My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 36


__ADS_3

"Kak itu.." Vira berfikir bagaimana mengatakan pada Kakaknya agar, Kakaknya tidak merasa tersinggung.


"Kenapa hmm?" Alno memandangi Vira, menunggu dengan sabar apa yang akan Vira katakan.


"Kak aku mau menikah dengan Kakak, tapi tidak untuk sekarang-sekarang ini," Vira menggigit bibir bawahnya merasa gugup saat mengatakan itu.


Jujur saja Vira sangat takut Kakaknya marah begitu mendengar jawabannya. Tapi Vira memang belum siap untuk itu, masih ada hal yang harus Vira lakukan sebelum melangkah ke hal yang tentunya lebih serius. Vira harus memikirkannya matang-matang, bukan karena ragu pada perasaan Kakaknya, tapi Vira memang tidak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan apalagi main-main dalam hal pernikahan.


Alno diam dengan wajah yang datar. Alno kemudian melepaskan tangan Vira yang menggenggam tangannya, dengan segera turun dari ranjang, meninggalkan Vira dengan berbagai rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.


"Apa ada yang salah dengan keputusanku? Apa Kakak tahu begitu banyak  hal yang aku pertimbangkan saat aku harus mengambil keputusan itu, aku tadinya berharap Kakak mengerti akan keputusanku ini, tapi kenapa Kakak justru tidak mengerti? Kenapa Kakak langsung pergi begitu saja tanpa mendengar dulu penjelasanku?" Teriak Vira menghentikan langkah Alno yang hampir saja keluar dari pintu.


Alno berbalik, berjalan cepat menghampiri Vira, dan dengan gerakan yang tidak Vira duga sebelumnya, Alno menarik tengkuk Vira mendaratkan bibirnya di bibir Vira. Cukup lama, hingga nafas keduanya hampir habis Alno baru melepaskannya.


"Kenapa? Sekarang jelaskan pada Kakak kenapa kamu tidak mau menikah dengan Kakak?" Tanya Alno menatap Vira dengan tatapan sendu.


"Kak bukan tidak mau menikah dengan Kakak, Vira mau  sangat mau tapi tidak dalam waktu dekat ini," Vira meralat ucapan Kakaknya

__ADS_1


"Sama saja, intinya kamu tidak ingin cepat-cepat menikah dengan Kakak, atau jangan-jangan kamu masih ragu pada perasaanmu, atau kamu tidak percaya dengan apa yang Kakak katakan? Kenapa Vira? Katakan pada kakak kenapa kamu tidak mau segera menikah dengan Kakak?" Alno terdengar frustasi saat memikirkan kenapa adiknya tidak mau menikah dengannya secepat mungkin.


Alno duduk di pinggiran ranjang dengan kaki yang menjuntai ke lantai, Vira pun beringsut dan ikut duduk di samping Kakaknya dengan posisi yang sama.


Vira menghela nafasnya, "Vira bukan tidak percaya pada Kakak, Vira bukan karena ragu pada perasaan yang Vira miliki untuk Kakak, tapi Kak, menikah itu bukan hal yang main-main, dan tidak semudah seperti Kakak mengucapkannya. Semua butuh persiapan Kak, dan lagi semua orang tahunya jika kita saudara kandung, apa yang akan orang-orang katakan saat tahu jika Kakak menikahi adik kandungnya sendiri? Berbagai macam pikiran buruk dan negatif orang-orang akan menyertai pernikahan kita. Apa kakak mau jika banyak orang diluar sana menilai tidak baik pernikahan kita?" Vira menatap Kakaknya yang sepertinya tidak puas akan jawaban yang diberikannya.


"Kenapa harus mendengarkan omongan orang lain? Kita yang menikah dan kita pula yang menjalani lalu kenapa masih peduli dengan komentar orang-orang yang lebih banyak tidak ada faedahnya? Sayang dengarkan kakak, kamu tidak perlu terlalu berpikiran jauh seperti itu, jika kita saling cinta bukankah lebih baik jika disegerakan mengikatnya dalam suatu hubungan pernikahan? Kamu tidak perlu memikirkan apa perkataan orang-orang, intinya yang penting kamu mau, Kakak juga menginginkannya."


