My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 67


__ADS_3

Begitu pikirannya sudah mulai tenang, Alno menyudahi apa yang dilakukannya. Alno mengambil handuk dan melilitkan ke pinggangnya.


Alno keluar dari kamar mandi, dan melihat Vira sedang menyiapkan makanan di atas meja.


"Kakak pakai baju dulu lalu makan," kata Vira masih terus melakukan kegiatannya.


"Iya," jawab Alno yang langsung menurut dan menuju ke walk in closet untuk memakai pakaiannya.


Setelah selesai, Alno pun keluar dan menghampiri istrinya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Alno yang duduk di samping istrinya.


Vira yang sedang memainkan ponsel langsung menoleh mendengar suara Alno.


Vira menggeleng, dengan sigap Vira mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Kita makan bersama," ucap Alno mengambil piring dari istrinya, menyendokkan nasi dan lauknya kemudian menyuapi Vira.


"Kak aku bisa sendiri," kata Vira menolak suapan Alno.


Alno meletakkan piring berisi makanan itu di atas meja.


"Kamu masih marah ya sama Kakak?" Alno meraih dagu sang istri agar menatapnya.


"Tidak, memangnya marah kenapa?"


"Kakak tahu, kamu mendengar Kakak saat  telepon tadi kan?" 


Ucapan Alno tepat, Vira tidak bisa mengelak.


"Ka..Kakak tahu?" Ucap Vira gugup.


"Kak sungguh, aku bukan ada maksud mencuri dengan pembicaraan Kakak, aku..


"Vira!"


"Sungguh aku cuma tidak sengaja mendengarnya.."


"Vira!"


"Kak, Kakak jangan marah ya, maaf sungguh aku tidak sengaja."

__ADS_1


"Vira dengarkan Kakak!" Alno menggenggam tangan istrinya yang gemetar.


Alno kemudian menarik Vira ke dalam dekapannya.


"Kamu tidak salah, Kakak yang salah, yang seharusnya minta maaf adalah Kakak, maaf karena kamu jadi menangis karena sikap Kakak. Sayang kamu harus tahu, kalau kamu satu-satunya orang yang Kakak cintai, tidak ada yang lain apalagi wanita yang bernama Kimmy. Kamu sungguh mengira jika kepergian Kakak tadi karena Kimmy?" Tanya Alno melepaskan pelukannya dan memandangi sang istri.


Vira mengangguk, air mata tiba-tiba jatuh tanpa izinnya.


"Sayang kamu salah paham, Kakak pergi bukan menemui Kimmy tapi Sisil, Ka..


"Kakak sudah bertemu dengan Sisil? Terus apa katanya? Dia jelaskan semuanya pada Kakak? Kak aku sangat mengenal Sisil, jadi tidak mungkin jika dia sampai melakukan hal itu padaku."


"Ya Kakak tahu, tapi bagaimana jika teman kamu lainnya yang melakukan itu?" Tanya Alno hati-hati.


"Maksud Kakak, Merry?"


"Iya, jika seperti itu kenyataannya?"


Vira terdiam cukup lama, "Apa Merry dendam padaku?" Tanya Vira dengan suara yang teramat pelan.


"Dendam? Apa maksud kamu?"


"Hubungan kami memang sempat renggang Kak, dulu Merry memang iri dengan kedekatan aku dan Sisil, selain itu, Merry juga sempat marah sama aku, karena dia pikir aku hanya membantu Sisil saja dan tidak membantunya. Sisil suka sama Kak Alno," Vira menatap suaminya untuk melihat responnya.


Alno masih dengan seksama mendengar cerita istrinya, tanpa menyela.


"Merry tahu, Sisil dekat dengan Kak Alno, dia kira aku membantu Sisil biar dekat dengan Kak Alno, tapi aku tidak membantunya," kata Vira membuat Alno mengernyitkan dahi.


Vira yang mengerti kebingungan suaminya pun menjelaskan, "Merry menyukai Ken, tapi aku tidak bisa membantunya, Kakak tahu sendiri bagaimana Ken, dia orang yang tidak suka dipaksa, bagaimana aku membantu Merry, jika Ken sendiri sudah ada orang yang disukainya."


"Jadi menurut kamu, tidak ada orang yang Kakak suka, makanya kamu membantu Sisil," kata Alno kesal.


Vira menatap Alno dengan dahi yang berkerut, "Maksud Kak Alno?"


