My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 54


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya seorang perempuan setelah berhasil mendobrak pintu.


"Kamu.." 


"Tidak perlu tahu siapa aku, sekarang kita pergi dari sini, ada hal yang harus kamu jelaskan pada seseorang kan?" Tanya perempuan penyelamat yang seakan tahu, apa yang ada di pikiran gadis yang ditolongnya.


Perempuan itu pun melepas ikatan pada kedua kaki dan tangan gadis itu.


"Kamu masih bisa jalan?"


"Hmm," gadis itu bergumam dan mengangguk.


"Ya sudah ayo!"


"Tunggu tapi tangan kamu terluka," ucap gadis itu melihat darah merembes dari lengan kemeja putih yang dikenakan oleh perempuan yang menolongnya.


"Itu tidak penting, kita harus pergi sekarang," perempuan itu menarik tangan gadis yang ditolongnya agar segera meninggalkan tempat.


"Tapi," gadis itu berusaha bertahan di posisinya semula, enggan untuk pergi, berbagai pikiran buruk berkecamuk di pikirannya. Jika orang yang menolongnya saja terluka cukup parah seperti itu, bagaimana jika mereka keluar berdua? Keduanya sama-sama seorang perempuan, mungkin saat masuk tadi, perempuan itu berhasil lolos ya walaupun dengan luka yang didapatnya. Tapi bagaimana kalau keluar?


"Kita tidak punya waktu Sisil, aku juga tidak bisa menghubungi siapapun, ponselku hilang. Kita harus memastikan keadaan Vira, jadi kita harus pergi sekarang juga!"  Teriak perempuan itu yang melihat gadis yang dipanggil Sisil hanya diam di tempat dan justru melamun di keadaan segenting ini.


"Orang yang menahanmu disini bukan sembarang orang, jadi kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya," tambahnya sedikit menurunkan nada suaranya, agar Sisil tidak ketakutan.


"Ba..bagaimana kamu tahu namaku?" 


"Itu tidak penting, kamu mau pergi tidak? Kamu tahu aku sampai meninggalkan sesuatu yang penting untuk menyelamatkanmu, tapi kamu seperti tidak menghargai aku dan bisa saja membuat pengorbanan yang aku lakukan sia-sia, terserah aku kasih kamu waktu satu menit untuk berpikir," kata perempuan itu menatap lurus ke depan.


"Baiklah kita pergi sekarang," putus Sisil akhirnya.


***


"Pagi," sapa Alno tersenyum menghadap ke arah Vira sambil menopangkan kepalanya dengan tangan kirinya, tangannya tidak sedikitpun berpindah masih setia melingkar di pinggang gadis itu.


Vira menutup wajahnya dengan selimut, ini bukan pertama kalinya mereka tidur bersama, tapi Vira tetap saja merasa malu.


"Ngapain ditutup? Yah gak asyik, Kakak jadi gak bisa memandangi wajahmu," Alno sedikit menarik selimut yang digunakan untuk menutup wajah Vira.


"Jangan di tarik!" Larang Vira semakin mengeratkan pegangannya pada selimut yang dipakainya.


"Sana kamu kembali ke kamarmu, jangan disini, selagi masih pagi, bagaimana nanti kalau Vian datang lagi seperti waktu itu, kamu gak sayang sama wajah kamu," ucap Vira sedikit menurunkan selimut, dan kini terlihat kedua matanya.


"Gak tuh, kan aku sayangnya cuma sama kamu," jawab Vira dengan senyuman yang tidak pudar.


"Gombal, inget masih pagi."

__ADS_1


"Berarti kalau siang dan malam boleh nih kalau Kakak gombalin kamu."


"Enggak, uda ah sono!" Vira mendorong Alno cukup keras, hingga Alno terjatuh dari tempat tidur.


"Akh!" Alno meringis memegang pinggangnya yang terasa nyeri.


"Maaf, aku tidak sengaja," Vira yang panik langsung turun dari ranjang dan membantu Alno berdiri.


"Kamu tidak apa-apa? Sakit banget ya," Vira menuntun Alno agar duduk di atas tempat tidurnya lagi.


"Aku benar-benar tidak sengaja," Vira menatap Alno dengan penuh merasa bersalah apalagi  saat melihat Alno hanya diam saja.


Vira terpekik kaget saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya hingga kini dirinya sudah terduduk di pangkuan Alno.


