
Stevano dan Jasmine akhirnya keluar kamar, setelah berdiskusi, mereka ke dapur, Jasmine akan kembali mengerjakan tugasnya, yaitu berkutat dengan alat-alat dapur seperti biasanya untuk memasak makan malam mereka, dan Stevano akan membantunya dan berjanji untuk tidak mengganggunya karena hari sudah cukup sore, bahkan langit di luar sana pun, sudah mulai tampak gelap.
Tapi langkah keduanya terhenti ketika melewati ruang keluarga yang pintunya terbuka lebar. Di sana salah satu putranya sedang duduk di sofa single menatap televisi di depannya.
Tapi bukan itu yang menjadi fokus Jasmine dan Stevano, pasangan suami istri itu melihat anaknya sedang melamun dan dapat dipastikan jika ditanya tentang tayangan apa yang ditontonnya, Vier tidak akan tahu, karena memang dirinya sedang tidak menampilkan tayangan apapun, Vier memang memegang remote tv tapi, Tv itu masih dalam keadaan tidak menyala.
"Sekarang kenapa dengan anak itu?" Stevano menoleh pada sang istri dengan tatapan penasaran, karena jarang sekali mereka melihat Putranya melamun seperti ini.
Jasmine mengedikkan kedua bahunya," Aku tidak tahu, dan kamu salah bertanya padaku sayang, mana mungkin aku tahu, jika kamu saja tidak tahu, karena dari tadi kita berdua selalu bersama, kamu ke dapur dulu, biar aku yang bicara padanya," jawab Jasmine kemudian berlalu meninggalkan Suaminya dan menghampiri sang putra.
Jasmine duduk di samping Vier, tapi Vier tidak menyadarinya, hingga kemudian Jasmine menggenggam tangan putranya, membuat Vier langsung terkejut hingga lamunannya sekejap saja sudah buyar.
"Eh Mama? Kenapa Ma?" Tanya Vier yang kini menatap sang Mama sepenuhnya.
"Kenapa duduk disini sendirian dan melamun?" Bukannya menjawab pertanyaan Putranya, Jasmine justru balik bertanya.
"Kemana saudara-saudaramu?" Jasmine bertanya lagi saat tidak melihat keberadaan anak-anaknya yang lain.
"Papa Mana Ma?" Kini giliran Alno yang menjawab pertanyaan Mamanya dengan sebuah pertanyaan lagi.
"Papa ke dapur, dimana yang lain?" Tanya Jasmine lagi karena pertanyaannya tadi belum dijawab sang putra.
"Mereka di kamarnya Ma," jawab Vier yang memang tidak sepenuhnya berbohong, karena memang ketiga saudaranya ada di kamar mereka masing-masing.
"Oh, ya sudah Mama ke dapur dulu ya, menyusul Papa mau masak untuk makan malam," Jasmine kemudian berdiri.
Saat Jasmine hendak berjalan keluar, langkahnya terhenti saat Vier menahan tangannya.
__ADS_1
"Ma,"
"Kenapa sayang?"
"Hmm tidak jadi," jawab Vier mengurungkan niatnya saat akan menceritakan tentang Alno kepada Mamanya.
"Hmm ya sudah, jika kamu memang mau mengatakan sesuatu katakan saja ya sayang, kamu bisa menemui Mama dan ceritakan semuanya, kalau begitu Mama ke dapur dulu," ucap Jasmine yang kemudian meninggalkan Putranya dalam keheningan.
Di dalam kamar, Vira tampak menutup bukunya yang baru beberapa detik lalu dibukanya, berulang-ulang Vira melakukan itu, dirinya tidak bisa konsentrasi dalam belajar, saat mengingat Kakaknya Alno.
"Kak Alno sebenarnya kenapa sih? Apa dia bersikap seperti itu karena perkataanku? Tapi kenapa aku merasa perasaan Kak Alno bukan seperti yang aku pikirkan selama ini? Jika memang karena terbiasa dan nyaman, Kak Alno pasti tidak akan semarah dan sekacau ini? Apa jangan-jangan perasaan yang dimiliki Kak Alno nyata? Tidak, tidak, senyata apapun perasaan Kak Alno, hal ini benar-benar tidak boleh terjadi. Aku dan Kak Alno itu saudara kandung, dan perasaan itu jelas-jelas sangat terlarang," Vira mengemasi dan merapikan buku-bukunya, jika melanjutkan belajar Vira yakin tidak akan bisa karena pikirannya saat ini sedang sangat kacau.
