My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 61


__ADS_3

"Maksudnya Mama?" Vira menatap para pelayan yang menemaninya satu persatu.


"Iya Nona, Nyonya Olivia yang membangun taman ini dengan dibantu beberapa pelayan. Beliau membuat taman ini untuk Tuan Stevano.


"Mama membuat ini untuk Papa?" Bi sekarang bisakah Bibi ceritakan kepada Vira kisah Mama dan Papa?" Tanya Vira yang begitu penasaran.


Para pelayan hanya bisa saling pandang, mereka tidak berani untuk menceritakan kejadian yang hanya menjadi kenangan saja, karena kini Tuan Stevano mereka sudah benar-benar berubah. Dan mereka takut salah jika menceritakan bagaimana kehidupan mereka dulu, apalagi mengingat banyak para pelayan yang dipecat, karena mereka tidak bisa menjaga mulut mereka yang suka bergosip, dan para pelayan itu tidak mau memiliki nasib yang sama seperti mereka.


"Apa kamu benar-benar ingin tahu kisah cinta Mama dan Papamu?" Ucap seseorang yang baru saja masuk dan menghampiri Vira.


Vira dan para pelayan menoleh ke arah sumber suara, pelayan langsung menunduk hormat, sementara Vira tersenyum senang.


"Kalian bisa kembali bekerja, biar saya yang menemani cucu saya," kata seorang wanita yang wajahnya sudah nampak ada kerutan.


"Oma?" Vira langsung berlari dan memeluk Tifa.


"Oma kemari lagi?" Tanya Vira melonggarkan pelukan dan menatap Omanya.


Tiffa merapikan rambut Vira dan mengangguk. "Ya Oma sendiri di rumah, makannya Oma kemari, Opa pergi sama Papamu, Bibi Liora sama Paman, Al dan Varo pergi makan malam, ya sudah daripada Oma kesepian Oma kemari saja," adu Tiffa bilang semua orang rumah pergi.


"Vira senang Oma datang," kata Vira kembali memeluk Ibu dari Papanya.


Tiffa melepas pelukan mereka dan menggandeng Vira menuju tempat duduk yang ada disana.


"Beneran senang, tidak takut Oma mengganggu waktu kamu sama Suami tercinta?" Goda Tiffa pada cucu perempuan pertamanya.


"Ih Oma apaan sih," wajah Vira sudah memerah mendengar godaan Omanya.

__ADS_1


Tiffa memberi isyarat pada pelayan agar meninggalkan keduanya, pelayan yang mengerti isyarat Tiffa pun membungkukan sedikit badannya pamit undur diri. Dan Tiffa hanya mengangguk membiarkan mereka pergi.


"Oma, bagaimana kisah Mama dan Papa, ayo dong Oma ceritakan, Vira benar-benar penasaran banget nih, kemarin Vira sudah tanya sama Mama, tapi Mama bilang nanti akan menceritakan, ya sudah Vira tunggu saja, tapi begitu mendengar Bibi tadi yang mengatakan Mama membuat taman ini untuk Papa, Vira semakin penasaran dan ingin tahu saat ini juga," kata Vira begitu antusias ingin mendengar cerita Mamanya.


"Baiklah kalau begitu, Oma akan ceritakan, dulu sebenarnya Mama dan Papa menikah karena dijodohkan, hmm lebih tepatnya bisa dikatakan jika Papamu adalah pengantin pria pengganti, karena yang dijodohkan oleh Opa itu Mama dan Paman Max, saat itu Paman Max kabur karena tidak mau dijodohkan, akhirnya Papa kamu yang menggantikannya..," Tiffa menceritakan semua pada Vira tentang Stevano dan Jasmine termasuk jika Jasmine adalah cinta pertama Stevano, lika liku perjalan cinta mereka hingga akhirnya mereka saling mencintai dan hidup bahagia, semenjak kehadiran Vira dan Vier dalam kandungan serta kehadiran Alno ke dalam kehidupan mereka, kecuali kisah pilu kehidupan masa lalu mereka. Bukan menutupinya tapi Tiffa tidak ingin mengungkit semua kesalahan yang terjadi di masa lampau, karena bagaimanapun sekarang semua orang sudah berubah, baik Suaminya maupun putra-putranya, biarlah hal itu menjadi kenangan tersendiri bagi orang-orang yang memang tahu kisah mereka semua. Tiffa hanya bilang kepada Vira bahwa Stevano memang tinggal terpisah karena keinginannya.


