My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 78


__ADS_3

"Kamu duduk dulu, aku ambil makanannya," kata Alno membantu istrinya untuk duduk di sofa, kemudian dia berjalan untuk mengambil nampan berisi makanan yang tadi dia letakkan di meja dekat pintu.


"Sekarang waktunya kita makan," Alno meletakan nampan dan ikut duduk di samping istrinya.


"Tunggu!" Kata Vira menghentikan gerakan suaminya yang hendak menyuapinya.


"Kenapa Kakak masih di rumah? Seharusnya Kakak kan…"


"Tadi aja nangis waktu tidak menemukan Kakak, sekarang ucapan kamu, seperti ingin mengusir Kakak saja," kata Alno meletakkan sendok di piring.


"Bukan seperti itu Kak, tapi.."


"Kakak akan berangkat nanti, mungkin sehari sebelum acara Ken, Kakak tidak tega terlalu lama meninggalkan kamu sendiri sayang, Kakak juga sudah membicarakan ini sama Mama dan Papa, mereka juga setuju sama keputusan Kakak, lagian Kakak yakin Paman Max dan Bibi Bunga juga mengerti," ucap Alno menjelaskan.


"Sungguh Kak?" Tanya Vira dengan mata yang berbinar.


"Iya sayang, sekarang makan ya, setelah ini kita jalan-jalan, mau kan? Bukankah kita jarang sekali jalan-jalan?" 


"Mau Kak, mau, kita mau kemana?" Vira tampak semangat saat suaminya mengajaknya jalan-jalan, apalagi sejak kepergian Alno, dan status mereka berubah, keduanya tidak pernah pergi berdua.


"Tapi kita makan dulu ya, anak kita pasti kelaparan nih di dalam sini," ucap Alno memegang perut istrinya.


"Hmm baiklah, sekarang Kak Alno suapin aku," kata Vira membuka mulutnya.


Vira pun makan makanan suapan dari Alno dengan lahap.


"Hmm kita mau kemana Kak?" Tanya Vira di sela makannya.


"Hmmm kemana ya," Alno tampak berfikir.


"Bagaimana kalau kita ke taman, pasti jam…"


"Tidak," jawab Vira berteriak memotong ucapan Alno. Membuat Alno terlonjak kaget.


"Maaf Kak, aku tidak bermaksud meneriaki Kakak," kata Vira merasa bersalah ketika menyadari dirinya sudah berteriak pada suaminya.


"Aku hanya tidak mau kita ke taman, kita cari tempat lain saja ya Kak."


"Kak, Kakak marah ya, aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud…" ucap Vira yang melihat suaminya hanya diam karena tadi.

__ADS_1


"Apa ini ada kaitannya dengan mimpi kamu sayang?" 


"Hmm itu..," 


"Jawab Kakak dengan jujur sayang," kata Alno memegang kedua bahu Vira dan menatap istrinya lekat.


"Iya Kak, aku takut, aku takut terjadi sesuatu sama Kakak. Kejadian itu, terjadi di taman makanya aku tidak mau ke taman."


"Sayang, Kakak sudah bilang, mimpi hanya bunga tidur, jangan terlalu dipikirkan ya. Baiklah kita pergi ke tempat lain, kamu maunya kemana?" Tanya Alno meminta saran sama istrinya.


"Hmm kemana ya, aku juga tidak tahu mau kemana Kak, gimana dong?"


"Ya sudah, kamu ikut Kakak saja jika memang bingung, Kakak yang akan memutuskan kita akan pergi kemana. Sekarang kamu siap-siap dulu, biar Kakak bawa piring kotor ini ke dapur dulu," ucap Vier sambil membereskan bekas makan dirinya dan sang istri tadi.


"Baiklah terserah Kakak saja. Tapi aku mau mandi dulu ya sebentar kok, kan aku belum mandi? Vira berujar meminta izin takut suaminya menunggu terlalu lama.


"Iya, kamu mandi dulu saja," jawab Alno bangkit dari  duduknya membawa piring kotor bekas makannya ke dapur.


*


*


Istrinya sedang mematut diri di depan cermin. 


"Jangan cantik-cantik nanti ada yang tertarik, ucap Alno memperingati istrinya.


