My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 103


__ADS_3

"Mengganggu saja," gerutu Alno setelah adiknya itu pergi.


"Kak."


"Benarkan sayang, Vian itu mengganggu, padahal aku kan masih kangen sama kamu, tidak bisa apa membiarkan kakaknya berduaan saat baru pulang, kakak juga masih ingin mesra-mesraan sama kamu," ucap Alno terlihat kesal.


Vira hanya geleng-geleng kepala mendengar gerutuan suaminya.


Alno tiba-tiba menundukkan kepalanya, memberikan handuk kecil, meminta sang istri mengeringkan rambutnya, Vira pun hanya bisa tersenyum meladeni tingkah manja suaminya, dan mengambil handuk kecil yang Alno berikan.


"Sayang."


"Hmm?" Jawab Vira tanpa menoleh masih merapikan rambut Alno.


Kini tangan Alno sudah sibuk membuka kancing baju tidur istrinya.


"I love you."


Vira tidak bisa menahan senyum dan rona merah di wajahnya. Perlahan Alno mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, kemudian mencium kening Vira penuh kelembutan, hingga Vira refleks memejamkan kedua matanya, kini ciuman itu berpindah kedua mata Vira yang terpejam, hidung dan terakhir ciuman Alno sudah mendarat mulus di bibir sang istri.


Nafas keduanya memburu, Alno menatap intens sang istri, kemudian mengangkat tubuh Vira menuju ke tempat tidur, dan menurunkan tubuh istrinya, merebahkan tubuh Vira dengan begitu hati-hati.


Alno mengungkung tubuh Vira dan kembali menciumnya, tapi Vira segera menghentikannya. Alno yang sudah dipenuhi kabut gairah hanya bisa menatap sang istri.


"Pintunya belum dikunci," kata Vira pelan dengan wajah merona.


Alno merutuk dirinya sendiri, karena lupa hal itu, untungnya Vira mengingatkannya, jika tidak…, Alno tidak bisa membayangkannya.


Dengan segera Alno turun dari ranjang menuju ke arah pintu dan menguncinya, agar tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu lagi. Setelahnya Alno kembali menghampiri sang istri, melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda.


*


*


Alno tampak sangat puas karena kini bisa sesuka hati memandangi sang istri langsung tanpa penghalang apapun. Dua minggu ini, Alno harus puasa dan hanya bisa menatap sang istri lewat layar ponselnya.


"Cantik banget sih istri Kak Alno ini," kata Alno merapikan helaian rambut yang menutup wajah cantik sang istri dan mendapat perlakuan manis dari sang suami membuat Vira hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang suaminya.


"Mau mandi sekarang?" Tanya Alno.


Vira mengangguk masih dalam pelukan Alno.


"Ya sudah ayo, kita pasti sudah ditunggu," kata Alno agar istrinya melepaskan pelukannya.


Vira perlahan melepaskan pelukannya, Alno kemudian turun dari ranjang lebih dulu, Vira menutup wajahnya dengan selimut masih merasa malu melihat tubuh polos suaminya.

__ADS_1


"Kenapa malu? Bukannya sudah sering melihatnya?" Kata Alno yang justru semakin gencar menggoda istrinya.


"Kakak," kata vira manja.


Dan inilah yang Alno suka, ketika Vira bersikap manja padanya.


"Jadi mandi gak, atau mau lagi?" Ucap Alno yang tampaknya belum puas untuk menggoda sang istri tercinta.


"Jadi lah, kan Kakak tadi bilang, jika semua orang pasti menunggu."


"Oke," Alno kemudian menggendong Vira menuju kamar mandi.


"Tau gini, tadi tidak usah mandi dulu," gumam Vira dan Alno pun hanya terkekeh pelan.


*


*


"Lama banget sih Kak, tidak tau apa kita semua sudah kelaparan," komentar si bungsu tampak kesal karena menunggu kedua kakaknya yang turun begitu lama yang membuatnya kesal karena papanya meminta mereka menunggu.


"Maafin Kakak ya Ze, tadi kakak…"


"Sudahlah ayo kita makan," kata Stevano memotong ucapan Vira.


Stevano belum lama ini sampai, sebelumnya Alno memang sengaja tidak mengatakan jika dia sebenarnya pulang bersama papanya, dan bilang jika papanya akan kembali lusa, padahal tadi Stevano ke kantor lebih dulu, sementara dirinya langsung pulang ke rumah.


