My Lovely Sister

My Lovely Sister
Bab 80


__ADS_3

"Sayang kenapa lama sekali sih?" Ujar Vira yang baru datang menyusul suaminya, dan sekarang dirinya sedang bergelayut manja di lengan Alno.


Alno terdiam, apalagi saat untuk pertama kalinya sang istri memanggilnya sayang.


"Sayang kenapa diam saja? Rengek gadis itu manja, tidak peduli dengan seseorang yang kini sedang memperhatikannya.


"Ah iya ini sebentar lagi," jawab Alno sambil melirik-lirik ke arah sekitarnya, dimana bukan hanya Gea yang kini sedang memandang ke arahnya, melainkan hampir semua orang yang ada disana.


"Kenapa?" Tanya Vira yang menyadari gelagat suaminya.


"Ah tidak apa-apa. Kamu kenapa disini? Lebih baik kamu duduk saja sayang, sebentar lagi kok, kamu sabar aja ya."


"Kenapa merasa terganggu dengan adanya aku disini? Nyuruh aku diam disana biar Kak Alno bisa bebas bersama gadis lain, asyik ngobrol dan ketawa-ketiwi seperti  tadi," ketus Vira melirik ke arah Gea.


Alno menyadari kemana arah ekor mata istrinya dan Alno hanya bisa mengulum senyumnya.


"Gea, kenalkan ini istriku," ujar Alno memperkenalkan Vira pada Gea.


Gea kemudian mengulurkan tangannya, sementara Vira mendongak menatap Alno, dan menyambut uluran tangan Gea, setelah Alno mengangguk.


"Hai aku Gea, teman baik Al," kata Gea memperkenalkan dirinya.


"Al?" Vira mengernyitkan dahinya.


"Ah iya, aku biasanya memanggil Alno dengan sebutan Al," jawab Gea menjelaskan dengan senyumannya.


"Oh."


Kini bergantian Alno yang mengernyitkan dahi mendengarkan jawaban istrinya.


"Ini Tuan!" Ucap penjual makanan yang  sudah mempersiapkan pesanan Alno.


"Ini Pak, terima kasih," Vira memberikan uang dan mengambil kantong plastik yang diberikan penjual makanan.


"Ayo Kak!" Vira menarik tangan Alno agar segera pergi dari tempat itu.


"Eh tunggu Al!" Ucap Gea menghentikan langkah keduanya.


"Al berikan nomormu, biar aku lebih  mudah menghubungimu," Gea menyodorkan ponselnya ke arah Alno, meminta nomor ponsel pria itu.


Vira dengan cepat merebut ponsel  Gea, saat suaminya akan menerimanya. Vira dengan cepat mengetikan beberapa nomor dan memberikannya pada Gea.


"Sudah, kami pergi dulu!" Kata Vira yang kemudian kembali menarik tangan Alno.


"Tunggu dulu Al, aku belum selesai," lagi-lagi Gea menghentikan langkah mereka, membuat Vira kesal.


"Ada apa lagi?" Tanya Vira menatap tajam Gea, pasalnya Vira benar-benar kesal pada gadis itu, bagaimana tidak, pertama suaminya asyik mengobrol dengannya, kedua, bahkan suaminya asyik tertawa saat dengannya, dan yang ketiga teman baik? "Maksudnya apa coba dia mengatakan teman baik?" Vira berkata dalam hati, sangat tidak suka mendengarnya.

__ADS_1


"Sebentar," Gea membuka sesuatu dalam tasnya dan memberikannya kepada Alno.


"Datang ya," tambah Dea menunjukkan senyum lebarnya.


"Apa Kak?" Vira mengambil kertas yang Alno pegang dan membacanya.


"Jadi kamu…" Vira tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesaat setelah membacanya.


"Ah maaf ya Kak, oh ya selamat," Vira mengulurkan tangannya menjabat tangan Gea.


"Tidak apa-apa, aku mengerti kok, ya udah, pokoknya jangan lupa untuk datang, dan selamat juga untuk kalian, maaf tidak datang waktu itu, aku duluan ya," Gea pun berpamitan kepada Alno dan Vira sesaat setelah pesanan makanannya sudah jadi.


"Iya kak, hati-hati," kata Vira yang menatap kepergian Gea.


"Kak Alno kenapa tidak bilang dari tadi?" 


"Bilang apa?"


"Ya itu bilang kalau Kak Gea mau menikah, aku kan jadi tidak enak karena berbicara ketus dengannya," Vira menunduk sambil menyatukan jari-jarinya.


