My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 104


__ADS_3

"Bagaimana Ma?" Tanya Vira begitu melihat mamanya keluar lebih dulu.


"Paman Jason dan Bibi Lily merestui Vian bersama Cinta," jawab Jasmine menghela nafasnya berat.


"Ma tapi, tadi Cinta…"


"Tidak apa-apa sayang, semua akan baik-baik saja, sudah kamu jangan pikirkan hal ini ya," kata Jasmine tersenyum.


Vira menatap suaminya dan suaminya mengangguk, apa yang dikatakan mamanya sama seperti apa yang dikatakannya tadi.


"Lebih baik kalian istirahat saja, oh ya Aulia sama Senja mana?" Tanya Jasmine yang tidak melihat dua anak Lily yang lainnya.


"Aulia ada di kamar Ze, dan Senja ada di kamar Vian Ma," jawab Alno.


Tak lama ke empat orang lainnya keluar, bahkan Vira lihat, baik papanya, Paman Jason dan Bibi Lily, terutama Vian, adiknya nampak tenang-tenang saja, dan Vira akhirnya bisa bernafas lega, ya walaupun belum sepenuhnya lega, karena kedepannya Vira yakin bahwa akan masalah lagi terjadi diantara dua keluarganya.


Tapi melihat papanya yang sekarang tampak asyik mengobrol dengan Paman Jason, Vira yakin jika mama dan papanya sudah memikirkan ini semua juga konsekuensinya.


"Sayang, kenapa masih disini?" Tanya Stevano yang melingkarkan kedua tangannya di leher sang istri dari belakang.


"Kalian juga kenapa tidak istirahat lagi aja?" Tanya Stevano memandang anak-anaknya.


"Hmm iya ini juga mau istirahat lagi, ayo sayang," setelah menjawab papanya kini Alno mengajak istrinya untuk kembali ke kamar.


*


*


*


Beberapa bulan kemudian


Hari ini Alno terlihat gelisah, dari tadi dia hanya mondar-mandir. Vira yang terbaring di ranjang rumah sakit jadi tertawa melihat tingkah lucu suaminya.


"Kak," Vira memanggil suaminya, lama-lama Vira jadi pusing melihat itu. Vira sudah sejak pagi dibawa ke rumah sakit karena dia sudah mulai kontraksi. Alno yang sudah berangkat ke kantor langsung bergegas menuju rumah sakit, setelah mendapat kabar itu dari mamanya.


"Vira yang mau lahiran kenapa kamu yang keringatan Alno," Lily meledek anak sahabatnya itu.


Lily yang tadi memang di rumah Jasmine memutuskan untuk ikut ke rumah sakit menemani sahabatnya.


Alno tidak menjawab, dia malah menghampiri sang istri, menggenggam tangannya dan juga mengelus rambut Vira penuh kelembutan.


"Kamu yang kuat ya sayang, kakak akan selalu menemani kamu disini."

__ADS_1


Vira hanya mengangguk, sebenarnya rasa sakitnya hilang timbul tapi Vira tidak begitu memperlihatkannya. Tapi tiba-tiba Vira meringis karena sakit yang kembali datang, rasa sakit yang lebih sakit dari sebelumnya.


Alno tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Vira memejamkan mata menggenggam tangan Alno kuat, terlihat sedang menahan rasa sakitnya. Hingga tak lama dokter pun datang. Dokter kemudian memeriksa.


"Kita pindah ke ruang bersalin sekarang," ucap sang dokter, perawat kemudian bersiap memindahkan Vira ke ruang bersalin.


Semua anggota keluarga yang datang mengikuti di belakangnya. Alno tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada sang istri barang sedetikpun. Ia terus membisikkan kata-kata penyemangat memberikan kekuatan pada sang istri yang akan membawa buah cinta mereka ke dunia.


Semua anggota keluarga lainnya menunggu di depan ruang bersalin dengan perasaan harap-harap cemas, dan jantung yang berdebar. Sementara Alno menemani sang istri melahirkan di dalam.


"Tarik nafas perlahan, dorong...tarik nafas lagi...dorong," dokter terus memberikan instruksi pada Vira.


Alno menyeka keringat istrinya yang bercucuran membasahi seluruh wajah Vira dengan telaten. "Kamu pasti bisa sayang," bisik Alno kemudian mengecup kening istrinya.


