My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 97


__ADS_3

Beberapa hari ini memang hari yang melelahkan baik untuk Alno maupun Vira. Masalah datang silih berganti tiada henti-hentinya terutama Vira, wanita yang sudah akan menjadi Ibu, merasa lega sekarang, karena kesabaran  dan keyakinannya akhirnya semuanya baik-baik saja.


Calista sudah pasrah dan siap bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, dan Jasper dengan setia mendampingi Calista sebelum Calista ditahan. Calista bekerja sama dengan baik menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh pihak berwajib. Tentang kepergian putrinya awalnya Calista terus saja merasa bersalah tapi berkat dukungan anak dan mantan suaminya akhirnya Calista bangkit lagi.


"Sayang kenapa melamun?" Jasmine datang dan kini duduk di samping putrinya.


"Hmmm Ma, apa tidak apa-apa jika kita tetap menyerahkan Bibi Calista?" Tanya Vira kini menatap mamanya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang? Apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya Jasmine menelisik ke dalam mata Vira.


"Tidak apa-apa Ma, Vira hanya takut jika hal seperti kemarin terjadi lagi, mungkin bukan pada Vira dan Kak Alno lagi, Vira takut hal itu akan terjadi pada anak-anak Vira kedepannya. Vira tidak ingin mencari musuh tapi terkadang musuh bisa datang kapan saja hanya karena tidak suka sama kita atau apa yang kita perbuat padahal semua itu terkadang kitalah yang benar."


"Kamu jangan khawatir ya, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, lagian Bibi Calista juga sudah mengakui kesalahannya, tidak semua kesalahan bisa dimaafkan begitu saja sayang, mungkin niat kita baik dengan memaafkan, tapi bagaimana jika mereka semakin ngelunjak jika kita dengan mudahnya memaafkan, jadi ada kesalahan yang memang harus dengan diselesaikan dengan dia mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mama tahu apa yang kamu takutkan karena itulah yang Mama rasakan kemarin, jika ternyata anak-anak Mama di celakai oleh seseorang karena apa yang mama lakukan dulu. Maafkan Mama ya sayang, gara-gara Mama, kamu yang harus menerima akibatnya," Jasmine menggenggam tangan putrinya.


"Mama kenapa Mama minta maaf, Mama tidak salah apa-apa kok," Vira kemudian langsung berhambur ke pelukan mamanya.


"Ada apa kenapa peluk-pelukan tidak ajak-ajak Papa," Stevano menghampiri kedua wanita yang disayanginya.


Vira dan Jasmine sama-sama bergeser ke samping, memberi ruang untuk Stevano duduk, hingga sekarang, Stevano duduk di antara kedua wanita itu. Kemudian merangkul istri dan putrinya.


"Papa beruntung memiliki kalian, jika saja dulu Papa menolak menggantikan Paman Max, jika Papa tetap pada kesendirian Papa dan menutup hati Papa untuk siapapun, Papa pasti tidak akan memiliki kalian."


Stevano terdiam dan menghela nafasnya, mengingat kenangan dulu, disaat dirinya harus menikah tiba-tiba menggantikan adiknya, tinggal bersama Jasmine yang selalu berani berteriak padanya, dan selalu ikut campur urusannya, hingga Jasmine mengisi hatinya dan menjalani kehidupan rumah tangga seperti pada umumnya, hidup bahagia bersama anak-anak mereka.


"Siapa kau berani menyentuhku?" Kata Stevano menatap Jasmine.

__ADS_1


"Aku istrimu, jadi aku berhak untuk menyentuhmu, jangankan cuma tangan ini, semua bagian tubuhmu aku berhak menyentuhnya," jawab Jasmine dan kini keduanya sama-sama tertawa mengingat kenangan dulu.


Vira tersenyum, kedua orang tuanya memang selalu sehati, keduanya pasti sama-sama mengingat awal pernikahan mereka, ya Vira sudah mendengar cerita dari mamanya, tentang bagaimana dulu mereka yang langsung bertemu di hari pernikahan. Banyak hal yang terjadi hingga akhirnya Mama dan Papanya memiliki dirinya dan saudara-saudaranya. Vira begitu salut dengan Mamanya yang bisa jadi pawang untuk papanya yang kabarnya dulu begitu mengerikan.


