
"Sayang kenapa makanannya hanya dilihat seperti itu," tanya Jasmine yang melihat Putrinya hanya melihat makanan yang ada di piringnya sambil terus mengaduknya.
"Hah, oh Vira belum lapar Ma," jawab Vira menatap Mamanya dan tersenyum.
"Tidak mungkin kamu belum lapar, bahkan semalam saja kamu tidak ikut makan malam," sahut Stevano yang sedari tadi hanya menyimak.
"Sungguh Pa, Vira belum merasa lapar, Oh ya, katanya om Al dan Tante Lia akan kemari, jadi Ma?" Tanya Vira mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Beneran Ka?" Tanya Zeline yang langsung memasang wajah ceria begitu nama Al disebut.
"Ma?" Zeline kemudian menatap Jasmine menunggu jawaban dari Mamanya tentang kebenaran yang dikatakan Kakaknya.
"Iya mungkin sebentar lagi," jawab Jasmine membenarkan ucapan Vira.
"Yeah!" Zeline besorak gembira.
"Oh Ya Pa, nanti Papa tidak usah mengantar Ze sekolah deh, Ze akan meminta Om Al untuk mengantar Ze," ucap Zeline dengan mata yang berbinar begitu menyebut nama teman Mamanya.
Stevano hanya memutar bola matanya, begitulah Zeline jika ada Al, Stevano akan dengan mudah tersingkirkan oleh sosok pria yang dulu membuatnya cemburu dan merasa iri karena kedekatannya dengan Jasmine istrinya.
Sementara Vira hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah adiknya yang begitu senang ketika sahabat Mamanya itu datang ke rumah.
Saat Alno pergi, tidak hanya Vira yang merasa kehilangannya, tapi adik bungsunya itu juga tiap hari menangis dan merengek untuk menyusul Alno dan ingin ikut dengannya. Zeline memang dekat dengan Alno, karena Alno memanglah sosok Kakak yang baik untuk adik-adiknya, dan Alno juga dekat dengan mereka.
Disaat Zeline dalam kesedihan, datanglah sosok Al yang waktu itu sering datang ke kediaman Stevano, untuk meminta bantuan Jasmine mempersiapkan pernikahannya dan dari situlah Zeline bisa dekat dengan Al.
"Sudah-sudah habiskan makanannya, kenapa kalian malah sibuk mengobrol," Stevano kesal saat lagi-lagi melihat Zeline yang terlihat bahagia jika sudah membicarakan Al.
"Baik Pa," jawab Zeline masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Oh ya sayang, apa rencanamu hari ini?" Tanya Jasmine pada Vira.
"Mm sepertinya Vira akan di rumah saja Ma, Vira ingin istirahat, kepala Vira juga sedikit pusing," jawab Vira yang memang merasakan kepalanya sakit.
Bagaimana tidak pusing, jika Vira langsung tidur setelah menangis sesenggukan.
"Oh ya Vier kemana? Apa dia belum bangun?" Tanya Stevano saat tidak melihat Vier turun.
"Vier sudah pergi pagi-pagi sekali, katanya sekalian mengantarkan Vian ke kampusnya.
"Vian sudah berangkat?" Tanya Stevano yang memang tidak tahu, karena dirinya juga baru bangun sebelum ke ruang makan, dirinya lembur dan baru pulang jam 3 pagi, dan melihat Suaminya yang baru tidur selama 2 jam, Jasmine jadi tidak tega membangunkannya, hingga membiarkan suaminya cukup tidur. Dan akan kembali membangunkannya ketika makanannya sudah siap.
"Maklumlah Pa, Vian pasti semangat, apalagi ini hari pertamanya menjadi mahasiswa baru," sahut Vira.
"Kamu juga Dek, cepat makannya, hari ini kan kamu sudah jadi Kakak kelas, jangan sampai terlambat, harus jadi contoh yang baik pada adik kelas," nasehat Vira pada adik bungsunya yang kini duduk di kelas 3 smp.
"Siap Kak, ini juga mau selesai," jawab Zeline yang memang makanannya hanya tinggal beberapa suap saja.
"Om Al!" Zeline langsung bangun dan berlari menghampiri Al. Sementara Al langsung membentangkan tangan menyambut Zeline.
