Namaku Ayu

Namaku Ayu
Bab 73


__ADS_3

⚘⚘⚘⚘ Karena yang baca banyak jadi Up hari ini dibanyakkin. Jangan lupa vote dan likenya juga dibanyakkin ya Cin.. 😘😘😘😘⚘⚘⚘⚘


POV Author


"Uncle Guntur, Kev lapel nih. Mau mamam!" rengek Kevin manja kepada om nya tersebut.


"Kevin lapar ya? Uncle lupa kalau udah jam makan siang. Ayo kita makan. Kevin mau makan apa?" tanya Guntur penuh perhatian.


"Macan pate ican." (Translate: makan pake ikan)


"Ikan bakar mau?"


"Mauuuu."


"Siap! Ayo kita makan!" Guntur melirik ke arah wanita cantik disebelahnya yang sedang memandangi indahnya pemandangan Danau Ranau sambil melamun.


"Yu." panggilan Guntur tak digubrisnya. Ayu masih asyik dengan pikirannya sendiri.


"Ayu Ferbriani yang cantik jelita." Ayu pun tersadar dari lamunannya.


"Iya. Ayu Febriana bukan Febriani. Salah melulu nih manggilnya." protes Ayu karena Guntur salah menyeburkan nama lengkapnya.


"Maaf deh. Hi cewek! Boleh kita kenalan?" Guntur mengulurkan tangan kanannya sementara tangan kirinya sibuk menggendong Kevin yang menyimak kelakuan dua orang dewasa didepannya.


"Namaku Ayu Febriana. Kamu bisa memanggilku Raisa Andriani." gurauan Ayu langsung disambut dengan tawa Guntur dan Kevin yang juga ikut tertawa.


"Ih Kevin ikutan ketawa. Emangnya Kevin tau Uncle ketawain apa?" Guntur mencubit pelan pipi Kevin yang menggemaskan tersebut.


Kevin menggelengkan kepalanya. "Ya ampun nih anak jujur banget ya. Beda sama Mommynya." kata Guntur sambil tertawa.


"Yeh memangnya aku tukang bohong apa?" Ayu tak terima dengan pernyataan Guntur.


"Iya. Kamu masih suka mikirin yang disana sementara bilangnya udah move on. Apa coba kalau bukan tukang bohong?"


"Tucang boong." Kevin ikut menimpali.


"Sst! Anak kecil jangan ikut pembicaraan orang tua!" omel Ayu.


"Kev minta maaf Mommy." Kev pun mencium tangan Ayu sebagai wujud permintaan maafnya. Ayu memang mendidik anaknya sedari kecil agar membiasakan mengucap kata maaf jika salah.


"Iya. Ayo kita makan. Kev udah lapar kan?"


"Iya, Kev lapal Mommy."


"Kita makan dimana nih, Tur? Ada food court disini gak?" tanya Ayu pada Guntur yang sejak tadi memandanginya tanpa berkedip sedikit pun.


"Kita makan di tengah danau saja. Gak jauh kok dari sini. Ayo kita keluar dulu dan naik mobil." Guntur menarik tangan Ayu dan menggendong Kevin dengan tangan satunya lagi.


Sebenarnya Ayu merasa risih dengan perhatian Guntur yang dinilainya terlalu berlebih. Tapi Ayu sadar diri, Gunturlah dewa penolongnya selama 3 tahun ini. Ayu ingin membuka hatinya untuk Guntur namun Ia masih belum bisa melupakan Dio.


Entah bagaimana hubungannya dengan Dio saat ini. Belum ada perkataan cerai yang keluar dari mulut Dio untuknya. Bagaimana pula dengan keadaan Dio sekarang? Apakah pada akhirnya Dio jadi menikahi Sheila?


Ada rasa sakit yang seakan mencubit hatinya. Masih cinta ternyata dirinya dengan Dio, buktinya rasa cemburu itu masih kuat melekat di hatinya. Kapan Ia akan move on kalau terus memikirkan ayah dari putra semata wayangnya tersebut?


Mobil yang dikendarai oleh Guntur berhenti di sebuah rumah makan pinggir Danau. Rumah makan yang di design dengan suasana lesehan sangat adem didalamnya.


Jalanannya terbuat dari bambu yang dibuat seperti jembatan. Guntur memesan ikan bakar dan minum es kelapa muda.

__ADS_1


"Kev, kita lihat ikan yuk."


"Ayo, Uncle."


"Lihat dimana, Tur?" tanya Ayu penasaran akan dibawa kemana lagi anaknya.


