
"Jadi... sekarang bisa cerita dong ada apa?" Aku mengernyitkan kening. Bingung dengan pertanyaan Dio.
"Ada apa? Maksudnya?"
"Ya yang tadi siang. Ada apa sampai kamu tadi nangis di kolam renang?" oh ternyata itu... Dio gak akan membiarkan aku memendam sendiri perasaanku. Ia akan menuntut jawaban dariku.
Aku menyibakkan selimut dan memakai bajuku yang tadi berserakkan di lantai. Ya tau lah habis ngapain. Kevin tidur di kamar Aki dan Omanya. Ngapain lagi coba kalo enggak bikin adeknya Kevin?
"Cerita dulu dong. Kamu mau kemana?" tanya Dio tak sabaran.
"Mo pipis. Udah kebelet. Tunggu aku pipis dulu ya. Kamu pakai baju sana. Nanti masuk angin. AC disini dingin banget."
"Gak usah. Nanti kalau mau ronde kedua gampang gak usah copot baju lagi." Dio pun memamerkan senyum sejuta volt miliknya. Perpaduan antara senyum jahil dan senyum mesum yang dijadikan satu sehingga menyebabkan aliran listrik yang membuat siapapun yang melihatnya akan tersetrum oleh pesona senyum sejuta volt tersebut.
Tapi tidak untukku. Kuambil baju milik Dio dan kulemparkan ke kasur. "Pake gak. Kalau masih belum pakai pas aku keluar dari kamar mandi nanti aku cubit nih!"
"Dih galak bener." aku pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi kulihat Dio sudah memakai bajunya dan tengah duduk memainkan Hp. Saat melihatku Dio lalu menepuk tempat di sampingnya agar aku ikut duduk. Ia meletakkan Hpnya di atas nakas.
Aku tahu siapa Dio. Ia paling gak suka ada sesuatu yang aku sembunyikan. Ia paling gak suka aku memendam sesuatu dan tidak menyampaikan padanya apa yang terjadi. Maka aku gak kaget kalau Ia akan menunggu sampai aku mau cerita apa yang membuatku menangis tadi siang.
Aku menghampiri Dio. Bukannya ikut duduk bersamanya tapi aku malah menyelimuti tubuhku dengan selimut dan tiduran di sampingnya.
Tak mau memaksaku bicara sambil duduk, Dio pun mengikutiku. Ia juga menarik selimut lalu menopang kepalanya dengan tangan agar bisa melihat langsung ke dalam mataku saat kami bicara.
"Jadi tadi kenapa? Cerita dong ada apa. Jadi aku tahu. Mulai sekarang dan seterusnya, setiap ada sesuatu kita harus cerita. Kan kita udah janji mau memperbaiki hubungan kita, termasuk masalah komunikasi kayak gini."
__ADS_1
Aku membalikkan tubuhku menatap langsung ke mata Dio. Bukannya bicara aku malah memeluk Dio dengan erat. Kuhirup wangi tubuh Dio yang membuatku makin nyaman berada di pelukannya.
Aku teringat lagi perkataan Mama tadi siang. Air mataku kembali mengalir tanpa bisa ditahan lagi. Apalagi saat ini aku berada dalam pelukan orang yang sempat kusakiti sampai membuatnya down. Apa yang terjadi kalau sampai waktu itu Dio tak bisa bangkit dari keterpurukannya? Apa yang terjadi kalau Dio tidak akan pernah kembali normal lagi? Apakah aku masih bisa memeluknya seperti ini.
"Sstt.... cup...cup.... kenapa? Cerita dong sama aku." suara Dio tetap terdengar lembut walau aku tahu Ia panik melihatku menangis sesegukan seperti ini.
Kenapa kamu masih sebaik ini sama aku, io? Kenapa kamu masih mengejar aku meski aku sudah meninggalkan kamu sampai kamu terpuruk? Kenapa kamu masih baik sama aku yang sudah jahatin kamu?
πΆπΆ Oh betapa ku saat ini... Ku cinta untuk membenci... Membencimu.... Oh betapa ku saat ini... Ku benci untuk mencinta.... Mencintai...mu.... Aku tak tahu apa yang terjadi... Antara aku dan kau... yang kutahu pasti kubenci untuk mencintaimu.....πΆπΆ
Penggalan lagu Naif yang berjudul Benci untuk mencinta terasa amat pas dengan apa yang kurasakan saat ini. Bukan aku membenci Dio. Aku benci dengan keadaan yang membuat kami harus terpisah. Benci dengan cinta kami yang harus bersatu dengan cara yang rumit.
