My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 62


__ADS_3

"Rae sedang menginap di rumah Kakek dan Neneknya," ucap Jasmine menatap Kimmy.


"Bibi bisakah Bibi memberi alamatnya, biar Kimmy bisa menyusul Rae kesana," kata Kimmy yang tidak tahu malu.


Vier dan Vian sungguh jengah melihat pemandangan yang tidak jauh darinya itu. Jika jadi Kakaknya, mereka tidak akan sungkan-sungkan lagi mengusir wanita itu.


"Mama dan Papa masuk saja!" Perintah Vier, Jasmine dan Stevano menoleh ke belakang, menatap sang putra kemudian mengangguk.


"Hmm Bibi sama Paman ke dalam dulu ya, mau beberes," pamit Jasmine tidak lupa disertai senyum yang terukir di bibirnya.


Jasmine pun mengajak suaminya untuk masuk, mengabaikan ucapan Kimmy tadi.


"Tunggu Bibi! Bibi belum mengatakan alamat yang Kimmy minta," ujar Kimmy menahan tangan Jasmine agar tidak pergi meninggalkannya begitu saja, sebelum memberikan apa yang dirinya minta.


"Lepas!" Vier mendekat dan menghempaskan tangan Vira yang sedari tadi memegang lengan Mamanya.


"Lebih baik Mama masuk sekarang!" Perintah Vier yang kini menatap tajam Kimmy.


Saat Jasmine hendak melangkah, Kimmy kembali menahan tangan Jasmine.


"Bibi!" Ucap Kimmy memelas.


Stevano mengeraskan rahang, tangannya sudah bersiap akan memukul orang yang sudah berani menyentuh istrinya. Jasmine menghela nafas panjang, jujur saja dirinya sebenarnya merasa iba, diluar siapa gadis itu.


Digenggamnya tangan Stevano, dirinya tidak mau kemarahan suaminya sampai meledak disini. Untung saja tadi mereka mengantarkan William terlebih dahulu, jika tidak, Jasmine tidak akan tahu akan berbuat apalagi jika sampai Ayah mertuanya itu melihat apa yang terjadi. Apalagi jika Ayah mertuanya mengingat tentang kejadian yang menimpa Vira, takutnya William akan hilang kendali.


Vier melepaskan tangan Kimmy dari pergelangan tangan Mamanya. Dan mencengkram tangan wanita erat karena sudah berani menyakiti keluarganya.

__ADS_1


"Mama dan Papa masuk ke kamar saja, biar Vier yang mengurusnya," kata Vier yang sudah membaca situasi di sekitarnya.


Jasmine mengangguk dan membawa suaminya masuk ke dalam kamar, mengikuti perintah putranya.


Kimmy mengepalkan tangannya erat tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Vier.


"Kenapa? Marah?" Tanya Vier melihat wanita itu mengepalkan tangan dengan wajah yang memerah.


Kimmy menunduk terdiam dan menarik nafas dalam, dia tidak mau perjuangannya selama ini sia-sia hanya karena Vier.


Setelah cukup lama terdiam, Kimmy mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Vier.


"Tidak, aku tidak marah, kenapa aku harus marah?" Ucapnya dengan suara yang begitu lembut.


"Aku minta maaf, Vier bisakah kamu lepaskan tanganmu? Tanganku sangat sakit," kata gadis itu meringis menahan sakit, karena cengkraman tangan Vier yang terlalu erat di pergelangan tangannya.


"Aku hanya bertanya tentang Rae, tapi kenapa kalian sekejam ini? Cukup beritahukan saja apa susahnya, hanya dia keluargaku saat ini, apa aku salah menanyakan keberadaannya? Apa aku tidak boleh mengkhawatirkannya, apalagi aku tidak melihat dirinya dari pagi, bahkan aku mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif, kenapa sepertinya aku saja yang cemas memikirkannya, kenapa aku lihat kalian baik-baik saja, dan tidak merasa khawatir sama sekali? Apa karena Alno bukan putra kandung keluarga ini?" Tubuh Kimmy meluruh dengan air mata yang berderai membasahi seluruh wajahnya.


