
Hari-hari yang ditunggu-tunggu keluarga Stevano akhirnya datang juga, hari dimana putra mereka mengajak kekasihnya untuk makan bersama untuk pertama kalinya selama mereka berpacaran 6 tahun lamanya. Entah usaha apa yang Vier lakukan hingga membuat kekasihnya yang dikenal nama dengan nama Sheira menyetujui untuk bertemu keluarga Vier untuk sekian lama. Padahal jika dipikir-pikir, Sheira selalu menolak keinginan Vier yang mengajaknya untuk bertemu dengan keluarganya.
"Ma, kenapa harus repot-repot masak segala sih Ma bahkan Mama yang turun tangan menyiapkan semuanya, masih ada pelayan yang bisa mempersiapkan," ucap Vier melihat Mamanya yang masih di dapur sedang menata makanan hasil masakannya.
"Ya tidak boleh begitu dong sayang, ini kekasih kamu loh yang datang, dan Mama ingin menyambutnya menunjukkan ketulusan Mama menjadikannya bagian dari keluarga kita, eh tunggu dulu, kenapa kamu masih disini?" Tanya Jasmine ketika berbalik badan yang baru menyadari keberadaan sang putra yang tadi di belakangnya.
"Ya tentunya ke rumah Sheira dong Vier, kamu jemput dia," ujar Vira yang baru saja turun dari kamarnya.
"Iya itu benar apa yang dikatakan saudara kamu sayang, seharusnya kamu yang jemput dia biar romantis," ucap Jasmine setuju dengan apa yang Vira katakan.
"Dia tidak mau Ma, katanya mau datang sendiri, dia hanya minta alamat rumah kita," jawab Vier membantu Mamanya membawakan makanan ke meja makan.
"Jangan jemput, rumah dia saja aku tidak tahu," gumam Vier dengan suara yang amat pelan, berharap tidak ada yang mendengarnya tapi sayang, itu hanya sebuah harapan Vier saja, karena kembarannya bisa mendengar apa yang Vier ucapkan tadi.
"Ya sudah sana, kamu siap-siap saja, biar aku yang membantu Mama," kata Vira mendorong tubuh Vier agar menjauh.
"Ya sudah, baiklah kalau gitu aku ke kamar dulu mau siap-siap, sayang kalian deh," ujar Vier yang kemudian mencium pipi Jasmine dan Vira bergantian.
"Siapa yang mengizinkan kamu mencium istriku," kata dua orang yang baru saja datang. Siapa lagi jika bukan Stevano dan Alno.
"Hanya sedikit Pa, Kak," teriak Vier yang sudah kabur lebih dulu setelah mendapat tatapan tajam dari Papa dan Kakaknya.
Stevano langsung mencium pipi Jasmine yang tadi dicium Vier, sementara Alno mengambil tisu dan menghapus bekas ciuman adiknya. Alno masih malu jika mengumbar kemesraan di depan orang lain.
Sementara Jasmine dan Vira kompak memutar bola matanya merasa jengah perilaku dua pria yang posesifnya kebangetan. Toh yang nyium mereka adalah keluarganya, tapi begitulah tingkah Stevano dan Alno.
"Sudah sana, kalian siap-siap dulu saja," kata Jasmine menghentikan aksi keduanya.
"Hmm baiklah, aku bersiap dulu," kata Stevano mengecup bibir istrinya sekilas sebelum dirinya pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri, setelah dirinya menghabiskan waktunya di kantor seharian, mengajari semuanya pada Alno yang sudah siap untuk menggantikan posisinya.
__ADS_1
"Aku juga mau ke kamar dulu Ma," pamit Alno pada Jasmine dan Jasmine pun mengiyakan, Alno pun segera berlalu meninggalkan kedua wanita yang sedang sibuk itu.
Jasmine menyenggol lengan Vira, saat putrinya itu masih sibuk membantunya.
"Kenapa Ma?" Tanya Vira menatap Mamanya bingung.
"Bantu suami kamu dulu sana!"
"Kenapa harus dibantu, Kak Alno bisa sendiri kok," jawab Vira yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Sayang!" Jasmine menatap Vira tajam.
