
"Cepat lari!"
"Tapi kamu," ucap Sisil dengan tubuh yang bergetar.
"Cepat selamatkan dirimu, dan jelaskan semua pada Vira apa yang terjadi."
"Ti..dak, a..aku akan tetap bersamamu, keluar dari sini sendiri sama saja dengan bunuh diri," kata Sisil tergagap.
"Cepat Sisil! Salah satu diantara kita harus selamat, minta bantuan sama orang lain. Kamu tenang saja begitu kamu keluar dari sini, akan ada orang yang membawamu, dan saat itu kamu jelaskan semua apa yang terjadi," ucap perempuan itu memaksa Sisil untuk pergi lebih dulu.
"Tapi.."
"Sisil kita tidak punya waktu, aku akan menghalangi mereka. Jika ada yang menangkapmu bilang jika Alma masih ada di dalam dan butuh bantuan. Sekarang kamu pergi Sisil!" Teriak perempuan yang mengaku bernama Alma.
Sisil menatap Alma dan tiga orang berbadan kekar yang sedang mengejar mereka, bahkan jaraknya sudah semakin dekat. Sebenarnya Sisil tidak tega meninggalkan Alma sendiri, apalagi mengingat Alma yang telah menyelamatkannya, tapi apa yang Alma katakan ada benarnya, dia harus meminta bantuan, jika tidak bukan hanya Alma, nyawa dirinya juga saat ini sedang terancam.
"Baik, kamu tunggu aku, aku akan mencari bantuan, aku janji akan bergantian menyelamatkanmu," kata Sisil sambil melihat Alma dengan mata yang berkaca-kaca.
Sungguh Sisil beruntung bertemu dengan Alma, tapi mungkin Alma lah yang tidak beruntung bertemu dengan Sisil.
Sisil mencoba berlari secepat mungkin, sambil sesekali dirinya menoleh ke belakang, dimana terlihat Alma sedang berusaha keras melawan ketiga pria kekar. Tak jarang Sisil juga terjatuh, dan dia segera mencoba untuk bangun, dia harus membalas menolong Alma yang sudah menyelamatkannya bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri.
Sepanjang jalan, air mata Sisil menetes, dirinya benar-benar tidak menyangka akan mengalami kejadian mengerikan seperti ini.
"Tolong!"
"Tolong!" Teriak Sisil yang sudah berhasil dari gedung tua itu, tapi sayangnya tidak ada satupun orang yang mendengarnya.
"Kemana semua orang, disaat aku benar-benar butuh pertolongan? kemana mereka? kenapa tidak ada satupun orang yang menolongku ha?" Air mata Sisil semakin deras membanjiri seluruh wajahnya.
__ADS_1
Kini kaki Sisil yang tanpa alas, sudah berhasil menjajaki jalan beraspal, jalan yang lumayan cukup besar, hingga ada sedikit cahaya yang membuat Sisil yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
Tak lama, sebuah mobil jeep berwarna hitam berhenti di depan Sisil, dua orang berpakaian serba hitam turun dari mobil dan memegang tangan Sisil di kiri dan kanannya.
"Ikut kami atau kamu akan habis disini sekarang juga!" Ancam dari salah satu orang itu.
Sisil hanya bisa pasrah, dan mengikuti kedua orang itu yang menariknya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Sisil jadi teringat perkataan Alma, apa mungkin orang-orang ini yang dimaksudnya, Sisil menatap kedua orang di sisi kanan dan kirinya. Dari penampilan, jelas saja kedua orang ini berbeda dengan orang-orang yang tadi mengejarnya.
"Masuk!" Perintah orang yang satunya.
"Tolong! Aku mohon tolong, temanku Alma masih ada di dalam," ucap Sisil yang membuat kedua orang itu saling pandang.
"Apa maksudmu?" Tanya orang itu, ada kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Alma dikejar-kejar tiga orang, di gedung tua yang tidak jauh dari lorong itu," ucap Sisil yang kembali meneteskan air mata menunjuk sebuah lorong yang tadi dilaluinya.
