My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 72


__ADS_3

"Kimmy sudah pergi? Benar-benar pergi? Kenapa Kak?" Tanya Vira kini menatap suaminya.


"Iya sayang, apa perkataan Kakak kurang jelas tadi, dia benar-benar sudah pergi dan sepertinya tidak akan kembali lagi, jadi kamu senang kan? Karena akhirnya orang yang membuatmu selalu merasa sakit hati, tidak berada disini lagi?" Alno menangkup wajah Vira, bahkan menguyel-uyel kedua pipi Vira yang berisi hingga membuat bibirnya seperti ikan yang hampir kehabisan nafas.


"Kak lepasin!" Ucap Vira tidak jelas.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" 


"Kak!" 


Alno pun akhirnya melepaskan tangannya dari wajah Vira. Setelah itu Alno langsung membawa Vira ke dalam pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu sayang, dari dulu hingga sekarang, perasaan aku tidak pernah berubah sedikitpun, jadi jangan pernah ragukan perasaanku," Alno melepaskan pelukannya. Membawa tangan Vira ke dalam dadanya di mana tepat di jantungnya yang sedang berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Kamu bisa merasakan bukan jantung Kakak berdebar seperti ini, terutama saat sedang bersamamu, perasaan Kakak begitu besar untukmu, jadi tidak mungkin kakak bisa beralih hati secepat itu.


"Aku juga cinta kamu Kak," ucap Vira malu-malu dengan wajah yang memerah.


Alno tersenyum, "Coba sini, Kakak juga ingin merasakan detak jantungmu," katanya langsung memegang d*d* istrinya.


"Kakak modus," ucap Vira yang langsung menyingkirkan tangan suaminya, karena tangan Alno berada di tempat yang bukan seperti dikatakannya.


"Hahaha," tawa Alno pecah karena sudah berhasil menggoda istrinya.


"Sayang ayo selagi gak ada orang," ujar Alno kemudian setelah tawanya berhenti.


"Ayo kemana?" Tanya Vira menatap Alno tidak mengerti.


"Tentu saja membuat Alno dan Vira junior," bisiknya di telinga Vira, membuat tubuh Vira meremang.


"Tapi ini masih pagi," ucap Vira lirih hampir tidak terdengar.


"Pagi, siang maupun malam, sama saja," kata Alno yang kini sudah mencium istrinya dan sedikit mendorongnya agar berbaring di sofa yang mereka duduki.


Alno menautkan satu tangannya di tangan sang istri, dan tangan yang lainnya melepaskan kancing kemeja yang dikenakan sang istri. Kemeja yang berwarna senada seperti yang dikenakannya.

__ADS_1


Keduanya terlalu larut, sampai tidak mendengar suara ketukan pintu.


Sedangkan orang yang mengetuk pintu dari luar, langsung membuka pintu itu setelah tahu bahwa pintunya tidak di kunci.


"Oh My God," teriak Vier yang melihat pemandangan yang membuat matanya ternodai.


"Vira yang mendengar teriakan saudara kembarnya langsung mendorong dada suaminya hingga terjatuh dari sofa.


"Sayang!" Protes Alno menatap istrinya, Vira sepertinya mendorong Alno menggunakan seluruh tenaganya hingga membuat Alno sampai terjatuh ke samping.


"Maaf Kak," Vira mengancingkan kembali kancing kemeja yang sudah dilepas oleh Vier, segera bangun dan mengulurkan tangannya membantu Alno.


"Hahaha," Vier yang tadinya shock, kini tertawa melihat Alno yang didorong Vira hingga terjatuh.


Mendengar tawa Vier, keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara, dan menatap tajam Vier.


"Hei kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Vier yang belum kembali sadar pada kesalahannya tadi.


"Ini semua salahmu!" Kata Alno dan Vira bersamaan.


"Vier!" Lagi-lagi Alno dan Vira berucap bersama.


Vier yang baru menyadari sesuatu langsung menepuk pelan jidatnya.


"Makanya lain kali dikunci," ujar Vier yang langsung berlari takut kena amukan kedua orang yang gagal bermesraan karena kedatangan dirinya.


