
"Ma, Kak Alno mana?" Tanya Vira yang belum melihat suaminya sehabis dia terbangun tadi.
Sebelum tidur Alno yang menemani Vira, dan begitu bangun, Vira tidak melihat keberadaan suaminya, tapi justru melihat mamanya bersama dokter yang kemudian memeriksa Vira dan menyatakan bahwa hari ini Vira sudah diperbolehkan pulang.
"Kak Alno tadi keluar sama papa, kenapa? Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Jasmine.
"Tidak Ma, hanya saja Kak Alno lama perginya."
Jasmine tersenyum, "Sebentar lagi pasti juga akan kembali kok, kamu sabar aja ya," ucapnya yang tahu apa yang dirasakan putrinya, persis seperti dirinya dulu saat hamil Zeline, Jasmine tidak bisa jauh dari suaminya walau hanya sebentar saja, karena satu jam terasa seharian bagi Jasmine dan Jasmine tidak suka itu.
Kemudian pandangan mereka berdua tertuju pada seseorang yang saat ini tengah membuka pintu, sosok orang yang dicarinya kini menampakkan wajahnya juga.
"Tuh apa Mama bilang, benar kan?" Kata Jasmine merasa bangga saat tebakannya benar membuat Vira langsung tersenyum.
"Kenapa Ma?" Tanya Alno heran saat melihat kedua wanita yang dicintainya tersenyum.
"Ini nih, istrimu sudah merindukanmu, padahal kamu cuma pergi beberapa menit yang lalu tapi bilangnya lama," kata Jasmine mengadu.
"Mama," Vira tersipu malu, karena mamanya membongkar semua itu.
Alno ikut tersenyum dan mendekat menghampiri kedua wanita itu.
"Benar sayang, apa yang Mama katakan?" Tanya Alno yang justru membuat wajah Vira semakin merona.
Vira hanya mengangguk malu, dan terkejut ketika suaminya tiba-tiba mengecup sekilas bibirnya dan memeluknya apalagi di depan mamanya, Vira benar-benar merasa malu.
"Kakak masih ada mama," bisik Vira pelan.
"Kenapa memangnya? Biarkan saja, lagian Mama juga pernah muda pasti tahu apa yang kita rasakan, iya nggak Ma?" Tanya Alno terang-terangan menatap mamanya.
"Kak Alno," Vira mencubit perut suaminya membuat Alno meringis.
__ADS_1
Tak lama Stevano pun masuk, Jasmine langsung berjalan menghampiri suaminya yang masih terlihat tampan.
"Sayang, lihatlah mereka mesra-mesraan di depanku saat kamu tidak ada," ucapnya mengadu dan langsung memeluk suaminya.
Alno dan Vira melepas pelukan mereka, dan langsung beralih pandangan ke arah mamanya.
"Ya sudah kan aku sudah datang, jadi kita bisa mesra-mesraan juga," kata Stevano membalas pelukan istrinya erat.
Jasmine mengangguk di pelukan suaminya. Vira dan Alno saling pandang, kemudian keduanya kembali berpelukan.
*
*
Calista sudah sadarkan diri, dan tidak hanya fisiknya, nyatanya kejiwaan Calista juga diguncang, begitu mendengar berita tentang putrinya. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri, dia mengamuk karena secara tidak langsung dirinyalah yang membuat putrinya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Kimmy sayang, Kimmy! Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tinggalin Mom sendiri?" Teriak Calista histeris.
"Dokter, dokter tolong ibu saya," teriak Zein putra Calista memanggil dokter, karena bukan hanya cuma berteriak, Calista kini juga mengamuk, membuang apa saja yang ada di ruangan itu.
Calista pun akhirnya tenang, matanya terlihat sayu, di tengah kesadarannya, Calista mengingat tentang putrinya, putrinya yang menemani dia disaat terpuruk.
Saat itu, putrinya Kimmy terlihat sedih melihat kondisi Calista yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja, saat kakaknya pergi dengan sang ayah. Kimmy tinggal berdua dengan Calista yang bisa dikatakan sudah seperti orang gi*la. Kimmy bekerja keras berusaha untuk menyembuhkan ibunya itu. Melihat kegigihan putrinya, Calista pun akhirnya bertekad untuk sembuh, tapi sebenarnya dia saat itu belum benar-benar sembuh.