Vier hanya bisa pasrah saat Vian menarik tangannya. Kalau tidak, Vier tidak tahu apa yang akan dia lakukan, dirinya begitu marah saat wanita itu menyebut Alno bukan bagian dari keluarganya, walaupun itu kenyataannya, tapi semua keluarganya tidak pernah mengungkit hal itu, dan dia yang orang asing berani mengatakan hal itu bahkan secara lantang. Jika tidak mengingat dia seorang wanita rasanya Vier ingin memberi pelajaran kepadanya karena sudah lancang berbicara seperti itu. 


"Jaga sikapku kalau masih ingin tinggal di rumah ini, jika tidak akan aku pastikan Kak Alno sendiri yang akan mengusirmu dari sini, dan jaga mulutmu itu, jika sampai kau berbicara hal itu lagi, tidak segan-segan aku akan merobeknya," ancam Vian yang terlihat tidak main-main sebelum pergi meninggalkan Kimmy sendiri.


Kimmy menatap kepergian kedua kakak adik itu, dengan mengepalkan tangannya erat.


*


*

__ADS_1


"Oma masih lama tidak disini?" Tanya Alno memandang Omanya yang asyik mengobrol bersama istrinya.


"Kenapa? Oma ganggu ya?" 


"Bukan seperti itu Oma, hmm jika Oma masih lama, bisakah Oma menemani Vira? Hmm kalau mau Oma juga bisa menginap," kata Alno menatap Oma dan istrinya bergantian.


"Memangnya Kak Alno mau pergi?"


Mendengar pertanyaan Vira, Alno pun mengangguk cepat.


"Iya, Kakak harus pergi, ada urusan yang harus Kakak selesaikan, kamu tidak apa-apa kan jika Kakak tinggal?" Alno menggenggam tangan istrinya.


Vira menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia menyetujui kepergian suaminya.


"Baiklah, Kak Alno hati-hati," ucap Vira memaksakan senyumnya.


Entah kenapa dalam hati Vira yang terdalam, dirinya sungguh tidak rela suaminya pergi saat ini, Vira begitu kecewa, apalagi dirinya tadi tidak sengaja mendengat saat suaminya tadi mendapat telepon dari seseorang dan menyebut-nyebut nama Kimmy. Tidak bolehkan Vira egois hanya ingin dirinya menjadi satu-satunya prioritas Alno, tanpa Alno memikirkan Kimmy? Sungguh Vira tidak tahu perasaannya saat ini, kecewa, sedih, marah, sakit dan juga takut.


Kecewa karena Alno meninggalkannya di malam keduanya menikah, sedih karena kemungkinan Alno pergi berkaitan dengan gadis bernama Kimmy, marah karena Alno meninggalkannya sendiri disini, iya mungkin saat ini, Vira bersama Omanya, tapi apa salah jika Vira juga ingin bersama suaminya, sakit hati Vira karena suaminya lebih memilih untuk pergi meninggalkannya dan lebih memilih untuk mengurus urusan yang dibilangnya itu, dan takut, Vira takut, kepedulian Alno terhadap Kimmy, justru akan membuat wanita itu semakin besar kepala dan melunjak. Bukan Vira tidak percaya pada cinta Alno untuknya, tapi bukankah sebagai perempuan tetap saja ada ketakutan tersendiri jika pria yang dicintainya dekat dengan wanita lain, itulah yang Vira rasakan saat ini, semua berkecamuk menjadi satu, hingga saat ini kepala Vira rasanya akan pecah memikirkan semua itu.


"Sayang kenapa melamun?" Tanya Alno yang melihat istrinya melamun, tidak tahu apa yang dipikirkan oleh wanita yang sangat dicintainya itu.


"Jika kamu tidak ingin aku pergi, ya sudah aku tidak akan pergi," kata Alno yang melihat istrinya seperti tidak suka pada apa yang dikatakannya tadi.


Tiffa hanya diam memandangi kedua cucunya, kemudian menghela nafasnya.


"Ya sudah sana pergi, mungkin kamu sudah ditunggu," ucap Vira memalingkan wajahnya tidak mau menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah aku pergi dulu ya, kamu baik-baik saja di rumah sama Oma, wajahnya jangan di tekuk gitu dong, senyum kaya gini," Alno menarik sudut bibir Vira ke atas agar istrinya tersenyum tidak cemberut lagi. Sebenarnya enggan untuk pergi tapi Alno terpaksa.


"Tidak peka," gumam Vira menatap kepergian suaminya dengan pandangan penuh kecewa.


__ADS_2