"Ya sudah tidak apa-apa, kan Gea juga masalah dengan sikapmu tadi, tapi Kakak senang deh," Alno tersenyum penuh arti menatap istrinya.


"Senang? Maksudnya? Senang kenapa?" Tanya Vira yang tidak mengerti maksud perkataan kakaknya.


"Senang karena kamu cemburu," bisik Alno tepat di telinga Vira.


"Yakin, tapi lihatlah pipimu sudah merona sayang, apa perlu Kakak ambilkan ponsel kamu ber…"


"Cukup, iya, iya aku cemburu, puas!" Vira kemudian meninggalkan Alno yang kini tertawa melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.


"Sayang tunggu aku!" Teriak Alno begitu keras hingga orang-orang yang berlalu lalang melihat ke arahnya.


Vira hanya menoleh sekilas, menjulurkan lidahnya dan terus saja berjalan.


"Sayang!" Sekali lagi Alno kembali berteriak.


Dan Vira jangan tanya bagaimana dia, wanita itu justru menutup kedua telinganya, tidak memperdulikan suaminya yang kini menjadi pusat perhatian orang karena terus saja berteriak seperti orang gila.


Alno menatap istrinya di jarak yang sudah cukup jauh, dirinya sedikit bernafas lega, karena Vira setidaknya melupakan mimpinya semalam. Bukan hanya istrinya yang takut, dirinya  juga takut, takut terjadi apa-apa, yang membuat dia dan Vira berpisah. Alni berdoa dalam hatinya, agar semua keluarganya selalu dalam lindungan Nya.


Alno kemudian berlari menyusul istrinya yang sudah sangat jauh melangkahkan kaki, langkahnya yang lebar membuat Alno dengan mudah bisa menangkap tubuh Vira..


"Kena kau!" Ucap Alno pada Vira memeluk istrinya itu dari belakang.


Awalnya Vira begitu terkejut, tetapi ketika tahu jika yang memeluknya Adalah Alno, Vira tersenyum, dan memegang kedua tangan Alno yang masih setia melingkar dipeluknya.


"Kak malu dilihatin banyak orang," Vira  berbicara dengan suara yang teramat pelan.

__ADS_1


"Biarkan sebentar saja, Kakak perlu mengisi daya terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan kita," kata Alno masih dalam posisi yang sama.


"Kakak pikir ponsel? Udah ya nanti lagi deh, tuh lihat banyak orang yang memperhatikan kita," ucap Vira yang tidak enak karena menjadi pusat perhatian.


"Cuma 10 menit sayang," kata Alno.


"Tidak, 1 menit saja," tawar Vira.


"9 menit deh"


"Ya udah 3 menit."


"Hmm 7 menit."


"4 menit uda, tidak ada tawar menawar lagi.


"Baiklah 5 menit ya, oke kamu diam berarti kamu setuju, 5 menit biarkan seperti ini," putus Alno hanya sepihak karena Vira belum menyetujuinya.


"Curang, Kakak mainnya pemaksaan," ucap Vira mengerucutkan bibirnya.


"Harus dong, soalnya kalau kamu gak dipaksa, gak jadi tuh Alno junior," kata Alno tersenyum.


"Kata siapa kalau soal itu harus dipaksa? Bukannya mau sama mau," ucap Vira pelan dengan wajah yang merona.


"Oh iya, kamu benar, kalau itu kan kamu juga mau," Alno berucap untuk menggoda istrinya.


"Sudah, jangan bahas hal itu lagi."


"Kan kamu tadi yang mulai sayang."


"Tidak, Kak Alno duluan bukan aku, jangan fitnah deh," kesal Vira.


"Ya memangnya apa yang Kakak katakan, kenapa jadi Kakak yang dibilang memulai duluan."


"Ya itu tadi,"


"Tadi yang mana?"


"Ya itu, yang itu loh, sudahlah lupakan!" 


"Hahaha," Alno kembali tertawa senang jika menggoda istrinya hingga membuat wajah Vira sudah merah seperti kepiting rebus.


"Ih Kak Alno jangan tertawa," Vira dibuat semakin kesal karena Alno justru terus menertawakannya.


Vira yang kesal akhirnya melepaskan tangan Alno yang masih melingkar di perutnya.


"Waktu sudah habis," ucap Vira yang kemudian pergi terlebih dahulu meninggalkan Alno.

__ADS_1


__ADS_2