"Tidak, ini biasa saja kok, ya sudah Ayo nanti keburu siang," Vira berdiri dan mengajak suaminya untuk bergegas.


"Siapa juga yang lama," gumam Alno yang masih didengar oleh Vira.


"Kamu bilang apa tadi Kak?" Tanya Vira memicingkan matanya menatap Alno.


"Hah, tidak, tidak bilang apa-apa," jawab Alno memalingkan wajahnya tidak berani menatap istrinya.


"Wajarkan jika lama, namanya aja perempuan, kan banyak yang harus dilakukan jika mau pergi," jawab Vira meninggalkan Alno yang hanya bisa bengong mendapatkan jawaban dari istrinya.


"Jadi dia mendengar apa yang aku katakan tadi," kata Alno menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cepat Kak! Tadi aja bilang aku lama, sendirinya seperti siput," teriak Vira mengejutkannya.

__ADS_1


"Galak banget sih istriku untung saja cinta, jika tidak…"


Vira berbalik badan  dan menatap Alno tajam.


"Jika tidak apa… cepat katakan!"


"Jika tidak, hmm jika tidak…" Alno berpikir, akan menjawab apa. "Aduh kenapa aku jadi gugup seperti ini sih?" Lanjut Alno dalam hatinya.


Vira menghampiri suaminya. Alno dibuat gugup karena itu.


"Apa yang istriku akan lakukan? Kenapa aku jadi deg-deg an seperti ini? Duh apalagi melihat tatapannya, rasanya aku mau diterkam saja," batin Alno berkata.


"Sudah lupakan, sekarang ayo jalan Kak! Aku sudah tidak sabar untuk jalan-jalan berdua bersama Kakak," ujar Vira menggamit lengan suaminya manja.


Entah kenapa Alno, merasa lega tiba-tiba, "Apa wanita hamil moodnya suka berubah-ubah seperti ini? Tadi aja galak, sekarang manja," lagi-lagi Alno hanya bisa mengatakan apa yang dirasakannya dalam hati saja, jika mengatakannya langsung, bisa-bisa istri tercintanya akan marah lagi.


"Kak kenapa diam saja? Ayo!" Ajak Vira membuyarkan apa yang suaminya pikirkan saat ini.


"Oh, yaudah Ayo!" Jawab Alno dan sepasang suami istri itu pun keluar dari kamar, melanjutkan rencananya yang akan pergi jalan-jalan saat ini.


Dengan kecepatan rata-rata, Alno melajukan mobilnya ke tempat yang akan menjadi tujuannya.


"Kita mau kemana Kak?" Tanya Vira ingin tahu kemana tujuan Alno membawanya.


"Nanti kamu juga tahu sayang," jawab Alno menoleh sebentar ke arah istrinya dan kembali fokus pada kemudi.


"Menyebalkan," gerutu Vira mengerucutkan bibir dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Alno hanya tersenyum melihat kekesalan di wajah istrinya saat ini, ditambah saat mereka telah sampai ditempat tujuannya.


"Taman? Kenapa Kakak membawaku ke taman? Kan aku sudah bilang ke kakak, kalau aku tidak mau ke taman? Aku mau ke tempat lain tapi tidak ke taman," marah Vira setelah tahu kemana tempat tujuan mereka.


"Sayang kok kamu marah, kan tadi kamu bilang terserah Kakak, saat Kakak bilang, Kakak yang memutuskan kemana kita akan pergi."


"Tapi kan aku sudah bilang, aku tidak mau ke taman. Tapi sekarang apa? Kakak justru membawaku kesini."


"Disini kita bisa rileks sayang, daripada kita ke pusat perbelanjaan, terlalu bahaya buat kalian, kamu dan anak kita. Kalau di taman, kita bisa duduk-duduk santai, kita bisa…"


Vira memotong ucapanya suaminya cepat. "Kalau mau duduk santai lebih baik kita di rumah saja, tidak perlu ke taman ini," jawabnya kesal.

__ADS_1


Sebenarnya Vira tidak masalah jika harus pergi ke taman, tapi Vira benar-benar takut, takut jika mimpinya akan jadi kenyataan.


__ADS_2