"Santai aja kali Mine, kami ngerti kok, apalagi Alno baru pulang iya gak Alno," kata Lily mengedipkan sebelah matanya.


Alno hanya tersenyum menanggapi ucapan Bibinya itu.


"Sayang," tegur Jason.


"Kenapa memangnya salah, kamu juga dulu gitu, baru pulang dari luar negeri langsung mengurungku seharian di kamar waktu hamil Cinta lagi," kata Lily begitu mengingat hal itu.


"Tapi aku suka sih," tambahnya lagi dan Jason hanya memutar kedua bola matanya, sudah punya anak tiga nyatanya tingkah Lily tidak pernah berubah, tapi bukankah itu yang membuat dulu Jason jatuh cinta padanya?


"Ibu, ada anak di bawah umur disini," protes Cinta.


Dan Lily hanya tersenyum mendengar protes putri pertamanya.


"Oops sorry ibu lupa," kata Lily.


"Sudah, sudah kita mulai acara makannya," ucap Stevano menghentikan obrolan mereka.


Kemudian mereka pun makan dengan tenang hingga pernyataan Vian membuat semua orang di ruang makan itu tampak terkejut dan tak percaya, bahkan Jason dan Lily merasa dejavu, saat mendengarnya.

__ADS_1


"Paman ada yang ingin aku sampaikan, aku ingin menikahi Cinta," kata Vian berucap dengan sangat tenang.


Cinta yang terkejut bahkan kini sampai tersedak, dan Jasmine yang memang duduk di dekatnya langsung memberikan minuman ke gadis itu.


"Apa maksudmu?" Kata Cinta tidak bisa menerima perkataan Vian apalagi itu di depan keluarganya juga keluarga pria itu sendiri. 


Alno dan Vira terdiam tampak sibuk dengan pikiran mereka, padahal mereka pernah membahas hal itu, dan kini hal itu benar-benar terjadi, Vier juga terdiam, pria itu dari tadi hanya diam, Vier yang sekarang menjadi sosok yang tidak banyak bicara lagi seperti dulu.


"Sayang," kata Lily mengelus lembut tangan putrinya untuk sekedar menenangkannya.


"Aku serius Paman, aku akan membahagiakan Cinta," ucap Vian lagi.


"Vian!" Teriak Cinta yang tidak bisa menahan diri lagi sampai gadis itu kini sudah berdiri dan menatap tajam Vian.


"Kenapa? Apa aku salah?" 


"Jelas salah, kamu tahu aku sudah memiliki kekasih, tapi apa yang baru kau katakan?" Cinta tampak marah kemudian pergi meninggalkan ruang makan, lebih tepatnya kediaman Stevano.


"Cinta!" Lily memanggil Cinta dan hendak mengejar putrinya tapi Jason segera menahannya. 


"Biarkan saja," ucapnya pada sang istri.


"Vian, Vano mari kita bicara," kata Jason kemudian menatap Stevano dan Vian bergantian.


"Kita bicara di ruangan kerjaku," kata Stevano, kemudian mengajak istrinya meninggalkan ruang makan menuju ke ruang kerja Stevano disusul oleh Vian dan Jason. 


Dan suasana di ruang makan yang tadinya tenang menjadi tegang.


Alno menggenggam tangan istrinya, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Vier kemudian berdiri dan pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah katapun.


"Vier kamu mau kemana?" Tanya Alno yang melihat adiknya akan pergi.


"Pulang," jawab Vier.


"Vier!" Teriak Alno dan Vier hanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh.


"Kak!" Vira menatap suaminya dan Alno pun langsung memeluk istrinya.


"Ze, ajak Aulia ke kamarmu, dan ajak Senja ke kamar Kak Vian," perintah Alno. Dan Zeline yang mengerti keadaan sedang kacau, hanya bisa menurut apa kata kakaknya.


"Kak bagaimana ini?" Tanya Vira lagi yang khawatir jika akan terjadi lagi permusuhan diantara dua saudaranya lagi. Untungnya di pesta mamanya kemarin, semuanya terlihat baik-baik saja, baik Ken, Vier maupun Sheira berhasil menutupi masalah yang terjadi diantara mereka bertiga hingga tidak diketahui publik dan tidak sampai menghancurkan pesta mama dan papanya.


"Tenang ya, serahkan semua pada mama dan papa, mereka pasti tahu mana yang terbaik, kamu tidak perlu berpikir macam-macam, ingat kata dokter," ujar Alno mengingatkan istrinya.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja."


Semoga saja...


__ADS_2