My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 47


__ADS_3

"Vira kamu mau kemana?" Alno menahan tangan Vira yang akan masuk ke dalam mobilnya.


"Bukan urusan Kakak, sekarang lepas!" Vira dengan sekuat tenaga menghempaskan tangan Alno begitu saja.


"Vira please dengarkan Kakak, jangan kemana-mana sendiri, ayo kamu mau kemana? Biar Kakak nanti yang akan menemanimu pergi," Alno menghadang Vira di depan pintu mobil bagian kemudi.


"Minggir!" Kata Vira dingin dengan raut wajah yang datar.


"Vira ini demi kebaikanmu sayang, ada yang harus Kakak katakan, please dengarkan Kakak dulu," Alno menghela nafas panjang, ingin mengatakan sesuatu tapi saat mengingat hal itu, Alno kembali mengurungkan niatnya.


"Kenapa? Apa yang ingin dibicarakan? Tidak tahu bukan apa yang akan dikatakan? Kenapa sekarang diam saja, dan tidak menjawab pertanyaanku?" Vira menatap Alno dengan tatapan penuh amarah.


"Rae!" Panggilan Kimmy membuat Alno menoleh, dan dengan cepat Vira membuat tubuh Kakaknya tersingkir dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Vira buka! Vira!" Alno menggedor kaca jendela mobil sembari berlari karena Vira sudah menjalankan mobilnya.


"Rae maaf, gara-gara aku, Vira jadi pergi begitu saja," kata Kimmy menunduk dengan raut wajah yang terlihat merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, aku harus kembali ke dalam kamar," ucap Rae.


"Oh ya kamu mau kemana? Terlihat rapi," Alno memandangi Kimmy dari atas ke bawah.


"Aku ada urusan sebentar," jawab Kimmy masih dengan senyumannya.


"Perlu aku antar?"


"Hah, oh tidak perlu aku bisa sendiri naik taxi, oh ya kalau begitu saya pergi dulu ya," pamit Kimmy yang diangguki Alno.


Alno melihat Kimmy yang sudah berjalan cukup jauh, hingga akhirnya menghilang dengan pandangan datar, tanpa ekspresi apapun.


Alno mengambil ponsel di saku celananya, menekan nomor seseorang, "Kamu awasi dia!" Ucapnya kemudian segera memutuskan panggilan sepihak.


Alno masuk ke dalam rumah, tak lama pelayan di sana menemuinya, "Tuan ini yang Anda minta," ucap pelayan itu menyerahkan sesuatu kepada Alno.


"Dia tidak tahu kan?"


"Aku rasa dia tidak menyadarinya. Baiklah Tuan jika sudah tidak ada yang Tuan perlukan lagi, saya pamit undur diri," ucap pelayan yang sudah lama mengabdi pada Papanya.


Alno hanya mengangguk, membuka apa yang Bibi berikan tadi, Alno tersenyum dengan ekspresi yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Jadi benar," gumamnya kemudian melanjutkan langkahnya ke dalam kamar, ada hal yang harus dia selesaikan.


***


"Hai Vira," Sisil menyapa sahabatnya itu.


"Hai Sisil sudah lama kita tidak bertemu, kamu makin cantik aja," kata Vira langsung memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak dia lihat karena sahabatnya itu kuliah di luar negeri.


"Kapan kembali? Kenapa baru menghubungiku?" Vira melepas pelukannya.


Sisil tersenyum, "Baru saja semalam, pagi-pagi sekali aku langsung menghubungimu mengajak bertemu, aku juga kangen sama kamu, kamu juga makin cantik aja nih," Sisil menekan kedua Pipi Vira hingga bibir Vira sudah seperti ikan, Sisil yang melihat wajah lucu sahabatnya langsung tertawa.


"Sisil lepas!" Vira meronta meminta Sisil agar membebaskan kedua pipinya.


Karena tidak tega, Sisil pun akhirnya melepaskannya. 


"Lebih baik kita duduk, tuh dilihatin pelayan!" Vira menunjuk pelayan yang memandangi mereka tak jauh dari tempatnya.


"Huh pelayan itu tidak tahu apa jika kita sedang melepas kangen," ucap Sisil cemberut.


"Oh ya, kenapa Mery belum datang ya?" Vira mengecek ponselnya, sudah lebih dari 10 menit dari waktu yang ditetapkan dari waktu janjian mereka.


"Bagaimana? Dijawab tidak?" Tanya Vira pada Sisil yang coba menghubungi satu lagi diantara mereka yang belum datang.


