My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 68


__ADS_3

"Apa menghilang? Kenapa kau baru memberitahuku? Kapan dia menghilang? Waktu itu aku jelas-jelas memarahinya karena rencana yang kita jalankan gagal?" Marah seorang wanita yang baru dapat kabar dari orang suruhannya.


"Bukan dia? Apa maksudmu?" Wanita itu semakin terkejut, saat orang suruhannya bilang, jika mungkin saja yang menjawab telepon bukan orangnya. Karena begitu kesal Kimmy pun langsung memutuskan panggilannya sepihak. Ya orang itu tidak lain adalah Kimmy.


"Terus siapa? Tidak mungkin jika Rae tahu? Jelas-jelas waktu itu Rae bersamaku? Apa ada orang lain? Tidak, ini tidak mungkin!" Gumam Kimmy menggigit kuku-kuku jarinya panik.


Tak lama, ponselnya kembali berdering, dari orang suruhannya yang lain, Kimmy langsung menjawab panggilan itu.


"Apa dia kabur? Bagaimana bisa? Dia seorang perempuan dan kalian bisa kehilangan dia?" Geram Kimmy yang mendapat kabar lagi, yang mengatakan bahwa seorang gadis yang mereka tawan berhasil meloloskan diri.


"Dasar tidak becus! Aku membayar kalian mahal, tapi kerja begitu saja kalian tidak bisa?" Kimmy melemparkan ponselnya, kabar buruk datang bersamaan dan itu membuatnya sangat marah.


"Seorang perempuan? Siapa dia?" Kimmy bertanya entah kepada siapa, penasaran pada perempuan yang diberitahu orang suruhannya, perempuan yang berhasil membuat tawanannya melarikan diri. 


"Sial! Kenapa semuanya harus gagal?"


"Tunggu, aku tidak perlu khawatir bukan, masih ada gadis itu, ya gadis itu adalah orang pertama yang akan mereka curigai, apalagi gadis itu kini sudah pergi jauh meninggalkan negara ini, itu akan semakin membuat semua sempurna," ucap Kimmy dengan seringaiannya.


*


*


"Kimmy, dia adalah orang yang menyuruhku? Kenapa kalian bertanya bahkan menyiksaku seperti ini sementara dia sudah mengetahuinya?" Ucap seseorang yang tidak ingin Alno tahu namanya, menunjuk pada Robby yang baru saja datang setelah Alno meminta mencari tahu keberadaan teman istrinya Merry.


"Oh, dia memang sudah memberitahuku, tapi aku suka menyiksamu, hingga mendengar hal itu dari mulutmu sendiri," Alno mencengkram dagu pria itu dengan senyum dan suara yang terdengar mengerikan.


"Kau gila, kau kira aku mainan yang bisa seenaknya kau siksa jika kau suka?" Ucap orang itu tidak percaya dengan apa yang tadi Alno ucapkan.


"Ya aku memang gila, dan ini belum  seberapa, kamu akan melihat kegilaanku yang lain," Alno menyeringai kemudian menatap orang-orang yang ada disana.

__ADS_1


"Beri dia pelajaran lagi, tapi ingat jangan sampai membuat nyawanya melayang, dia masih berguna," ujar Alno yang kemudian pergi dari tempat itu bersama Alma.


"Kak, belum tidur?" Vira mengucek kelopak matanya kemudian mencoba duduk saat melihat suaminya juga duduk bersandar terlihat melamun.


"Kak!" Vira menyentuh tangan suaminya yang masih diam saja saat tadi dirinya bertanya.


"Eh kenapa?" Tanya Alno yang terkejut saat tiba-tiba ada yang menyentuh tangannya.


"Kakak belum tidur? Ngelamunin apa? Apa ada yang mengganggu pikiran Kakak? Kalau memang ada, Kakak bisa cerita sama aku," ujar Vira mencoba berbagi beban yang dirasakan suaminya.


"Tidak ada, tidak apa-apa, kamu istirahat lagi saja, maaf ya Kakak jadi mengganggu tidurmu," Alno merasa bersalah karena istrinya jadi terbangun.


Vira menggeleng, "Kakak tidak mengganggu tidurku kok, aku memang tidak sengaja kebangun saja."


Vira menatap pada jam di dinding kamarnya,  waktu menunjukkan pukul 2 malam, berarti dirinya sudah tertidur selama 3 jam dan suaminya belum tidur sama sekali.


"Mau aku buatkan teh hangat?" 


