
"Kamu yakin tidak akan memberitahu Alno tentang ini?" Tanya Stevano menatap istrinya memastikan sekali lagi,
"Ya, ini yang terbaik, dan suatu saat Alno akan tahu dengan sendirinya," jawab Jasmine menatap suaminya penuh keyakinan.
"Bagaimana dengan Vira, bagaimana jika mentalnya karena terganggu karena ini?" Stevano tidak tahu apa yang istrinya pikirkan saat ini.
"Kita cukup awasi dia."
"Sayang tapi.."
"Please aku mohon, turuti keinginanku, kamu percaya sama aku seperti dulu, dan semua akan baik-baik saja," ucap Jasmine dengan tatapan memohon.
Stevano hanya pasrah sambil menghela nafasnya, melihat istrinya yang memohon seperti itu.
Ceklek
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Vira berjalan perlahan menghampiri kedua orang tuanya, Stevano bangun dari duduknya dan langsung memeluk sang putri, Vira membalas pelukan Papanya dan tak terasa air mata yang tadi sempat terhenti kini kembali mengalir, seakan air matanya tidak akan pernah habis.
Stevano mengusap punggung putrinya dengan penuh kelembutan.
"Menangislah sayang, keluarkan semuanya rasa sesak yang sekarang menghimpit dadamu, ada Papa, ada Mama dan saudara-saudaramu, kamu tidak sendiri sayang, kamu punya banyak tempat bersandar disaat dirimu lelah," Stevano melonggarkan pelukannya, di hapus air mata yang membasahi wajah Vira dengan kedua ibu jarinya.
"Tapi setelah ini, kamu harus kembali tersenyum, kamu tidak boleh bersedih lagi," kata Stevano dengan mata yang berkaca-kaca, jujur dirinya tidak sanggup melihat putrinya sesedih ini. Tapi Stevano harus kuat, agar putrinya juga kuat.
"Sekarang kita pulang ya," kata Jasmine menghampiri anak dan suaminya.
Vira hanya mengangguk mengiyakan ajakan Mamanya.
Ketiganya pun keluar dari kamar itu, sesampainya di depan pintu, tidak bisa dipungkiri untuk Vira agar tidak menatap sekeliling, nyatanya kini pandangannya justru menyorot sekitar depan kamar yang akan mengubah hidup Vira kedepannya.
"Bilangnya mau menikah, tapi lihatlah, sekarang mereka berdua entah kemana," Vira begitu kecewa melihat jika tidak ada Alno maupun Kimmy di tempat itu.
__ADS_1
"Ayo sayang!" Jasmine memegang kedua lengan putrinya, agar segera pergi dari sana, apalagi saat melihat raut wajah putrinya yang berubah muram, yang dapat Jasmine pastikan jika hal itu terjadi karena, tidak ada keberadaan Alno disana.
Vira berjalan mengikuti Mamanya, tapi berkali-kali dirinya menengok ke belakang, seperti merasa ada sesuatu yang tertinggal disana.
Vira terus berjalan menjauh, hingga semua yang tadi dia pandangi hilang, karena posisinya yang semakin jauh, bahkan kini Vira dan kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam sebuah mobil mewah milik Papanya, hingga akhirnya mobil itu melaju meninggalkan hotel tempat Vira merasakan kenangan pahitnya.
Sepanjang jalan Vira hanya melihat kosong jalan-jalan yang dia lewati yang dia lihat dari jendela mobilnya. Jasmine dan Stevano saling pandang, berakhir dengan keduanya menghela nafas bersama.
"Vira sayang, ada yang harus Mama bicarakan," ucap Jasmine yang membuat Vira langsung menatap ke arahnya dan sang Papa bergantian.
***
Seorang gadis tampak baru saja membuka matanya. Pandangannya melihat ke sekeliling, tapi dirinya begitu terkejut saat tersadar bahwa dirinya kini berada di tempat yang asing, bahkan dalam keadaan terduduk dengan tangan dan kaki dalam kondisi terikat.
