
"Mama akan menyetujui dan mendukung keputusan kamu, tapi kenapa harus melanjutkan pendidikan keluar negeri? Mama tidak setuju untuk itu, Mama tidak bisa jika harus jauh-jauh dari anak-anak Mama," Jasmine menggenggam tangan Alno menatap wajah putranya itu, dirinya tidak rela jika Alno harus pergi jauh darinya.
"Tapi Ma, hal inilah yang menurut Alno terbaik Ma, dan Alno sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, ini keputusan Alno. Jadi Ma, tolong ijinkan Alno, dukung keputusan Alno," Alno menatap Mamanya dengan mata yang berkaca-kaca, jujur saja dirinya juga tidak ingin jauh-jauh dari keluarganya, terutama Mamanya, tapi Alno memang harus mengambil jalan ini, inilah yang terbaik, untuk menghindar dari Vira, untuk belajar menghapus rasa cintanya pada sang adik.
Jasmine tidak bisa berkata lagi-lagi, sungguh dirinya bingung, dirinya juga tidak mungkin menarik kata-katanya kembali, dia sudah bilang akan menyetujui dan mendukung keputusan Putranya, tapi bukan keputusan seperti ini yang Jasmine mau, Jasmine benar-benar tidak menduga dengan keinginan Putranya.
Jasmine membalas tatapan putranya yang sarat permohonan, tapi Jasmine juga tidak bisa melepas Putranya begitu saja, selama ini mereka bersama-sama, dan jika salah satu diantara mereka pergi, Jasmine tidak tahu apa yang akan nanti dirasakannya.
Stevano lagi-lagi menghela nafas berat, melihat kedua orang yang disayanginya tengah bertatapan, satu tatapan yang seakan tidak rela melepaskan, satu dengan tatapan memohon, Stevano tahu dengan pasti jika saat ini pasti istrinya bimbang, bimbang antara menarik ucapannya atau tidak, tapi Stevano tidak tahu apa yang istrinya pikirkan, apa yang akhirnya menjadi keputusan wanita yang sudah 17 tahun ini menemaninya dalam suka dan duka.
"Ma," Alno menatap penuh permohonan.
Jasmine membuang muka, dan langsung bangun dari duduknya dan berlalu meninggalkan anak dan Suaminya tanpa menjawab permohonan sang anak.
"Ma!" Alno kembali memanggil Mamanya yang sudah melangkah cukup jauh, hingga Alno akhirnya hanya bisa menatap punggung Mamanya yang hilang di balik pintu.
"Pa!" Kini Alno beralih menatap Papanya.
Untuk kesekian kalinya Stevano menghela nafas, dirinya juga bingung, seperti istrinya yang tidak rela melepaskan kepergian Putranya itu. Tapi Stevano juga tidak ingin membatasi Putranya dalam menempuh pendidikannya.
"Papa akan coba bicara sama Mama, tapi semua tergantung Mama," Stevano menepuk bahu putranya sebelum dirinya juga meninggalkan Alno untuk menyusul istrinya.
Alno menunduk, menutup wajah dengan kedua tangannya frustasi, bagaimana kalau Mamanya tidak memberinya izin, apa yang harus Alno lakukan selanjutnya, bisakah Alno menghapus rasa cintanya jika dirinya terus berada di tempat yang sama.
__ADS_1
Alno meremas kuat rambutnya, "Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Alno dan segera beranjak, sepertinya Alno harus pergi untuk menenangkan dirinya, mencari solusi untuk rencana kedepannya.
"Kak apa yang terjadi? Kakar bertengkar sama Mama dan Papa?" Tanya Vier menghadang langkah Alno yang hendak melangkah keluar dari ruang keluarga.
"Tidak," jawab Alno singkat lalu kembali melangkah.
"Kak!" Vier menghadang kembali langkah Alno yang hendak pergi.
"Ada apa lagi Vier? Bisa tidak kamu tidak mengganggu Kakak dengan banyak bertanya?" Tanpa sadar Alno meneriaki salah satu adik laki-lakinya.
