
⚘⚘⚘⚘ Ayo votenya kita mulai lagi mumpung hari senin. Yang minta Dio cepet ketemu Ayu dan Kevin sabar ya cin..... Nikmatin aja alurnya. Kalo kecepetan juga gak seru. Jangan lupa like dan votenya ya. Maacih 😘😘😘⚘⚘⚘⚘
POV Dio
"Inget ya Papa harus pegang janji Papa sama Dio!" aku mempertegas lagi perjanjian yang kami buat.
"Iya, Papa janji. Udah cepetan, RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) mulai jam 10 nih. Kamu masih aja santai di rumah." Papa Putra mulai bawel melihatku yang santai saja sejak tadi.
"Santai Pa, santai kayak di pantai." Aku merapihkan letak dasi yang sudah 3 tahun tidak kupakai. Ngapain juga kerja bikin furniture pakai dasi?
"Iya. Jangan lupa pakai celana kamu. Dari tadi wara wiri aja cuma pakai boxer. Mentang-mentang di rumah ini gak ada perempuannya kamu santai banget."
Aku melihat bawahan kemejaku. Ups... aku lupa pakai celana bahannya. "Iya ini aku pakai." Aku mengambil celana warna hitam yang senada dengan jasku lalu memakainya. Aku sengaja mengulur waktu menunggu karyawanku datang.
Papa mulai tidak sabaran. "Lama banget sih, io?"
"Aku ngomong sama Pak Ari dan karyawan yang lain dulu, Pa." kataku setelah mendengar karyawanku mulai datang untuk bekerja.
"Mau ngapain lagi? Nanti telat!" Papa terus melihat jam tangannya.
"Kalau gak mau nunggu yaudah Dio gak jadi pergi aja."
"Oke... oke... Papa tunggu. Cepatlah." Papa akhirnya mengalah. Aku pun berjalan ke depan dan mengumpulkan semua karyawanku untuk briefing dadakan. Cie briefing, Kang Kayu aja pake acara briefing.
"Bos, ganteng bener dah. Mau kemana?" Yono menyeletuk seperti biasa.
"Nah itu yang mau disampein sama semuanya." Aku menghitung jumlah karyawanku. Sudah lengkap semua. "Aku mau buat pengumuman. Mulai hari ini aku akan menghandle perusahaan Papa. Kalian gak usah khawatir, aku tetap pegang Ayu Furniture kok. Tapi aku bagi tugas aja, Pak Ari yang pimpin nanti aku tetap awasin dan tetap quality control seperti biasa."
"Hmm.... Pak Ari, kapan order terakhir sebelum close PO akan selesai?"
"Sebulan paling cepat, io. Agak rumit pengerjaannya." lapor Pak Ari.
"Yaudah kalian kerjakan semaksimal mungkin karena selesai kerjaan kita langsung jalan-jalan ke Palembang sesuai kesepakatan kita. Aku mau ngurusin perusahaan Papa dulu. Kita kerjasama bareng ya biar cepet jalan-jalan."
"Siap, Bos." jawab semua karyawan kompak.
"Oke. Lanjutkan pekerjaan kalian. Aku berangkat dulu." Aku menengok ke arah Papa yang sejak tadi memperhatikan perbuatanku. "Ayo Pa kita jalan. Nanti telat lagi. Papa kebanyakan bengongnya sih."
__ADS_1
"Enak aja. Yang bikin lama tuh kamu. Papa mah udah setengah jam lebih nungguin kamu." Papa menggerutu namun tak berani marah. Coba aja marah maka aku akan lepas perusahaannya. Gak sia-sia Mama ngambek, Papa sekarang jadi lebih jinak.
********
Jam 10 kurang 10 menit aku tiba di gedung Putra Group. Gedung pencakar langit berlantaikan 30 lantai tersebut seluruhnya adalah milik Putra Group.
Dulu aku kerja sebagai kacung kampret disini. Papa bahkan berpura-pura tidak mengenalku selama aku bekerja. Sekarang Ia bahkan memohon aku untuk melanjutkan perusahaannya. Kalau bukan karena aku tak tega melihat sikap Papa sudah kutolak tawarannya.
Aku mengikuti langkah Papa berjalan memasuki lift yang sudah dikosongkan oleh security. Gak ada lift khusus seperti di drama yang Ayu suka tonton. Lift ada 8 dan semuanya untuk umum. Hanya saja kalau Papa dan direksi penting mau naik biasanya security sudah mengosongkannya terlebih dahulu.
Aku melihat banyak sorot mata yang melihatku dengan penuh tanda tanya. Beberapa bahkan teman satu ruanganku dulu. Mereka bingung melihat aku berjalan beriringan dengan owner dari Putra Group tersebut.
Papa mengajakku ke ruang RUPS dilaksanakan. Sebuah aula besar yang sudah dipenuhi oleh Direksi dan para petinggi perusahaan. Semua memandang ke arahku. Mereka agak kaget, kenapa Dio si kacung kampret malah berjalan di belakang Pak Putra?
Papa menyuruhku duduk di sampingnya. Sementara Papa duduk di kursi depan paling tengah, terlihat aura kepemimpinan begitu kuat dalam dirinya.