Vira kemudian pamit ke atas meninggalkan Al, Zeline, Mama dan Papanya yang kemudian berbincang, entah memperbincangkan apa, Vira tidak ingin tahu.
Begitu masuk, Vira duduk di pinggiran ranjang. Ditatapnya beberapa foto yang ada di meja di samping tempat tempat tidurnya. Diambilnya salah satu dari foto itu.
Diusapnya dengan lembut foto itu, membayangkan jika saat ini yang diusap bukan cuma foto, tapi orangnya.
"Kak, aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu," lirih Vira lalu mengecup foto pada pigura yang dipegangnya.
"Kak aku akan beritahu kamu sesuatu begitu kamu kembali, akan ku beritahu bahwa aku juga mencintaimu, cinta Kakak kini terbalaskan, dan aku ingin memperjuangkan cinta ini untuk Kakak. Kakak tahu, saat itu Sean menyatakan cintanya padaku, tapi aku langsung menolak, Kakak tahu kenapa? Karena saat itu aku sadar, saat Kakak pergi aku baru menyadari perasaanku, perasaan bahwa aku juga mencintai Kakak, dan aku merasa sangat kehilangan Kakak, aku bahkan berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan menutup diri, aku akan berikan cinta ini untuk Kakak, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Jadi Kak, cepatlah kembali, aku ingin bertemu dengan Kakak," air mata jatuh membasahi foto yang berisi dua orang, foto Vira bersama Alno.
__ADS_1
Vira kemudian memeluk foto itu, seakan jika saat ini dirinya tengah memeluk Alno, Vira merebahkan dirinya di atas ranjang masih dengan foto yang kini berada dalam pelukannya. Hingga akhirnya Vira pun tertidur dengan foto yang didekap erat.
***
Samar-samar, Vira mendengar suara keributan dekat dengan kamarnya. Tepatnya di depan kamarnya. Vira tajamkan pendengarannya, barangkali Vira salah dengar atau mungkin Vira sedang bermimpi.
Vira coba untuk membangunkan dirinya sendiri, Vira yakin kini dirinya memang sedang bermimpi, karena Vira seperti mendengar suara Kakaknya, Kak Alno pria yang sangat dirindukannya.
"Apa ini karena aku tadi memikirkannya, hingga aku sampai memimpikan Kak Alno, atau mungkin karena aku begitu merindukannya dan berharap Kakak pulang? Makanya Kak Alno datang ke dalam mimpiku?" Tanya Vira kepada dirinya sendiri dalam hati.
"Lihatlah Kak, sebegitunya aku merindukanmu sampai-sampai kau datang dalam mimpiku, dan jika kau tahu tentang ini, kau pasti akan menertawakanku," tambah Vira lagi.
Vira menggeliat dan memandangi sekitarnya.
"Ah rupanya sudah siang," gumamnya yang melihat suasana luar dari jendela.
Vira melihat jam, menunjukkan pukul 12 siang, "Rupanya aku cukup lama ketiduran," katanya pelan.
Vira kemudian bangun, "Tunggu, aku bangun? apa ini nyata? Jadi ini bukan mimpi? Dan suara yang aku dengar tadi…, itu beneran suara Kak Alno?" Ucap Vira yang kemudian langsung turun dari ranjangnya begitu dirinya menyadari jika sekarang dia tidak bermimpi.
Vira bergegas keluar kamar ingin memastikan sesuatu, Vira berharap, dia tadi tidak salah mendengar ataupun hanya mimpi saat mendengar suara Kakaknya.
Dengan cepat Vira menuju pintu, kemudian dibukanya pintu itu segera, Vira menoleh melihat ke samping dimana kamar Kak Alno terbuka. Dan kali ini Vira benar-benar yakin bahwa tadi bukan hanya sekedar mimpi semata melainkan kenyataan.
Vira tersenyum senang, dengan semangat dirinya melangkahkan kakinya menuju kamar di sebelahnya.
Begitu sampai di kamar Alno Vira langsung masuk begitu saja.
"Kak!" Teriak Vira memanggil Kakaknya.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Vira membeku, senyum yang sedari tadi terukir di sudut bibirnya saat tahu Kakaknya pulang kini seketika pudar begitu melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Tanpa sadar air mata Vira pun kembali menetes membasahi kedua pipinya.