"Apa kamu masih mencintainya?" Tanya William kepada Jasper yang terus menggenggam tangan Calista yang kini sudah kembali tertidur. Jasper langsung kembali setelah mendapat kabar dari putranya.
"Ya, aku masih mencintainya paman, jika tidak bukankah mungkin saja aku sudah punya kehidupan baru," kata Jasper menangkup pipinya dengan kedua tangan Calista.
"Jika kamu mencintainya kenapa kamu meninggalkannya? Jika kamu masih mencintainya kenapa tidak kembali bersama? Bukankah dulu kamu melakukan semua apa yang Eve perintahkan karena kamu mencintainya dan tidak ingin melepasnya? Sampai kamu melawan keluargamu sendiri?"
"Entahlah Paman, saat itu yang aku pikirkan hanya tidak ingin berbuat kesalahan lagi, aku menyesal telah membuat Paman membenci Vano saat itu, dan hancurnya kehidupanku juga karena perbuatanku sendiri. Aku kira setelah meninggalkannya aku akan tenang dan bisa hidup dengan baik, tapi ternyata justru sebaliknya. Semua sudah berlalu Paman, diulang pun tidak akan bisa," kata Jasper menatap William memaksakan senyumannya.
__ADS_1
"Paman akan dukung apapun keputusanmu kedepannya," kata William menepuk bahu Jasper.
"Oh ya Paman, dimana ruangan Vira, aku dengar dia pulang hari ini, aku ingin meminta maaf padanya secara langsung atas apa yang dilakukan oleh Kimmy, kemarin aku hanya bertemu sebentar dengannya," ucap Jasper.
"Ayo, Paman antar ke ruangannya, Paman juga akan kesana," ucap William mengajak Jasper ke ruang rawat Vira.
…
Jasper menunduk sembilan puluh derajat meminta maaf kepada Vira dan Alno, dia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa setelah berhadapan langsung dengan kedua anak Jasmine dan Stevano itu. Jasper hanya menundukkan dalam-dalam wajahnya.
Alno dan Vira saling pandang, Vira kemudian mendekat dan membantu mengangkat tubuh Jasper.
"Sudahlah Paman, aku dan Kak Alno baik-baik saja, lagian Kimmy sudah tenang, kita tidak perlu mengungkitnya lagi ya, kami semua sudah memaafkannya," kata Vira kepada pria yang hanya selisih beberapa tahun dari ayahnya.
Jasper mengangkat wajahnya dan menatap Vira, "Bolehkah Paman memelukmu?" Tanyanya.
Vira tersenyum setelah mendapat persetujuan dari suaminya, "Hmm tentu saja," kata Vira yang kemudian merentangkan kedua tangannya.
*
*
*
Vira terbangun dari tidurnya, wajahnya dipenuhi oleh peluh. Alno yang memang belum tidur langsung menghampiri istrinya.
"Sayang kenapa?" Tanyanya mengusap wajah sang istri, dibawanya Vira ke dalam pelukan saat merasa tubuh istrinya itu bergetar hebat. "Ada apa hmm? Apa ada yang sakit?" Alno begitu khawatir melihat istrinya saat ini.
"Aku mimpi buruk Kak, dia menyakitiku, wanita itu Kak, Bibi Calista, aku takut," ucapnya begitu lirih.
"Sayang tenang ya, itu cuma mimpi, Bibi Calista tidak akan menyakiti kamu lagi, lagian ada Kakak disini, semuanya akan baik-baik saja," ujar Alno menenangkan istrinya. Alno melepaskan pelukannya, kemudian ditangkupnya wajah sang istri dan diusapnya dengan lembut agar Vira merasa tenang.
__ADS_1
Vira kembali memeluk Alno. Alno merasa sedih ternyata setelah apa yang kemarin dialami oleh istrinya, lebih tepatnya akibat ulah Calista, hal itu membekas di hati dan pikiran Vira, hingga Vira sering mengalami mimpi buruk belakangan ini.
"Maafkan Kakak sayang, maaf ini karena kakak yang tidak bisa menjagamu dengan baik," ucap Alno mengelus rambut panjang sang istri hingga akhirnya Vira pun kembali tertelap.