Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 53


__ADS_3

Hayo yang mewek berjamaah votenya juga berjamaah dong.... Likenya juga berjamaah dong.... Ajak teman-temannya berjamaah baca novel ini juga ya #apasihgakjelas. Yuks mewek berjamaah lagi. Jamaaaaaaahhhhhh..... oh jamaah... vote yuks 🤭🤭🤭😘😘😘😘


***********


POV Dio


"Yu.... Buka pintunya....."


"Yu.... Please...."


"Ayu sayang......"


Sudah 15 menit lebih aku mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Tak ada sahutan. Hanya sayup-sayup suara isak tangil memilukan hati yang terdengar diantara suara air washtafel yang sengaja Ayu nyalakan. Percuma, karena aku tetap bisa mendengar suara tangisnya yang terdengar amat mengiris hati.


"Yu..... Kita bicarakan ini baik-baik ya...Kamu keluar dulu dong Sayang....."


Masih tak ada jawaban. Aku mulai mengkhawatirkan nasib Ayu. Aku takut Ia kenapa-napa di dalam kamar mandi. Pikiran buruk mulai menguasaiku.


"Yu, kamu baik-baik saja kan?"


Tak ada jawaban.


"Yu, kalau kamu gak mau buka aku dobrak ya pintunya? Kamu mundur dulu, aku hitung ya. Satu..... du-"


Pintu kamar mandi pun dibuka. Ayu keluar dengan wajah pucat pasi. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Yu...." Aku memegang lengannya yang langsung Ia tepis dengan kasarnya.


"Kita bicarakan semua ini ya. Please...." Kupegang lagi lengannya walau terus mendapatkan tolakan darinya.


"Gak ada lagi yang harus dibicarakan. Semuanya sudah jelas. Ini udah waktunya aku pergi."


"Kamu mau kemana? Aku kan udah bilang kalau sampai kapanpun aku gak akan pernah ngelepasin kamu."


"Jangan serakah, io. Biarkan aku pergi. Aku-" Ayu tiba-tiba lemas dan jatuh pingsan.


Dengan sigap aku menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Yu....Bangun Yu...." Tak ada respon. Ia tetap pingsan. Aku lalu mengangkat tubuh Ayu dan hendak membawanya ke Rumah Sakit.


"YONO!!" Aku berteriak memanggil salah seorang anak buahku sambil menggendong tubuh Ayu.

__ADS_1


Yono berlari menghampiriku yang sudah sampai depan rumah. "Ayu kenapa?" Tanya Yono setelah melihatku menggendong Ayu dengan wajah panik.


"Panggilkan taksi. Ayu pingsan. Aku mau bawa ke Rumah Sakit!"


"Baik!" Yono langsung mengambil kunci motornya dan secepat kilat menuju jalan raya.


"Kamu tenang dulu, io. Jangan panik. Kamu sudah bawa dompet belum?" Pak Budi mengingatkanku akan hal yang penting. Ia dan Pak Ari sudah mengeliliku dan Ayu. Melihat bagaimana keadaan Ayu.


"Udah, Pak."


"Tetap tenang, oke? Jangan panik. Semoga Ayu baik-baik saja."


"Iya, Pak."


Pak Budi dan Pak Ari tidak bertanya kenapa Ayu pingsan. Mungkin mereka tadi membicarakan kalau kami sedang bertengkar dan melihatku dengan tampang memelas sedang mengetuk pintu kamar mandi.


Tak lama Yono datang dengan diikuti taksi berwarna biru. Aku langsung membawa Ayu naik taksi.


"Ke Rumah Sakit Sentra Medika ya Pak." Aku memberitahukan alamat tujuanku setelah di dalam taksi. "Ngebut ya, Pak."


"Iya, Pak." Supir taksi itu menambah kecepatan mobilnya saat tau Ia membawa orang yang sakit. Dengan keahliannya mengemudi Ia berhasil sampai di Rumah Sakit dalam 10 menit.


Aku memberikan uang seratus ribu rupiah pada supir taksi tersebut. "Kembaliannya ambil aja, Pak." Aku langsung turun dan menuju UGD.


"Istrinya kenapa Pak?"


"Pingsan, Pak. Saya gak tau kenapa tiba-tiba keluar kamar mandi langsung pingsan."


"Saya akan memberitahu dokter. Tolong Bapak mengurus pendaftaran di bagian administrasi terlebih dahulu." Security menunjukkan tempat administrasi yang harus kudatangi.


Dengan tangan gemetar aku mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan kartu asuransi milik Ayu. Ayu sudah kudaftarkan sebagai istri di perusahaan sehingga mendapat jaminan asuransi dari kantor. Perasaan cemas dan khawatir masih bersemayam di hatiku.