Tok
Tok
Ketukan pintu kamarnya, menghentikan Vira dari kegiatannya. Vira meletakkan buku yang sedang dipegangnya dan berjalan ke arah pintu. Begitu pintu terbuka, muncullah Vian di hadapannya.
"Di tunggu Mama sama Papa untuk makan malam, Kakak gak turun-turun, makanya aku di suruh Mama untuk nyamperin Kakak, ya sudah aku mau ke kamar Kak Alno dulu."
"Tunggu! Kak Alno sudah pulang?" Tanya Vira yang memang tidak tahu.
"Hmm," Vian hanya menjawab dengan gumaman, sebelum akhirnya dirinya berjalan menjauh dari kamar Vira menuju kamar Alno yang ada di sebelahnya.
Entah kenapa Vira merasa gugup mendengar Kakaknya di rumah, rasanya Vira tidak siap berhadapan lagi dengan Kakaknya. Disaat Vira sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba suara Vian mengejutkannya.
"Kenapa Kak Vira belum turun juga?"
__ADS_1
"Hah apa? Oh iya Kakak, mm ini Kakak akan turun," jawab Vira gugup ekor matanya melirik pada sosok pria di sebelah Vian yang diam saja, bahkan tidak melihatnya, kakaknya mengacuhkannya, ya bisa Vira lihat, jika Kakaknya kini bahkan tidak peduli dengannya lagi.
"Kakak turun dulu,"
Vira mendengar Kakaknya mengatakan itu, tapi Vira rasa kalimat yang diucapkan itu bukan ditujukan padanya, melainkan pada Vian, karena sebelum pergi, Kakaknya itu menepuk bahu Vian pelan sebelum akhirnya dirinya pergi meninggalkannya bersama sang adik. Dan Vira hanya bisa melihat dengan sendu punggung Kakaknya yang kini menjauh. Perasaan Vira kini berkecamuk.
Ada rasa sedih menyusup ke dalam hati terdalam Vira, Kakaknya yang selalu perhatian dan tersenyum manis padanya, kini hanya berwajah datar, dan kini mengabaikannya.
"Ayo Kak!" Vian menggenggam tangan Vira mengajaknya untuk turun.
"Mmm Vi, Kakak sepertinya tidak ikut makan malam deh, Kakak belum lapar," jawab Vira tidak semangat.
"Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah Kak."
Apa yang Vian katakan langsung menohok ke dalam hatinya, perkataan adiknya memang benar, tapi berkata memang lebih mudah bukan daripada menjalaninya langsung," itulah yang Vira pikirkan.
"Aku tahu, menjalani tidak mudah seperti apa yang dikatakan, tapi sampai kapan Kakak akan terus menghindar?"
Kali Vian berkata, seolah-olah dia dapat membaca pikiran Kakaknya.
"Kamu tahu apa yang Kakak pikirkan tadi?" Tanya Vira ragu.
"Ya, karena semua terlihat jelas, melihat wajah Kakak yang seperti itu sangat mudah bagiku untuk membaca apa yang sedang Kakak pikirkan, bukan hanya aku, Zeline pun mungkin juga bisa membacanya."
"Ngaco kamu, mana mungkin anak manja sepertinya bisa membaca apa yang Kakak pikirkan hanya dengan melihat wajah Kakak, jangan Zeline, kamu saja, Kakak tidak percaya, Kakak tahu, kalau kamu tadi hanya kebetulan saja bisa menebak," jawab Vira yang tidak semudah itu percaya pada adik laki-lakinya.
"Terserah Kakak aja kalau tidak percaya, aku juga tidak meminta Kakak untuk percaya, sekarang Ayo kita turun semua orang pasti sudah menunggu, dan ingat jangan sampai papa dan Mama tahu jika ada masalah diantara kita dengan Kak Alno terutama masalah Kakak dengan Kak Alno. Karena Mama sepertinya sedang banyak pikiran dan kurasa saat ini bukanlah waktu yang tepat," Peringat Vian layaknya seperti orang dewasa.
__ADS_1
"Tunggu kamu bilang apa tadi? Masalah Kakak dan Kak Alno? Kamu tahu itu? Apa yang kamu tahu?" Tanya Vira begitu sadar adiknya membahas tentang masalah dirinya dan Kakaknya, yang Vira rasa tidak ada seorang pun yang tahu.
Bukannya menjawab, Vian justru pergi meninggalkan Kakaknya dengan rasa penasaran.