
POV Ayu
Suara pintu kamar di buka membangunkanku. Lampu rumah yang sejak semalam tak ada yang kumatikan membuatku dapat melihat dengan jelas siapa yang datang.
Dio pulang dengan pakaiannya yang basah dan tatapan matanya yang kosong. Aku segera turun dari tempat tidur dan berjalan menghampirinya.
"Kamu basah kuyup, io. Mandi air hangat ya. Biar kusiapkan dulu." Aku pergi ke dapur dan mengambilkan termos air panas.
"Air panasnya sudah siap. Kamu mandilah terlebih dahulu." Aku memberikan handuk miliknya yang Ia ambil namun tanpa sepatah kata pun yang Ia ucapkan.
Aku menunggu Dio selesai mandi sambil membersihkan bekas air hujan yang menetes di dalam rumah. Kenapa Dio baru kembali subuh hari ini? Kenapa wajahnya seperti tidak bahagia? Kalau memang mereka habis bersenang-senang semalam kenapa justru raut wajah sedih yang Dio tampakkan hari ini?
Aku kembali lagi ke dapur. Memasak air panas di panci kecil untuk membuatkan Dio susu cokelat panas kesukaannya. Tak lupa sekalian aku memanggang roti bakar jika Dio lapar. Aku tak tahu Dia sudah makan atau belum. Buat jaga-jaga saja.
Roti dan susu cokelat pun siap. Aku membawakannya ke dalam kamar. Kubuka pintu kamar perlahan dan kulihat Dio sudah berpakaian dan duduk di tempat tidur. Pandangannya masih kosong.
Aku berjalan menghampirinya. Kuletakkan nampan yang kubawa diatas nakas. Aku mengambil susu cokelat hangat dan memberikan padanya. "Minumlah dulu. Hangatkan tubuh kamu."
Dio menurut. Ia mengambil gelas yang kusodorkan lalu meminum susu hangat tersebut. Setengah gelas susu sudah diteguknya. Ia memberikan lagi gelas susu tersebut padaku.
"Roti bakarnya juga dimakan ya?" tanyaku setelah menaruh gelas diatas nakas kembali.
Dio menggelenggkan kepalanya. Dio lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya. Tak ada sepatah katapun yang Ia ucapkan.
Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Namun aku menahannya. Aku tahu Dio akan mengatakan padaku nanti apa yang telah terjadi jika waktunya telah tiba.
Aku biarkan Dio sendiri. Aku kembali ke dapur dan menyiapkan sarapan dan bekal makan siang. Sepertinya aku harus berangkat kerja sendiri hari ini. Gak mungkin Dio akan kerja dengan kondisi seperti itu.
Aku hanya menggoreng bekal makanan yang kemarin Mama Lia bawakan. Ia membawakan bebek ungkep dan ayam ungkep yang tinggal aku goreng saja. Untunglah aku tidak mual kalau cuma menggoreng saja.
Selesai memasak aku kembali lagi ke kamar hendak mandi. Aku harus berangkat pagi jika tidak mau terlambat ke kantor. Aku membuka pintu kamar dengan pelan tak mau membangunkan Dio yang tertidur lelap.
Saat aku hendak menuju kamar mandi aku mendengar suara Dio. "La.... Maaf La...."
Apa Dio mengigau dalam tidurnya? Aku urungkan niat ke kamar mandi dan berjalan mendekati Dio.
Dio kembali mengigau dalam tidurnya. "La.... Maafin aku...."
Lagi-lagi nama Sheila yang Ia sebut. Hatiku terasa sedikit sakit mendengarnya. Wanita mana yang tak sakit melihat suaminya menyebut nama wanita lain di dalam tidurnya?
__ADS_1
Aku hendak kembali lagi melanjutkan mandi ketika kulihat tubuh Dio sedikit gemetar. Aku pikir Ia kedinginan. Aku merapihkan selimut agar menutupi tubuh Dio dengan rapat. Tapi kok wajah Dio amat pucat?