Setelah beberapa perkataan pembukaan tidak penting, tibalah Papa mengumumkan pengangkatanku.
"Mulai saat ini, saya secara resmi mengangkat putra saya Agdio Permana Putra sebagai pengganti saya memimpin Putra Group." keputusan Papa membuat banyak yang hadir melongo tidak percaya.
Suara tepuk tangan pun riuh. Ternyata mereka hanya kaget tapi pada akhirnya mendukung pengangkatan diriku menggantikan Papa.
********
Sebulan sudah aku memimpin perusahaan Papa. Banyak yang nyinyir dan meragukan kemampuanku ternyata. Aku tak ambil pusing, yang terpenting adalah hasil akhirnya.
Aku masih belajar tentang perusahaan. Walau aku pimpinan tapi aku berusaha memperlakukan karyawanku seperti keluarga sendiri. Memanusiakan manusia lebih tepatnya.
Aku mengambil cuti selama seminggu. Sudah perjanjian aku dengan Papa sebelumnya kalau aku mau ngajak karyawanku jalan-jalan ke Palembang. Sebodo amat dengan nyinyiran orang kantor kalau aku baru kerja sebulan sudah cuti saja. Janji adalah janji, toh Papa tidak keberatan.
Jam 4 pagi. Semua karyawanku sudah berkumpul. Aku membawa mobil Pajero milikku (Kali ini beneran mobil, bukan motor scoopy yang kunamai Pajero). Aku juga menyewakan mobil Innova untuk sebagian karyawanku lainnya. Semua sudah stand by dengan barang bawaannya. Kami pun berangkat menuju Palembang.
Pak Ari bilang kalau sebaiknya berangkat subuh agar dapat kapal tidak begitu penuh. Kami pun berangkat menuju pelabuhan Merak. Senang rasanya melihat karyawanku tertawa bersama.
Hampir 18 jam perjalanan akhirnya kami sampai ke kampung halaman Pak Ari. Pemandangan gunung di tengah danau langsung membuatku terkesima. Rumah Pak Ari di perbatasan antara Lampung dan Palembang namun masuk dalam Provinsi Palembang.
"Itu Danau kan, Pak?" tanyaku sambil tetap mengemudi mobil.
__ADS_1
"Iya, io. Danau Ranau namanya. Besok kita jalan-jalan kesana ya. Pemandangannya bagus deh." pamer Pak Ari membanggakan kampung halamannya.
"Wah seru tuh Pak. Masih jauh gak rumah Bapak?" tanyaku lagi.
"Udah deket kok. Itu dua kali belokan lagi sampai." Kami akhirnya sampai di rumah Pak Ari. Rumah panggung di pinggir jalan.
"Ayo masuk, io. Semuanya ayo." Pak Ari pun mempersilahkan kami masuk. Keluarga Pak Ari sangat menyambut kedatanganku. Aku ibarat tuan muda yang dielu-elukan kehadirannya.
Rumahnya harus naik tangga ke lantai atas. Ada banyak kamar kosong yang sudah disediakan. Kami juga langsung disediakan makan malam.
"Jangan lupa, besok kita jalan-jalan ke Danau Ranau ya." aku memberitahukan semuanya agar tidak kebablasan tidurnya. Maklum, udara sejuk pegunungan membuat kami pasti tidur pulas.
"Kayaknya si Bos udah gak sabar banget mau ke Danau Ranau." ejek Yono si usil.
"Iyalah. Besok kan hari sabtu. Pasti banyak yang dateng. Kalau kesiangan nanti penuh." jawabku sok tau.
"Yaudah ayo bubar. Istirahat di kamar masing-masing. Pulihkan tenaga dulu." semua membubarkan diri mengikuti instruksi Pak Ari.
*********
"Wwwuuuuuuuuhuuuuuuuuu...." teriak Yono saat melihat indahnya Danau Ranau.
"Dih, kemarin ngeledekkin katanya gak sabaran mau ke Danau eh ternyata Dia sendiri yang kegirangan." langsung kusindir Yono yang sejak tadi loncat-loncat sambil teriak-teriak. Bikin malu saja.
"Bagus banget, io. Gila. Keren disini. Di Jakarta gak ada pemandangan indah begini." kata Yono beralasan.
"Norak." jawab aku dan semua karyawanku. Kami pun menertawakan ulah Yono yang kekanak-kanakan.
Tak lama Hpku berbunyi. Aku pamit untuk mengangkat teleponnya. Mama yang meneleponku.
"Iya kenapa, Ma?"
"Mama udah kirim alamat Guntur ya, io. Titip salam dari Mama. Jangan lupa nanti kamu borong ya barang dagangan di toko oleh-oleh milik Guntur. Ajak karyawan kamu semua kesana. Kalau gak ada uangnya nanti mama yang bayar."
"Tenang aja, Ma. Dio masih ada uang kok. Makasih infonya ya Ma."
Aku memutuskan sambungan telepon Mama. Baru saja aku hendak memasukkan Hp ke saku celana pandanganku menatap sesosok orang yang kukenal. Guntur? Siapa anak yang digendongnya?
__ADS_1