
Drt
Drt
Ponsel Alno bergetar dan Alno segera menjawab panggilan yang baru masuk ke dalam ponselnya.
"Halo Kak, Vira sudah ditemukan," kata seseorang di seberang telepon.
"Dimana? Aku akan kesana sekarang!" Kata Alno yang segera memutuskan panggilan begitu dia sudah mengetahui tempat yang harus ditujunya.
Alno pergi begitu saja tidak mempedulikan Kimmy yang berteriak memanggil namanya.
Alno melajukan mobilnya secepat mungkin agar segera sampai.
Dan begitu terkejutnya Alno setelah sampai disana melihat keadaan istrinya. Vira sudah tidak sadarkan diri dan dibawa masuk ke dalam ambulan.
Alno langsung berlari dan ikut masuk ke ambulan meninggalkan mobilnya, sementara Alma yang melihat itu, segera masuk ke dalam mobil yang tadi dibawa Alno mengikuti ambulan ke rumah sakit.
Sedangkan Jason masih di lokasi kejadian, bersama beberapa polisi yang berjaga di sana.
Semua anggota keluarga kini sudah menunggu di rumah sakit setelah mendengar bahwa Vira akan di bawa kesana.
Stevano terus menenangkan istrinya yang kini sudah menangis terisak melihat keadaan Vira.
Sementara Vier dan Vian hanya diam, mereka sedih melihat kakaknya seperti itu, sedangkan Zeline, gadis itu sengaja tidak diberitahu akan kondisi Vira dan dibiarkan bersama kakek neneknya.
William merangkul istrinya agar tenang, Alno mondar- mandir di depan ruangan dan seorang gadis berdiri tidak jauh dari sana. Semua orang menunggu dengan perasaan cemas apalagi berjam-jam sudah terlewati dan dokter belum juga keluar.
Langkah kaki mendekat, membuat semua orang menoleh, dan terlihat Liora berjalan tergesa-gesa begitu mendengar kabar tentang keponakannya, dirinya baru saja kembali, bahkan dia meninggalkan suami dan anak-anaknya yang masih di parkiran.
Langkah Liora berhenti ketika melihat seorang gadis yang bukan anggota keluarganya di sana. Liora mendekat ke arah gadis itu dan…
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi gadis itu begitu mulusnya.
"Cinta!" Teriak hampir semua orang melihat itu.
"Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang membuat Vira seperti ini, apa kamu puas sekarang ha?" Teriak Liora memarahi Cinta.
"Liora cukup!" Tegur Stevano yang melihat itu.
"Kenapa Kak? Benar bukan apa yang aku katakan? Ini semua gara-gara dia, andai saja dia bisa menjaga Vira, tentu saja Vira tidak akan seperti ini," kata Liora menggebu-gebu, sambil menunjuk-nunjuk Cinta penuh amarah.
"Maaf, maafkan saya!" Kata Cinta menunduk, dirinya benar-benar merasa bersalah.
__ADS_1
"Jika sampai terjadi apa-apa dengan Vira, awas saja kau…"
"Sudah Bibi, hentikan, yang perlu kita utamakan adalah keselamatan Kak Vira, bukan yang lainnya," kata Vian mengingatkan bibinya itu.
Dan setelah mengatakan itu bertepatan dengan seorang dokter yang keluar dari ruangan setelah memeriksa kondisi Vira. Dan semua sedikit merasa lega saat tahu, Vira sudah melewati masa kritisnya.
Vian menarik tangan Cinta yang sedari tadi menunduk dan membawanya pergi dari sana.
"Akh!" Ringis Cinta merasakan sakit di tangannya yang ditarik Vian.
Vian mengernyitkan dahi dan menggulung kemeja yang dikenakan gadis itu ke atas, dan Vian terkejut saat melihat luka goresan yang cukup panjang dan dalam di lengan gadis itu.
"Ini kenapa?" Tanya Vian menunjuk luka di lengan Vira.
"Ah tidak apa-apa," jawab Cinta yang kemudian menurunkan kembali lengan kemejanya.
Vian menatap Cinta tajam, hingga Cinta pun dengan terpaksa menjawab.
"Ini tadi karena terburu-buru kemari, terkena rak besi saat di rumah."
Vian terdiam sebentar dan memilih mengangguk.
"Masuk!" Kata Vian setelah membuka pintu mobilnya.