Dio membiarkan aku terus menangis di pelukannya sampai beban di dadaku terangkat. Ia membalas pelukanku sambil sesekali mencium keningku.
Setelah banjir air mata yang sampai membuat baju dio basah dan aku susah bernafas akhirnya air mataku surut. Mataku pasti sudah bengkak sekarang. Lebih dari setengah jam aku menangis.
Aku mengangguk dan melepaskan pelukan Dio. Aku duduk dan mengambil tisu di atas nakas. Kuseka air mata dan hidungku agar bisa bernafas lagi.
Dio melepas bajunya yang basah dengan air mataku dan melemparkannya ke keranjang baju kotor. Ia menumpuk dua buah bantal dan menyandarkan tubuhnya. Tatapannya tak pernah lepas dariku. Menunggu aku siap bicara.
"Udah bisa cerita sekarang?"
Aku kembali mengangguk. Kutarik nafas panjang mengatur kata-kata yang kalah cepat dari air mata yang sudah mengalir lagi.
"Maafkan aku....."
Dio mengernyitkan keningnya, bingung dengan perkataanku. "Maaf untuk apa?"
__ADS_1
"Maafkan aku karena.... sudah meninggalkan kamu..." aku menunduk tak berani menatap Dio. Aku tahu aku sudah menjadi istri durhaka yang meninggalkan suaminya bahkan pergi dengan laki-laki lain, ya walau aku tak ada hubungan apapun dengan Guntur tetap saja namanya aku pergi dengan lelaki lain.
"Mama cerita sesuatu sama kamu?" tembak Dio.
Aku mengangguk lagi. Kuhapus air mataku lagi. "Jangan salahin Mama. Aku yang maksa Mama buat cerita. Maafin aku, io. Aku udah berbuat jahat sama kamu. Aku... aku udah ninggalin kamu sampai.... sampai kamu down. Aku tak tahu kalau... kalau perbuatan aku akan berakibat kayak gini. Aku memang egois io. Aku jahat." Aku kembali sesegukan dan banjir air mata.
Dio kembali memelukku. "Ini memang sudah jalan kita Yu. Aku gak pernah nyalahin kamu. Aku tahu kamu juga gak mau ninggalin aku. Aku tahu kamu pasti lebih menginginkan berada disisiku dibanding pergi jauh. Aku tahu kamu ingin merasakan dimanja suami saat hamil. Aku tahu kamu ingin merasakan ditemani saat sedang kontraksi dan saat melahirkan. Kamu gak salah, Yu. Keadaan yang membuat kita seperti ini. Membuat kita saling menyakiti."
"Bagiku gak penting kamu atau aku yang salah. Yang terpenting adalah kamu udah ada disisiku lagi. Aku memang sudah kehilangan waktu bersama kamu dan Kevin selama 3 tahun. Tapi aku gak mau lagi kehilangan kalian selama puluhan tahun ke depan. Jangan terlalu menyalahkan diri kamu. Aku down bukan karena kamu, karena aku terlalu menyalahkan diriku sendiri. Bukan karena kamu. Aku gak mau kamu merasakan apa yang kurasakan."
"Biarlah kenangan pahit kita dulu menjadi lembaran kelam yang akan kita pakai sebagai pengingat saat kita menghadapi cobaan yang lebih berat lagi. Kenangan pahit kita justru yang akan terus mempererat hubungan kita sekarang dan selamanya."
Aku melepaskan pelukan Dio. Aku ingin melihat langsung ke dalam matanya. "Kamu gak marah atau dendam sama apa yang sudah kuperbuat?"
Dio menggelengkan kepalanya dengan yakin. Senyum penuh keteduhan Ia sunggingkan. "Rasa cinta aku lebih besar dari rasa dendam dan benci yang aku miliki sama kamu. Perbedaannya amat jauh. Terlalu besar rasa cinta dan sayang dibanding benci. Ikhlaskanlah semua yang sudah terjadi. Yang penting sekarang kita hidup bahagia selamanya."
Aku masih menatap tak percaya dengan laki-laki berhati baik yang sudah menjadi suamiku ini. Kalau dulu kami tidak mabuk dan tidur bersama mungkin kami tidak akan pernah kenal dan bertemu seperti ini.
Kucium pipi kanan Dio. "Makasih banyak Sayang."
Kucium pipi kiri Dio. "Maafin kesalahan aku selama ini ya."
Kucium lembut bibir Dio. "I Love you."
πΆ Dan tlah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia. Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu. πΆ
βββAku udah kasih kode nih kalau novel ini akan tamat. Makanya cus pindah ke novel ku WARM YOUR HEART yang beda dari yang lain ya. Cuss langsung baca, vote dan like. Oke? βββ
__ADS_1