Setelah mengisi pendaftaran aku masuk ke dalam ruang UGD. Aku langsung menuju bilik yang ditunjukkan security. Terlihat dokter sedang memeriksa Ayu.


Keringat dingin membasahi kening dan tanganku. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ayu. Kalau sampai itu terjadi aku pasti akan menyalahkan diriku sendiri karena aku yang membuat Ayu membaca Hpku.


Aku mengusir bayangan-bayangan buruk yang berkelebat di pikiranku. Aku terlalu takut kehilangan Ayu. Tuhan.... Tolong selamatkan istriku Tuhan...


Dokter yang melihatku panik langsung tersenyum. "Mari kita bicara di tempat saya, Pak."


"Tapi istri saya tidak apa-apa kan, Dok?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Mari ikut saya." Dokter tersebut keluar bilik Ayu dan kembali ke tempatnya.


Aku menghampiri Ayu yang masih belum sadarkan diri. Kukecup kening Ayu penuh kasih sayang. "Aku ke Dokter dulu ya." Walau ucapanku tak akan didengar Ayu aku tidak peduli. Setidaknya aku telah ijin sebelum meninggalkannya.


"Silahkan duduk, Pak." Dokter mempersilahkanku duduk.


"Gimana keadaan istri saya, Dok?" Aku tak bisa lagi menyembunyikan kepanikanku apalagi melihat Ayu terlihat lemah dan pingsan seperti tadi.


"Bapak tenang saja. Ibu Ayu baik-baik saja. Hanya butuh istirahat dan jangan banyak pikiran. Wanita yang sedang haml jangan sampai stress."


"Iya sih Dok kalau lagi hamil memang gak boleh stress ya. Apa? HAMIL DOK?" Kataku setengah berteriak.


"Iya Pak. Usia kandungannya sekitar 4 minggu. Tolong dijaga baik-baik ya, Pak. Jangan kecapean, vitaminnya diminum dan jangan sampai stress. Karena stress bisa berpengaruh dengan kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya."


"Iya, Dok. Pasti akan saya jaga."


"Baiklah nanti saya resepkan vitamin dan obat penguat kandungan untuk diminum di rumah. Bapak nanti akan dikabari untuk menyelesaikan administrasinya."


"Baik, Dok. Terima kasih banyak."


Aku kembali lagi menemui Ayu. Ia sudah tersadar sekarang. Buru-buru aku menghampirinya.


"Pelan-pelan, Sayang. Kamu masih pusing?" Aku membantu Ayu duduk di brankar.


"Ini dimana?" Ayu terlihat bingung saat melihat Ia bangun dan sudah tidak berada di rumah.


"Di UGD, Sayang. Tadi kamu pingsan. Kamu mau minum?" Aku memberikan air mineral botol yang tadi sempat aku beli setelah mengisi administrasi.


Ayu menerima air yang kuberikan lalu meminumnya. Ia memberikan kembali bekas minumnya padaku.


"Kamu tau, Sayang? Keajaiban itu akhirnya datang."


Ayu mengerutkan keningnya bingung dengan perkataanku. "Keajaiban apa?"


"Kamu kan bilang, hanya keajaiban yang membuat kami akan tetap berada di sisiku. Dan keajaiban itu akhirnya datang." Pasti mataku berbinar-binar saat mengatakan ini.


Ayu menunggu perkataanku selanjutnya. "Kamu hamil, Sayang. Kamu mengandung anak aku."


Ayu membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan fakta yang baru saja terucap dari mulutku. "Kamu gak bohong kan? Aku.... aku... hamil?"


Aku mengangguk yakin. "Ada anak aku di rahim kamu sekarang." Aku tersenyum dan kudekati Ayu. Kupeluk tubuh lemahnya dan kucium puncuk kepalanya. "Makasih ya Sayang.... Aku tahu Tuhan gak mau kamu pergi ninggalin aku."

__ADS_1


Tubuh Ayu bergetar. Aku tahu Ia sedang menangis. Entah menangis karena sedih atau senang. Satu yang pasti, aku tak akan kehilangan Ayu. Ada anak diantara kami yang harus aku jaga.


Aku mengurus administrasi dan menebus obat lalu membawa Ayu pulang. Hatiku amat bahagia hari ini. Berbeda dengan Ayu yang hanya melamun dan berdiam diri sepanjang perjalanan pulang. Aku memeluk erat tubuhnya. Mengisyaratkan kalau aku akan menjaga dirinya dan bayi di dalam perutnya mulai sekarang.


__ADS_2