My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 28


__ADS_3

"Aish!" Vira merasa kesal pada dirinya sendiri karena disaat dia ingin pergi menenangkan diri, justru dirinya tidak membawa dompet maupun ponselnya. Hingga terpaksa Vira pun berbalik arah kembali ke rumah, untung saja dirinya belum terlalu jauh.


Hanya lima menit saja, mobil Vira sudah terparkir di halaman rumah. Vira segera turun dari mobil melangkahkan kakinya ragu, takut jika dia kembali bertemu dengan Kakaknya. Tapi  Vira juga tidak punya pilihan lain, Tidak lucu bukan jika dia harus menjaminkan mobilnya untuk sepiring makanan.


"Kenapa kau bisa ceroboh sih Vira," rutuknya pada dirinya sendiri. Vira melangkahkan kakinya dengan pelan dan samar-samar dia mendengar ada yang tengah berdebat. 


Vira menajamkan indera pendengarannya. Dan yang dia dengar Vier menyebut nama Kimmy.


"Apa mungkin Kimmy nama perempuan yang datang bersama Kak Alno," pikir Vira berucap dalam harinya.


Vira dengan segera menaiki anak tangga, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar? Kenapa Vira sampai berbalik badan dan pergi?" 


Vira mendengar Vier meneriakan pertanyaan itu. 


"Itu, kita…


Hingga tiba di anak tangga teratas, Vira mendengar Kakaknya berbicara, memotong perkataan perempuan yang mungkin bernama Kimmy, Kimmy itu.


"Itu urusan Kakak dan kamu tidak perlu ikut campur." 


"Kak kau.." 


Vira melihat tangan kembarannya mengepal dan tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat di wajah Alno.


Vira sampai menutup mulutnya tidak percaya melihat apa yang terjadi di depannya. Ini kali pertamanya dia melihat kekerasan di rumah ini. Sebelum ini keluarga ini hanya ada perdebatan kecil dan tidak akan main tangan seperti apa yang Vier lakukan tadi.

__ADS_1


"Br*ngs*k Kau Kak? Apa yang kau lakukan pada anak gadis orang? Mentang-mentang di rumah tidak orang, kamu bebas melakukan hal seperti itu, apa ini hasil belajarmu di luar sana," Vier kembali berteriak dan bisa Vira lihat ada kilat kemarahan di mata Vier saat menatap Kakaknya.


"Tunggu Vier, kamu salah, aku bukan gadis lagi."


Seperti luka yang terkena garam, itulah yang hati Vira rasakan saat ini ketika mendengar ucapan perempuan yang Kakaknya bawa.


Vira memegang dadanya yang terasa nyenyak dan nyeri. "Jadi sudah sejauh itu Kak, hubungan kau dengannya? Kenapa sakit sekali rasanya," Air mata Vira sudah berjatuhan membasahi wajahnya, menatap Kakaknya yang mungkin tidak menyadari keberadaannya dengan tatapan sendu.


"Kau benar-benar pria br*ngs*k Kak!" Terlihat Vier kembali mendaratkan bogem mentah di perut Kakaknya. Setelah itu Vier memukul wajah Kak Alno hingga sudut bibir Kak Alno mengeluarkan darah segar.


Suara Vira seakan tertahan di tenggorokan saat hendak menghentikan pukulan Vier. Tidak kurang akal, Vira segera berlari hendak menolong Kakaknya, tapi Vira tiba-tiba berhenti. Dirinya terlambat saat sudah ada sosok lain yang melakukan apa yang ingin Vira lakukan di saat seperti ini.


"Vier stop!" Teriak perempuan itu yang bahkan sampai menghalang-halangi Vier yang akan kembali memukul Kakaknya.


Rasa sesak kembali masuk ke hatinya. Vira yang sudah tidak sanggup lagi, langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka bertiga, tidak peduli dengan ponsel dan dompetnya lagi.


Vira mengemudikan kendaraan cukup kencang membelah jalanan yang cukup sepi di siang yang mendung. 


"Ah langit pun tahu apa yang aku rasakan," gumam Vira sambil menghapus air matanya yang terjatuh begitu saja.