Semua orang yang ada di dalam rumah itu yang memang masih ada di ruang makan langsung berlari mendengar Alno berteriak. Tidak seperti biasanya, Alno berteriak seperti itu, Alno dikenal sebagai Kakak yang penyayang dengan tutur kata yang lembut, jangankan berteriak, berbicara kasar dan membentak saja tidak pernah. Pernah satu kali kepada Vira, itupun karena Vira tidak mendengarkan ucapannya untuk kesekian kalinya, hingga Alno lepas kendali tapi tidak seperti hari ini. Alno adalah anak Jasmine dan Stevano yang paling sabar dalam menghadapi tingkah adik-adiknya.
"Kak Alno kenapa Kak?" Tanya Zeline ketakutan dan bersembunyi di belakang Vira.
Sementara Vira juga sama seperti Zeline, dia takut, dia baru melihat sisi lain seorang Alno, Alno terlihat mengerikan sekarang di mata Vira.
"Kak aku hanya bertanya, kenapa Kakak marah sampai seperti itu? Biasanya sebanyak apapun aku bertanya, sesulit apapun pertanyaan yang aku ajukan pada Kakak, Kakak selalu menjawab baik-baik, tapi sekarang..?" Vier menggantung ucapannya memandang Kakaknya yang terlihat jelas sekali jika Kakaknya sedang diliputi amarah.
Vier mendekat dan menahan lengan Alno yang akan pergi begitu saja sebelum merespon perkataannya, "Kak bukannya tadi aku sudah bilang, jika Kakak ada masalah, Kakak bisa ceritakan, bukan seperti ini Kak.
Kakak memendamnya sendiri dan saat Kakak sudah tidak sanggup, Kakak hanya bisa berteriak dan meluapkan amarah Kakak, ini bukan seperti Kak Alno yang aku kenal," ucap Vier melihat Alno dari arah belakang, karena posisi Alno sekarang memang membelakangi adiknya.
Alno segera menepis tangan Vier dan berlalu begitu saja, meninggalkan adik-adiknya dengan raut wajah yang berbeda-beda, untungnya Stevano dan Jasmine berada di kamarnya, jadi dapat dipastikan jika kedua orang tuanya tidak mendengar perdebatan mereka tadi.
__ADS_1
Vira menatap Vier, kemudian Vier menyuruh Vira masuk bersama adik-adiknya.
"Vian, Ze, ayo kita kembali ke kamar, sudah sore sebaiknya kalian mandi," Vira mengajak kedua adiknya untuk pergi dari tempat itu.
"Vian berjalan lebih dulu meninggalkan Kakaknya, sementara Zeline mengangguk dan menggandeng tangan Vira.
Begitu memastikan kedua adiknya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, Vira keluar dari kamar adiknya dan menuju kamarnya sendiri.
Vira melangkah dan duduk di atas ranjang, kembali teringat pernyataan cinta Kakaknya, Vira terdiam dan mengurut pangkal hidungnya. Dirinya benar-benar pusing memikirkan itu semua. Semuanya tampak rumit, dan Vira tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kak Alno berubah? Aku harus cari cara agar Kak Alno bisa menjauhiku, aku tidak ingin hubungan kita renggang karena perasaan Kak Alno yang tidak pasti," gumam Vira dalam lamunannya.
Mulai saat ini, Vira akan memikirkan cara agar Alno bisa benar-benar menjauh darinya.
***
Sementara di tempat lain, sepasang Suami istri masih sama-sama diam. Hingga pada akhirnya sang suami mendekati istrinya yang berdiri di balkon kamar.
Stevano langsung memeluk istrinya dari belakang, menumpukan dagunya di bahu sang istri.
"Sayang!" Stevano berucap lembut.
"Aku mohon beri aku waktu untuk memikirkannya," ucap Jasmine dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Aku akan memberi waktu sebanyak yang kau butuhkan, aku tahu perasaanmu, tapi kamu tahu sayang, kita juga tidak boleh melarang anak kita yang ingin memperluasĀ wawasannya. Selama ini Alno yang sering menemani kita, dan pasti kita akan merasa kehilangan saat dia jauh dari kita, dan Alno sudah cukup dewasa, aku yakin anak kita sudah berpikir matang-matang dengan keputusan yang diambilnya. Jadi sayang, lebih baik kita dukung keputusannya, seperti apa yang sebelumnya kamu katakan," Stevano mengeratkan pelukannya di pinggang Jasmine, menyesap dalam-dalam aroma tubuh sang istrii.