Dirinya terus berteriak minta tolong, berharap akan ada orang yang menolongnya, tubuhnya rasanya sudah tidak bertenaga lagi, mungkin dirinya sudah di kurung di tempat itu dalam waktu yang cukup lama, tiba-tiba saja air matanya mengalir mengingat kejadian sebelum dirinya seperti ini, jika dia seperti ini, bagaimana dengannya? Tangis yang awalnya biasa saja kini semakin kencang saat membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, dia memejamkan matanya erat, sungguh berharap akan ada seseorang yang datang yang akan membebaskannya. Hingga kini detak jantungnya semakin cepat, saat dia mendengar suara pintu yang ditendang cukup keras dari arah luar. Dia menggigit bibirnya takut jika yang datang adalah orang yang berbuat hal seperti ini padanya.
.
.
"Bren**ek!" Makinya berteriak mengisi seluruh isi ruang kamarnya.
"Aku akan membalas apa yang kalian lakukan, aku akan menghancurkan kalian dengan tanganku sendiri! Kalian tunggu saja, hingga waktu itu tiba, aku akan membuat hidup kalian menderita dan aku tidak akan memaafkannya.
Brak!
Crank
Terdengar suara yang memekakan telinga saat kaca yang utuh kini menjadi hancur berkeping-keping.
"Aku akan membalas untukmu sayang, aku akan membuat mereka membayar atas apa yang mereka lakukan padamu, kamu tunggu saja sayang, sebentar lagi, Kakak janji sebentar lagi.
__ADS_1
Tangan Alno masih mengepal dengan darah yang terus menetes, akibat Alno menghantam cermin yang ada di depannya.
Alno menghubungi nomor orang kepercayaannya, tapi nomor itu tidak aktif membuat Alno geram sendiri. Akhirnya Alno memutuskan menghubungi nomor orangnya yang lain.
"Kalian cari gadis itu sampai ketemu, bahwa dia kehadapanku dalam keadaan hidup-hidup," ucapnya pada orang suruhannya.
"Sisilia kau benar-benar akan habis, jika sudah berani menyentuh milikku," gumam Alno dengan meninjukan tangan kanannya di telapak tangan kirinya. Rasanya seolah rasa sakit pada tangannya hilang begitu saja.
Alno kemudian keluar dari kamar mandi, dan terkejut saat melihat Papa dan Mamanya ada di sana.
"Pa! Ma!"
"Sayang apa yang terjadi? Kenapa dengan tanganmu? Apa yang habis kau lakukan? Ayo sini biar Mama obati," Jasmine begitu panik melihat kepalan tangan Alno yang penuh darah, melihat itu Jasmine langsung menarik tangan kiri Alno membawanya ke atas tempat tidur.
"Duduk!" Perintah Jasmine mengambil kotak obat yang ada di lemari nakas.
"Ma, Alno tidak apa-apa, Alno bisa mengobati ini sendiri," jawab Alno yang melihat kepanikan Mamanya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Lihatlah darahnya bahkan tidak mau berhenti," ujar Jasmine yang mendekat dengan membawa kotak obat.
"Kenapa sih bisa seperti ini?" Jasmine tampak membersihkan darah putranya.
"Hmm itu..," Alno memalingkan wajahnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil berpikir mencari alasan yang tepat.
"Hmm sudahlah, jika tidak mau mengatakannya," Jasmine dengan pelan-pelan membalut tangan Alno dengan perban, tangan Jasmine sudah terlatih saat melakukan itu, karena dulu dia juga sering melakukan itu ketika suaminya terluka.
Setelah Jasmine selesai mengobati luka putranya, Jasmine kini memandang ke arah suaminya, dimana dia berdiri di dekat posisinya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada sedang menatapnya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Mengenang masa lalu?" Tanya Jasmine sambil membereskan peralatan yang tadi digunakan.
Alno menoleh ke belakang, karena Papanya memang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Hmm iya, bagaimana jika dulu kamu menyerah menghadapiku, meninggalkanku disaat aku menyuruhmu pergi, aku pasti tidak akan sebahagia ini, memiliki anak-anak yang begitu mirip seperti aku juga sepertimu, aku benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu," Stevano mendekat dan memeluk dari belakang tubuh mungil istrinya yang masih duduk. "Terima kasih sayang, terima kasih karena terus bertahan di sisiku, tak peduli bagaimana aku," tambahnya kemudian mengecup penuh rasa puncak kepala Jasmine.