
"Sini Ma, Pa!" Ucap Alno yang sekarang ternyata sudah duduk di sofa.
Stevano langsung mengunci pintu kamar Vira. Dan bersama sang istri mereka menghampiri Alno yang duduk di atas ranjangnya sedangkan Vira masih saja berdiri, dengan wajahnya yang tampak bingung.
"Sayang kemarilah duduk sini!" Jasmine menatap putrinya dan menyuruhnya mendekat dan duduk di sampingnya di sofa yang memang ada di dalam kamar Vira.
"Kenapa?" Tanya Jasmine menggenggam tangan putrinya yang sudah duduk di hadapannya, Vira masih tampak bingung dengan situasi di depannya.
Vira kira Mama dan Papanya akan marah begitu mendapati Alno ada di kamarnya, nyatanya, kedua orang tuanya hanya diam saja, bahkan tidak menegurnya.
"Mama dan Papa tahu jika Alno ada di sini?" Tanya Vira yang memang begitu penasaran.
"Iya sayang, kita memang janjian bertemu di kamar kamu sejak semalam, memangnya kenapa? Apa Al tidak memberitahumu?" Jasmine menatap putrinya yang menggeleng.
"Oh jadi ini yang membuat kamu melarang Papa dan Mama untuk masuk, karena Al ada disini dan kamu mengira kami tidak tahu?" Stevano kini ikut menimbrung pembicaraan anak dan istrinya.
"Vira tadi takut kalau Mama dan Papa akan salah paham melihat Alno ada disini, bahkan tadi Vira terus saja mengusir Alno," jawab Alno sambil melirik Vira yang kini menatapnya tajam.
"Lagian kamu juga tidak bilang, jika Mama dan Papa akan kesini," kesal Vira.
"Oh, Mama pikir ada apa, oh ya sayang ada yang mau Papa dan Mama sampaikan padamu," kini Jasmine memandang penuh ke arah putrinya.
"Mama dan Papa mau kalian menikah saat ini juga, jadi kalian harus bersiap sekarang, pernikahan akan diadakan di mansion yang dulu menjadi tempat tinggal Mama dan Papa, selain karena di sana tempat yang cukup jauh dengan penjagaan yang ketat, disana juga orang luar, tidak bisa sembarang masuk, dan acara pernikahan kalian ini hanya akan dihadiri oleh anggota keluarga saja.
"Tapi Ma, kenapa harus terburu-buru, bukannya Mama bilang waktu itu kemungkinan besar aku hanya dije…"
"Sayang, bukankah kamu bilang juga mencintai Kak Alno, jadi lebih baik jika kalian segera menikah, Mama tahu semalam kalian tidur bersama kan? Ingat ya, Mama tidak mau nanti terjadi apa-apa, jadi kalian harus ikuti apa yang Mama katakan," ucap Jasmine tidak menerima penolakan.
"Tapi Ma, aku tidak berbuat apa-apa sama Vira, kita hanya tidur itu saja," jawab Alno mendengar ucapan terakhir Mamanya.
__ADS_1
"Papa sama Mama tahu kalian sudah dewasa, kalian mengerti mana yang benar dan yang salah. Tapi, hal itu tidak bisa terus menjamin Alno, bagaimana jika kalian khilaf, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi jika kalian masih terus seperti itu, apalagi antara laki-laki dan perempuan yang ada di dalam sebuah kamar yang sama. Intinya Papa tidak mau kalian seperti itu sebelum menikah, tanpa harus menjelaskan kalian pasti tahu apa yang Papa maksud kan?" ucap Stevano tegas.
Alno menganggukkan kepalanya mengerti, ini juga keinginannya. Dia ingin secepatnya menikahi Vira, agar bisa lebih menjaganya lagi.
Wajah Vira terasa panas, mendengar ketiga orang itu membicarakan hal yang benar-benar membuat Vira malu. Untungnya diantara mereka bertiga tidak ada yang menyadari bagaimana wajah Vira saat ini.
"Vira mau ke kamar mandi dulu," Vira buru-buru pergi meninggalkan ketiga orang yang kini hanya saling pandang.
"Apa rencana kamu selanjutnya sayang?" tanya Jasmine pada putranya setelah melihat Vira sudah menghilang di balik pintu kamar mandi, Alno masih tampak tenang.
"Ya biarkan seperti ini dulu Ma, yang penting sekarang Alno ingin secepatnya menikah dengan Vira dulu," jawab Alno menatap Mama dan Papanya.