Kedua orang itu menatap Sisil kemudian kembali saling pandang.
"Aku tidak bohong, kalau kalian tidak percaya, kalian bisa mengunciku di dalam mobil, aku akan menunggu sampai kalian kembali," ucap Sisil yang melihat ada keraguan pada kedua orang itu.
Tidak ingin mengambil resiko, akhirnya keduanya memutuskan untuk mempercayai ucapan Sisil.
Satu orang pergi, ke tempat yang Sisil maksud dan satunya di tugaskan menjaga Sisil agar tidak melarikan diri.
**
Semua orang kini sudah berkumpul di kediaman Stevano Anderson yang berada di tengah-tengah hutan.
__ADS_1
Semua anggota keluarga, Alex dan Liana, William dan Tiffa serta anak-anak, menantu
dan cucu mereka, kecuali Ken dan Zeline, Lily dan Jason serta anak kedua dan terakhirnya, mereka semua baru saja menyaksikan Alno mengucapkan ijab kabul yang terjadi lima menit yang lalu. Sekarang Alno dan Vira sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Acara dilakukan secara sederhana dan hanya dihadiri oleh anggota keluarga saja.
Alno benar-benar lega, tadi dirinya begitu gugup, dirinya benar-benar terlihat tampan serasi dengan Vira yang terlihat begitu cantik.
"Setelah ini banyak hal yang harus kamu lakukan, dan kamu tidak boleh lengah sedikitpun," bisik William dan menepuk bahu cucunya.
Alno mengangguk mengerti dan kembali ke samping istrinya yang tengah berfoto dengan anggota keluarga lainnya.
Kali ini Alno ikut berfoto bersama mereka, banyak yang tidak menyangka bahwa akhirnya Alno menikah dengan Vira, apalagi anak-anak yang tidak banyak tahu hubungan Alno dan Vira sebenarnya, berbeda dengan para orang tua yang memang sudah sangat tahu perihal masa lalu keduanya.
Setelah berfoto para anak muda terlihat berkumpul dan berbincang, sementara Alno kembali harus meninggalkan Vira karena Mama dan Papanya memanggil dan memintanya untuk menemui di kamar yang dulu di tempati Stevano.
Sebelum pergi, Alno sempat mengecup bibir Vira sekilas yang membuat heboh para sepupu. Alno meresponnya dengan tersenyum, sementara Vira wajahnya sudah memerah karena malu.
Alno kemudian pergi membiarkan Vira mengobrol dengan yang lainnya.
Sampai di depan pintu, Alno mengetuk pintu kamar tersebut.
Tak lama pintu terbuka, dan bisa Alno lihat di dalam kamar tidak hanya ada Mama dan Papanya, ada Kakek, Opa bahkan Paman Jason juga di sana.
"Sekarang bisa kamu jelaskan, kamu sudah tahu siapa Kimmy, tapi Papa heran kenapa kamu masih bisa bersikap biasa saja padanya? Dan apa kamu lupa jika Dia bahkan sudah berusaha untuk menghancurkan hidup Vira," kata Stevano meminta penjelasan pada putranya.
"Yang jelas Alno punya alasan Pa, salah satu alasannya, itu semua karena Alno belum mendapatkan bukti yang kuat. Selain itu.."
Alno pun menjelaskan semuanya kepada mereka semua, hingga mereka mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Intinya yang terpenting sekarang, semuanya harus lebih berhati-hati dan lebih ketat lagi dalam penjagaan agar kita tidak kecolongan, dan mengalami sesuatu buruk yang sudah seperti apa yang sempat Vira alami, dan Alno mohon pada Mama dan Papa juga semuanya untuk menyembunyikan hal ini dari Vira, biarkan Alno yang akan menceritakan semuanya pada Vira nanti," Alno menatap mereka semua satu persatu, berharap mereka semua akan mengikuti ucapannya.
Di tengah keheningan yang terjadi setelah apa yang Alno ucapkan, perhatian mereka terpecah saat ponsel Alno terlihat bergetar, dan Alno segera menjawabnya begitu tahu siapa orang yang telah menghubunginya.