Kuletakkan tanganku di keningnya. Oh Tuhan Dio demam. Panas sekali. Aku kembali lagi ke dapur dan mengambil satu baskom air hangat dan sebuah handuk kecil. Kukompres kening Dio berharap dapat menurunkan panas tubuhnya.
Kulirik jam di dinding. Jam 5 pagi. Aku harus segera berangkat kerja jika tidak mau terlambat. Namun aku gak bisa meninggalkan Dio dalam keadaan seperti ini. Panas tubuhnya belum juga turun walau sudah ku kompres.
Aku putuskan tidak berangkat kerja dan tetap menemani Dio. Aku takut terjadi sesuatu pada ayah dari anakku. Aku mengambil Hp dan mengirimkan pesan pada Mbak Dewi. Aku berbohong dan mengatakan aku gak enak badan jadi gak bisa masuk hari ini.
Aku mengganti kompresan Dio. Dio masih saja mengigau menyebut-nyebut nama Sheila. Aku mulai terbiasa mendengar Ia meminta maaf pada Sheila, namun perkataannya selanjutnya membuatku tertegun. "Aku cinta kamu, La."
Deg... handuk kecil yang kupegang pun sampai terlepas dari tanganku. Tak lama air mataku mulai menetes kembali. Perih. Sakit sekali dadaku.
Aku tahu Dio memang mencintai Sheila. Tapi lebih menyakitkan saat aku tahu kalau dalam alam bawah sadarnya pun Dio tetap mencintai Sheila.
Aku mengompres lagi handuk diatas kening Dio. Aku pergi ke dapur dan meratapi nasibku. Haruskah aku bertahan berada diantara dua orang yang saling mencintai? Atau haruskah aku pergi saja?
Aku melihat pesan di Hp yang beberapa hari lalu dikirimkan seseorang padaku. Guntur, sepupu Dio yang tinggal di Semarang. Kami tak pernah putus komunikasi sejak aku pulang dari Semarang. Aku menyembunyikannya dari Dio karena tak mau Dio berpikir buruk dan hubungannya dengan Guntur akan memburuk nantinya. Bagaimanapun mereka saudara sepupu.
Guntur: Yu, aku gak jadi buka kantor di Jakarta. Aku malah buka di Palembang. Aku lagi butuh bagian perencanaan keuangan nih. Basic kamu kayaknya sesuai. Kamu mau join gak di perusahaan aku?
Tawaran yang amat menggoda. Guntur juga mengiming-imingi aku gaji besar dan fasilitas kantor seperti rumah dinas dan kendaraan pribadi. Dari seorang marketing bank swasta aku ditawari dengan tawaran yang menggiurkan. Apa aku ambil saja?
Suara ketukan di pintu depan membuyarkan lamunanku. Bukan ketukan tapi lebih tepatnya gedoran. Siapa yang pagi-pagi bertamu dengan tidak sopan seperti itu?
"Pa-"
Plak. Sebuah tamparan dilayangkan ke wajahku. Bukan hanya perih namun amat menyakitkan. Kulihat ada sedikit darah di sudut bibirku.
"Wanita kurang ajar! Apa yang sudah kamu cuci ke otak Dio sampai Dia berani memutuskan hubungannya dengan Sheila?" hardik Papa padaku.
"Maksud Papa apa?" tanyaku sambil terisak.
"Hentikan Pa!" Dio berjalan sambil terhuyung menghampiri kami. "Kamu gak apa-apa Yu?" Dio memeriksa wajahku yang langsung membengkak terkena tamparan tangan Papa.
"Dio! Berani ya kamu mutusin hubungan kamu sama Sheila?" kata Papa dengan suara tingginya.
Air mataku terus mengalir diantara wajahku yang sakit, tapi aku masih bisa melihat dengan jelas senyum kemenangan di wajah Sheila. Wanita yang kemarin kukagumi karena kecantikannya sekarang justru aku hujat karena hatinya yang layaknya iblis betina.
