My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 92


__ADS_3

"Sayang tangan Vira bergerak," kata Jasmine pada Alno yang melihat tangan Vira bergerak, kemudian bangkit menghampiri  Vira dan menggenggam kuat tangan putrinya yang satu, karena tangan satunya sudah ada dalam genggaman Alno.


Alno pun yang memang duduk di samping brankar Vira, langsung menatap istrinya dan dirinya langsung mengulas senyum saat dengan perlahan istrinya membuka mata.


"Sayang kamu sudah bangun? Apa yang sakit?" Tanya Jasmine khawatir.


Vira beberapa kali mengerjapkan matanya dan wajah mamanya yang pertama kali dia lihat.


"Mama," kata Vira lemah.


"Iya sayang," jawab Jasmine mengelus rambut putrinya. "Apa ada yang sakit?" Tanya jasmine lagi.


Vira tersenyum, "Vira baik-baik saja Ma," jawabnya.


"Sayang jika ada yang sakit katakan saja ya, jangan ditahan," kini Alno ikut berbicara hingga Vira mengalihkan pandangannya, dari yang tadi menatap mamanya kini menatap suaminya.


"Iya Kak, maafkan aku, aku sudah membuat kalian khawatir," kata Vira menatap mama dan suaminya bergantian.


"Kenapa kamu minta maaf? Kakak yang minta maaf karena tidak bisa menjagamu, maafkan kakak sayang," kata Alno yang tanpa sadar meneteskan air matanya, saat mengingat satu minggu ini istrinya menghilang tanpa kabar.


"Kakak tidak salah, aku yang salah karena tidak menuruti apa yang kakak katakan."


"Sudah-sudah, kenapa jadi saling menyalahkan diri sendiri seperti ini," kata Jasmine menengahi kedua anaknya.


Vira kemudian memegang perutnya yang masih rata.


"Kak…"


Alno yang mengerti apa maksud istrinya pun kembali tersenyum


"Anak kita baik-baik saja, dia anak yang kuat," jelas Alno.


Dan seketika Vira pun bernafas lega.


"Cinta mana Kak?" Kata Vira yang tidak melihat gadis yang sudah menyelamatkan, ya sebelum Vira tidak sadarkan Vira melihat Cinta disana.


Alno dan Jasmine saling pandang, "Cinta tadi keluar sama Vian, mungkin sebentar lagi dia akan kembali," jawab Jasmine.


Tapi ketiganya kembali saling pandang begitu mendengar suara dari luar, tepatnya suara orang yang mereka kenal dan salah satunya gadis yang tadi dicari Vira.


 "Untuk apa kau kemari lagi?" Tanya Liora yang melihat Cinta datang lagi bersama Vian.


"Liora!" Stevano menegur adiknya yang terus-terusan menyalahkan Cinta.


"Maafkan saya Paman karena lalai menjaga Kak Vira," kata Cinta meminta maaf pada Stevano.


"Kak kesalahan dia terlalu fatal, jadi…"

__ADS_1


"Liora diam!" Bentak Stevano karena sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan Liora.


"Kak!" Vira menatap suaminya.


"Baiklah, Kakak akan bawa Cinta kemari," kata Alno berlalu keluar.


"Cinta!" Tiba-tiba Alno yang dari ruangan istrinya keluar begitu mendengar suara Cinta.


Cinta mengangkat kepalanya dan menatap Alno.


"Ayo masuk, ada yang Kak Vira perlu sampaikan," ucap Alno mengajak Cinta untuk masuk.


Cinta pun berpamitan kepada Stevano, Vian dan Liora yang ada di luar, karena Jasmine saat ini ada di dalam. Dan William serta Tiffa sudah pulang beberapa menit yang lalu, atas perintah Stevano yang kasihan melihat orang tuanya yang kelelahan.


"Mama keluar dulu ya, kalian bicara saja," kata Jasmine pamit keluar begitu melihat Cinta.


Sebelum pergi, Jasmine tersenyum dan memegang tangan Cinta. Cinta pun balas tersenyum kemudian mendekat ke arah Vira.


Cinta menggenggam tangan Vira, "Kak maafkan aku Kak, maaf gara-gara aku kakak jadi seperti ini."


