My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 53


__ADS_3

"Oh ya Alno, ada yang mau Papa sama Mama bicarakan," ujar Stevano setelahnya.


"Alno yang tadinya tersenyum melihat kebersamaan Mama dan Papanya kini sepenuhnya dirinya menatap Papanya yang terlihat serius.


"Papa dan Mama ingin kamu menikahi Vira secepatnya."


"Pa, Ma, bukankah aku juga tadi sudah mengatakan bahwa aku akan segera menikahi Vira, jadi Mama dan Papa tidak perlu khawatir," ucap Alno menggenggam tangan Mamanya.


"Tapi kamu tidak menikahi Vira karena kasihan padanya kan sayang?" Tanya Jasmine menatap sang putra.


Alno tersenyum dan menggeleng, "Mama tahu kan bagaimana perasaanku ke Vira, Alno sangat mencintai Vira Ma, selama ini Alno juga terus mengajak Vira menikah, tapi Vira selalu menolaknya, dan sekarang ketika Mama dan Papa yang meminta sendiri Alno menikahi Vira, kenapa Alno menolak? Alno tidak peduli apa yang sudah terjadi sama Vira, sampai kapanpun hal itu tidak akan pernah merubah perasaan Alno ke Vira, Mama harus percaya sama Alno, oke."


Jasmine langsung membawa putranya ke dalam pelukannya, sungguh Jasmine bahagia bisa mempunyai Alno.


"Mama percaya sama kamu," ucap Jasmine sambil menghapus air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua matanya.


Jasmine kemudian melepaskan pelukannya, "Mama dan Papa akan persiapkan semuanya, tapi sayang ada hal yang harus kita lakukan."


"Apapun itu Ma, akan Alno lakukan," jawab Alno yakin.


.

__ADS_1


.


"Kemana sih kau Sisil? Kenapa ponselmu tidak aktif, ada yang perlu kamu jelaskan, semua terasa membingungkan, aku bahkan  tidak tahu harus percaya atau tidak tapi kau lah yang terakhir bersamaku, jika pun kamu bukan pelaku sebenarnya, kamu pasti tahu sesuatu," Vira tampak mondar-mandir sambil memegang ponselnya.


"Tapi jika memang benar kamu, kenapa kamu setega itu? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Gumam Vira yang kini berdiri di di dekat jendela yang sengaja dia buka, membiarkan angin malam menyapa wajahnya.


Rambut Vira terlihat beterbangan, semakin malam, semakin terasa dingin, bahkan kini Vira pun menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan dibawanya ke pipi, berharap Vira bisa merasa hangat setelah itu.


Tapi bukannya segera masuk, Vira justru masih di tempatnya semula, menyendiri dan merenungkan sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Tiba-tiba tetes air langit jatuh membasahi bumi bahkan dedaunan terus bergerak melambai karena terpaan angin yang kini berhembus semakin kencang.


Vira terkejut, saat tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya, bahkan bisa Vira rasakan jika orang itu menumpu dagunya di bahu Vira.


"Aku suka suasana seperti ini, rasanya menenangkan, apalagi aroma dari tanah yang tersiram air hujan," Vira menghirup aroma itu dalam-dalam.


Alno membalik tubuh Vira hingga posisi mereka kini saling berhadapan.


"Tapi kamu jika di sini terus akan kedinginan," ucap Alno khawatir.


"Kenapa? Bukankah ada kamu disini yang memelukku, aku jadi tidak terlalu kedinginan," kata Vira menatap mata Alno dalam.

__ADS_1


"Ra, apapun yang terjadi jangan pernah merasa sendiri ya, ada Kakak yang akan selalu ada di sampingmu," ucap Alno yang kemudian menarik Vira ke dalam pelukannya.


Vira mengangguk di dalam pelukan Alno. Jujur saja tadi Vira begitu marah saat tidak melihat Alno. Vira kira Alno pergi bersama Kimmy, tapi pengawal Papanya yang menyusul ke lokasi, untuk memberi kabar bahwa Alno sudah pulang sendirian, apalagi saat Vira mendengar cerita Mamanya bahwa Alno dan Kimmy tadi ada masalah, entah kenapa Vira justru merasa lega sekaligus senang. Padahal tidak seharusnya Vira merespon seperti itu, tapi kali ini, Vira akan egois sekali saja, Vira akan mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan termasuk Kakaknya sekaligus orang yang dicintainya, siapa lagi jika bukan Alno. 


Alno melepaskan pelukan mereka, di rapikannya rambut Vira yang berantakan akibat terpaan angin, saat melakukan itu, tiba-tiba saja Alno menutup kedua telinga Vira, disusul dengan suara petir yang cukup keras.


Vira saja hampir terlonjak kaget, karena walaupun Alno menutup kedua telinganya, nyatanya suara petir lebih kencang, hingga masih terdengar oleh Vira.


"Sebaiknya kita masuk," ajak Alno yang kemudian menutup jendela kamar Vira beserta gordennya.


Vira hanya bisa menurut, apalagi saat mendengar suara petir yang menggelegar, tentu saja Vira  takut walaupun menyukai hujan bukan berarti Vira menyukai kilat dan petir.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Alno menggenggam tangan Vira yang kini sudah duduk di atas tempat tidur tepat di depannya.


Vira tersenyum dan mengangguk, "Hmm aku baik-baik saja, sudah malam, lebih baik kamu istirahat karena aku juga mau istirahat," Vira kemudian bergeser dan  membaringkan tubuhnya membelakangi Alno, dan menaikkan selimut sebatas dada untuk menutupi dan menghangatkan tubuhnya, lalu sekarang Vira bahkan memejamkan kedua matanya.


Alno menatap tubuh Vira yang tampak tidak bergerak sama sekali, Alno mungkin tidak tahu apa yang Vira rasakan saat ini, tapi Alno tahu pasti ada yang tampak mengganggu pikirannya.


"Kakak akan mencari orang yang berbuat seperti itu padamu, tapi bukan untuk menyuruh orang itu bertanggung jawab, karena sampai kapanpun kakak tidak akan rela melepaskanmu bersama orang breng*sek itu, Kakak hanya ingin orang itu mendapatkan apa yang harus didapatkan,  Kakak akan membuat orang itu membayar mahal karena sudah berani menyentuhmu," ucap Alno dalam hati sambil memandangi punggung Vira yang tertutup selimut.


"Tunggu kenapa aku merasa ada yang berbeda dari Vira,  tapi apa ya?," Alno tampak berpikir saat merasa ada sesuatu yang berbeda dari adiknya itu. Tapi setelah sekian lama Alno berpikir, Alno belum juga mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


Vira masih betah terpejam, dirinya sebenarnya tidak benar-benar tidur, dirinya hanya mencoba menghindar dari Alno, tepatnya pada pertanyaan-pertanyaan yang akan Alno ajukan, tak lama Vira merasakan ada pergerakan di tempat tidurnya, dan kini bahkan Vira merasakan tangan seseorang melingkari pinggangnya.


"Ijinkan Kakak tidur disini dan memelukmu seperti ini, kakak minta maaf karena gagal menjagamu, Kakak minta maaf karena kamu pasti terluka karena sikap Kakak, Kakak benar-benar minta maaf. Kakak tersiksa karena kamu bersedih sebab Kakak yang membuatmu bersedih, tapi Vira, perlu kamu tahu, Kakak seperti ini punya alasan sendiri, ini demi kamu juga, Kakak berharap kamu bersabar menunggu Kakak sampai waktunya tiba, terlalu sibuknya kakak memikirkan semua itu, Kakak akhirnya sampai lalai dalam menjagamu, kakak telah gagal melindungimu, kamu pasti marah ya sama Kakak? Tidak apa-apa jika kamu seperti itu, karena kamu memang pantas marah, tapi satu hal sayang, jangan pernah benci Kakak ya, kakak tidak sanggup jika hal itu benar-benar terjadi, karena apa, karena kakak sangat-sangat menyayangi kamu, i love you adikku sayang," bisik Alno mengantarkan Vira menuju mimpi indahnya.


__ADS_2