"Ini hubungan Dio dan Sheila. Bukan urusan Papa!" bentak Dio tak kalah garangnya.
__ADS_1
"Kalau menyangkut Sheila semua menjadi urusan Papa! Papa tidak akan menerima menantu selain Sheila!"
"Maka Dio tak butuh Papa untuk mengakui Ayu!" kata Dio dengan penuh keyakinan.
Tak lama Mama Lia datang dengan tergopoh-gopoh. Rupanya Ia mengejar Papa sejak dari rumah.
"Cukup, Pa. Berhenti berbuat keributan. Ini masih pagi! Kita bicarakan baik-baik!" Mama Lia langsung menengahi pertikaian Dio dan Papa.
"Pasti ini akibat ulah kamu juga! Kamu yang terlalu memanjakan Dio sampai Dia berbuat kurang ajar seperti itu! Kamu gak pernah becus mendidik Dio. Ibu macam apa kamu? Mentang-mentang kamu dulu berasal dari keluarga kaya, kamu jangan mendidik Dio jadi anak semena-mena seperti itu!"
Pertikaian berubah menjadi pertengkaran Mama dan Papa. Aku masih memegangi pipiku yang panas bekas tamparan Papa saat kulihat perubahan sikap Dio.
Dio mundur beberapa langkah. Tangannya gemetaran. "Dio.." panggilku namun tak ada respon. Dio mulai menangis lalu berjongkok. Ia menutup telinganya dan terus meracau.
"Maafin Dio, Pa....."
"Dio yang salah....."
"Maafin Dio.... Jangan marahin Mama....."
Aku tersadar. Dioku yang biasanya gagah. Dio yang biasanya jahil. Dio yang selalu perhatian padaku ternyata sedang kumat Anxiety disorder nya.
Air mataku makin deras mengalir. "Ya Tuhan Dio...." Aku bergegas menghampirinya. Kupeluk tubuhnya seraya terus menangis bersama. Tak kupedulikan lagi bagaimana keadaan sekitarku. Aku tak tahu bagaimana reaksi Mama dan Papa Dio. Aku tak tahu bagaimana akhir pertikaian Mama Papa.
Yang aku tahu adalah Dio yang saat ini sangat rapuh berada di pelukanku. "io....... Sayang...." Terus kupeluk Dio. Hanya pelukan yang dapat kuberikan sebagai bentuk dukungan terhadapnya. Berat sekali beban pikiran yang harus Ia pikul.
"Dio.... Cup... Cup...... Gak apa-apa.... Ada aku disini.... Ada aku yang sayang kamu, io....."
******
⚘⚘⚘ ****Hi semua!!! Aku bikin ceritanya sampai mau nangis juga nih. Aku sedih sama Dio. Kalian gak ada yang dukung Dio... hiks...
Aku mau jawab beberapa pertanyaan kalian:
Kenapa Dio malah cinta sama Sheila bukan sama Ayu?
Hmm... bebs kadang kita sendiri pun suka samar ya membedakan apa itu cinta apa itu sayang. Yang pasti Dio sayang sama Ayu. Dio tak mau kehilangan Ayu. Itu cinta dalam bentuk sayang. Dio saja yang tidak menyadarinya. Next Dio akan sadar. Sabar ya.
Kenapa Dio lebih pilih Sheila dibanding Ayu?
__ADS_1
Dio pilih Ayu kok. Buktinya Dio putusin Sheila. Hubungan Dio dan Sheila tuh udah lama. 7 tahun berpacaran gak mungkin gak ada bekasnya kan? Mereka pacaran dari jaman kuliah loh. Mungkin rasa sayangnya lebih dalam lagi. Gak semudah itu melupakannya, oke?
Ayo yang ada pertanyaan lagi cus tulis di kolam komentar yoo..... ⚘⚘⚘⚘**