Alno yang sudah bangun langsung mengejar Vier untuk memberi pelajaran pada adiknya karena sudah membuatnya gagal bermesraan dengan sang istri tercinta.


Pelayan berpapasan dengan kedua kakak adik yang berlarian hanya menggelengkan kepalanya. Mereka berdua sudah seperti anak SD yang sedang bermain kejar-kejaran.


"Awas kamu! Kamu harus menerima hukuman karena sudah mengganggu Kakak," teriak Alno masih berlari mengejar Vier.


"Ada apa ini, kayak anak kecil saja main lari-larian," ucap Jasmine yang baru datang bersama Al dengan Zeline tertidur di gendongannya.


"Mama, Paman Al" ucap Alno dan Vier yang kini berhenti dan menghampiri keduanya dan menyalaminya.

__ADS_1


"Loh, emang Mama dari mana kok bersama Paman Al," tanya Alno.


"Oh, ini Mama dari Bibi Lily, dan kebetulan Paman Al ada disana, dan kalian tahu jika sudah melihat Paman Al, Zeline akan menempel, lihatlah bahkan tuh sampai ketiduran tadi di mobil, tidak mau lepas saat Mama ajak pulang," cerita Jasmine tentang putri bungsunya.


Alno dan Vier tampak manggut-manggut.


"Oh ya Mine, ini kamar Zeline masih sama kan? Di samping kamarmu?" Tanya Al setelah Jasmine selesai bercerita.


"Oh iya Kak, masih sama kok," jawab Jasmine mengiyakan pertanyaan Al.


"Ya sudah, aku bawa Zeline ke kamar dulu, biar dia bisa nyaman tidurnya.


"Zeline, Zeline, sudah gede juga, masih belum berubah, masih saja manja sama Paman Al," ujar Vier geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang selalu manja pada Al.


"Tau tuh, Mama juga heran sama adik kamu satu itu," komentar Jasmine pada ucapan putranya dan berjalan menuju sofa dan duduk disana.


"Gak baik loh Ma jika Zeline masih seperti itu sama Paman Al, Zeline tahun ini sudah kelas 3 smp, tapi masih seperti itu, bagaimana nanti pikiran Bibi Lia," ucap Vier mengutarakan pikirannya.


"Ya bagaimana lagi, Paman Al juga kelihatan sayang banget, katanya udah nganggap Zeline seperti anaknya sendiri. Kalian tahu sendiri Paman Al dan Bibi Lia juga belum memiliki anak dan dengan adanya Zeline, Bibi Lia bilang, paman Al akan terhibur dan merasa tidak kesepian.


Vier mengangguk mengerti, benar juga mungkin Paman Al memang bisa terhibur dengan adanya Zeline, karena di usia pernikahannya yang sudah enam tahun, Paman Al dan istrinya belum juga dikaruniai anak.


"Papa ke kantor?" Vier bertanya mengalihkan pembicaraan tentang adik bungsunya yang menurutnya ada benarnya juga perkataan Mamanya.


"Iya," Jasmine mengambil ponselnya dan tersenyum setelah membaca pesan masuk.


"Alno dan Vier saling pandang, mengerti jika Mama mereka sudah tersenyum seperti itu, pasti ada sesuatu di ponselnya berkaitan dengan Papa mereka.


"Ma, hmm lusa Mama dan Papa sibuk tidak?" Tanya Vier membuat Jasmine meletakkan ponsel ke pangkuannya dan menatap sang putra.


"Kenapa?" Tanya Jasmine mengulum senyum, sepertinya dia bisa menebak apa yang akan putranya katakan.


"Hmm lusa Vier akan mengajak kekasih Vier kemari," beritahu Vier.


"Wah serius? Kamu akan mengajak Sheira kemari? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya," Vira tampak antusias saat mendengar kembarannya mengatakan itu, bukan karena apa, tapi karena akhirnya perjuangan Vier untuk membuat Sheira kekasihnya datang ke rumahnya berarti hubungan Vier dan Sheira sudah ada kemajuan dan Vira ikut senang mendengar itu.

__ADS_1


__ADS_2