"Mama dan Papa sudah persiapkan semuanya kan? Maaf ya, Alno jadi merepotkan Mama dan Papa," ucap Alno yang tidak enak karena meminta tolong pada Mama dan Papanya untuk mempersiapkan segala keperluannya.
"Tidak apa-apa, Papa dan Mama mengerti kamu punya alasan kenapa kamu meminta Mama dan Papa yang melakukan ini, lagian kalian itu anak Mama dan Papa, tentunya semua memang harus mengikutsertakan Mama dan Papa, jadi jangan merasa tidak enak seperti itu," Stevano menepuk pundak putranya pelan.
"Terima kasih Pa, Ma," ucap Alno tulus.
"Itu urusan Alno Ma, Mama tidak perlu khawatir," kata Alno meyakinkan Mamanya.
"Mama dan Papa berangkat dulu bersama Vira seperti yang kita rencanakan kemarin, nanti Alno akan menyusul, oh ya Alno pergi dulu ada hal yang harus Alno selesaikan," ucap Alno yang keluar dari kamar setelah mendapat persetujuan orang tuanya.
Saat Alno meninggalkan kamar Vira, saat itu juga bertepatan dengan Vira yang juga keluar dari kamar mandi.
"Loh, Kak Alno mana Pa, Ma?" Tanya Vira yang sudah tidak melihat lagi keberadaan Alno.
"Tadi ke kamarnya, oh ya sayang kamu bersiap dulu ya, kita pergi sekarang, Mama akan membantumu," ucap Jasmine menghampiri putrinya, menggenggam tangan dan menggiringnya untuk duduk di atas tempat tidur putrinya, ada banyak hal yang perlu dibahas dengan Vira.
"Papa keluar dulu, siapkan mobil, nanti Papa akan suruh Vier dan Vian kesana lebih dulu bersama Jason."
__ADS_1
"Terus Zeline bagaimana Pa?" Tanya Vira yang tidak mendengar nama adik bungsunya disebut oleh sang Papa.
"Tanya saja sama Mamamu," ujar Stevano yang kemudian keluar dari kamar putrinya.
Vira dan Jasmine memandang kepergian Stevano, setelah pintu tertutup, Vira pandangi wajah Mamanya.
"Zeline bagaimana Ma?"
Jasmine yang pandangannya fokus pada sang suami, langsung menoleh saat merasa Vira bertanya padanya.
"Mama menitipkan Zeline pada Om Al dan Tante Lily," jawab Jasmine.
"Pantas saja ekspresi Papa berubah seperti itu," ucap Vira yang mengerti kenapa Papanya terlihat sedikit kesal saat membahas Zeline yang bersama Om Al, karena baik Papanya atau Paman Jason seringkali berdebat jika bersama dengan Om Al.
"Mama boleh Vira tahu, kenapa Mama dan Papa buru-buru menikahkan Vira dan Kak Alno? Mama jelas-jelas saat itu bilang bahwa kemungkinan besar saat itu aku.."
Jasmine segera memotong ucapan Putrinya, "Sayang dengarkan Mama, Vira sama Kak Alno saling cinta kan? Jadi tunggu apalagi? Semua keluarga juga merestui. Vira tahu, Mama sangat berterima kasih sama Vira, karena Vira mencintai Kak Alno tanpa paksaan dari siapapun, dan Mama begitu senang, karena dengan begitu, Kak Alno selamanya tetap akan jadi Putra Mama."
"Ma?"
"Hmm kenapa?" Jasmine menatap putrinya yang seperti ingin menanyakan sesuatu.
"Bagaimana Mama dan Papa dulu bertemu?"
"Hmm, bagaimana ya?" Jasmine terdiam seolah-olah sedang berpikir.
"Nanti Mama akan ceritakan, jadi lebih baik Vira siap-siap sekarang, semua orang pasti sudah menunggu, belum lagi, Vira kan juga harus dirias biar semakin cantik," kata Jasmine tersenyum.
*
__ADS_1
*
"Seperti itu saja kau tidak becus, seharusnya kau sudah melakukan sesuatu kepadanya, aku memberi kau yang gratisan malah kau sia-siakan, aku tidak mau tahu, aku beri kesempatan sekali lagi, kau harus benar-benar menghancurkan dia, apa kau mengerti? kau harus lakukan secepatnya, sebelum semuanya terlambat, jika sampai gagal lagi, ingat kau akan menanggung akibatnya." ucap seorang wanita pada seseorang di seberang telepon, bahkan kini dirinya membanting ponselnya karena kesal, rencana yang disusunnya gagal total. Dan kemudian dirinya dibuat panik, saat tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar.