
"Bagaimana Pa?" Tanya Alno begitu sampai di alamat yang dikirim orangnya.
"Hanya mobil Vier yang ada disini, ponselnya juga ada di dalamnya," kata Stevano mengusap wajahnya kasar.
"Bagaimana?" Tanya Alno yang melihat adiknya baru saja keluar.
"Kak Vier memang kesini kak, tapi dia sudah pergi satu jam yang lalu," jawab Vian setelah mencari informasi di dalam.
"Mama tahu soal ini?" Tanya Stevano menatap Alno.
"Tidak, tadi Alno berpamitan dan langsung pergi," jawab Alno yang kemudian menatap adiknya.
"Kau sudah mengecek cctv?" Tanya Alno pada Vian lagi.
"Sudah Kak, hanya sampai Kak Vier keluar, selanjutnya keluar kemana tidak bisa tertangkap cctv. Di luar hanya ada satu, tapi rusak, belum diperbaiki, dan harapan kita hanya ada satu," Vian menunjuk kamera cctv di seberang jalan tepatnya di depan sebuah toko yang mungkin saja bisa menangkap keberadaan Vier.
"Ya sudah, ayo kita kesana!" Ajak Alno tanpa pikir panjang.
Vian segera menahan tangan Alno.
"Ada apa lagi Vian, kita harus segera tahu keberadaan Vier?" Alno segera menepis tangan Vian yang menahannya.
"Kak toko itu sudah tutup, dan katanya pemiliknya tidak tinggal disana," ucap Vian menjelaskan kenapa dia menahan Alno.
Alno meremas rambutnya kuat, dia tidak tahu harus berbuat apalagi. Jika Vier membawa ponselnya, mungkin semuanya tidak akan jadi serumit ini. Alno menyesal karena tadi tidak langsung mengejar adiknya, dia tidak tahu jika Vier pergi karena melihat kekasih dan sepupunya menikah. Dan Alno takut, Vier akan berbuat sesuatu yang mungkin akan menyakiti dirinya sendiri.
"Kita pulang sekarang!" Keputusan Stevano membuat kedua putranya langsung menatap ke arahnya.
"Tapi Pa…"
Stevano langsung memotong ucapan Alno.
"Papa yakin Vier baik-baik saja, sekarang kita pulang dan jangan bikin mama kalian khawatir."
"Papa pulang saja, biar kami yang akan tetap mencari Vier," kata Alno yang tidak setuju dengan keputusan papanya.
"Al!" Tatapan Stevano saat ini menandakan jika dia tidak ingin dibantah.
__ADS_1
"Biarkan Vier, mungkin dirinya memang ingin sendiri untuk saat ini, sekarang kita pulang, dan kali ini baik Alno maupun Vian hanya bisa menuruti apa kata papanya.
Mereka pulang dengan mengendarai mobil masing-masing, begitupun dengan Vian yang membawa mobil Vier.
Alno masih merasa belum tenang selama adiknya belum ketemu, tapi setelah dia pikirkan perkataan papanya sedikit ada benarnya, mungkin Vier memang ingin sendiri saat ini.
Mereka sampai di rumah bersamaan. Jasmine langsung menghampiri ketiganya begitu mendengar deru mesin mobil.
"Bagaimana dengan Vier? Kalian sudah menemukannya? Dia baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu dengannya kan?" Tanya Jasmine begitu cemas.
"Sayang kamu tenang dulu, Vier baik-baik saja, dia sudah di hotel," bohong Stevano karena tidak ingin membuat istrinya khawatir.
"Terus kenapa kalian tidak membawanya pulang kemari? Kenapa malah membiarkannya kembali ke hotel?"
"Vier bilang ingin sendiri dulu Ma," sahut Alno membantu papanya berbicara.
"Tapi…"
"Sudahlah sayang, Vier sudah dewasa, dia tahu mana yang baik dan tidak," kata Stevano yang kemudian mengajak istrinya untuk istirahat.
"Alno tidak tinggal diam, setelah memastikan papa dan mamanya tidur, dia mengajak Vian untuk mencari Vier lagi.
*
*
Sementara di tempat lain, seorang gadis turun dari ranjang dengan berjalan mengendap-endap, mengambil ponsel yang sedari tadi menyala karena ada panggilan masuk, ya gadis itu sengaja mensilent ponselnya.
Cinta keluar dari kamar Vira dan menuju ke ruang tamu untuk menjawab panggilan telepon yang masuk ke nomornya.
Begitu menggeser tombol hijau, wajah seorang pria kini memenuhi layar ponselnya.
"Kenapa? Mengganggu saja!" Protes Cinta.
"Kamu sudah tidur?" Tanya pria itu, bukannya menjawab pertanyaan Cinta.
"Menurutmu? Kalau aku tidur aku pasti tidak menjawab teleponmu," ucap Cinta ketus.
__ADS_1
Zio hanya tersenyum mendengar ucapan Cinta yang memang selalu ketus padanya.
Tapi senyum Zio kali ini berbeda di mata Cinta, pria itu seperti sedang ada masalah, dan Cinta hanya bisa menerka-nerka.
"Cinta, aku kangen," kata Zio setelah mereka hanya saling tatap lewat panggilan Video.
Cinta diam, bukan Cinta tidak kangen, tapi jika Cinta mengatakannya, Zio pasti akan besar kepala seperti biasanya.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Zio lagi.
"Tadi aku menunggu Kak Vira tidur dulu. Kenapa? Oh ya, Apa Kak Vier sudah ketemu? Hmm Sebenarnya apa yang terjadi? Aku dengar Kak Vier menghilang," Tanya Cinta kepada pria itu.
"Maksud kamu?"
"Kak Vier pergi dan Kak Alno belum menemukannya," jawab Cinta.
"Kak Vier pergi aku tahu, tapi bukankah Kak Alno…, kenapa aku lupa kalau Kak Alno tadi kembali lagi tapi hanya sendiri tidak bersama Kak Vier. Oh ya memangnya kamu tahu darimana?"
"Hmmm itu…," Cinta tampak berfikir. "Kak Alno yang tadi memberitahuku," jawabnya cepat setelah menemukan alasan yang tepat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Cinta mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kak Ken, ternyata Kak Ken menikahi kekasih Kak Vier, Kak Vier yang melihat itu langsung pergi, dan Kak Alno segera mencarinya. Tapi saat Kak Alno sedang mencari Kak Vier, Bibi Mine menelpon Kak Alno, karena Vian memukuli Kak Ken," Zio menceritakan semuanya kepada Cinta tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
"Semuanya kacau Cinta, bagaimana jika karena perbuatan yang Kak Ken lakukan keluarga kami jadi bersiteruh, kamu tahu, setelah kejadiaan tadi, seluruh keluarga Paman Vano langsung meninggalkan rumah kami, dan kami tidak tahu dimana mereka sekarang tinggal, apa yang harus aku lakukan Cinta? Aku tidak tahu, kenapa Kak Ken sampai setega itu sampai Kak Vier dengan merebut bahkan menikahi kekasihnya, aku tahu bagaimana rasanya jadi Kak Vier, aku juga akan marah jika jadi Vian, aku juga akan melakukan seperti apa yang Vian lakukan, karena sejujurnya saat ini aku juga marah sama Kak Ken, sangat marah malah, aku harus bagaimana?"
"Aku juga tidak tahu Zi, jadi kamu saat ini, pasti posisinya serba salah, hmm lebih baik kamu hadapi dengan tenang, jangan ikut emosi. Aku memang tidak mengenal Kak Ken, tapi Zi apa kamu yakin Kak Ken sampai setega itu?"
"Entahlah apapun alasan mereka menikah, yang aku tahu mereka sudah mengkhianati Kak Vier."
Cinta diam, Zio juga diam. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga kebungkaman Cinta buyar saat tiba-tiba dirinya mendengar suara deru mesin mobil yang dijalankan.
"Zio, Kak Vira, Kak Vira pergi!" Kata Cinta panik dan memutuskan panggilan teleponnya begitu saja.
Cinta dengan tergesa-gesa keluar untuk mengejar Vira, tetapi mobil yang Vira kendarai sudah meninggalkan gerbang kediamannya.
__ADS_1
Cinta buru-buru menghubungi seseorang sambil dirinya berlari mengambil mobilnya.
Cinta masuk ke mobil dan dengan segera mengejar Vira yang tidak tahu sekarang akan pergi kemana.