
"Kak Alno kemana? Kenapa lama sekali?" Tanya Vira menatap Vian karena memang tinggal Vian lah yang berjaga di sana. Vier pria itu pergi entah kemana.
Vian terdiam, tapi akhirnya dia berkata, "Aku akan beritahu Kak Vira, tapi Kak Vira janji akan baik-baik saja."
Vira mengernyitkan dahi bingung, "Maksud kamu apa? Memangnya apa yang terjadi? Apa ada yang kalian semua sembunyikan dari Kakak?"
"Kakak janji dulu, Kakak jangan terkejut setelah aku mengatakannya, sebenarnya semua orang ingin merahasiakan hal ini pada kakak, karena kami semua takut kakak khawatir, tapi bagaimanapun kakak harus tahu, aku tidak mau, kakak merasa jika kakak satu-satulah orang yang tidak tahu, apalagi ini ada sangkut pautnya dengan kakak," ucap Vian yang baru kali ini berbicara cukup panjang.
Entah kenapa jantung Vira berdebar kencang saat adiknya mengatakan itu, tapi Vira harus janji, Vira ingin tahu apa yang ingin semua orang sembunyikan darinya.
"Iya Kakak janji, sekarang katakanlah!" Ucap Vira yang akhirnya menyetujui perkataan adiknya.
"Sebenarnya Kak Alno tadi sempat mengalami kecelakaan," mendengar itu, ekspresi wajah Vira langsung berubah, matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Kak Alno, bagaimana kondisi Kak Alno? Kak Alno baik-baik saja kan?" Tanya Vira dengan suara yang terdengar bergetar.
"Kakak tenang saja, Kak Alno baik-baik saja dan hanya mengalami luka ringan," jawab Vian jujur.
"Tapi…"
"Tapi kenapa? Cepat katakan Vian!" Tanya Vira harap-harap cemas.
"Ada yang kondisinya jauh lebih parah, Kimmy wanita itu menyelamatkan Kak Alno, dia mendorong Kak Alno saat ada sebuah mobil yang ingin sengaja menabraknya," jelas Vian.
Vira terdiam, dan itu membuat Vian panik.
"Kak? Kakak kenapa?" Tanya Vian memegang kedua bahu kakaknya.
"Secinta kah dia pada Kak Alno? Apa Kakak harus melepaskan Kak Alno untuknya?" Gumam Vira begitu pelan nyaris tidak terdengar.
"Kak, apa yang Kakak bicarakan? Kakak harus tetap mempertahankan milik Kakak, demi Kakak sendiri dan anak kakak, kenapa sekarang Kakak menyerah begitu saja?" Ucap Vian yang mendengar perkataannya.
Air mata Vira menetes tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
"Tapi apa yang harus Kakak lakukan? Apa yang harus kakak lakukan Vi? Bagaimana jika setelah kejadian ini, dia meminta Kak Alno memilihnya? Apa yang harus Kakak lakukan?"
"Kak," Vian langsung merengkuh Vira dalam pelukannya.
Vira terdiam cukup lama, kemudian dia pun kembali bertanya.
"Siapa...siapa Vi? Siapa orang yang ingin mencelakai Kak Alno?"
"Dia orang yang juga menculik Kakak."
"Kenapa Vi? Kenapa harus Kakak dan suami Kakak? Apa salah Kakak Vi?" Vira terisak di dalam pelukan adiknya.
"Kak, kakak jangan sedih seperti ini terus, kasihan anak kakak, jika kakak sedih dia juga sedih," kata Vian berusaha untuk menenangkan kakak perempuan satu-satunya itu.
"Kenapa dia begitu jahat Vi sama Kakak, kenapa dia menyakiti kakak? Siapa dia sebenarnya? Siapa? Kenapa dia begitu tega sama Kakak?" Vira terus saja meracau, hingga lama kelamaan Vian tidak mendengar lagi suara kakaknya.
Vira, rupanya dia tertidur di pelukan Vian, Vian mengelus lembut rambut kakaknya, dia juga beberapa kali mencium puncak kepala Vira. Dan dirasa tidur kakaknya sudah pulas, Vian dengan perlahan membaringkan tubuh Vira.