"Mengagetkan saja," gerutu Vira.


Alno hanya terkekeh, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Vira, hingga…


Tok


Tok


Vira refleks mendorong Alno, "Ada yang ketuk pintu," cicitnya pelan.


"Ya sudah kamu buka aja!" Jawab Alno enteng.


Tok


Tok


Ketukan pintu kembali terdengar.


Vira menatap pintu dan Alno bergantian, dirinya begitu gugup. Sementara Alno hanya mengisyaratkan kepada Vira untuk segera membuka pintu. Vira dibuat kesal lantaran Alno bersikap cuek dan malah kembali membaringkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur kemudian memainkan ponselnya. Dan Vira perhatikan jika Alno justru tidak merasa takut sedikitpun, sementara dirinya sudah ketakutan setengah mati, khawatir jika kejadian waktu itu terulang lagi, lebih menakutkan lagi, bagaimana jika yang mengetuk pintu adalah Mama dan Papanya, bagaimana Vira harus menjelaskan pada mereka saat mereka tahu, Alno ada di kamarnya.


Tok


Tok


Ketukan kembali terdengar, menarik Vira dari lamunannya.


"Mau kamu yang bukakan atau Kakak?" Tanya Alno yang melihat Vira hanya diam saja tidak beranjak sama sekali.


"Iya ini juga mau buka," akhirnya Vira pun melangkahkan kakinya ke pintu.


Dengan penuh keraguan akhirnya Vira membuka pintu itu dan ternyata Mamanya sudah ada di sana.

__ADS_1


"Ma..ma!" Ujar Vira gugup bahkan kini wajahnya sudah pucat pasi.


"Kenapa? Kamu lihat Mama sudah seperti melihat hantu saja."


"Ah tidak apa-apa Ma, Mama kenapa pagi-pagi sekali ke kamar Vira, ini belum waktunya sarapan."


Jasmine mengerucutkan bibirnya, "Jadi Mama tidak boleh ke kamar Putri Mama? Harus kalau mengacak sarapan dulu."


Vira menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "Mmm bukan seperti itu Ma, Vira hanya…


Vira terkejut saat tiba-tiba Papanya datang dan mencium bibir Mamanya yang tadi mengerucut.


"Sayang!" Protes Jasmine karena dirinya juga sangat-sangat terkejut.


"Kenapa cium-cium aku sembarangan? Apalagi ini di depan Vira loh,"


"Lagian tuh tadi bibir kamu minta dicium, ya sudah sayangkan jika tidak," ucap Stevano masa bodoh.


"Ih sayang ngeselin."


Vira geleng-geleng sendiri melihat tingkah Mamanya yang kadang suka seperti itu, akting Mamanya, tidak perlu diragukan lagi.


"Kenapa sampai manyun-manyun begitu, ada yang jahatin kamu?"


Vira memutar bola matanya, pada drama rumah tangga yang mungkin akan terjadi sebentar lagi.


"Tuh anak kamu, masa Mama mau masuk ke kamarnya tidak boleh," Jasmine mengadu kepada suaminya.


"Vira apa yang kamu lakukan kepada Istri Papa?"


"Pa.."


"Sudah lebih baik ayo Pa kita masuk sekarang, walaupun kamar ini berstatus kamar Vira tapi kan Papa yang buat," Jasmine segera memotong ucapan Putrinya.


Jasmine menarik suaminya masuk, Vira segera mencegahnya dan berusaha menghalangi.


"Ma, Pa, nanti saja ya, hmm lima menit, Vira akan beresin kamar Vira dulu, kamar Vira berantakan," Vira berujar memberikan alasan.


Jasmine menatap putrinya curiga, "Kenapa? Ada yang kamu sembunyikan dari Mama?"


"Ti..tidak Ma, mana mungkin."


"Terus kenapa gugup seperti itu? Ayo jujur saja sama Papa! Apa yang kamu sembunyikan? Jangan bilang kamu menyembunyikan seorang pria di dalam," kali ini Stevano ikut memandangi putrinya dengan tatapan menyelidik.


"I..itu," jawab Vira tergagap.

__ADS_1


Stevano dan Jasmine sudah tidak sabar lagi untuk masuk, keduanya saling pandang dan menerobos ke dalam kamar putrinya.


Deg


__ADS_2