membujuk mamanya.
Jasmine pun menurut dan mengikuti Alno masuk. Tapi tak lama ponsel Jasmine bergetar, Jasmine segera menjawabnya.
"Kamu dimana sayang?" Tanya Jasmine to the point kepada putranya.
"Vier di jalan Ma, sepuluh menit lagi sampai," jawab Vier.
"Iya Ma, maaf ya, ya sudah sebentar lagi Vier sampai Kok, Mama sudah ya ngomelnya, nanti cepat tua loh," ujar Vier menggoda mamanya.
"Biarin toh Mama memang sudah tua, sebentar lagi juga kan Mama sudah mau punya cucu.
"Baiklah Nenek Vier mengerti,"
"Apa tadi kamu bilang, kamu panggil Mama apa?"
"Hahaha, Vier hanya bercanda Ma, ya sudah ya, bentar lagi aku sampai kok," Vier pun kemudian mematikan panggilan ponselnya.
"Vier dimana?" Tanya Alno yang sedari tadi berdiri di samping mamanya.
"Di jalan, katanya sepuluh menit lagi sampai," jawab Jasmine yang masih melihat layar ponselnya yang sudah berganti gambar dirinya dan suami di layar utama.
"Tuhkan apa yang Alno katakan benar, lebih baik sekarang kita masuk, tidak enak jika kita malah kelamaan di luar.
__ADS_1
Jasmine kali ini menuruti perkataan Alno, keduanya masuk bersama dan kembali berbaur dengan keluarga dan para tamu.
"Bagaimana?" Bisik Stevano pada putranya Alno.
"Vier masih di jalan Pa, bilangnya sih sepuluh menit lagi sampai," jawab Alno yang tahu kemana arah pembicaraan papanya.
Stevano pun mengangguk kemudian kembali berbincang dengan rekan-rekan bisnis keluarga Davian.
Sepuluh menit berlalu tapi Jasmine belum melihat adanya tanda-tanda putra datang, Alno pun bahkan sudah menghubungi adiknya kembali, tapi lagi-lagi jawaban dari operator yang mengatakan jika nomor ponsel Vier saat ini sedang sibuk.
"Apa Vier sudah menjawab?" Tanya Jasmine menghampiri Alno.
"Belum Ma."
"Bagaimana sih tuh anak, kalau gini caranya, acara sudah kelar dia baru datang."
Alno hanya menghela nafas panjang, tahu begini, Alno lebih baik tak usah ikut datang, lebih baik menemani istri tercintanya di rumah. Saat sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba terdengar nada pesan masuk, Alno terkejut saat mamanya sudah lebih dulu merebut ponselnya.
"Biar Mama yang temuin dia di luar," kata Jasmine kepadanya.
Alno hanya membiarkan mamanya untuk menemui adiknya dan dia justru kembali menghampiri papanya.
*
*
"Sayang ayo masuk! Kita beri selamat dulu pada pengantinnya," kata Jasmine menarik tangan Vier yang masih saja sibuk menelpon. Itulah yang Jasmine lihat saat ini ketika menghampiri putranya.
Vier menjauhkan ponselnya dari telinga, "Bentar Ma, Vier sedang telpon urusan penting tentang perusahaan," katanya memberikan alasan.
"Tidak ada sebentar-sebentar, papa, bibi, paman dan yang lainnya sudah menunggu," jawab Jasmine sang mama kesal pada putranya yang justru masih sibuk dengan pekerjaannya yang ditinggal baru sehari ini.
Vier akhirnya hanya bisa pasrah saat kedua kalinya sang mama menarik tangannya, hingga dengan terpaksa dia pun segera mengakhiri panggilan telepon yang sedang dilakukannya.
Zavier seakan tidak peduli dengan tatapan semua orang yang mungkin melihat adegan mereka seperti anak kecil yang habis bermain dan tidak mau pulang lalu diseret mamanya untuk pulang karena hari sudah mulai malam.
Alno menoleh begitu mendengar suara keributan yang terjadi yang seperti di kenalinya. Alno segera menyenggol papanya, mengetahui jika dugaannya benar. Suara keributan yang berasal dari adik dan mamanya.
__ADS_1
"Ma, lepasin Vier, Vier bisa jalan sendiri," Alno dapat mendengar dengan jelas jika adiknya sudah mulai protes kepada mamanya yang terus saja menarik tangan Vier agar segera masuk.
Stevano dan Alno, bahkan mungkin yang lainnya kompak menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Jasmine yang memperlakukan Vier seperti anak kecil.