Karena Vira tidak membawa apapun kini tempat tujuannya hanya satu.


.


.


Jasmine yang mendapat kabar dari pelayannya tentang keributan yang terjadi pada kepada kedua putranya begitu terkejut dan langsung meminta izin kepada suaminya untuk pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


Stevano awalnya ingin ikut pulang bersama istrinya terpaksa harus mengubur dalam-dalam keinginannya, karena ada rapat penting yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja. Yang Stevano bisa lakukan hanya meminta supir kantor untuk mengantarkan istrinya pulang dengan selamat.


Sebenarnya yang membuat Stevano dan Jasmine lebih begitu terkejut adalah, perkataan pelayan yang mengatakan bahwa Alno pulang bersama seorang gadis bahkan menyuruh pelayan menyiapkan kamar untuk gadis itu tinggal, tapi Alno tidak mengabari keduanya dan menceritakan tentang hal itu. Itu bukan seperti Alno yang selama ini mereka kenal. Hal itu membuat Jasmine dan Stevano merasa ada yang janggal.


"Sayang aku pulang dulu," pamit Jasmine yang melihat sebuah mobil sudah siap untuk membawanya kembali.


"Ya hati-hati, ada apa-apa segera kabari," ucap Stevano mengecup kening istrinya.


Jasmine mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya kemudian berlalu dan masuk ke dalam mobil. Melihat Nyonya sudah masuk, sang supir pun segera melajukan mobilnya melajukan ke tempat tujuan mereka.


"Pak tolong lebih cepat ya," pinta Jasmine pada sang supir.


"Baik Nyonya," jawab supir yang langsung melaksanakan perintah Nyonyanya.


Di perjalanan, pikiran Jasmine begitu tidak tenang. Banyak hal yang telah terjadi dalam 6 tahun ini, dan pasti banyak hal pula yang membuat semuanya berubah tidak seperti yang dulu.


Tapi yang Jasmine pikirkan, apakah Putranya berubah sedrastis itu? Apakah dirinya tertinggal dengan perkembangan anaknya. Apakah dia gagal menjadi seorang Ibu untuknya. Kenapa mendengar cerita Bibi, Jasmine merasa asing dengan putranya.


Jasmine  ingin cepat-cepat sampai ke rumah, untuk memastikan semuanya, memastikan bahwa putranya Alno tetaplah putranya yang dulu dan tidak pernah berubah, karena sesungguhnya kasih sayang Jasmine juga tidak pernah berubah  terhadapnya.


"Tuan Alno pulang bersama seorang gadis," entah sudah keberapa kalinya, kalimat itu muncul di pikirannya. 


Memikirkan semua itu, kenapa Jasmine takut kehilangan putranya itu, karena kelak Putranya pasti akan bersama istrinya dan Jasmine sudah tidak berhak lagi atas putranya itu. Bukan darah dagingnya, itulah sumber ketakutan Jasmine jika suatu saat Alno mempunyai kehidupannya sendiri.


"Apa suatu saat nanti kamu akan meninggalkan Mama lagi sayang? Kenapa kamu bukan putra kandung Mama? Jika kamu Putra kandung Mama, setidaknya Mama masih punya hak atas kamu jika kelak kamu menikah, tapi karena bukan? Mama benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti, keinginan Mama, tidak berat, Mama hanya ingin kamu selamanya menjadi putra Mama," ucap Jasmine dalam hati.


Padahal Jasmine sudah merencanakan sesuatu yang membuat Alno akan tetap menjadi putranya, yaitu dengan mendukung perasaan Putrinya. Tapi jika sekarang Alno  sudah memiliki pilihannya, Jasmine bisa apa? Tentunya dia tidak bisa apa-apa. Jasmine juga tidak ingin memaksakan kehendaknya, karena Jasmine tahu bagaimana rasanya jika dipaksa sepertinya dulu.

__ADS_1


Jasmine baru mengingat sesuatu, "Bagaimana perasaan Vira saat tahu semua ini? Jasmine hanya berharap putrinya akan baik-baik saja.


__ADS_2