"Boleh, ayo Kakak temani! Kakak juga belum mengantuk."


Vira mengangguk dan keduanya pun turun dari ranjang, Alno menggenggam tangan Vira dan mereka berjalan bersama dengan bergandengan tangan menuju ke dapur.


"Kakak tunggu disini saja!" Vira menarik sebuah kursi dan membiarkan suaminya duduk di situ, sementara dirinya membuatkan minuman hangat untuk Alno.


Di dalam duduknya, Alno kembali terdiam, dirinya teringat saat mengajak Kimmy jalan-jalan. Alno sebenarnya tidak ada maksud apapun apalagi sampai melukai perasaan Vira, tapi itulah satu-satunya cara untuk mencari tahu. Kenapa Alno hanya pergi berdua bersama Kimmy, pertama karena Alno tidak ingin membuat Kimmy curiga, kedua karena Alno bisa memastikan jika mereka pergi berdua, Kimmy  pasti akan menahannya di luar cukup lama dan itu akan membuat apa yang dia rencanakan bisa berjalan lancar, tanpa ketahuan. Karena sebelum dirinya pergi  bersama Kimmy, Alno menyuruh salah satu pelayan di rumahnya untuk membongkar kamar Kimmy, mencari petunjuk tentang wanita itu. Dan benar saja, pelayan itu berhasil tanpa Kimmy merasa curiga sampai saat ini. Tapi Alno dibuat kesal saat Kimmy kembali dan memamerkan kepergian bersamanya kepada Vira. Membuat Vira marah dan pergi begitu saja, hingga hari itu terjadilah penjebakan kepada Vira.


"Melamun lagi?" Vira menarik kursi di samping suaminya.


"Tidak, siapa yang melamun, kakak itu tadi perhatiin kamu, eh sampai gak fokus dan tiba-tiba, kamu sudah di samping Kakak saja," jawab Alno memberi alasan.

__ADS_1


Vira hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya, walaupun Vira tahu jelas, bahwa suaminya tadi memang melamun lagi, tidak tahu apa yang dipikirannya, yang Vira tahu bahwa saat ini suaminya memang sedang banyak pikiran dan Vira tidak mau memaksa Alno untuk bercerita sekarang. Vira akan menunggu sampai suaminya menceritakannya sendiri dengan sukarela tanpa paksaan dari siapapun.


"Ya udah ini di minum, setelah itu kita kembali ke kamar."


"Alno tersenyum, "Ya sudah kita langsung ke kamar saja," kata Alno yang langsung bangun dari duduknya.


"Tapi Kak, habiskan dulu minumanmu!" Ucap Vira menunjuk minuman Alno yang masih utuh.


"Baiklah," Alno meneguk minuman itu dengan cepat. Dan tanpa banyak kata lagi, dia langsung mengangkat tubuh istrinya membawanya ke kamar.


"Kak!" Pekik Vira terkejut karena tiba-tiba Alno langsung menggendongnya.


"Kak turunkan! Aku bisa jalan sendiri," protes Vira sambil menengok kiri kanan takut ada yang melihatnya walaupun sebenarnya tidak mungkin, karena sekarang masih dini hari dan semua orang masih tampak terlelap dalam tidurnya.


"Sstt! Jangan berisik sayang, nanti bagaimana jika ada yang mendengar," beritahu Alno pada istrinya agar tidak berteriak seperti tadi.


"Maaf."


"Ya sudah kamu diam dan nurut saja!"


Vira hanya mengangguk, menutup rapat mulutnya.


Sampai di depan kamar, Vira membantu membuka pintu kamar, keduanya masuk, Alno membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, perlahan Alno mendekatkan wajahnya ke wajah Vira hingga bibirnya menempel di bibir sang istri. Yang awalnya lembut berubah menuntut, saat Alno hendak membuka pakaian istrinya terdengar bunyi ponsel yang begitu nyaring.


"Kak ada telepon!" Ucap Vira mendorong dada suaminya.


"Biarkan saja," ucap Alno tidak peduli, dia kembali mencium Vira, dering itupun akhirnya berhenti tapi hanya sebentar karena tak lama dering ponsel Alno kembali terdengar.


"Kak jawab dulu! Mungkin saja penting," kata Vira dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Awas saja jika tidak penting," ucap Alno yang kemudian mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau yang ada di layar.


"Halo Tuan, tentang apa yang Anda minta saya sudah mendapatkannya," ucapnya menunggu perintah Alno selanjutnya.


__ADS_2