"Ya itu kamu membantu Sisil agar dekat dengan Kakak," Alno semakin kesal saat istrinya tidak  juga paham maksudnya.


"Siapa yang membantu Sisil? Bukankah Kak Alno sendiri yang mendekati Sisil, menemui Sisil ke sekolah bahkan minta nomor telepon Sisil?"


"Ya itu kan karena Kakak ingin tahu tentang kamu lewat Sisil, bukan Kakak ingin tahu tentang Sisil,"


"Ya itu, yang membuat semua orang jadi salah paham, Kakak tahu, Sisil sempat menjauhi aku, bahkan dia memutuskan kuliah ke luar negeri karena kecewa pada sikap Kakak, Kakak membuat dirinya berharap lebih."

__ADS_1


"Tapi Kakak kan tidak memberinya harapan, dia sendiri yang berharap, jelas-jelas setiap menghubunginya, yang Kakak bahas tentang kamu, masa dia tidak mengerti,"


"Sudahlah terserah Kakak, capek berdebat dengan Kak Alno, lebih baik kita makan, aku sudah lapar," Vira memutuskan untuk menyudahi perdebatan mereka dan kembali mengambil piring yang berisi makanan tadi, yang mungkin sudah dingin kembali, karena sedari tadi hanya dilihat saja, sementara mereka asyik mengobrol hingga lupa waktu.


"Maafkan Kakak, Vira, ternyata keputusan yang Kakak ambil salah. Kakak terlalu percaya padanya, tanpa tahu ada maksud di baliknya, dia menggunakan cara seperti itu, Kakak juga akan menggunakannya, tunggu Kakak sampai Kakak menangkap maksud dari apa yang dilakukannya. Tunggu Kakak sebentar lagi," ucap Alno dalam hati saat mengingat percakapan Kimmy dengan orang di seberang telepon yang tidak dia tahu siapa.


Dengan jelas Alno mendengar perkataan Kimmy saat itu.


"Tenang saja, aku akan membalas apa yang semua orang-orang itu lakukan kepada kita, aku akan menghancurkan keluarga Stevano dan  Olivia, aku akan membuatnya merasakan apa yang kita rasakan."


Ucapan itu teringat jelas di benaknya.


"Kenapa? Apa yang membuatnya dendam pada keluarga kami? Apa yang Papa dan Mama lakukan hingga membuat dia ingin menghancurkan keluarga kami? Siapa dia sebenarnya?" Alno bertanya-tanya dalam hatinya apa maksud yang Kimmy ucapkan.


Pertemuan mereka terlihat normal, tapi kenapa tiba-tiba Kimmy ingin membalaskan dendam? Alno begitu pusing memikirkan itu semua. Intinya Alno ingin cepat-cepat menyelesaikan semuanya. Tapi semua tidak semudah itu, karena dirinya selalu kehilangan bukti, atau mungkin orang-orang itulah yang memang pandai menyembunyikan diri.


"Kak kenapa melamun?" 


Vira membuyarkan lamunan suaminya. 


"Kakak tidak melamun, sekarang lebih baik kita lanjutkan makannya, bukannya kata kamu tadi keburu makanan dingin, dan lihatlah itu semua jadi kenyataan," kata Alno yang menunjuk beberapa makanan yang memang sudah dingin


Mereka berdua pun akhirnya makan dengan tenang, hanya dentingan garpu dan sendok yang terdengar di ruang kamar itu.


*


*


"Sayang kamu yakin dengan keputusan Alno yang membiarkan Kimmy tetap tinggal disini?" Tanya Jasmine harap-harap cemas.


"Sebenarnya aku juga keberatan, tapi Alno pasti sudah memikirkan semuanya. Jika dia tinggal disini saja bisa melukai Vira, bagaimana kalau dia tinggal di luar? Kita tidak bisa memantaunya seperti saat dia berada di dekat kita," jawab Stevano yang memikirkan perkataan putranya saat itu.


"Tapi bagaimana kalau dia melukai anak-anak kita yang lain," Jasmine tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Kenapa kita tidak melaporkan saja sayang tentang perbuatannya?" 


"Kita tidak memiliki bukti yang cukup, Alno sedang mengumpulkan bukti-bukti itu, kamu percaya kan sama Alno?"


"Tapi…"


"Sudah ya, jangan terlalu khawatir, semua akan baik-baik saja," kata Stevano menenangkan istrinya.

__ADS_1


Jasmine mengangguk mencoba untuk berpikiran positif dengan percaya Suami dan putranya.


__ADS_2