"Tuh. Di tengah-tengah ada kolam ikan. Ayo ikut aja."


Ayu pun menaruh barang bawaannya di tempat yang sudah Ia tempati. Hanya membawa handphone dan tas selempangnya saja. "Iya aku ikut."


Guntur menuntun Kevin berjalan diatas bambu sampai ke tengah danau. "Jadi, restoran ini memelihara ikan yang dijualnya dengan air danau dari Danau Ranau. Nanti kamu coba deh rasa ikan bakarnya. Ikannya tuh terasa manis, masih asli diambil dari alam." kata Guntur menjelaskan.


Ayu pun melihat bagian luar restoran yang ada budidaya ikannya. Banyak ikan mujair yang hidup bebas di habitat alamnya. "Aku jadi penasaran sama rasanya. Pas banget lagi laper nih."


Guntur tersenyum "Karena itu aku ajak kamu kesini. Memang agak lama sih dimasaknya. Tuh kamu lihat, baru aja ditangkep ikannya lalu langsung dimasak. Bukan ikan yang sudah mati seperti di Jakarta. Kalau di Jakarta tuh budidaya ikan di kolam airnya juga gak jernih jadi bau lumpur. Kalau disini lihat saja airnya bersih banget."


"Iya, lebih sehat juga. Aku juga ngerasa paru-paruku lega menghirup udara disini yang bersih."


"Hatinya juga di bersihin gak? Biar bisa ada orang lain lagi yang menghuni gitu." sindir Guntur.


"Au ah. Ayo kita duduk di tepi sana. Ayo Kev." Ayu berusaha menghindari perkataan Guntur yang menjurus ke masalah hati. Bukan apa-apa, Ia bingung harus menjawab apa. Mau kasih harapan tapi kasihan. Gak kasih harapan kok kayak masih ada hutang budi gitu.


Ayu pun mengajak anaknya duduk di tepi danau, diatas bambu yang sesekali bergoyang kala ada orang yang lewat. Agak ngeri sih sebenarnya karena dibawahnya adalah danau yang lumayan dalamnya.


"Mommy, icannya banyak. Kev mau belenang deh nangkep ican." celetuk Kevin dengan penuh antusias.


"Jangan, Sayang. Airnya dalam. Nanti saja kita berenangnya ya. Memangnya Kev bisa berenang? Mommy aja gak berani. Hiiiiyyyy." Ayu menakut-nakuti anaknya agar tidak merengek minta berenang lagi.


"Dalem ya Mommy airnya?" tanya Kevin masih penasaran.


"Ya dalem Sayang. Mommy kan gak jago berenang. Kev lihat aja gak ada yang berenang kan disini? Semuanya takut tenggelem."


Kevin lalu sibuk menghitung jumlah ikan yang amat banyak padahal Ia baru bisa menghitung sampai hitungan sepuluh saja. Guntur pun tertawa saat hitungan Kevin kembali lagi ke angka 1.


"Sst. Udah jangan diketawain. Namanya juga anak balita." Ayu mengomeli Guntur.


"Habisnya anak kamu lucu, Yu. Sayangnya wajahnya lebih mirip Daddynya dibanding kamu." celetukan Guntur memang benar. Wajah Kevin lebih mirip Dio dibanding dirinya. Mungkin karena Dio yang dulu amat bernafsu saat proses pembuatannya dulu.


Ayu tak menganggapi perkataan Guntur. Hal itu malah membuat Guntur sengaja memancing Ayu. "Kamu gak nanya bagaimana keadaan Dio sekarang, Yu?"


Ayu menghela nafasnya panjang. "Gak perlu lah. Dio pasti sudah bahagia sekarang."


"Kata siapa? Kalau Dio gak bahagia kamu mau kembali lagi ke pelukannya?" pertanyaan yang amat menohok bagi Ayu.


"Sudahlah gak usah ngebahas ini lagi." Ayu langsung menyudahinya.


"Kalau kamu gak move on, kapan kamu akan membuka hati kamu buat aku, Yu?" Guntur mulai tidak sabar ternyata.


"Maaf, Tur."


Guntur yang kali ini menghela nafas panjang. Selalu kata maaf yang akhirnya terucap dari Ayu setiap kali Ia menanyakan pertanyaan seperti ini.


"Kamu masih cinta ya Yu sama Dio?"


Hening. Tak ada jawaban lagi yang keluar dari mulut Ayu.