"Sayang kenapa menangis?" Tanya Tiffa kepada Vira begitu dia sudah selesai dengan ceritanya.


"Vira terharu mendengar ceritanya Oma, Oma tanya ke Vira kenapa menangis, lihatlah Oma sendiri juga menangis," ucap Vira menghapus air mata Tiffa yang keluar begitu saja bahkan dia sampai tidak menyadarinya.


"Masa sih sayang," Tiffa memegang wajahnya dan benar saja pipinya basah.


"Ah iya ternyata, duh Oma keingiet dulu soalnya," ucap Tiffa yang menghapus sisa air matanya.


"Oma," Alno mendekat dan mencium punggung tangan Omanya.


"Sudah setengah jam yang lalu," jawab Tiffa menatap cucunya bergantian. Dirinya benar-benar tidak menyangka bisa melihat cucu-cucunya. Bahkan sampai cucunya menikah. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa Tiffa akan hidup sampai sekarang ini, dan ini semua berkat Ayah kandung Alno.


"Oma kenapa menangis lagi?" Tanya Vira yang melihat air mata kembali menetes dari kedua mata Omanya.


"Hmmm, Oma hanya tidak menyangka bisa melihat cucu-cucu Oma menikah," ucap Tiffa jujur.


Alno bangun dan berjongkok di depan Omanya duduk, "Tidak hanya melihat cucu-cucu Oma menikah, tapi Oma juga akan melihat kami punya anak-anak yang lucu," Alno menggenggam tangan Tiffa dan mengatakan itu dengan penuh keyakinan. Sementara Vira mengangguk membenarkan apa yang Suaminya katakan, sambil menghapus lagi air mata Omanya.


"Ya kamu benar, makanya kalian harus cepat-cepat berikan Oma cicit yang lucu," ucap Tiffa tersenyum.


"Tentu dan Oma tenang saja, cicit oma sedang dalam proses," gurau Alno membuat Tiffa tertawa, sedangkan wajah Vira sudah merona.

__ADS_1


"Lihatlah istrimu sampai tersipu malu," kata Tiffa menusuk-nusuk pipi Vira yang merona dengan jarinya.


Alno dan Tiffa pun tertawa, melihat Vira yang membelalakan mata, tidak mengira jika Omanya tengah menggoda bahkan di depan Suaminya, rasanya Vira saat ini menenggelamkan dirinya di samudra merasa malu karena ketahuan oleh kedua orang yang disayanginya.


"Sudah-sudah hari sudah gelap, lebih baik kita masuk," Tiffa bangun dan mengajak kedua cucunya untuk masuk ke dalam rumah, langit sudah gelap, matahari sudah kembali ke peraduannya, dan kini tinggallah bulan yang menggantikan tugasnya.


Alno dan Vira menggamit tangan Tiffa di sisi kiri dan kanannya. Ketiganya menuju ke kediaman diselingi canda tawa. 


*


*


Kimmy kini tampak mondar-mandir di ruang tamu kediaman Jasmine dan Stevano. Dirinya tampak gelisah karena menjelang malam Alno belum juga kembali, ditambah dengan seluruh keluarga laki-laki itu juga pergi entah kemana dan sampai saat ini pun sama belum ada yang pulang ke rumah.


"Kemana mereka sih? Apa semua sengaja meninggalkan aku sendiri disini?" Teriaknya, pelayan yang lewat pun dibuat terkejut mendengar suara Kimmy.


Pelayan sangat berharap Tuan dan Nyonya segera kembali, karena selama kepergian keluarga majikannya, para pelayan di buat senam jantung pada tamu Tuan Mudanya itu, bagaimana tidak, jika seharian ini Kimmy selalu berteriak dan membanting barang apapun yang tidak jauh dari jangkauannya.


Kimmy tiba-tiba berlari keluar, saat melihat dua mobil yang datang.


"Kimmy kenapa lari-lari sayang," tanya Jasmine saat Kimmy sudah berhadapan dengan dirinya.


Bukannya langsung menjawab Kimmy justru mengintip ke dalam mobil dimana Stevano dan Jasmine turun dari sana. Dan saat tidak melihat orang yang dicari ada di dalam, Kimmy mencari orang itu di mobil yang baru saja berhenti, tapi yang dia lihat justru Vier dan Vian yang keluar.


Kimmy berlari lagi ke arah Jasmine yang masih memandanginya.


"Rae kemana Bibi? Kenapa Rae tidak ikut pulang bersama kalian?" tanyanya tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


Jasmine dan Stevano saling tatap, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Kimmy.


__ADS_2