
"Ada apa?" Tanya Jasmine pada Stevano begitu mendengar ada keributan yang Jasmine yakin dari kamar anak-anaknya.
"Aku tidak tahu sayang, kan aku tadi dari kamar, terus sekarang, aku bersamamu," jawab Stevano.
Vier, Kimmy dan Zeline hanya saling pandang.
"Biar aku ke atas dulu," kata Jasmine meninggalkan anak-anaknya, karena begitu melihat istrinya pergi, Stevano langsung membuntutinya di belakang.
"Ada apa ini?" Tanya Jasmine masuk ke dalam kamar Vira, karena keributan terdengar jelas dari kamar itu.
Dan Jasmine langsung terkejut begitu mendapati pemandangan apa yang di depannya.
Alno tersungkur di lantai, dengan wajah yang jelas sekali baru saja dipukul, bahkan Jasmine lihat sudut bibir Alno mengeluarkan darah segar, sedangkan Vira putrinya tengah membantu Alno.
Dan satu lagi putranya mengepalkan tangannya erat, dengan melihat ini semua Jasmine bisa menyimpulkan jika Vian lah yang memukul Alno, dan Vira melerai mereka kemudian membantu Kakaknya.
"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Stevano marah, melihat putranya saling baku hantam, tidak saling, karena hanya Alno yang mendapatkan bogem mentah sementara Vian baik-baik saja. Stevano yakin jika Alno memang sengaja tidak membalas pukulan adiknya.
"Dia memang pantas mendapatkan itu Pa!" Vian menunjuk Alno dengan amarah yang sudah menguasai dirinya.
"Ada apa Vira, Alno? Kenapa hanya diam saja? Jawab pertanyaan Papa!"
Vian hendak menjawab, tapi Alno langsung memotongnya.
"Ini salah Alno Pa, Ma," Alno mencoba bangun dan dibantu oleh Vira, tapi Vian langsung menarik tangan Vira, menjauhkannya dari Alno.
Vira hanya bisa pasrah, cekalan tangan Vian di lengannya terlalu kuat, tapi Vira mencoba untuk menahannya. Vira tidak ingin ringisannya terdengar dan justru akan semakin memperkeruh keadaan.
__ADS_1
Sebenarnya inilah yang Vira takutkan, dirinya yang sedang bersama Alno kepergok oleh salah satu keluarganya, awalnya Vira ingin bangun pagi, intinya sebelum waktunya sarapan Vira harus sudah bangun, bahkan begitu niatnya Vira sampai memasang alarm pada ponselnya, tapi apa daya niat itu hanya tinggal niat, karena nyatanya saat alarm itu berbunyi, Vira memang terbangun dan mematikannya, tapi matanya yang masih mengantuk justru terpejam kembali, hingga dirinya pun kesiangan. Dan lebih parahnya lagi, saat tadi ada yang mengetuk pintu kamarnya, Vira langsung saja membuka pintu itu lebar-lebar, Vira bahkan lupa jika Alno tidur di kamarnya. Dan terjadilah hal ini, Vian yang melihat Alno di ranjang Vira, langsung berjalan cepat menghampiri Alno dan langsung menarik pria itu, hingga terbangun.
Alno turun dari ranjang karena terkejut saat Vian menarik tubuhnya kasar. Begitu berdiri, Vian langsung mendaratkan bogem mentah di wajah Alno. Tak hanya satu kali tapi beberapa kali, hingga tubuh Alno tersungkur.
"Cukup Vian!" Vira langsung menghalangi Vian yang akan kembali memukul Kakaknya.
"Minggir Vira!"
"Tidak, apa kau tidak melihat? Kak Alno sudah seperti ini," Vira menghembuskan nafasnya kasar.
Hingga tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Mama dan Papanya. Dan seperti yang Vira tebak, Mama dan Papanya pasti menanyakan apa yang terjadi.
"Apa kalian semua tidak bisa berbicara? Mama dan Papa khawatir dengan kalian, tapi tidak ada satupun dari kalian yang menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya," kata Stevano yang berusaha sekuat tenaga, agar tidak meluapkan amarahnya.
"Kalian keluarlah," kata Alno kepada kedua adiknya.
"Ayo sayang kalian keluar dulu," Jasmine membimbing anak-anaknya agar segera keluar dari kamar Vira.