Vira memegang tangan Cinta yang menggenggam tangannya. "Kamu tidak salah Cinta, kenapa harus meminta maaf harusnya Kakak berterima kasih padamu, makasih ya, jika tidak ada kamu, mungkin Kakak dan anak kakak tidak bisa diselamatkan," ucap Vira tulus.


"Kak Vira…"


"Ya," jawab Vira mengerti apa yang akan Cinta katakan.


"Kak tapi…"


Vira tersenyum, "Kakak janji tidak akan memberitahu siapapun," katanya membuat Cinta bernafas lega. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, jika sampai ibunya tahu.


"Makasih Kak," kata Cinta yang kemudian memeluk Vira.


"Bagaimana keadaan kakak? Dan juga…" Cinta melepaskan pelukannya, kemudian menatap Vira dan perut Vira bergantian.


"Kakak tidak apa-apa, anak kakak juga baik-baik saja, dia anak yang kuat," kata Vira tersenyum, walaupun tubuhnya terasa remuk.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya."


"Wanita itu… bagaimana dia?" Tanya Vira saat mengingat wanita yang menyekapnya.


"Dia berhasil kabur Kak," ucap lirih Cinta.


"Kabur?" 


Cinta langsung menoleh ke arah Alno saat mendengar suara pria itu.


"Iya Kak maaf, saat itu aku panik saat melihat Kak Vira tidak sadarkan diri bahkan Kak Vira mengalami pendarahan jadi…"

__ADS_1


Vira mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Cinta.


"Tidak apa-apa, Kakak mengerti, terima kasih kamu cepat-cepat membawa kakak ke rumah sakit, jika tidak, mungkin anak Kakak…"


"Maaf Kak," kata Cinta merasa bersalah. 


Alno menghela nafasnya, dia tidak bisa menyalahkan Cinta, karena jika lebih memilih mengejar wanita itu, anaknya pasti tidak bisa diselamatkan.


"Ini bukan salahmu, terima kasih karena kamu istri dan anakku selamat," kata Alno dan Cinta pun mengangguk.


"Oh ya, apa kalian tahu siapa wanita itu?" Tanya Alno kepada kedua perempuan itu.


Keduanya pun menggeleng, menandakan bahwa mereka tidak tahu. Ketiganya pun sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Tapi Ayah, Ayah mungkin tahu Kak, Ayah sempat melihatnya," kata Cinta yang mengingat kejadian itu.


"Baiklah, nanti aku akan menanyakan sendiri pada Paman," jawab Alno.


Kedua perempuan itu mengangguk setuju.


Alno, Vira dan Cinta menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka.


Terlihat Vier dan Vian, kedua pria itu masuk ke dalam ruangan Vira.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Vier mendekat ke arah kembarannya.


Cinta pun mundur, memberikan ruang untuk pria itu agar bisa leluasa berbicara dengan Vira.


Cinta hendak keluar dari ruangan itu, agar keempat bersaudara itu bisa leluasa mengobrol tapi langkah Cinta berhenti saat merasa ada sebuah tangan yang menahannya. Cinta mendongak menatap pemilik tangan itu yang tak lain adalah Vian.


"Lepaskan!" Kata Cinta.


Vian hanya diam saja tidak memperdulikan ucapan gadis itu dan justru fokus mendengarkan pembicaraan kakak-kakaknya.


"Aku baik-baik saja, harusnya aku yang bertanya padamu, apa kau baik-baik saja?" 


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, lihatlah kau jadi seperti ini, aku seorang pria, aku bisa menjaga diriku sendiri, jangan ulangi lagi hal seperti ini, kau tahu, kami semua mengkhawatirkanmu," kata Vier yang kemudian memeluk saudara kembarnya.


"Kakak keluar dulu ya, kalian jagain Kakak kalian," kata Alno dan ketiganya pun mengangguk.


"Cinta!" Alno memanggil nama Cinta, dan Cinta pun panik karena saat ini tangan Vian masih menggenggamnya.


Cinta menatap Vian, memberi kode kepada pria itu untuk melepaskan genggamannya. Vian pun akhirnya melepaskan tangannya.


"Iya Kak," jawab Cinta yang merasa lega karena Alno tidak melihat apa yang tadi Vian lakukan.


Kamu ikut Kakak, ada yang mau Kakak bicarakan," kata Alno yang kemudian keluar lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2