"Hmm iya baiklah, ya sudah kalau begitu Vira bantu Kak Alno dulu," pamit Vira yang langsung ke atas menyusul suaminya meninggalkan Mamanya sendirian di dapur.
Sesampainya di atas, tepatnya di kamarnya. Vira tidak menemukan keberadaan suaminya, tapi dapat Vira dengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan bahwa Alno ada di dalamnya.
Vira menuju ke walk in closet menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya sekaligus menyiapkan pakaian untuk dirinya sendiri yang akan dipakai nanti.
"Kak pakai baju dulu!"
"Nanti pasti dipakai, sekarang biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Alno menumpukan dagunya di bahu Vira menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.
"Kak lepasin geli!"
"Kakak kangen banget sama kamu, seharian ini tidak melihat kamu rasanya sangat beratnya. Mungkin lebih baik Kakak di rumah saja deh, atau kalau enggak kamu yang ikut Kakak ke kantor, biar kita bisa sama-sama terus," ucap Alno yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan aneh-aneh deh Kak, kalau Kakak tidak bekerja kita akan makan apa?"
"Ya kita bisa nebeng Papa kan sayang."
__ADS_1
"Akh!" Kok di cubit sih sayang?" Protes Alno mengelus bekas cubitan istrinya di perutnya.
"Lagian Kak Alno nih, kalau bicara sembarangan saja deh," Vira berbalik badan hingga posisi mereka kini saling berhadapan.
"Sudah sana pakai dulu bajunya!"
Bukannya menuruti apa yang diperintahkan istrinya, Alno justru kembali memeluk Vira, pelukan yang bisa mengobati rasa rindu yang dirasakannya seharian ini.
Vira pun akhirnya membalas pelukan suaminya tak kalah erat, dirinya juga sebenarnya rindu, tapi Vira gengsi jika harus mengatakannya. Apalagi ini baru pertama kalinya mereka berpisah seharian setelah menikah. Entah Vira jahat atau tidak, merasa senang atas kepergian Kimmy, karena semenjak kepergian gadis itu 3 hari ini, membuat hidup Vira damai, Vira tidak harus menahan kekesalannya karena rasa cemburunya. Dan Vira sangat berharap semoga Kimmy tidak datang lagi mengusik rumah tangganya. Tidak hanya satu Kimmy, tapi Kimmy-Kimmy yang lain juga.
"Kamu juga merindukan Kakak kan?" Ucap Alno tersenyum saat mengetahui jika istrinya juga merindukannya.
Vira langsung melepaskan pelukannya, "Tidak kata siapa? Jangan kegeeran deh," ucap Vira memalingkan wajahnya, tidak ingin suaminya melihat wajahnya yang mungkin saja sudah memerah karena malu telah ketahuan.
"Benarkah? Tapi wajah kamu blushing gitu loh sayang," kata Alno menggoda istrinya sambil menunjuk kedua pipi Vira yang tampak merona.
"Sudah cepat sana segera pakai pakaiannya!" Vira mendorong suaminya agar segera melakukan perintahnya.
"Sayang wajah kamu sudah seperti udang rebus loh," kata Alno tidak ada henti-hentinya menggoda Vira, sementara yang digoda hanya mengulum senyum sambil berjalan menunduk.
"Kak!" Vira berhenti mengangkat wajahnya dan menatap Alno tajam.
"Kenapa my wife?"
"Berhenti menggodaku sekarang kalau tidak nanti malam kamu tidur di luar!" Ancam Vira membuat nyali Alno menciut.
Dengan segera Alno mengambil pakaian yang sudah disiapkan istrinya, Vira yang melihat itu hanya bisa menahan tawanya.
Setelah perdebatan tadi, akhirnya pasangan pengantin baru itu pun kini telah siap, dengan menggunakan kemeja berwarna senada dengan gaun selutut yang dipakai istrinya, Alno keluar dari kamar sambil menggandeng tangan istrinya menuju ke ruang makan dimana, keluarganya sudah menunggu mereka.
__ADS_1
Sesampainya disana mereka dibuat bingung saat melihat ekspresi wajah Vier yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.