"Mommy, Dio itu capa?" pertanyaan Kevin langsung membuat Ayu kalang kabut. Ia harus menjawab apa pada anaknya? Selama ini Ia tak pernah membahas tentang siapa Daddy pada Kevin. Ia akan menjelaskannya saat Kevin mulai mengerti nanti.

__ADS_1


"Hmm...." Ayu masih sibuk merangkai kata untuk menjelaskan siapa Dio ketika Guntur yang akhirnya mengatakan siapa Dio.


"Dio adalah saudara sepupu Uncle. Mirip deh mukanya sama Kevin."


"Tur." Ayu mulai memberi peringatan agar Guntur tidak mengatakan yang macam-macam pada Kevin.


"Hmm... Kita makan aja yuk. Kayaknya udah mateng tuh ikannya. Habis makan kita pulang. Besok Mommy dan Uncle harus kerja lagi nyari uang yang banyak. Oke, Bos?"


"Oce." Guntur lalu menggendong Kevin dan mengajaknya masuk kembali ke dalam restoran.


Ayu bernafas lega. Sepertinya Ia harus mulai menyiapkan mental jika Kevin mulai menanyakan pertanyaan yang membuat jantungnya deg-degan kayak tadi. Ayu pun mengikuti langkah Guntur masuk ke restoran.


Di meja mereka telah terhidang satu bakul nasi, dua porsi ikan bakar dan dua buah kelapa muda. Tak lupa lalapan juga terhidang bersama sambal.


"Acik Macan." Ayu menyuapi Kevin makan sambil memakan punyanya sendiri. Saat suapan pertama Ia pun langsung merasakan enaknya ikan bakar tersebut.


"Wow. Enak banget Tur ikannya. Asli ini tuh ikan bakar terenak yang pernah aku makan." puji Ayu sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Tuh kan apa aku bilang. Kevin suka gak?"


"Suka Uncle. Enyak."


"Nanti kita kesini lagi ya."


"Janji?"


"Janji." dan terjadilah perjanjian antar dua laki-laki tersebut.


Selesai makan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Palembang. Sampai rumah Ayu sudah jam 10 malam. Kevin pun sudah tertidur lelap di dalam pelukan Ayu.


"Sini biar aku yang gendong Kevin, Yu. Kasihan nanti kamu keberatan bawa Dia."


Ayu pun memberikan anaknya untuk digendong Guntur. Ayu membawa barang-barang yang mereka bawa tadi. Tak lupa Ia membawa ikan segar yang Ia beli di pinggir Danau. Rencananya akan Ia buat ikan goreng untuk menu makan besok.


Dengan hati-hati Guntur menidurkan Kevin di kamarnya. Kevin tidur dengan lelap tanpa menyadari kalau Ia sudah tertidur didalam kamarnya.


"Mau minum dulu, Tur?" kata Ayu setelah Guntur menutup pintu kamar Kevin.


"Gak usah Yu. Udah malam. Besok aku mau ke Semarang. Mama nyuruh pulang. Kangen katanya."


"Kamu kok gak bilang? Kan kamu capek sekarang abis jalan-jalan tapi besok udah harus terbang ke Semarang lagi."


"Gak apa-apa. Santai aja. Toh aku senang pergi sama kalian. Aku pulang dulu ya Yu."


"Iya. Makasih banyak Tur untuk hari ini." kata Ayu tulus.


"Oh iya. Kamu mau dibawain oleh-oleh apa dari Semarang? Atau kamu mau aku bawain masakan Tante Lia gak?"


Ayu mengernyitkan dahinya mendengar nama mertuanya disebut Guntur. "Mama Lia? Memangnya Mama Lia lagi di Semarang?"


"Kemarin Mama bilang sih udah seminggu lebih disana belum pulang-pulang. Berantem lagi kali sama Om Putra."


"Oh. Gak usah deh. Nanti Mama Lia tau lagi kalau aku selama ini ada di Palembang. Hmm... aku nitip Bandeng Juwana aja deh 3 kilo. 1 kg buat aku dan 2 kg bisa tolong dikirimin buat keluargaku gak yang di Jakarta?"


"Kebiasaan deh dikasih hati minta jantung. Hehehehe... tenang nanti aku kirimin buat orang tua kamu. Aku pulang dulu ya. Nitip perusahaan ya Yu."


"Siap, Bos. Sekali lagi makasih banyak ya Tur."

__ADS_1


Ayu pun mengantarkan Guntur sampai ke depan rumahnya. Ayu baru masuk ke dalam rumah setelah mobil Guntur sudah tidak terlihat lagi.


__ADS_2