"Tidak, aku akan tetap disini," jawab Cinta menolak perintah Vian.
"Vian apa yang kau lakukan? Aku bilang aku ingin disini," kata Cinta menatap Vian yang kini sudah duduk di sebelahnya, kemudian beralih pada pintu di sampingnya dan mencoba membukanya.
Tapi terlambat, karena Vian sudah menguncinya bahkan menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.
"Vian mau kemana? Vian cepat turunkan aku! Aku mau tetap di sini, jika tidak, aku pasti akan dimarahi lagi," kata Cinta terus merengek.
"Berisik, kau bisa diam tidak?" Kata Vian datar.
"Tidak aku tidak akan diam jika kamu tidak membawaku kembali ke rumah sakit, ayo Vian cepat antarkan aku ke rumah sakit lagi," pinta Cinta menggoyang-goyangkan lengan Vian.
"Apa kau tidak tahu jika aku sedang menyetir, ini bisa berbahaya. Lebih baik kau diam, suara cemprengmu itu membuatku pusing."
"Tidak aku tidak mau di…"
Tubuh Cinta membeku, kata yang akan terucap pun rasanya kembali tertelan saat tiba-tiba Vian berhasil membungkamnya, ya tiba-tiba sesuatu yang kenyal menempel di bibir Cinta.
Cinta melotot menatap horor pada laki-laki yang kini tampak fokus mengemudi seakan tidak terjadi apa-apa di menit-menit sebelumnya.
"Vian apa yang kau lakukan tadi?" Teriak Cinta dan Vian hanya bisa menutup telinganya mendengar suara gadis itu.
__ADS_1
"Membuatmu diam," ucapnya singkat dan wajah datarnya itu, rasanya ingin Cinta cabik-cabik saat itu juga.
"Apa membuatku diam? Dengan cara menciumku? Itu ciuman pertamaku asal kau tahu."
"Bagus."
"Hanya bagus, kau tidak mau bertanggung jawab karena sudah mengambil ciuman pertamaku?"
Citt
Vian mendadak mengerem mobilnya, "Kau mau aku bertanggung jawab?" Tanyanya.
"Iya, kau sudah mengambil ciuman pertamaku jadi kau harus ber…" belum selesai melanjutkan perkataannya Cinta kembali bungkam saat kedua kalinya Vian mencium tepat di bibirnya.
"Aku sudah mengembalikannya," katanya kemudian kembali menjalankan mobilnya.
"Vian!" Geram Cinta berteriak memanggil nama pria itu.
Sementara orang yang dipanggil justru memasangkan headset di kedua telinganya.
Cinta yang hendak protes lagi, mengurungkannya, saat mobil tiba-tiba berhenti di sebuah taman.
"Turun!" Perintah Vian seenaknya.
Cinta pun turun lebih dahulu apalagi saat mendapatkan telepon.
Cinta buru-buru menjauh dari Vian untuk menjawab telepon itu.
"Iya Yah aku baik-baik saja, bagaimana?" Ucap Cinta menjawab telepon Ayahnya.
"Baik, aku mengerti," ucapnya lagi dan panggilan berakhir tepat ketika Vian datang dengan membawa kotak p3k dan kantong plastik entah berisi apa.
"Tanganmu!"
"Bisa tidak sih bicara yang lembut sama perempuan," protes Cinta pada nada bicara Vian yang terdengar seperti sebuah perintah.
"Bawel," ucapnya lagi kemudian memberikan es kepada gadis itu.
"Kompres pipimu sebelum nanti bengkak, nanti wajahmu yang jelek semakin jelek," ucapnya lagi membuat wajah Cinta ditekuk, kemudian dia mulai serius mengobati luka pada lengan Cinta.
"Ayo kita cepat kembali ke rumah sakit," kata Cinta setelah Vian selesai mengobati lukanya.
Vian menatap Cinta, membereskan peralatan yang tadi digunakannya dan kemudian berdiri dan berjalan menuju mobilnya. Dan Cinta hanya diam tercengang melihat kepergian pria itu.
Vian yang merasa tidak ada seseorang berjalan di belakangnya pun menoleh.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Bukankah tadi bilang mau kembali ke rumah sakit?" Ucap pria itu.
"Hah?" Hanya kata itu respon yang gadis itu berikan dan begitu tersadar, dia langsung berlari dan menyusul Vian yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.