"Kak, Kakak sabar ya, aku tidak tega melihat kakak terus seperti ini, aku sayang sama kakak, kakak harus kuat, aku yakin kakak bisa" gumam menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah kakaknya yang tampak pucat.
Alno sedari tadi di depan pintu, mendengarkan percakapan kedua orang yang disayanginya.
"Ma, Alno kira Vira baik-baik saja, tapi…tapi dia tidak baik-baik saja Ma," ucap Alno benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat wanita yang dia cintai itu terluka, Alno gagal menjaganya, Alno gagal melindunginya.
Jasmine menghela nafasnya kasar, setelah mengetahui siapa pelakunya, Jasmine juga merasa bersalah pada putrinya.
"Ini semua berasal dari Mama, Mama yang menyebabkan kalian harus menerima akibat apa yang Mama lakukan dulu," kata Jasmine duduk di kursi tunggu dan menutup wajahnya.
"Apa yang terjadi?" Ucap Stevano yang baru datang dan melihat istrinya yang jelas jika saat ini sedang menangis.
"Ini semua salah Mama, ini semua salah Mama," gumamnya.
Stevano duduk di samping istrinya dan menarik sang istri dalam dekapannya.
__ADS_1
"Sayang cukup, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, ini semua bukan salahmu, apa yang dulu kamu lakukan benar, kamu hanya ingin keadilan ditegakkan, dan itu semua tidak salah, karena kamu memperjuangkan keadilan untuk Ibu, kamu tidak salah sayang, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri.
Alno yang tidak mengerti apa-apa, hanya diam, orang tuanya belum menjelaskan apa yang terjadi di masa lampau, hingga membuat wanita itu mempunyai dendam dan membalaskannya pada dirinya dan sang istri.
"Ada yang bernama dengan Tuan Alno?" ucap perawat membuyarkan ketiganya yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Saya, ada apa sus?" Tanya Alno menatap suster itu penasaran.
"Pasien bernama Kimmy ingin menemui Anda," ucapnya.
Jasmine dan Stevano kini ikut menatap perawat yang tadi mengatakan hal tentang Kimmy. Kimmy memang beberapa jam lalu sudah dipindahkan ke ruang ICU, dan sejak itu pula dia belum sadarkan diri.
"Maksudnya Kimmy sudah sadarkan diri?"
"Iya Tuan dan pasien ingin bertemu Anda, mari ikut dengan saya," kata perawat itu berlalu lebih dulu, dan Alno pun menyusul mengikuti di belakangnya.
"Maaf hanya satu orang yang boleh masuk, dan Anda bisa pakai pakaian yang sudah disediakan di dalam," kata perawat itu kemudian pamit untuk mengecek kondisi pasien lainnya.
Kimmy tersenyum saat melihat Alno datang, "Kamu datang Rae, syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Kimmy dengan suaranya yang lemah.
Kimmy mengerjapkan mata, kemudian memberikan isyarat kepada Alno, menyuruh pria itu mendekat ke arahnya, "Rae, aku benar-benar mencintai kamu, sangat mencintaimu," bisik Kimmy dan tiba-tiba saja…
Tit…
Terdengar suara mesin monitor yang memekikan telinga, Alno panik dan langsung keluar memanggil dokter.
"Bagaimana dok kondisinya?" Tanya Alno begitu dokter keluar dari ruangan itu.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan pasien," kata dokter begitu selesai memeriksa Kimmy.
Tubuh Alno hampir saja limbung, jika seseorang tidak dengan segera menangkapnya.
Alno merasa bersalah, Kimmy pergi karena menyelamatkannya, hanya itu yang Alno pikirkan.
__ADS_1
"Rae aku benar-benar mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu," kata-kata Kimmy terus terngiang dibenaknya, kalimat yang ternyata adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh wanita itu.
Vira menutup mulutnya tidak percaya pada apa yang didengarnya, di dalam ruang rawatnya, Vira terbangun saat mendengar ucapan perawat yang memanggil Alno, dan Vira pun membujuk Vian untuk menemaninya, ikut menemui Kimmy, dan Vian pun setuju asal Vira mau menggunakan kursi roda, dan disinilah dia sekarang, mendengar apa yang tadi dokter katakan.