Sisil menggeleng, "Nomornya aktif, tapi tidak di jawab, hmm coba aku hubungi lagi," Sisil pun menghubungi kembali nomor Mery, kedua juga tidak dijawab, dan akhirnya panggilan yang ketiga pun dijawab oleh Merry.


"Halo Mery, kamu dimana? Kenapa belum sampai?"  Tanya Sisil.


"Sorry, sorry ban mobilku bocor, ini aku ke bengkel dulu, sepuluh menit lagi aku akan kesitu, kalian pesan makanan saja dulu, oh ya entar dulu lagi ya, nanti aku hubungi kembali."


Tut


Tut


Tut


Panggilan pun langsung terputus.


"Huh dasar!" Maki Sisil. "Semoga saja kamu memang lama, ada hal yang harus aku lakukan," tambah Sisil dalam hati.

__ADS_1


Vira hanya geleng-geleng. Kemudian mengangkat tangannya memanggil pelayan.


Mereka pun kemudian memesan.


"Sil, maaf untuk dulu dan sekarang," kata Vira memecah kesunyian di antara mereka.


"Tentang Kak Alno," Sisil tersenyum miris, tapi terlihat jelas ada luka di sorot matanya.


"Lupakan, mau bagaimana lagi, nyatanya yang Kak Alno sukai memang kamu, kamu juga mencintainya kan? Hanya saja memang sih rasa kecewa itu masih ada," jawab Sisil dengan pandangan kosong.


"Aku kecewa, karena kamu tidak mau jujur padaku tentang perasaanmu, dan sebenarnya juga salahku sendiri sih, aku yang terlalu berharap, walaupun aku juga sudah merasa Kak Alno tidak pernah meresponku, Kak Alno hanya fokus padamu, tapi ku pikir itu karena kasih sayang Kak Alno terhadap kamu sebagai adiknya, aku tidak menyangka jika Kak Alno ternyata melakukan itu semua karena dia mencintai kamu sebagai lawan jenis, dan kamu tahu Ra, aku benar-benar terkejut saat kamu mengatakan jika ternyata kalian bukan saudara kandung, dan saat itu akhirnya aku menyerah, aku tidak berjuang lagi, karena rasa yang aku punya pasti hanya akan terasa sia-sia, apalagi saat aku melihat ada cinta juga dimatamu untuk Kak Alno, hingga aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di luar negeri," ucap sisil lirih.


"Maksud kamu, kamu baru menyerah sama Kak Alno saat aku bilang jika kami bukan saudara kandung? Bukankah saat itu sudah hampir kelulusan? Itu berarti.."


"Iya semasa SMA aku masih terus berjuang untuk mendapatkan cinta Kak Alno," jawab Sisil mengingat saat waktu itu.


Flashback


"Kamu Sisil teman Vira kan?" Ucap seorang laki-laki yang berdiri bersandar di mobilnya tak jauh dari gerbang sekolah.


Sisil rasanya ingin berteriak saat itu, bagaimana tidak, cowok yang dia kagumi, sekarang menyapanya, bahkan cowok itu tahu namanya.


"Sisil?"


"Hah apa? Hmm i..iya Kak," jawab Sisil dengan begitu gugupnya.


"Benar Kak aku Sisil, kenapa Kak Alno? Apa Kak Alno mau menjemput Vira, Vira sudah pulang bersama Vier," beritahu Sisil yang tampak salah tingkah.


Alno tersenyum, "Tidak perlu sampai ketakutan seperti itu, mungkin Vira sudah menceritakan bagaimana aku ya, sampai kamu gugup gitu," katanya menghampiri Sisil, Alno mengira Sisil gugup karena merasa takut padanya.


Sisil menunduk, jantungnya berdebar apalagi melihat senyum Alno, Kakak dari sahabatnya Vira.


"Bisa mengobrol sebentar?" Tanya Alno meminta izin begitu sampai di hadapan Sisil.


Sisil langsung mengangkat kepalanya, ketika pandangan mereka bertemu, Sisil kembali menunduk. Dan tak lama dia pun akhirnya mengangguk.


Sisil yang biasanya banyak bicara, sekarang justru tidak mengeluarkan suara apapun saat bersama Alno, entahlah suaranya hilang kemana.


"Ayo ikut Kakak, kita mengobrol tapi tidak di sini!" Alno berjalan lebih dulu menuju mobil lalu membukakan pintu untuk Sisil dan Sisil pun hanya menurut, mengikuti Alno di belakangnya, dan masuk ke dalam mobil begitu Alno sudah mempersilahkannya.

__ADS_1


__ADS_2