"Iya sedikit lagi…


"Oek, oek, oek," suara tangis bayi menggema seketika di dalam ruangan itu. Tangis yang cukup kencang hingga bisa di dengar orang-orang yang berada di luar, yang langsung mengucap syukur. 


Sementara di dalam ruangan, air mata Alno dan Vira langsung mengalir sangat tangis bayi mereka pecah. Sungguh Alno tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang meledak di dalam dadanya. Alno langsung mencium seluruh wajah istrinya bertubi-tubi. 


Vira di tengah rasa sakitnya tersenyum, saat suara tangis bayinya terdengar, di saat itu pula, Vira merasa semua rasa sakitnya menguap begitu saja, anaknya telah lahir ke dunia.


"Makasih sayang, makasih, makasih sudah membawa anak kita ke dunia ini, I Love You." Ucap Alno mencium kening istrinya lama  dan Vira hanya tersenyum mendengar ucapan cinta dari suaminya.


*


*


*


"Mukanya mirip Vira sekali," komentar Lily yang kini duduk di sofa bersama Jasmine yang sedang menggendong cucu pertamanya.


Vira kini sudah dipindahkan di ruang rawat, selain suaminya ada papa dan mamanya, juga Bibi Lily yang dari awal menemaninya.


Alno hanya mengerucutkan bibirnya, karena semua yang sudah melihat anaknya, bilang jika putrinya sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengannya.


"Sudah terima saja Alno, kamu itu kebagian bikinnya doang," kata Lily lagi yang senang menggoda Alno.


Jasmine dan Vira hanya geleng-geleng kepala. Stevano berjongkok di depan Jasmine dan memainkan tangan mungil cucunya, tak memberikan komentar apa-apa.


"Namanya siapa sayang?" Tanya Jasmine memandangi cucunya.


"Aira Yefara Anderson," ucap Alno dan Vira saling tatap dan keduanya tersenyum.

__ADS_1


"Aira, nama yang cantik," kata Lily.


"Hai Aira, sama nely yuk," kata Lily yang kemudian mengambil gendongan Aira dari Jasmine.


"Rasanya tidak sabar punya cucu, seperti kamu Mine," kata Lily sambil mengelus pipi bayi mungil itu.


*


*


Setelah dirawat beberapa hari, akhirnya Vira diijinkan pulang, semua keluarga besar sudah menunggu kepulangannya.


Welcome home Baby Aira.


Hari ini Alno dan Vira mengadakan acara syukuran, acara syukuran atas kelahiran anak mereka. Tidak banyak yang diundang, hanya keluarga besarnya saja, dan itu juga bisa dikatakan banyak.


"Kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya?" Tanya Vira melihat kembarannya yang sedang menggendong Aira.


Vier menoleh dan berbalik, "Hmm tidak, mau menemani Aira saja," katanya kemudian kembali sibuk dengan Aira yang tampak anteng dalam gendongannya.


Vira menghela nafas, dia tahu bagaimana perasaan Vier saat ini, Vira tidak akan melarang Vier tetap bersembunyi di kamarnya, Vira akan membiarkan Vier tetap bersama putrinya, daripada dia melihat Vier terluka karena adanya Ken dan Sheira di rumahnya.


"Aira pipis tidak?"


"Tidak."


"Vier."


"Hmm," jawab Vier hanya dengan gumaman.


"Kamu baik-baik saja?" 


Vier kembali menoleh mendengar pertanyaan Vira, dilihatnya wajah kembarannya yang nampak jelas ada kekhawatiran disana.


Giliran Vier yang kini menghela nafasnya.


"Aku baik-baik saja," katanya kemudian.


"Sepertinya Aira haus," kata Vier yang kemudian menyerahkan Aira kepada Vira saat bayi itu mulai menangis.


"Aira haus sayang? Sini, sini sama Mama," kata Vira kemudian mengambil alih Aira dari gendongan Vier.


"Aku cuma butuh waktu untuk berdamai dengan hatiku, jadi kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku," kata Vier lalu memutuskan untuk keluar dari kamar Vira begitu melihat pintu kamar Vira dibuka seseorang.

__ADS_1


__ADS_2