"Kak selama ini kita hidup sebagai Kakak dan adik, coba bayangkan akan seperti apa canggungnya kita jika yang tadinya status Kakak adik menjadi sepasang suami istri. Bukankah sebelum itu lebih baik kita harus beradaptasi terlebih dahulu? Kakak aku mohon beri aku waktu, setidaknya kita bisa merubah hubungan kita menjadi sepasang kekasih dulu, hingga saatnya kita sudah benar-benar siap saat itu. Seperti yang Kakak bilang tadi, pernikahan memang kita  yang menjalani dan seharusnya kita tidak perlu mendengar komentar orang lain, tapi kita hidup di lingkungan masyarakat, jika kita tidak mendengarkan orang lain, bagaimana kita akhirnya bisa hidup menjadi seperti sekarang? Ada kalanya kita perlu mendengar komentar orang lain yang intinya bisa merubah kita menjadi manusia yang lebih baik."  


Alno diam mencerna apa yang adiknya ucapkan. Rupanya Viranya sudah berubah menjadi sosok gadis yang dewasa, semua tentang Vira tak luput dari perhatian Alno. Bahkan ketika gadis yang begitu dia cintai sedang menjelaskan apa yang dia pikirkan kepadanya. 


Begitu Vira tersadar, Vira langsung mendorong dada Alno. Alno melepas ciuman itu, Alno menatap Vira  yang sedang menatapnya, pandangan mereka bertemu.


Alno menempelkan keningnya di kening Vira  bahkan kedua hidung mereka yang mancung pun ikut menempel.


"Maafkan Kakak Vira! Hampir saja Kakak kelepasan," ucap Alno dengan suara yang terdengar parau.

__ADS_1


Vira hanya mengangguk, ini tidak benar itu yang ada dalam pikiran Vira. 


"Kak, sebaiknya kita harus menjauh," kata Vira pelan.


Alno mengernyitkan keningnya saat mendengar apa yang Vira katakan. Jelas saja Alno tidak menyetujuinya, setelah 6 tahun Alno sudah jauh dari Vira, kini Vira menginginkannya untuk kembali menjauh, Alno benar-benar tidak habis pikir pada apa yang Vira katakan barusan.


"Kamu ngomong apa sayang? Menjauh? Kakak tidak setuju, Kakak pulang ingin terus melihatmu, ya walaupun awalnya Kakak hanya perlu melihatmu dari jauh, tapi setelah Kakak tahu kamu juga mencintai Kakak,  kamu tahu Kakak sangat bahagia apalagi kakak bisa terus dekat denganmu, tapi dengan mudahnya kamu bilang kita harus menjauh," ada rasa kecewa yang Alno rasakan  terlihat jelas dari sorot matanya.


"Bukan seperti itu Kak, ini semua bukan seperti yang kakak maksud, hmm ini.." Vira tampak bingung harus menjelaskannya seperti apa, apalagi saat Vira melihat jika Alno salah menangkap maksud perkataannya.


"Sudahlah  tidak perlu diteruskan," Alno hendak beranjak, tapi Vira dengan cepat menahan tangan Alno.


Vira berdiri dan memberanikan diri untuk mengecup bibir Alno, Alno yang mendapat serangan itu, langsung menarik tengkuk Vira memperdalam ciuman mereka.


Ciuman keduanya terlepas dengan nafas yang saling memburu, "Ini yang aku takutkan Kak, jika kita terus berdekatan, aku takut kita tidak bisa mengendalikan diri kita, hingga berujung terjadi sesuatu yang seharusnya belum boleh terjadi."


"Makanya sayang, Kakak ingin kita segera menikah, dengan begitu Kakak ataupun kamu tidak perlu merasa takut jika akhirnya hal ini kembali terulang. Hmm ya udah, sekarang tidurlah, Kakak  akan kembali ke kamar.

__ADS_1


Alno mencium kening Vira cukup lama, dan dirinya segera keluar setelah itu. Vira memandangi tubuh Alno yang semakin  menjauh dari pandangannya dan hilang di balik pintu yang kini sudah ditutup oleh pria itu.


__ADS_2