Jasmine yakin ada alasan kenapa Alno melakukan itu.
Setelah membawa anak-anaknya keluar, Jasmine menutup pintu dan menguncinya kemudian duduk di samping suaminya yang kini sudah duduk tenang di sofa. Sementara Alno putranya masih berdiri dihadapan Ayahnya.
"Sekarang katakan!" Ucap Stevano to the point tidak ingin berbasa-basi lagi.
"Sebelumnya Alno mau minta maaf Ma, Pa," Alno menatap Mama dan Papanya bergantian.
"Alno ingin menikahi Vira secepatnya, jadi Alno mohon pada Mama dan Papa untuk merestui hubungan kami," kata Alno menatap Stevano dan Jasmine dengan pandangan memohon.
__ADS_1
Jasmine dan Stevano saling pandang, mereka sudah menduga jika cepat atau lambat pasti putranya ingin menikahi putrinya. Tapi mereka benar-benar tidak menduga jika itu semua akan terjadi hari ini. Waktu yang lebih cepat dari apa yang mereka perkirakan.
"Vira sudah tahu, jika kamu ingin menikahinya?" Kini Jasmine yang angkat bicara.
Stevano menatap istri dan putranya bergantian, menunggu jawaban putranya selanjutnya atas pertanyaan yang tadi istrinya sampaikan.
"Alno sudah memberitahunya Ma," jawab Alno jujur.
"Apa Vira sudah menjawabnya?" Tanya Jasmine lagi, layaknya orang yang sedang menginterogasi.
Alno diam sejenak, kemudian kepalanya menggeleng lemah. "Vira mau Ma, tapi tidak untuk sekarang-sekarang ini, katanya Vira perlu waktu, apalagi selama ini orang-orang mengira jika kita adalah Kakak dan adik kandung," jawab Alno dengan suara yang teramat pelan.
Jasmine bangun dan menghampiri putranya, diraih dan di genggamnya tangan putranya yang berkeringat mungkin karena gugup.
Stevano menatap istrinya yang bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Alno. Ditatapnya keduanya bergantian, membiarkan istrinya yang lebih dulu berbicara dengan putranya.
"Jika Vira sudah mengatakan seperti itu, yang harus Alno lakukan adalah menunggunya, Alno tidak boleh memaksakan kehendak Alno. Bagaimanapun soal menikah, bukan hanya kamu sendiri yang menentukan sayang, tapi juga calon istrimu nanti semua tidak bisa diputuskan secara sepihak saja," kata Jasmine memberikan pengertian dengan penuh kelembutan.
"Tapi Alno tidak bisa jika Ma, jika harus menunggu terlalu lama, bukan karena Alno takut cinta yang Alno miliki pudar, tapi karena Alno tidak dapat lagi menahan gejolak itu, Alno takut akan kelepasan," jawab Alno jujur.
Stevano bukan tidak tahu apa maksud yang putranya katakan, dan ada benarnya juga ucapan putranya untuk secepatnya mengikat hubungan mereka dalam ikatan pernikahan, lagain bukankah mereka juga saling cinta, jadi sebelum terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, mereka harus segera mengesahkan hubungan putra dan putrinya.
"Baiklah Papa akan merestui kalian, tapi semua butuh persiapan Alno, Papa tahu di luar kamu sudah pernah bekerja, tapi Papa ingin, sebelum kamu menikah, kamu mengurus perusahaan yang selama ini Papa jalankan."
"Tapi Pa bagaimana dengan Veer? Harusnya Vier yang lebih berhak untuk itu, Alno sadar siapa Alno, dan Alno tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hak Alno Pa," kata Alno dengan penuh keyakinan.
Alno tidak ingin jika dia yang mengambil alih perusahaan Papanya justru nantinya akan memicu perselisihan antara dirinya dan Vier, karena bagaimanapun Vier anak kandung mereka, bukan Alno.
__ADS_1
"Kamu tenang saja dan tidak perlu mengkhawatirkan Vier, Papa sudah berbicara dengannya dan dia lebih memilih untuk meneruskan perusahaan Kakek, jadi Papa putuskan kamu yang akan meneruskannya, karena Vian juga memilih mengambil alih perusahaan Opa. Jadi bagaimana apa kamu menerimanya?" Tanya Stevano menunggu jawaban anaknya.