"Terima kasih sayang, karena sudah membawa cinta yang besar untukku," ucap Stevano mengecup kening istrinya.


"Terima kasih sayang, karena sudah hadir di tengah-tengah kehidupan Mama dan Papa," ucap Stevano kepada putrinya dan melakukan hal yang sama pada Vira seperti yang tadi dia lakukan pada istrinya.


"Terima kasih juga karena Mama dan Papa sudah jadi orang tua Vira, bahkan di kehidupan selanjutnya Vira tetap ingin jadi putri Mama dan Papa," kata Vira memeluk papanya erat.


***


"Sayang sedang apa hmm?" Tanya Alno yang datang tiba-tiba dan  langsung memeluk istrinya dari belakang.


"Hmm Kak, bagaimana ini jika gaunnya tidak muat?" Tanya Vira yang sedari tadi terus melihat gaunnya yang memang sudah dipersiapkan untuk hadir di acara ulang tahun mama dan papanya tanpa berani mencobanya.


"Pasti muat sayang. Sini! Coba lihat ke depan!" Alno menegakkan tubuh istrinya lurus di depan cermin.


"Tapi lihat Kak! Aku semakin gendut."


"Pasti muat sayang."


"Ya mungkin saja muat, tapi nanti bentuk badan aku jadi aneh gimana?" Ucap Vira kurang percaya diri. Karena semenjak usia kehamilannya bertambah, tubuhnya semakin berisi, bahkan pipinya pun terlihat semakin chubby. Hingga kadang Alno merasa gemas dan sering mencubiti pipi istrinya.


"Coba kamu lihat ke depan!" Perintah Alno pada istrinya dan Vira pun hanya menurut.

__ADS_1


"Sekarang apa yang kamu lihat di cermin?" Tanya Alno sedikit menundukkan kepalanya memandang wajah sang istri.


"Ya tentu saja lihat bayanganku dan Kak Alno, memangnya apalagi?" Jawab Vira yang heran mendengar pertanyaan suaminya.


"Kamu tahu, di sana ada wanita yang paling cantik dan Kakak begitu beruntung memilikinya," ucap Alno dan itu sukses membuat Vira tersipu malu.


"Kakak gombal."


"Kakak tidak gombal sayang, itu kenyataannya, bagi Kakak, Vira tetaplah Vira yang cantik, dan kakak bersyukur bisa mendapatkanmu, terlepas masalah fisik Vira yang berubah, Kakak tidak akan mempermasalahkannya, karena bersama kamu saja, rasanya Kakak sudah bahagia dan bersyukur banget."


"Makasih ya Kak, karena sudah tetap mencintai aku walaupun aku pernah menolak kakak, makasih sudah menjaga rasa cinta kakak untukku, dan makasih karena sudah menjadi pendamping hidup aku, aku juga bahagia bisa bersama kakak," kata Vira yang kemudian menoleh ke belakang dan sedikit berjinjit dan mencium pipi suaminya.


"Kamu tahu sayang, rasanya Kakak sudah tidak sabar menunggunya lahir," ucap Alno yang kini kembali memeluk istrinya dari belakang sambil mengelus lembut perut sang istri.


Vira begitu nyaman mendapat perlakuan sederhana itu dari suaminya "Masih lama Kak, ini juga baru berapa bulan," ucapnya tergelak.


"Pokoknya Kakak sudah tidak sabar sayang, hmm bagaimana kalau kita cari-cari nama untuk anak kita?" Tanya Alno yang kini membalik tubuh istrinya agar berhadapan dengannya.


"Hmm boleh, ayo!" Kata Vira menggandeng tangan suaminya untuk menuju ke sofa setelah Alno lebih dulu mengambil ponselnya.


"Ini bagus Kak namanya," tunjuk Vira pada sebuah nama yang dia temukan.


"Hmm ini juga bagus, artinya juga," balas Alno yang juga menemukan nama yang menurutnya bagus.


Kemudian keduanya pun sibuk mencari-cari nama untuk calon anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2